MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 93


__ADS_3

Ini adalah pagi pertama Anes memasak di dapur rumah barunya. Ya, walaupun ada pelayan yang bisa saja memasak untuknya dan Alex, namun ia tetap memasak sendiri untuk Alex karena laki-laki itu hanya mau makan masakan sang istri.


"Mas, nanti aku jadi jalan sama Amel ya?" ucap Anes di sela-sela sarapannya bersama Alex.


"Mmm pergi? emang kamu bilang mau pergi sama Amel? kapan?" Alex pura-pura amnesia mendadak.


"Masa mas lupa? tadi malam kan aku dah minta ijin sama mas, kalau hari ini aku mau jalan bareng sama Amel dan mas udah mengiyakan kok," Anes mencoba membuka memory Alex.


"Emang iya? mas lupa tuh, mas ingatnya kalau tadi malam kamu..." ucap Alex menggantung.


"Mas Alex, cukup! kalau emang nggak boleh ya bilang aja, nggak usah merembet kemana-mana," Anes meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan. Sungguh, ia tak ingin mengingat keagresifannya tadi malam.


Alex hanya terkekeh melihat ekspresi sang istri yang menurutnya selalu menggemaskan tersebut.


"Mas bercanda sayang, bukannya tadi malam mas sudah bilang boleh? mas nggak lupa ok? lanjutin makannya!" ucap Alex kemudian.


🌼🌼🌼


"Mas, aku berangkat dulu ya?" pamit Anes kepada Alex yang sedang sibuk nge-gym di salah satu sudut ruangan rumahnya. Ya, rumah besar tersebut memang memiliki fasilitas yang lengkap, salah satunya adalah ruang nge-gym tersebut.


Alex menghentikan alat treadmill yang sedang ia gunakan dan mengambil handuk kecil yang ada di depannya dan mengalungkannya di leher.


"Berangkatnya biar di antar pak Anton, nanti pulangnya biar mas yang jemput!" sahut Alex yang sudah berhenti dari aktivitas lari kecilnya menggunakan treadmill.


"Ok!" seru Anes yang kemudian berlenggang pergi.


"Tunggu!" Alex menghentikan langkah Anes.


"Apa?" tanya Anes.


Alex hanya menunjuk bibirnya sendiri menggunakan jari telunjuknya sambil tersenyum.


Anes mengerti apa yang di maksud oleh Alex.


"Nggak mau! bau keringat!" seru Anes lalu melanjutkan langkahnya.


"Ck. Dasar!," Alex berkacak pinggang dan melanjutkan ke olah raga yang lain.


"Selamat pagi menjelang siang nona!" sapa David yang baru saja masuk ke rumah dan berpapasan dengan Anes yang hendak keluar.


"Pagi pak David!" Anes membalas sapaan David. Anes memperhatikan David dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan ia menyimpulkan kalau hari ini David akan nge-gym bareng suaminya berdasarkan penglihatan mata Anes yang melihat pakaian yang di kenakan oleh David sekarang, pakaian olah raga dan membawa sebuah tas, mungkin baju ganti pikir Anes.


"Masuk saja, mas Alex ada di ruang nge-gym!" lanjut Anes.

__ADS_1


"Baik nona, saya permisi!" David melangkah menuju tempat yang di maksud oleh Anes.


"Apa mereka udah janjian mau fitness bareng?" Anes menoleh ke arah David yang sedang berjalan santai.


"Ah nggak penting juga!" batin Anes lalu pergi.


Ya, pagi-pagi sekali Alex sudah membangunkan David yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Ia meminta David datang untuk nge-gym bareng karena Anes akan pergi keluar, jadi dia memanfaatkan waktu buat nge-gym dan setelah itu, mereka sekalian akan membahas masalah pekerjaan. Hari libur saja kadang masih harus sibuk dengan segudang pekerjaan. Hidup orang kaya kadang tak seindah yang di bayangkan. Namun, ada kalanya juga mereka menikmati hasil kerja keras mereka tersebut.


🌼🌼🌼


Anes dan Amel sampai di sebuah mall besar yang ada di Jakarta. Rencananya hari ini mereka akan menghabiskan waktu buat shopping dan nongkrong di cafe.


"Pak Anton, pulang saja. Nanti mas Alex yang akan menjemput saya pulangnya," ucap Anes sebelum ia dan Amel turun dari mobil.


"Baik nona," sahut pak Anton.


Tanpa basa-basi Amel langsung menyerbu langsung menyerbu salah satu toko yang menawarkan banyak diskon. Sepertinya memang naluri perempuan ya, kalau melihat yang diskon-diskon rasanya pengen nyomot aja, walaupun kadang barang tersebut tidak terlalu penting dan berguna di kemudian hari.


"Wah, lihat Nes! ada banyak diskon hari ini! bisa borong baju nih kalau gini! beruntung banget sih, datang ke sini saat diskon begini," celoteh Amel sambil melihat-lihat.


"Beli seperlunya ajalah Mel, nggak usah terlalu banyak juga kali. Kan sayang kalau beli banyak tapi nanti nggak pasti di pakai," Anes mencoba menasehati sahabatnya tersebut.


"Iya, iya," sahut Amel sambil memilih-milih baju yang tergantung tapi di depannya.


Setelah puas memilih baju, kini mereka beralih ke tempat sepatu dan sandal.


"Nggak ah Nes, aku masih ada yang belum di pakai di rumah," tolak Anes.


