MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 125


__ADS_3

Keesokan harinya...


Setelah melayani kebutuhan Alex di pagi hari dengan segala keribetannya, Anes mengantar Alex sampai ke mobil untuk berangkat kerja.


"Sayang, mas berangkat dulu ya?" pamit Alex.


"Hem, hati-hati," ucap Anes lalu sembari menyalami tangan Alex sampai akhirnya Alex masuk ke mobilnya dan meninggalkan Anes.


Anes langsung menuju ke kamarnya, mengambil test pack yang kemarin ia beli dan juga urin yang sudah ia siapkan sejak subuh tadi.


Anes menunggu Alex pergi karena ia tak ingin suaminya kecewa jika tahu hasilnya tidak seperti yang di inginkan. Jadi, Anes memilih untuk merahasiakannya dulu, kalau hasilnya positif, ia baru akan memberi tahu suaminya.


Dengan hati berdebar-debar ia menunggu hasil test pack yang baru saja ia masukkan ke urinnya.


Anes membuka mulutnya tanda tak percaya dengan apa yang di lihatnya, dua garis merah walaupun garis yang satunya masih agak samar. Karena masih belum yakin, ia kembali memasukkan test pack sampai lima kali dan hasilnya sama.


Anes sangat senang sekali, matanya berkaca-kaca karena terharu bahagia.


Anes mengusap perutnya yang masih datar, ia senang sekali karena akan ada malaikat kecil yang berkembang di rahimnya.


Tak henti-hentinya Anes bersyukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan doa-doanya selama ini. Tak ada kata lain kecuali rasa syukur yang begitu dalam, hingga menitikkan air mata.


🌼🌼🌼


Anes tampak senang sekali, ia selalu bersenandung kecil membuat para asisten rumah tangganya merasakan kebahagiaan sang majikan. Meskipun mereka tidak tahu apa yang membuat nyonya muda mereka tersebut bahagia.


"Bi, bantu saya masak ya buat makan siang, saya mau bawa ke kantor mas Alex," pinta Anes kepada salah satu ARTnya.


"Baik nyonya," sahut bibi yang bernama Lastri.


"Biar saya saja yang bantu nyonya muda masak, kamu kerjakan yang lain," ucap bi Ina kepada Lastri.


"Baik bila Ina," Bi Lastri langsung pergi meninggalkan bisa Ina.


"Tumben nyonya mau ke kantor?" ucap bi Ina.


"Iya bi, sekali-kali buat kejutan buat mas Alex nggak salah kan bi?" sahut Anes dengan senyum bahagianya.


"mood nyonya sepertinya benar-benar sedang bagus hari ini," batin bi Ina.


"Iya nyonya muda, pasti tuan muda akan sangat senang jika tiba-tiba melihat nyonya di sana," sahut bi Ina.


"Mas Alex pasti akan senang sekali kalau mengetahui aku hamil, aku akan kasih dia kejutan saat makan siang nanti. aku juga udah kangen lama nggak ke kantor," gumam Anes dalam hati.


beberapa saat kemudian, Anes selesai masak. Ia bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Anes sudah membungkus rapi hasil test pack tadi di dalam sebuah kotak kecil beserta sebuah surat kecil untuk Alex. Ia memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya dan menuju ke dapur untuk mengambil kotak bekal yang sudah ia siapkan.


"Pak, tolong antar saya ke kantor ya," ucap Anes kepada pak Anton.


"Baik nyonya," sahut pak Anton seraya berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Anes.


Anes meletakkan kotak bekal di sampingnya, kemudian ia membuka ponselnya.


"Em nggak usah bilang deh kalau mau ke sana, kalau bilang nggak jadi kejutan dong namanya," gumam Anes dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang Anes benar-benar tak sabar ingin segera sampai ke kantor. Namun, tiba-tiba jalanan di depannya macet.


"Pak ada apa? " ucap Anes karena mendengar bunyi klakson dari para pengendara lain.

__ADS_1


"Sepertinya di depan ada sebuah kecelakaan nyonya muda, jadi jalannya sedikit macet," sahut pak Anton.


"Ya udah pak nggak apa-apa, hati-hati aja nyetirnya," Anes tiba-tiba ngeri mendengar kata kecelakaan, hingga ia menyuruh sopirnya untuk berhati-hati.


🌼🌼🌼


Di kantor....


"Berikan ini kepada kepala divisi pemasaran, suruh mereka mengkaji ulang dan membuat ulang proposalnya, ini sungguh tidak masuk akal," Alex menyerahkan sebuah berkas yang baru saja ia perikasa kepada David.


