MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 207


__ADS_3

Dalam perjalanan, David tak banyak bicara. Ia masih menahan amarahnya, ingin segera menemukan Dila dan memberi gadis itu pelajaran.


"Dave, kita mau mencari Dila di mana?" tanya Amel.


"Belum tahu, tapi dia nggak tahu banyak tempat di Jakarta," jawab David sambil mengedarkan pandangannya ke luar mobil.


Kemudian, David menelepon salah satu orang suruhannya yang berpencar untuk mencari keberadaan Dila. Setelah berbincang beberapa saat dengan orang tersebut, David memutar balik laju mobilnya.


"Kenapa balik arah Dave?" tanya Amel penasaran.


"Dila sudah meninggalkan Jakarta semalam, aku yakin dia kembali ke rumah singgah," ucap David tetap fokus pada kemudinya.


"Kita akan ke luar kota lagi?" tanya Amel.


David menoleh dan tersenyum kepada kekasihnya tersebut.


"Hem, apa kamu keberatan menemani aku ke sana?" David mengusap kepala Amel lembut.


"Tentu tidak tuan August tersayang, kemanapun aku temani," balas Amel tersenyum manja.


David membalas senyuman Amel dengan kecupan di punggung tangan wanita itu.


"Terima kasih," ucapnya. Lalu sedikit mempercepat laju mobilnya.


Amel penasaran sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka, kenapa pagi-pagi sudah bersitegang seperti itu wajah mereka. David menjelaskan semua yang terjadi secara detail kepada Amel dengan penuh emosi.


Jangankan David, Amel yang hanya mendengar ceritanya saja ikut terpancing emosi.


"Tuh kan, dari awal aku udah punya pikiran buruk tentang Dila itu. Anes itu terlalu polos dan baik, malah nampung pelakor di rumah. Heran deh ma tuh anak baiknya nggak ketulungan, jadi beda tipis baik, naif sama bodoh," Amel menutup mulutnya sendiri, terkejut kenapa bisa mengatakan hal itu tentang sahabatnya sendiri.


"Sorry Nes, keceplosan. Habis suka gemas sama kebaikan kamu itu, untuk pak Alex nggak dengar, kalau dengar aku merutuki Anes, pasti ngancam ya tidak si restui sama David, ancaman mematikan!" gumam Amel sambil memanyunkan bibirnya.


David tersenyum melirik ke arah Amel yang menurutnya lucu tersebut.


"Ini salahku Mel, aku membiarkan Dila tinggal di sana, tidak menyangka dia akan bertindak sejauh itu," ucap David terdengar sangat merasa bersalah.


"Ini bukan salah kami juga Dave," Amel menjadi kasihan kepada kekasihnya tersebut. Ia tahu, saat ini David benar-benar kehilangan mukanya di depan Alex dan Anes.


"Kebanyakan baca komik online deh kayaknya Dila, sampai bisa punya ide gila, menjebak dengan obat kayak gitu," lanjut Amel.


"Bukannya kamu juga suka baca kayak gitu Mel?" selidik David.


"Iya sih, tapi aku kan pintar Dave, nggak sudi pakai cara kayak gitu. Apalagi buat menjerat kamu, tanpa obat kayak gitu pun, kamu akan nafsu dan ter*ngsang sama aku," jawab Amel penuh rasa percaya diri dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Masa sih?"


"Pasti, kita lihat saja nanti," sahut Amel.


"Tidak usah nanti, kita buktikan sekarang saja bagiamana?" David menggoda Amel.


"Sekarang? di mobil? mobil bergoyang dong jadinya," ucap Amel manja. Ia tahu kalau David hanya menggodanya. Fokus mereka saat ini adalah Dila.


"Ck. dasar!" David mengacak-acak rambut Amel dengan gemasnya. Ya, setidaknya keberadaan Amel di sisinya saat ini, sedikit menghibur hatinya yang penuh api amarah.


Di tengah perjalanan, Amel merasa lapar. Perutnya terus berbunyi, cacing-cacing dalam perutnya seakan berdemo meminta jatah makan.


David yang mendengar suara perut Amel menoleh.


"Kamu lapar beb?" tanyanya.


