MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 36


__ADS_3

Anes mulai mengerjapkan matanya, akibat sinar hangat sang mentari yang sampai kedalam kamarnya. Dia meraba-raba kesamping tempatnya tidur. Namun, ia tidak menemukan suaminya.


"Dimana mas Alex? apa dia sudah bangun? huft, lagi-lagi kalah cepat bangunnya sama dia, bagaimana bisa jadi istri yang baik kalau begini terus!" kesahnya.


Tiba-tiba dia mengingat lagi kejadian semalam.


"Ya ampun, sekarang mau ditaruh dimana mukaku, kenapa aku bisa seliar itu semalam, bahkan diranjang? oh tidak! apa yang mas Alex pikirkan tentangku Sekarang? rasanya, aku benar-benar ingin menghilang saja, atau aku pura-pura lupa ingatan saja lebih baik kali ya. Aaaarrgghhh!" ucap Anes frustrasi sambil mengusap-usap kan wajahnya kebantal.



Tanpa Anes sadari, ternyata sedari tadi Alex berada dalam kamar tersebut, tidak seperti perkiraannya, yang mengira bahwa Alex tengah menikmati ritual mandinya. Lebih tepatnya, Alex sedang berada di depan cermin, mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang ia kalungkan dilehernya. Dan tentu saja dia mendengar semua ocehan Anes tadi, dan itu sukses membuatnya terkekeh.


Sadar akan keberadaan alex, Anes sontak menoleh kearah sang suami yang sedang menertawakannya tersebut.


"Mas Alex, kenapa bisa disini?"


"Kenapa memang? aneh jika aku berada dikamar ini? apa kamu benar-benar lupa ingatan? dan lupa kalau aku suami kamu? sampai bertanya kenapa aku ada disini? emang seharusnya aku dimana? Hem?" timpal Alex yang sengaja menggoda Anes.


Anes tidak menjawab pertanyaan Alex, dia justru menaikkan selimut yang tadi hanya menutupinya sampai batas lehernya saja, kali ini dia tenggelamkan seluruh badannya kedalam selimut.


"Bodoh bodoh, pasti dia mendengar ucapan ku tadi, sekarang aku harus bagaimana? bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa? hiks tapi enggak mungkin, jelas-jelas semua terekam oleh memoryku, atau pura-pura amnesia beneran aja kali ya? tapi nggak mungkin kan tiba-tiba aku amnesia tanpa sebab, bisa-bisa dia menertawaiku kalau ketahuan," gusar Anes dalam hati dibalik selimut tersebut.


Tanpa Anes sadari, Alex sudah duduk ditepi ranjang. Alex tersenyum geli menyaksikan tingkah istrinya. Dia membuka selimut bagian atas yang menutupi wajah Anes. Seketika itu, Anes langsung memejamkan matanya.


"Aku pura-pura pingsan aja kali ya, ah tidak! terlalu drama, ah ok fix, aku pura-pura tidur aja, lagi pula udah kepalang, aku udah memejamkan mata, tinggal melanjutkan akting saja." Anes masih berkutat dengan pikirannya sendiri sambil terus memejamkan mata.


"Buka matamu! aku tau kamu hanya berpura-pura." ucap Alex.


Anes masih bergeming.


"Nggak usah malu soal semalam, bersikaplah biasa saja, jujur aku menyukai keliaranmu tadi malam," ucap Alex lirih tepat ditelinga Anes sembari tersenyum.


Anes masih tak bergeming, namun, raut mukanya berubah menjadi merah mendengar ucapan suaminya tersebut.


"ANESKA!"


Tetap bergeming. Alex pun gemas dibuatnya, tanpa dikomando, dia membopong tubuh Anes yang berbalut selimut tersebut dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas Alex!" terpaksa Anes membuka mata dan juga suaranya ketika Alex menurunkannya dikamar mandi.


"Cepat mandi, habis itu berkemas, apa kamu lupa hari ini kita akan pulang?" ucap Alex sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


Anes masih diam mematung, dan dilihatnya Alex masuk kembali ke kamar mandi.


"Ma-mau ngapain mas?" tanya Anes terbatas.


Alex mendekati Anes dan menangkupkan kedua tangannya diwajahnya Anes.

__ADS_1


"Nggak usah malu, bersikaplah biasa saja, sekarang cepatlah mandi ok?"


"Nggak usah malu, nggak usah malu tapi diungkit terus, nyebelin!" ucap Anes dalam hati.


Kemudian Alex menarik selimut yang membalut tubuh Anes sambil berjalan kearah pintu.


"Jangan lama-lama mandinya! kalau lama aku akan kunci pintunya dari luar!" ketika sampai diambang pintu Alex berbalik dengan satu tangan membawa selimut dan yang satu berkacak pinggang.


"Ck, dasar!" sungut Anes.


🌼🌼🌼


Anes sedang berada didepan cermin dan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Alex yang baru saja masuk langsung mengambil alih handuk yang dipegang Anes.


"Sini aku bantu!" ucapnya.


Anes hanya diam sambil melihat bayangan dirinya dan Alex dibalik cermin yang ada didepannya.