"Baik bos," David menerima berkas tersebut dan segera keluar dari ruangan Alex.


"Nyonya Rania?" David kaget ketika keluar ruangan Presdir, ia berpapasan dengan Rania yang ingin masuk ke dalam.


"Minggir," ucap Rania sinis.


David ingin mencegahnya masuk, tapi Rania sudah keburu masuk ke dalam.


"Sepertinya yang aku takutkan akan terjadi, sekarang nyonya Rania sudah terang-terangan mendatangi bos Alex ke kantor," batin David. Ia melanjutkan langkahnya kembali.


Melihat kedatangan Rania, Alex langsung menunjukkan muka bencinya.


"Siapa yang mengijinkan kamu masuk? keluar!" tanya Alex tanpa melihat ke arah Rania.


"Tapi Lex,"


"Apa kamu tidak mendengar ucapan ku Rania? Keluar dari sini!" hardik Alex.


Sungguh, Alex tak ingin lagi berurusan dengan wanita itu.


"Aku hanya ingin bicara sebentar Lex, Aku mohon ijinkan aku bicara, aku mohon Lex," Rania memohon dengan menyedihkan.


"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, papa sudah tidak ada, jadi semuanya juga berakhir, aku tidak ingin ada urusan lagi denganmu. Kalau soal warisan, semuanya sudah di jelaskan pengacara papa, kamu nggak usah khawatir, sesuai keinginan papa, kamu berhak atas rumah, mobil serta beberapa unit apartemen dan juga tanah yang di sebutkan dalam surat wasiat. Patikan kamu jaga semuanya, atau aku akan mengambilnya kembali. Silahkan pergi dari sini, scurity!" Alex berteriak memanggil scuryti.


"Tapi aku ingin lebih Lex, warisan kamu lebih banyak berkali-kali lipat dari pada aku, Warisanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan warisan yang di berikan kepadamu. Tapi itu tidak penting sekarang, aku hanya menginginkan kamu kembali," batin Rania.


"Sebentar saja Lex, aku mohon! 10 menit saja," Rania terus memohon.


"Wanita ini! apa maunya!" batin Alex kesal.


"Please Lex,"


"Cepat katakan, Lima menit," ucap Alex dingin. Ia langsung memutar kursi yang ia duduki untuk membelakangi Rania. Ia tak ingin melihat wajah wanita yang dulu ia cintai, namun kini sangat ia benci tersebut.


🌼🌼🌼


"Mas Alex ada di ruangannya kan?" tanya Anes kepada resepsionis. Karena ia tidak bilang ingin datang, takutnya Alex sedang tidak di kantor.


"Ada nona, beberapa waktu yang kalau nyonya Rania juga datang," sahut resepsionis.


"Mama Rania? ah mungkin untuk membicarakan sesuatu yang penting menyangkut papa," batin Anes.


"Baiklah, terima kasih," ucap Anes dan langsung menuju lift, naik ke ruangan Alex. Ia sungguh sudah tidak sabar bertemu suaminya tersebut.


Sampai di depan pintu ruangan Alex, Anes langsung membuka pintu. Namun, ia mendengar ucapan Rania yang langsung membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk.


"Aku tahu kami masih mencintaiku Lex," kata yang Anes dengar dan...


"Deg!" Anes terkejut mendengar apa yang baru saja Rania katakan.

__ADS_1


"Apa maksud mama Rania bicara seperti itu?" batin Anes dengan perasaan yang sudah tak karuan. Ia sedikit membuka pintu, tanpa ada yang menyadarinya, karena Alex dan Rania membelakangi pintu. Anes penasaran berharap apa yang baru saja ia dengar itu salah.


"Jawab Lex, kamu masih mencintaiku sama seperti aku mencintai kamu kan Lex? tidak semudah itu kamu melupakan aku kan Lex?" lanjut Rania.


"Kenapa mama Rania bicara seperti itu? cinta? apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa mas Alex diam? sebenarnya ada apa ini? Anes mulai bergetar, hatinya mulai gelisah.


Alex masih tak bergeming dari tempat duduknya, dia sangat muak mendengar ocehan Rania, bahkan sekedar membalas ucapannya saja ia malas.


"Cukup Rania, kamu boleh pergi sekarang!" ucap Alex dingin.


Rania mendekati Alex, dan berdiri di depan Alex uang membelakangi pintu. Ia melihat Anes yang berdiri di depan pintu, mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Rania tersenyum licik melihat Anes.


