MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 91


__ADS_3

Pagi ini, Alex akan mengajak Anes pindah ke rumah baru. Rumah yang dua Minggu yang lalu mereka survei. Sekarang rumah tersebut sepenuhnya sudah bisa di tempati oleh mereka.


"Sayang, nggak usah bawa barang banyak-banyak, di sana aku udah menyiapkan semuanya termasuk baju-baju kamu," Alex memeluk dari belakang.


"Mas, lepasin! aku lagi masukin baju-baju ke koper nih, bukannya bantuin kek!" Anes menggeliat mencoba melepaskan pelukan sang suami. Namun, tentu saja usahanya sia-sia, bukanya terlepas, pelukan Alex justru semakin erat.


"Dingin sayang, mas butuh kamu biar hangat, lagian bajunya nggak usah di bawa semua. Di sana mas udah nyiapin semuanya sayang. Yang di sini biarin aja, nanti kalau sesekali kita menginap di sini kan bisa buat ganti," Alex membenamkan wajahnya di leher jenjang Anes.


"Mas ah geli! aku cuma bawa beberapa kok yang belum pernah aku pakai, kan sayang kalau di tinggal,"


"Terserah tuan putri sajalah," Alex menciumi pipi Anes tanpa henti.


"Mas hentikan! ayo cepat siap-siap udah jam berapa ini?"


"Ok, ok! Jangan marah dong! ya ya ya?"


"Iya aku nggak marah kok," Anes tersenyum sambil menyentuh pipi Alex.


🌼🌼🌼


Mobil yang di tumpangi Alex dan Anes memasuki gerbang besar rumah mereka yang baru. Tampak dua orang laki-laki berbadan tinggi dan gagah berdiri di sisi kiri dan kanan gerbang tersebut. Mereka menunduk memberi hormat tatkala mobil Alex memasuki gerbang.


Mobil David mengikuti mobil Alex di belakangnya. Tapi, David tidak sendiri, ada sosok gadis yang duduk di samping kemudinya. Mereka tampak serasi sekali seperti sepasang kekasih.


"Waaah Nes, nih rumah besar sekali!" seru Amel yang baru saja turun dari mobil David dan menghampiri Anes. Ia takjub dengan kemewahan rumah yang ada di depannya kini.



(source: pinterest)


"Aku bisa kesasar keluarnya kalau misalnya di lepas sendirian di dalam ini. Suami kamu memang kaya, tapi nggak nyangka aja sekaya ini," lanjut Amel dan hanya di balas dengan sebuah senyuman oleh Anes.


"Udah ah, ayo masuk!" ajak Anes.


Para pelayan yang sudah standby dari tadi menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan muda, nyonya muda," sapa para pelayan yang jumlahnya cukup banyak menurut Anes.


Alex hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Anes mengulum senyum ramahnya kepada mereka sambil menggandeng lengan Alex. Diantara para pelayan tersebut, dua diantaranya Anes sudah tidak asing lagi. Ya, bi Ani dan bi Ina.


"Sayang, mereka adalah para pelayan di rumah ini, mereka tinggal di rumah belakang," jelas Alex.


"Tidak heran juga sih jika ada begitu banyak pelayan yang jumlahnya mungkin 11 atau lebih itu, mengingat rumah sebesar ini kalau pelayannya sedikit pasti akan kerepotan" batin Anes.


Mereka masuk ke dalam, di sana sudah ada orang tua Anes dan pak Arya. Tapi Rania tak nampak datang bersama pak Arya, karena ia sedang berada di luar negeri bersama teman-teman sosialitanya dan baru akan pulang esok hari. Anes sengaja mengundang mereka untuk acara syukuran memasuki rumah baru mereka.

__ADS_1


Tak lama kemudian, para sahabat Alex juga datang.


"Ngapain kalian ke sini! Apa kalian tidak punya pekerjaan sampai ada waktu main-main kemari?" tanya Alex kepada Juna, Bryan dan Baim yang baru saja datang.


"Kita ke sini karena di undang nyonya pemilik rumah ini dong," jawab Juna.


"Sayang?" Alex melihat ke arah Anes.


"Iya mas, aku yang meminta mereka datang, kan mereka sahabat mas Alex jadi aku pengen berbagi kebahagiaan juga sama mereka,"


"Iya bro, kita datang karena di undang istri kamu, bukan karena kamu, jadi jangan GR! kalau kamu yang mengundang kita nggak bakal datang," ucap Bryan bercanda.


"Sial!" umpat Alex.


"Wah, suami kamu pintar juga yang mencari uang Nes, kalau aku jadi perempuan, aku juga mau jadi madunya," Juna melihat kagum keindahan dan kemewahan rumah tersebut.


