
"Sudah malam, kamu pulanglah, antar Amel pulang dan sekalian tolong antar Anes," ucap Alex kepada David.
"Baik bos," sahut David.
"Mas nggak pulang malam ini?" tanya Anes.
"Nggak sayang, mas mau di sini nungguin papa, kamu pulanglah biar di antar David," sahut Alex. Entah kenapa perasaan Alex sangat tidak enak malam ini. Rasanya ia ingin terus berada di samping ayahnya.
"Nggak apa-apa aku pulang mas?" tanya Anes.
"Iya, kamu pulanglah dan istirahat," sahut Alex sambil mengusap rambut Anes lembut.
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi bawain sarapan dan baju ganti buat mas," ucap Anes.
"Hem hati-hati," sahut Alex.
"Pa, Anes pulang dulu. Papa cepat bangun ya?" pamit Anes kepada pak Arya yang masih koma.
"Bos kami permisi dulu," pamit David.
"Hem, hati-hati nggak usah ngebut," pesan Alex.
"Baik bos,"
Kemudian, David, Anes dan Amel meninggalkan Alex sendirian.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Nes, aku langsung balik aja ya, udah malam," ucap Amel ketika sampai di halaman rumah Anes.
"Nggak mampir dulu Mel?" tanya Anes.
"Nggak ah lain kali aja, aku capek banget nih, pengen cepat sampai rumah, kangen sama bantal guling kesayangan," sahut Anes.
"Ganti saja gulingnya dengan yang di sebelah kamu," celetuk Anes.
"Dia nggak asyik! kaku, kalau guling di rumah kan lemas, diapain aja nurut, empuk lagi. Kalau dia keras," bisik Amel.
"Ehem! jangan kira aku nggak dengar," ucap David.
Anes terkekeh mendengar ucapan kedua orang tersebut.
"Ya udah kamu cepetan masuk gih, dan istirahat,"
"Baiklah, kalian hati-hati," sahut Anes lalu berbalik badan menuju ke dalam.
David memutar mobilnya dan keluar dari rumah tuan muda Parvis tersebut.
"Nyonya muda sudah pulang?" sapa Bi Ina.
__ADS_1
"Iya bi," sahut Anes.
"Bibi siapin makan malam ya nyonya?"
"Tidak usah Bi, tadi saya sudah makan sama mas Alex,"
"Baiklah kalau begitu nyonya,"
Anes melanjutkan langkahnya menuju ke lantai atas.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sesampainya di depan rumah Amel, David turun dan membukakan pintu mobil untuk Amel.
"Terima kasih, nggak mampir dulu?" tanya Amel.
"Lain kali saja, katanya kamu capek dan kangen sama guling yang empuk dan nurut itu. Udah sana cepetan peluk dan cium guling kesayangan kamu itu!" ucap David sinis.
"Huh baperan! Cepat sana pulang dan tidur jangan kerja terus,"
"Kamu masuk duluan,"
Amel menurut, di depan pintu rumahnya sudah ada Bu Mira, ibunya Amel yang menunggu. David menganggukkan kepalanya kepada Bu Mira, dan masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Amel.
"Siapa? Pacar baru?" tanya Bu Mira kepada Amel.
"Teman ma," jawab Amel.
"Ma, Amel baru saja pulang udah di interogasi aja. Intinya, David orang baik, jadi mama nggak perlu khawatir. Amel capek, mau tidur," sahut Amel lalu masuk ke dalam rumah.
"Oh jadi namanya David? ganteng juga. Sepertinya juga orang yang bertanggung jawab. Tapi aku nggak boleh gegabah, dengan langsung menyukainya. Takutnya Amel bernasib seperti aku, yang harus berakhir dengan perceraian. Aku harus memastikan kesungguhannya jika memang dia memiliki perasaan terhadap Amel," batin Bu Mira. Kemudian, ia masuk ke dalam dan menutup pintu rumahnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sesampainya di apartemen, David langsung membersihkan diri. Setelah itu, ia menuju ruang kerjanya. Baru saja ia mendaratkan pantatnya di kursi kerjanya, ada sebuah pesan masuk dari Amel.
