MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 203


__ADS_3

Anes tengah bersiap-siap untuk ke rumah orang tuanya, seperti yang sudah ia dan Alex bicarakan, ia akan ke sana sendiri dengan di antar oleh sopir pribadinya.


Sebelumnya, Anes membuatkan Alex teh terlebih dahulu dan mengantarnya ke taman belakang di mana kini Alex sedang asyik membaca koran.


"Mas, aku berangkat dulu ya? Ini aku udah buatin teh sama camilan," Anes melafalkan teh dan camilan yang ia bawa.


"Hem, terima kasih sayang," ucap Alex sambil melipat koran di tangannya dan tersenyum manis kepada sang istri.


"Sama-sama mas, aku berangkat dulu ya? Jangan lupa nanti mas nyusul," pesan Anes sambil menyalami Alex.


"Iya, nanti mas nyusul. Kamu hati-hati," Alex mengecup kening Anes.


Anes pun meninggalkan Alex di taman belakang. Alex kembali membuka koran di tangannya sambil menunggu telepon dari David.


Saat akan masuk ke mobil, Anes melihat Dila sudah pulang dengan membawa sesuatu yang ia taruh dalam tas kresek kecil.


"Kak Anes mau berangkat?" tanya Dila ramah.


"Iya Dil, kamu beneran nggak apa-apa?"


"Eh iya kak, ini aku udah beli obat, nanti di minum juga sembuh pusingnya," sahut Dila.


Anes melihat sekilas ke dalam tas kresek yang di tenteng oleh Dila.


"Kaku gitu aku berangkat ya Dil?" pamit Anes.


"Iya kak, hati-hati!" balas Dila.


"Hem," Anes langsung masuk ke dalam mobilnya dan meminta pak Anton untuk menjalankan mobilnya.


Dila langsung berubah ekspresinya, yang tadinya tersenyum ramah, begitu Anes pergi meninggalkannya, ekspresi wajahnya berubah sinis. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Dalam perjalanan menuju ke rumah Bu Ratna, Anes kepikiran gelagat mencurigakan dari Dila. Perasaannya juga tiba-tiba menjadi was-was dan tidak tenang.


"Kenapa ini, kenapa aku merasa cemas dan khawatir begini? Apa yang aku cemaskan?" batin Anes.


"Pak, mengemudinya pelan-pelan saja," perintah Anes kepada pak Anton, karena ia takut akan terjadi sesuatu kepada mereka jika pak Anton ngebut. Takutnya pikiran cemasnya karena akan terjadi hal buruk terhadapnya dan pak Anton.


"Baik nyonya muda," sahut pak Anton seraya menganggukkan kepalanya.


Anes terus merasa tidak tenang.


"Kenapa aku jadi kepikiran mas Alex ya? Dia kan ada di rumah, dan baik-baik saja," batin Anes terus berkecamuk. Dalam hatinya sangat tidak tenang, yang ia sendiri tidak tahu kenapa.


Di tempat lain, Alex masih asyik dengan aktivitasnya membaca koran sambil sesekali menyeruput teh yang di buatkan oleh Anes.


Menit kemudian, ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari David.

__ADS_1


Alex mengangkat telepon dari David. Ia berdiri dan berjalan beberapa meter untuk lebih leluasa mengobrol dengan David di telepon dengan berdiri.


Alex dan David mengobrol di telepon membicarakan tentang pekerjaan tentunya.


Dila yang sejak tadi sudah mencari celah lengahnya Alex akhirnya memanfaatkan kesempatan itu. Dia diam-diam mengendap-endap ke meja taman dan memasukkan sesuatu ke dalam teh yang baru beberapa seruputan di minum oleh Alex tersebut.


Dila langsung pergi sebelum Alex menyadari keberadaannya di sana.


"Baiklah, kamu atur saja semuanya Dave. Habis ini sambungkan video call dengan klien kita. Kita akan membahasnya setelah ini. Aku akan ke ruang kerjaku," ucap Alex lalu mematikan ponselnya.


Alex berjalan untuk masuk. Saat melewati meja taman, ia menoleh ke arah teh yang belum habis tersebut. Alex mengambil teh tersebut dan membawanya ke ruang kerja, karena masih banyak yang belum ia minum dan sayang kalau tidak di minum karena istri tercintanya yang membuatkan.