"Ya udah kalau begitu, aku aja yang beli," ucap Amel.


Setelah puas berbelanja, Anes dan Amel menuju ke cafe yang dulu sering mereka gunakan untuk sekedar nongkrong berdua.


"Kamu yakin nggak mau belanja sekalian Nes? ada banyak diskon loh ini?" tanya Amel yang sudah menenteng beberapa paper bag.


"Nggak ah Mel, di rumah aja masih banyak yang belum aku pakai, kalau beli lagi mau buat apa?"


"O iya ya, sekarang kan kamu istrinya sultan. Pasti yang kamu pakai baru semuanya," ucap Amel.


"Ya nggak gitu juga kali Mel, udah aja ayo buruan, katanya mau ke cafe," Anes menarik tangan Amel supaya mempercepat langkahnya sedikit.


🌼🌼🌼


Sampai di cafe mereka mendaratkan pantat mereka dengan posisi senyaman mungkin. Kemudian mereka memesan makanan dan minuman.

__ADS_1


"Sebenarnya nggak nyaman juga Mel, aku nongkrong kayak gini. Secara kan aku bukan lajang lagi, udah punya suami," ucap Anes sambil menunggu pesanan datang.


"Udah nggak papa kali Nes. Nggak sering ini kan, cuma sesekali. Lagian percaya deh, nggak ada yang nyangka kalau kamu itu udah nggak gadis lagi. Pasti mereka yang lihat ngiranya kamu itu masih gadis dan belum punya suami, bahkan mungkin akan mengira umur kamu masih belasan," sahut Amel santai.


"Tapi kan tetep aja, kenyataannya aku udah berumur hampir 25 tahun dan sudah memiliki suami, dan suami aku ada di rumah, sedangkan aku malah nongkrong kayak gini,"


"Udah sih nggakpapa, woles aja lah Nes, toh suami kamu juga udah kasih ijin kan kecuali kalau dia nggak ijinin? lagian perginya juga sama aku, bukan sama cowok."


"Iya juga sih," sahut Anes.


Pesanan pun akhirnya datang.


"Silahkan nona," kaya pelayan cafe.


"Terima kasih," sahut Amel dan Anes hampir bersamaan.


Mereka langsung menikmati makanan yang sudah ada di meja depan mereka.


"mungkin ini saat yang tepat buat aku ngomong sama Amel soal melihat Dimas waktu itu, tapi bagaimana kalau aku salah lihat ya waktu itu? batin Anes sambil menyedot jus strawberry kesukaannya.


"Em Mel, hubungan kamu sama Dimas, udah sejauh mana?" Anes mencoba membuka pembicaraan tentang Dimas.


"Nggak sejauh itu kali Nes, aku nggak sampai melakukan hal-hal yang di larang oleh norma dan agama, aku masih menjaga kehormatan ku kali. Gila aja kalau aku sampai ke arah sana," Amel gagal paham dengan maksud pertanyaan Anes.


"Pelakon sedikit suara kamu Paijem! maksud aku tuh udah ke tahap yang lebih serius apa belum?"


"Oh, ngobrol dong dari tadi, Paiyem! nggak tahulah Nes, hubunganku sama dia gini-gini aja, nggak ada kemajuan. Akhir-akhir ini dia malah sering menghindar dari aku. Bahkan saat aku terpukul dengan perceraian kedua orang tuaku aja dia nggak ada di samping aku buat mensupport aku," Anes menghela nafasnya panjang lalu meminum jus cappucinonya.


"Oh gitu, sedang sibuk mungkin dia? terus bagaimana sama mama kamu setelah berpisah dengan papa kamu?"


"Sesibuk apapun masa iya Nes, pacar lagi sedih nggak bisa luangkan sedikit waktunya? Mmm mama baik, bahkan kelihatannya dia jauh lebih baik dari sebelumnya bercerai Nes, dan sekarang dia lebih fokus lagi dalam mengurus usaha cateringnya,"


Ibunya Amel merupakan seorang pengusaha catering yang cukup besar. Sebenarnya ia selalu meminta Amel untuk membantu mengurus usahanya tapi Amel menolak, ia lebih senang bekerja di Parvis Group. Entahlah apa alasannya, ia sendiri masih belum tahu.


"Iya juga sih, kamu yang sabar ya. Syukurlah kalau mama kamu jauh lebih baik lagi setelah berpisah dengan papa kamu," Anes mengaduk-aduk jus strawberrynya menggunakan sedotan.


"Mmm sebenarnya ada yang ingin aku omongin sama kamu soal Dimas Mel, tapi aku juga nggak tahu apa penglihatanku yang salah dan mungkin juga kenyataannya tidak seperti yang aku pikirkan. Tapi, aku rasa kamu perlu tahu hal ini, biar bisa mencari tahu kebenarannya," ucap Anes dengan sedikit ragu.


"Mau ngomong apa sih Nes? jadi penasaran?" tanya Amel antusias.


"Waktu itu aku sama mas Alex pergi ke taman hiburan, di sana aku melihat Dimas sama.....,"


"Pyok!" seseorang menyiram Anes dengan kasar menggunakan jus strawberry yang ada di depan Anes sebelum Anes menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


💠Siapakah yang berani menyiram Anes tersebut? jawabannya ada di chapter selanjutnya. Jangan lupa like, komen dan votenya ya? salam hangat author ❤️❤️💠


__ADS_2