
"Tunggu!" teriak Vanya.
"Aku belum selesai bicara, beraninya kamu pergi begitu saja!" ucap Vanya lantang.
Anes menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.
"Apa lagi yang perlu di bicarakan nona Vanya? bukankah, hanya sia-sia dan buang-buang waktu kalau meladeni orang macam Anda. Bahkan, saya sudah tidak berniat untuk menjelaskan apapun sama Anda dan juga kalian semua. Terserah dengan pikiran buruk kalian. Penjelasan seperti apapun hanya akan menambah Anda semakin menuduh dan menghina saya, karena di mata Anda, saya selalu buruk. Tapi, asal Anda tahu, saya juga tidak memandang tinggi Anda, dan saya peringatkan, buat kalian dan buat Anda khususnya nona Vanya, jangan pernah mencoba untuk mendekati pak Alex! Ayo Mel!"
"Beraninya! siapa kamu
sampai berani bilang seperti itu sama saya? sepertinya satu tamparan tadi tidak cukup membungkam mulut kamu. Harus di kasih pelajaran lagi supaya mulut dan juga tubuh penggoda kamu itu jera, dasar wanita kurang ajar!" ucap Vanya sambil melayangkan tangannya di udara hendak menampar Anes lagi.
Tapi, sebelum tangan itu mendarat di pipi Anes, sebuah tangan sudah mencegahnya terlebih dahulu.
"Beraninya kamu menghinanya seperti itu! Sekali kamu berani menyentuh Anes sedikit saja, saya pastikan tangan kamu ini tidak akan ada pada tempatnya lagi. Bahkan kalau perlu, nyawa kamu sebagai taruhannya!" Ternyata Alex yang mencegah tangan Vanya. Ia mencengkeram tangan Vanya dengan kuat karena emosi. Hingga Vanya meringis kesakitan. Sangat terlihat jelas dari wajah Alex, kemarahan yang sudah sampai puncaknya.
Ricko yang susah payah mengumpulkan keberanian untuk menghampiri dan membela Anes pun mengurungkan niatnya setelah mengetahui kedatangan Alex.
Semua yang ada di sana tercengang. Mereka auto menunduk takut tidak berani menatap Presdir mereka yang sedang di penuhi amarah tersebut. Berbeda dengan Amel, senyum senang nampak jelas dari wajahnya ketika Alex datang.
"Mas Alex," lirih Anes.
"Pak Alex, tolong lepaskan tangan saya, sakit!" pekik Vanya.
"Baru segitu saja sudah kesakitan, bagaimana yang lebih dari itu?" ejek Alex. Kemudian, dengan kasar Alex melepaskan cengkeramannya.
"Tapi pak, saya hanya membantu menyelamatkan rumah tangga Anda dari wanita sialan ini! apa Bapak tidak kasihan sama istri Bapak, kalau dia tahu ada wanita lain yang menggoda suaminya?"
"Tutup mulut sampahmu itu!" teriak Alex.
__ADS_1
"Ta, tapi pak..." Vanya masih belum menyerah.
"Nona Vanya, sebaiknya Anda tidak banyak bicara lagi, atau saya benar-benar akan membuat Anda bungkam tak bisa bicara lagi," David yang datang bersama Alex ikut geram dengan Vanya.
"Saya hanya berusaha menyelamatkan pak Alex dari pelakor pak David," Masih kekeh tidak menyerah.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Alex kepada Anes lembut.
"Aku nggakpapa mas," sahut Anes.
"Sayang? Mas? sekarang kalian mengakui ada hubungan spesial? Pantas, Bapak lebih membela dia dari pada saya yang jelas-jelas mencoba menyelamatkan rumah tangga Bapak. Menyelamatkan Bapak dari ****** ini!" ucap Vanya dengan berani. Dia merasa sudah kalah dari Anes, karena jelas-jelas Alex memanggilnya dengan sebutan sayang. Kerana sudah kepalang tanggung, sekalian Vanya memberanikan diri dengan ucapannya.
"Nona Vanya, tolong jaga mulut Anda!" David juga sudah sangat marah.
"Wah, sekarang mereka berani terang-terangan di depan kita, benar-benar pasangan mesum yang tidak tahu malu," bisik para karyawan.
Alex mengepalkan tangannya kuat. Namum, tangannya di sentuh lembut oleh Anes.