"Sekarang papa kamu sudah tidak ada, jadi tidak ada yang bisa menghalangi kita berdua bersama, termasuk istri kamu. Aku tahu kamu menikahinya karena terpaksa kan? kamu tidak benar-benar mencintainya, yang kamu cintai hanya aku, aku Lex, cinta pertama kamu. Aku yakin kamu sudah menunggu waktu ini tiba kan, saat di mana kita bisa bersama lagi," Rania terus bicara untuk memancing emosi Anes.


"Jadi selama ini mereka?" Anes benar-benar merasa sesak di dadanya mendengar kenyataan bahwa Ranialah cinta pertama Alex yang selama ini selalu menjadi rasa penasarannya, siapa perempuan yang pertama kali berhasil menaklukkan hati suaminya. Ia merasa di bohongi oleh suaminya sendiri. Air matanya lolos begitu saja mewakili perasaannya saat ini.


Anes membuka pintunya dan saat itu juga Rania mendekatkan wajahnya ke wajah Alex, seolah-olah mereka sedang berciuman. Secepat mungkin Alex menghindar, namun terlambat, Anes keburu melihatnya. Tentu saja ia salah paham karena memang Rania sengaja memposisikan seolah-olah mereka sedang berciuman.


"Gila kamu Rania!" umpat Alex.


"Mas Alex!" ucap Anes lirih, kotak bekal yang dari tadi ia tenteng jatuh ke lantai tanpa perlawanan. Ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Alex menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal itu.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat, mas bisa menjelaskan semuanya," ucap Alex. Ia langsung berdiri dan menghampiri Anes.


Sedangkan Rania tersenyum, senang karena menurutnya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.


Anes hanya memandangi suami dan mantannya tersebut secara bergantian tanpa bersuara.


"Sayang, bicaralah, jangan diam seperti ini. Mas akan jelaskan semuanya sama kamu. Percayalah, semua ini hanya salah paham," Alex memegang kedua pundak Anes, ia sangat khawatir dan takut kalau Anes mendengar semuanya dan marah.


Alex ingin memeluk Anes, namun Anes segera menghindar.


"Aku sudah mendengar semuanya," ucap Anes dengan nada bergetar, namun sebisa mungkin ia tegar.


"Sayang, jangan dengarkan apa yang dia katakan, mas yang akan menjelaskannya sama kamu," ucap Alex.


"Cukup mas! aku tidak hanya mendengar tapi juga melihat hal menjijikkan! Silahkan kalian lanjutkan dan nikmati! Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian!" ucap Anes. Ia langsung membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.


"Sayang!" teriak Alex memanggil Anes, namun Anes tak menyahutnya. Ia terus berlari menuju lift.


Alex hendak mengejar Anes, namun di halangi oleh Rania.


"Jangan pernah kamu perlihatkan muka kamu di depan ku lagi, kalau terjadi sesuatu dengan istriku kamu akan tanggung akibatnya, Alex mengacungkan jari telunjuknya di depan Rania dengan penuh amarah. Ia langsung mengejar Anes. Sedangkan Rania tersenyum puas.


Anes benar-benar merasa marah, sedih, sakit hati dan kecewa. Air matanya yang sedari tadi ia tahan, kini perlahan membanjiri wajahnya.


"Nona?" ucap David kaget karena berpapasan dengan Anes. Ia sudah menduga sesuatu yang tidak di inginkan pasti sudah terjadi, karena saat ia keluar dari ruangan Presdir tadi, Rania baru saja datang dan sekarang ia bertemu Anes dalam keadaan seperti ini.


"Kamu pasti sudah mengetahuinya kan? kenapa tidak pernah bilang sama saya? ah tentu saja kamu akan memihak bos kamu. Kamu sama jahatnya dengan mereka," Anes mendorong tubuh David dan meneruskan larinya.


"Bukan seperti itu nona, Anda salah paham," Batin David.


"Bos? apa yang terjadi?" tanya David begitu melihat Alex keluar dari lift.


Alex sudah tidak mendengarkan pertanyaan David ia terus berlari mengejar Anes, namun Anes keburu masuk ke dalam taksi.

__ADS_1


🌼🌼🌼


💠Hai, author tidak bisa langsung menghilangkan karakter Rania, karena ia sudah ada sejak awal, dan butuh sedikit cerita untuk menghilangkannya. Percayalah, mas Alex tidak akan pernah berpaling dari Anes. Siapa yang percaya kekuatan cinta mereka? Salam hangat author❤️❤️❤️ jangan lupa vote🙏💠


__ADS_2