Dila tampak mondar mandir di dalam kamarnya sambil memainkan kedua tangannya, harap-harap cemas. Akankah Alex meminum tehnya dan akankah semua berjalan sesuai rencana? Dila terus merasa gelisah.


Karena penasaran, Dila mengintip Alex di ruang kerjanya diam-diam. Setelah memastikan Alex meminum tehnya, hati Dila sedikit lega dan senang.


"Tunggu beberapa saat lagi, sampai obatnya bereaksi dan kamu tidak bisa sombong lagi tuan muda. Kamu akan menjadi milikku," batin Dila tersenyum jahat.


Anes yang juga tak kalah gelisahnya memutuskan untuk menelepon Alex, ia tidak akan tenang sebelum mendengar suara suaminya tersebut. Namun, sialnya saat ia ingin mengambil ponselnya di dalam tas, Anes baru sadar kalau ternyata ponselnya tertinggal di rumah.


"Duh ceroboh! Ponsel pakai ketinggalan segala lagi," gerutu Anes dalam hati.


Sementara Alex, merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa tubuhnya terasa sangat gerah dan gelisah. Ia merasa ada aneh pada dirinya.


"Sial kenapa bisa tiba-tiba jadi pengen begini, mana Anes sedang pergi," gumam Alex saat obat mulai bekerja, dan dia masih bisa berpikir jernih.


Karena merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, Alex memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia mengabaikan panggilan video call yang sejak tadi ia tunggu. Alex lebih memilih untuk mencoba menenangkan dirinya di kamar.


"Bagaimana ini? Aku ini harus segera tersalurkan, aku udah nggak tahan lagi, Aaargghh!!!" Alex merasa frustasi, kenapa dia bisa seperti itu.


Tiba-tiba Dila yang sedari tadi sudah mengawasi Alex dan kebetulan sekali pintu kamar Alex tidak ia kunci, sehingga Dila dengan beraninya masuk dan mendekati Alex.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Alex mencoba sekuat tenaga bersikap biasa.


"Ayolah pak, saya tahu Anda sedang menginginkannya bukan? Saya di sini untuk Anda," ucap Dila sambil mendekat.


Alex yang memang butuh penyaluran tetap berusaha berpikir positif.


"Jangan berani mendekat! Keluar!" ucap Alex dengan suara yang sudah parau.


Lama-lama penglihatan Alex sedikit buram dan tidak jelas, Dila terus berusaha mendekatinya.


"Kamu bukan Anes, aku butuh dia bukan kamu!" Alex masih berusaha menolak.


"Kak Anes sedang tidak ada di sini pak, Ayolah nikmati saja yang ada di depan bapak. Anggap saja saya istri bapak," Dila melepas bajunya dan masih menyisakan tank top di badannya lalu dia berusaha melepas baju yang Alex kenakan. Alex mencoba menolak, tapi tubuhnya yang sudah tidak bisa di ajak kompromi. Ia terus mencoba menolak, walaupun bahasa tubuhnya berkata lain.


Yang ada dalam pikiran Alex hanya Anes. Ya, ia hanya ingin melakukannya dengan Anes, un


Bibi yang melihat Dila masuk ke dalam kamar Alex merasa ada yang tidak beres, ia segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Anes. Namun tidak di angkat karena ponselnya ternyata ada di rumah. Kemudian, bibi mencoba menghubungi David dan tidak di angkat juga, karena David sedang sibuk melakukan panggilan ke laptop Alex untuk melakukan video call dengan klien.

__ADS_1


"Duh nyonya muda, bagaimana ini," bibi terus merasa cemas dan mondar mandir, bingung harus bagaimana. Mau melabrak langsung ke kamar, pintunya dikunci oleh Dila dari dalam. Bibi tidak sampai berpikir untuk menggunakan kunci cadangan sangking paniknya. Bahkan sebenarnya di rumah sebesar itu, ia tidak sendiri, masih ada banyak para pembantu dan penjaga rumah lainnya. Tapi, demi menjaga nama baik Alex, bibi tidak bisa gegabah, takutnya memang majikannya ingin berduaan dengan Dila di kamarnya karena bisa Ina tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Kalau benar begitu, dan asisten rumah tangga yang lainnya tahu, nama baik tuan mudanya menjadi taruhan, bukan cuma itu saja, pekerjaan mereka juga terancam. Tapi kalau di pikir-pikir rasanya tidak mungkin tuan mudanya seperti itu, bibi sangat mengenal Alex.