"Apa kamu bahagia selama kita disini?" tanya Alex.


Sebuah anggukan dengan senyuman menjadi jawaban Anes atas pertanyaan suaminya.


Ya, kebahagiaan terlihat jelas dari keduanya, walaupun mereka belum menyatakan perasaan mereka satu sama lain, tapi kehangatan dan sikap yang ditunjukkan oleh masing-masing, sudah membuat mereka merasa dicintai.


"Aku tidak tahu seperti apa perasaanmu yang sebenarnya untukku saat ini mas, tapi sikap dan perhatianmu terhadapku, membuatku ingin berpikir bahwa kamu mencintaiku, dan aku ingin tetap berpikir seperti itu sampai kamu menyatakannya, suatu hari nanti, yang entah itu kapan, dan mungkin juga tidak akan terjadi, tapi, sekarang biarkan aku bahagia dengan pikiranku tersebut." *Anes.


Suasana hening, dengan posisi Alex masih tetap memeluk Anes dari belakang, dan dengan pikiran mereka masing-masing.


"Apa kamu yakin hari ini mau pulang? kalau masih mau disini biar ku atur," Alex memecah keheningan diantara mereka.


"Sebenarnya berlama-lama disini juga aku betah mas, tapi kan kita juga harus segera kembali bekerja," sahut Anes.


"Apa kamu yakin akan tetap bekerja? apa tidak sebaiknya..."


"Mas lupa itu kan udah menjadi kesepakatan kita, mas sendiri yang menyanggupinya ketika aku bilang ingin tetap bekerja setelah menikah." Anes memotong ucapan Alex.


"Iya iya baiklah, sekarang kita berkemas," ajak Alex.


Saat berkemas, Anes ingat sesuatu. Kemudian dia meraih tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Aku punya sesuatu buat mas Alex," ucapnya sambil menyembunyikan tangannya.


"Apa?" tanya Alex.


"Taraaaaa!" Anes memperlihatkan tangannya yang memegang sebuah gantungan hp.


"Apa itu?" Alex masih tak mengerti.

__ADS_1


"Ini gantungan hp, kemarin waktu jalan-jalan di Majeedhee Magu aku melihat ini, lucu kan, lihat ini mirip mas Alex yang membawa bentuk hati setengah, sini mana hp mas Alex?"


"Nggak mau! kenapa hatinya cuma setengah?"


"Huft, itu karena yang setengahnya ada padaku, lihat!" Anes menunjukkan ponselnya yang sudah dihiasi aksesoris gantungan hp.


"Lucu kan? ini terlihat mirip aku kan? coba kalau digabungin jadi seperti dua orang yang sedang menyatukan hati mereka," jelas Anes girang, sambil menyatukan gantungan hp couple tersebut.


"Menggemaskan sekali sih dia, beli barang couple segala," batin Alex.


"Ini tidak mirip denganku, apalagi itu sama sekali tidak mirip denganmu."


"Padahal emang mirip sih," batin Alex.


"Coba lihat! ini mirip sekali tau! rambutnya, wajahnya, mirip mas Alex, datar tanpa ekspresi, dan ini juga mirip aku, seperti seorang gadis cantik dengan senyum manisnya," protes Anes.


"Terserah kamu saja! tapi aku nggak mau yang ini, aku mau yang itu," Alex meminta gantungan hp dengan boneka perempuan yang mirip Anes.


Anes memilih mengalah, ia mengganti gantungan hpnya dengan boneka laki-laki yang membawa setengah hati.


"Nah, begini kan lebih bagus,"ucap Alex sambil memasangnya.


"Menggemaskan sekali, seperti Anes," senyum Alex dalam hati sembari memepersiapkan gantungan hpnya.


"Kenapa aku nggak kepikiran ya mas? aku mikirnya mas yang cowok sesuai dengan jenis kelamin, hihihi "


"Ini jadi seperti aku milikmu dan kamu milikku," lanjut Anes lagi dengan wajah memerah.


"Ya ampun, kata-katanya mengisyaratkan apa sih? aku miliknya dan dia milikku? Alex bertanya dalam hati.


"Mas tidak ingin bilang sesuatu gitu?"


"Bilang apa?"


"Huh dasar nggak peka! masa iya, harus aku contohin makasih istriku hadiahnya, ini bagus banget aku menyukainya," gumam Anes dalam hati.


"Nggakpapa, lupakan!"


"Ya udah aku lanjutin beres-beresnya," Anes meletakkan hpnya dan mengambil baju yang diletakkan diatas tempat tidur dan ia masukkan ke dalam koper.


Alex duduk ditepi ranjang dan menarik lengan Anes, sehingga Anes terhuyung jatuh kepangkuannya.


"Mas..mmmphh."


Alex sudah menempelkan bibirnya dibibir Anes dan menciumnya mesra.


"Makasih hadiahnya, aku menyukainya," kata-kata yang ingin Anes dengar akhirnya keluar juga dari mulut Alex.

__ADS_1


Anes tersenyum dan mereka kembali berciuman dengan posisi Anes duduk dalam pangkuan Alex dan tangannya ia lingkarkan ke leher Alex.


__ADS_2