"Mas, sudah ayo pergi saja dari sini," ajak Anes.
"Mas sudah tidak tahan sayang, mendengar mereka setiap hati memfitnah dan menuduh kamu sebagai penggoda suami orang."
"Mas tahu hal itu?"
"Ya, selama ini mas tahu. Tapi, mas diam saja, selama kamu baik-baik saja sayang, karena kamu yang meminta merahasiakan hal ini. Sekarang mas tahu kenapa kamu ingin merahasiakannya, ternyata mungkin ini menjadi salah satu penyebabnya. Tapi, sekarang mereka benar-benar kelewatan! mas tidak akan mengampuni mereka!"
"Tapi mas,"
"Kalian dengarkan baik-baik! perempuan yang kalian katakan penggoda, pelakor dan ****** ini adalah istri sah saya! Alex Abraham Parvis. Karena kalian berani menyakiti istri saya, maka kalian akan terima akibatnya." Kemudian, Alex mengajak Anes pergi dari sana.
__ADS_1
"Urus mereka!" titah Alex kepada David.
"Baik bos!" sahut David.
Mereka semua yang mendengar langsung dari mulut Alex kalau Anes adalah istrinya tercengang. Antara percaya dan tidak, syok dan juga takut karena selama ini selalu menggosipkan Anes. Vanya juga bungkam, rasanya dia seperti di telan bumi hidup-hidup. Tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya yang tadi penuh energi untuk marah-marah, mendadak lemas seperti tidak memiliki tulang. Dan dingin seperti es. Pasalnya, ia yang paling menghina Anes.
Ricko juga tak kalah terkejutnya dengan mereka. Dia menerawang alasan Anes kemarin menolak cintanya yang bahkan belum ia utarakan tersebut.
"Jadi, karena ini kamu tidak membalas perasaanku Nes, karena kamu sudah menikah dengan Presdir," batin Ricko yang waktu di kantin masih memiliki rasa percaya diri untuk tetap memperjuangkan cinta Anes, karena menurutnya Anes masih single dan jomblo. Kini, rasa percaya diri itu mendadak hilang, bukan hanya karena Anes sudah menikah, tapi masalah utamanya adalah yang menjadi suami Anes adalah seorang Alex Abraham Parvis. Dia tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Alex. Ricko hanya bisa mendesah kecewa.
"Bukankah waktu itu saya sudah memperingatkan kalian, tapi kalian tidak mengindahkannya. Karena kalian tidak bisa menjaga mulut kalian, maka kalian akan mempertanggungjawabkannya. Saya pastikan, secepatnya kalian akan mendapat surat pemecatan. Dan jangan salahkan saya kalau nanti kalian akan sulit mencari pekerjaan di tempat lain," ucap David tegas dengan penuh penekanan.
Wajah mereka kini pucat. Karena mereka tahu, David tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Pak David tolong maafkan kami, beri kami kesempatan lagi. Tolong jangan pecat kami," ucap Siska memohon. Namun, David acuh dan langsung meninggalkan mereka yang masih di selimuti ketakutan.
"Duh, gimana nih, semoga kita tidak ikut di pecat, kita kan nggak ikut-ikutan, kita hanya menonton saja kan," ucap salah satu karyawan dengan gemetar.
"Iya, kita kan nggak ikut ngatain Anes, kalau kita juga di pecat dan tidak bisa bekerja di tempat lain, bagaiman nasib kita nanti," sahut karyawan lain.
Vanya dan Siska masih mematung di tepatnya tak bergeming dengan wajah yang sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Amel tampak tersenyum sangat puas sekali melihat wajah mereka.
"Akhirnya aku bisa melihat wajah kalian, saat kalian mengetahui kenyataan kalau Anes itu adalah istri pak Alex," batin Amel.
"Bukankah saya sudah bilang, mulut kalian bisa jadi Boomerang untuk kalian sendiri. Terbukti kan sekarang?" ucap Amel sedikit meledek. Lalu, dia juga ikut meninggalkan mereka yang masih betah dalam posisi mereka.
💠Bagaimana? author sudah mengabulkan permintaan kalian buat mengungkap hubungan sebenarnya antara Alex dan Anes di kantor kan? jadi, Jangan lupa like, komen dan votenya ya? serta jadikan kisah mereka sebagai favorit kalian. Terima kasih🙏😘💠
__ADS_1