"Sudah sampai rumah belum?"
"Sudah, baru selesai mandi. Kenapa? Kangen?" balas David.
"Huh Anda terlalu percaya diri tuan David. Cepat tidur, istirahat. Kerjanya besok lagi. Kemarin-kemarin udah kebanyakan lemburnya. Kamu bukan robot yang bisa bekerja 24 jam tanpa lelah," balas Amel.
"Iya, habis ini aku tidur," balas David
"Bohong dosa, nanti pantatmu bisulan kalau bohong," balas Amel.
David menjadi negeri sendiri membaca pesan singkat dari Amel tersebut. Padahal tadinya ia memang ingin menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia urungkan.
"Kenapa nggak balas?" amel.menhirim pesan lagi kepada David.
__ADS_1
"Orangnya udah tidur," balas David. Kemudian, ia kembali ke kamarnya dan tidur sesuai perintah Amel. Sepertinya David sedang menuju bucin ya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Anes sudah menyiapkan sarapan buat Alex. Ia ingin segera ke rumah sakit dan menemui suaminya. Anes merasa ada sesuatu yang membuat hatinya merasa cemas dan tidak tenang. Tapi, ia tidak tahu kenapa perasaannya tidak enak seperti itu.
"Kenapa perasaanku dari tadi tidak enak ya?" batin Anes.
"Nyonya muda, ini makanan yang tadi nyonya masak. Sudah bibi tata di sini semua," ucap asisten rumah tangga sambil menyodorkan rantang makanan kepada Anes.
"Terima kasih Bi," Anes menerima rantang tersebut dan menuju ke mobil yang sudah siap mengantarkannya ke rumah sakit. Ia meletakkan rantang dan paper bag berisi pakaian ganti buat Alex di sampingnya.
Sementara itu, di rumah sakit, Alex tampak masih tertidur sambil duduk di kursi samping pak Arya berbaring. Ia mengerjapkan matanya karena ada suara dokter dan suster yang terburu-buru masuk ke ruangan pak Arya di rawat tersebut.
"Dok, tekanan darah dan detak jantung pasien semakin memburuk," ucap salah seorang perawat.
"Dokter ada apa ini?" tanya Alex kebingungan.
"Tuan, mohon Anda keluar dahulu," pinta dokter kepada Alex.
"Sebenarnya ada apa ini? papa baik-baik saja kan? jawab dokter!" teriak Alex frustasi.
"Tuan muda, saya mohon Anda keluar dulu, biar kami bisa melakukan tindakan lebih untuk tuan Arya, kondisinya semakin buruk," pinta dokter sekali lagi.
Alex hanya patuh, ia keluar dengan langkah cemas. Ia berusaha menyiapkan mentalnya untuk kemungkinan terburuk, namun tetap saja ia merasa takut.
"Mas, ada apa?" tanya Anes yang baru saja sampai dan melihat Alex tampak frustasi.
"Kondisi papa memburuk," jawab Alex.
"Terus sekarang bagaimana?" tanya Anes lagi.
"Dokter sedang memeriksanya," jawab Alex.
Alex menjatuhkan kepalanya di pelukan Anes.
"Mas takut sayang," ucap Alex dalam pelukan Anes.
"Mas yang tenang ya? Kita sama-sama berdoa. Aku yakin papa kuat kok," Anes mencoba menenangkan suaminya. Walaupun dalam hatinya sendiri merasa khawatir.
"Ya Tuhan, semoga perasaan tidak enak sejak tadi pagi bukan sebuah firasat buruk," batin Anes.
"Nes, ada apa? mas Arya kenapa?" tanya Rania yang Baru saja tiba.
"Kondisi papa memburuk ma, dokter sedang memeriksanya," jawab Anes. Sedangkan Alex tak bergeming, ia tak menanggapi keberadaan Rania sama sekali.
Tak berselang lama, dokter keluar dari ruangan dengan ekspresi wajah yang susah di tebak.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