"Akunya yang nggak mau! dasar brandal!" hardik Alex.


"Sudah-sudah ayo masuk kita mulai aja makan-makannya," Anes mengajak mereka untuk menuju ruang makan karena orang tua dan mertuanya sudah menunggu di sana.



(source: pinterest)


"Asyik makan-makan!" celetuk Juna yang ternyata sudah berjalan mendahului mereka.


"Om baik, kalian apa kabar? sudah lama sekali om nggak pernah lihat kalian," pak Arya membalas sapaan Juna.


"Kita juga baik om, maklumlah kita sibuk jadi jarang sekali balik ke Indonesia," ucap Baim.


Mereka bertiga tidak melihat keberadaan Rania, tapi mereka juga tidak bertanya, karena mereka tahu kalau tidak ada yang tahu cerita masa lalu Alex selain mereka, David dan Alex sendiri.


Selesai makan, dilanjutkan dengan bersantai sambil berbincang bincang. Di sana juga ada banyak camilan dan juga minuman yang menemani obrolan santai mereka yang sudah di siapkan oleh para pelayan.


Obrolan mereka di bagi menjadi dua kubu, yaitu kubu para tetua yang isinya kedua orang tua Amel dan pak Arya, dan kubu para anak muda yang isinya akex, David, Juna, Baim dan bryan. Dari segi obrolan tentu saja juga berbeda. Para orang tua terlihat santai berbincang sambil sesekali meneguk minuman yang di suguhkan. Sementara di sudut lain rumah,para anak muda mereka mengobrol di selingi dengan candaan bahkan kadang dengan perdebatan yang cukup sengit, Saling melempar olokan dan lain-lain.


Anes dan Amel hanya menyaksikan obrolan Alex dan teman-temannya sambil memegang minuman di tangan mereka.


Acara syukuran memasuki rumah baru pun selesai. Para orang tua sudah pada pamit duluan.


"Sayang, kamu pamit dulu ya? dan selamat atas rumah baru kalian," ucap Bu Ratna.


"Iya ma, makasih ya? kalian hati-hati dijalan" sahut Anes yang mengantarkan para orang tua sampai ke depan pintu.


Sedangkan para anak muda masih betah di rumah Alex yang baru tersebut.

__ADS_1


"Hah obrolan para pria itu garing ya Nes?" ucap Amel yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka obrolkan.


"Iya ya Mel, tapi mereka kok bisa sampai tertawa lepas begitu ya?" timpal Anes.


"Ho,oh!" sahut Amel.


"Eh mereka bertiga itu sudah punya pacar atau menikah belum sih?" Amel menunjuk Juna, Baim dan Bryan.


"Kalau menikah sih belum, tapi kalau jomblo atau nggaknya aku nggak tahu. Kan mereka jarang di Indo. Kenapa? kami naksir sama mereka?"


"Ih siapa juga yang naksir! Aku cuma penasaran aja, kenapa mereka nggak mengajak pacar atau istri mereka kalau punya," sahut Amel.


"Kalau sama yang itu penasaran nggak?" Anes menunjuk David sambil tersenyum menggoda


"Apaan sih Nes, orang aku nanyain mereka bertiga kok,"


"Setau aku sih, dia masih jomblo sampai sekarang. Dia itu memiliki trauma masa lalu dengan seorang cewek," ucap Anes.


"Aku nggak tanya kali Nes,"


"Ya aku sekedar kasih info Mel, siapa tahu berguna,"


"Nggak penting!" sungut Amel.


"Eh tapi, trauma kenapa? dia nggak menghamili anak orang kan? atau ada kekerasan dalam pacaran? dia nggak di aniaya pacarnya kan dulu?" tanya Amel kemudian.


"Hahaha katanya nggak penting, tapi kepo juga, mau tahu jawabannya? rahasia dong!" sahut Anes terkekeh.


"Ih Anes! nyebelin deh!"


"Jadi penasaran kan, apa yang membuat pak David trauma," batin Amel.


"Eh Nes, besok kita jalan yuk kan masih libur. Udah lama nggak jalan bareng," ajak Amel.


"Mmm boleh, tapi nanti aku ijin dulu ya sama mas Alex, di ijinin atau nggak. Soalnya kan tahu sendiri sekarang aku udah menikah jadi apa-apa harus ada ijin suami," sahut Anes.


"Kalau nggak di ijinin gimana? suami kamu kan posesif,"


"Ya aku bakal ngambek hehe. Alah gampang itu mah bisa di atur, urusan suami istri," Anes mengulum senyum penuh arti.


"Ya ya ya, aku mengerti. Pasti ranjang yang jadi solusinya, iya kan?"


"Pintar!" sahut Anes tanpa malu.


"Hahaha," Anes dan Amel serentak tertawa.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2