Amel mengangguk mantap.


"Tapi ini belum jam makan siang? Tumben perut kamu sudah keroncongan begitu?" David heran.


"Aku belum sarapan Dave tadi, niatnya mau nodong makan di rumah Anes," ucap Amel nyengir.


"Kenapa nggak bilang sih kalau belum sarapan, padahal tadi aku loh yang masak di sana,"


David mengangguk.


"Putar balik Dave, aku mau makan masakanmu! Nggak rela pak Alex yang makan," rengek Amel namun bercanda sebenarnya.


Bukannya menyahut atau menuruti kemauan Amel, David membelokkan mobilnya ke store KFC untuk membelikan Amel makan dan minum. Keduanya membeli dari mobil tanpa turun karena David tidak ingin membuang-buang waktu dengan makan di sana.


Setelah membayar, David melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


"Makanlah dengan pelan, jangan seperti anak kecil," ucap David yang melihat Amel tampak bersemangat memakannya.


"Aku lapar Dave!" serunya dengan mulut penuh makanan.


"Aku tahu, tapi belum satu Minggu kan nggak makan Mel? Minum dulu, nanti tersedak," ucap David.


Amel menuruti ucapan David.


Setelah makan Amel, menurunkan kaca mobilnya, ia ingin menghirup udara luar sambil melihat pemandangan yang sangat indah menurutnya.


"Aduh!" pelit Amel mengucek matanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya David khawatir.


"Kelilipan!" seru Amel terus mengucek matanya.


"Jangan di kucek, sini!" David menghentikan mobilnya lalu menarik dagu Amel. Tahu maksud David, Amel membuka matanya lebar-lebar dan David meniup-niup mata Amel. Terakhir, David mengecup mata kiri Amel yang kelilipan tersebut sebagai bonus.


"Sudah," ucapnya.


"Ih so sweet banget deh ayang aku," Amel mencubit manja lengan David. David hanya merespon dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tutup kacanya, kalau kelilipan lagi nanti bukan aku tiup pakai mulut, tapi aku tiup pakai blower,"


"Ck. gitu amat Dave! baru juga di bilangin so sweet juga, udah bikin garing aja," dengus Amel. Ia meraih cermin kecil dari dalam tasnya, melihat wajahnya, memastikan kalau matanya masih cantik meskipun habis ia kucek tadi yang mengakibatkan matanya sedikit berair.


"Kenapa? takut make up luntur?" tanya David datar.


"Aku nggak pakai make up ya? cuma pakai pelembab sama sun protection aja, nih nggak ada pensil alis, eye liner dan lainnya," Amel tak terima.


"Aku tahu," jawab David santai.


"Ck. Ada-ada saja, seharusnya kan aku sekarang dalam keadaan mood jelek, marah-marah dan tegang, tapi malah begini. Merepotkan!" dengus David tanpa sengaja menggerutu.


"Apa? Jadi aku menyusahkan?" Amel membulatkan kedua matanya.


"Tidak Amel sayang, justru kamu menghilangkan rasa marahku,"


"Terus nggak jadi marah sama Dila?" tanya Amel.


"Masih, bahkan sangat marah!"


"Aneh!" seru Amel bercanda.


"Kamu yang aneh!" balas David.


Amel bisa melihat betapa kecewanya David, meskipun ia terlihat biasa di depan Amel, tapi perempuan itu tahu, di dalam hatinya merasa sangat sedih dan kecewa.


Mereka kembali terdiam, Amel kembali membuka kaca mobilnya dan menengadahkan tangannya ke luar jendela mobil. David menghela nafasnya panjang melihat tingkah menggemaskan Amel.


Karena merasa bosan, Amel lebih memilih untuk tidur dan meminta David membangunkannya ketika sudah hampir sampai di rumah singgah.


"Malah tidur, di kira aku sopir dan kita sedang piknik apa?" David menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia menepikan mobilnya sebentar untuk membenarkan posisi tidur Amel supaya wanita tersebut lebih nyaman dalam tidurnya.


David mengecup bibir Amel.sekilas lalu kembali melajukan mobilnya, melanjutkan perjalanan ke rumah singgah yang berada di luar kota tersebut.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2