"Aduh bagaimana ini?" gumam bibi, hingga ia melongo melihat seseorang yang mendekatinya.


Sementara Dila terus berusaha melepas baju atasan Alex, meskipun Alex tetap terus menolak, namun tubuhnya berkata lain. Hingga akhirnya Dila berhasil melepas baju bagian atas milik Alex.


"Sayang," gumam Alex lirih.


"Ya, panggil aku sayang pak," ucap Dila, padahal dalam pikiran Alex yang dia maksud sayang adalah Anes.


"Dila kembali mendekat dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Alex. Alex sudah tidak bisa berpikir jernih lagi sekarang, ia pikir yang ada di depannya adalah Anes, istrinya. Walaupun detik kemudian ia sadar itu bukan Anes, tapi Dila tidak menyerah, dan Alex kembali berpikir itu adalah Anes. Pikirannya benar-benar tidak stabil.


Namun, sebelum mereka berhasil berciuman tiba-tiba...


"BRAK!!!!!"


Pintu kamar Alex terbuka, dan suaranya sangat keras karena memang sengaja di dorong dengan kuat.


Dila menoleh ke dah pintu dan begitu terkejut melihat siapa yang ia lihat.


"Kak Anes?" ucap Dila lirih, suaranya seakan tercekat di dalam tenggorokannya.


Anes menatap tajam ke arah Dila. Dari matanya terlihat sebuah kemarahan dan benci kepada gadis yang baru saja berusaha menggoda suaminya tersebut.


"Bagiamana mungkin, bukannya kakak sedang pergi?" ucap Dila.


"Insting seorang istri. Kamu mungkin lupa kalau ada ikatan batin antara pasangan suami istri yang saling mencintai. Dan ikatan itu menuntunku untuk kembali, menyelamatkan suamiku dari gadis tidak tahu diri seperti kamu!" ucap Anes dengan kasar.


"Kak, maafkan akun Aku bisa jelaskan," ucap Dila, matanya sudah berkaca-kaca, ia juga merasa takut. Pasalnya ini pertama kali dia berbuat sampai senekat itu. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Anes melirik ke dah Alex yang sudah sangat kegerahan, dan tidak tahan lagi.


"Keluar!!!!" teriak Anes sambil menunjuk ke arah pintu. Satu tangganya mengepal menahan amarahnya.


"Kak,,,"


"Aku bilang keluar!!" Anes semakin meninggikan suaranya dengan mimik muka yang sangat garang. Ia ingin segera menolong suaminya. Ingin sekali Anes berteriak dan meminta security menyerah gadis tersebut, tapi Anes juga memikirkan harga diri dan nama baik suaminya. Sebagai seorang istri ia harus bisa menutupi aib suaminya.


Dila mengambil bajunya dan keluar dengan tank top yang masih utuh melekat pada tubuhnya.


Anes segara mengunci pintu dan meletakkan tasnya di atas nakas, lalu ia mendekati suaminya. Ia menyentuh wajah suaminya lembut.


"Untung tadi aku menyuruh pak Anton putar balik dengan cepat dan semuanya belum terlambat, atau aku akan menyesal," batin Anes.


"Sayang, ini kamu kan?" Alex menyentuh tangan Anes yang menyentuh pipinya.


"Iya mas, ini aku. Anes, istri mas Alex," ucap Anes, ia merasa bersalah karena tidak pernah mengindahkan kata-kata Alex yang sudah sering mengingatkannya tentang Dila, hingga kejadian yang tidak di inginkan hampir saja terjadi.


Karena sudah tidak bisa menahan lagi Alex langsung menerkam Anes. Dan apa yang selanjutnya terjadi? Hanya mereka yang tahu.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ Jangan lupa komen dan votenya, terima kasih ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ 


__ADS_2