
Saat Dila berjalan menuju ke pintu, ia berpapasan dengan Juna yang baru saja datang. Juna memperhatikan Dila sekilas sedangkan Dila tersenyum lalu menundukkan kepalanya sebagai isyarat sapaan.
"Wah bumil makin cantik dan seksi aja!" Juna memuji Anes, ia hendak memeluk istri sahabatnya tersebut, namun Alex langsung pasang badan dan menggantikan posisi Anes.
"Masih aja posesif Lex, udah mau jadi bapak juga," ucap Juna.
Alex tidak menjawab, masa bodoh dengan ucapan Juna.
"Siapa tuh Lex, lumayan juga. Istri muda ya?" celetuk Juna begitu bergabung dengan Alex dan Anes di ruang keluarga.
"Mulutmu minta di jahit Jun!" umpat Alex sambil melompat bantal ke arah Juna namun segera ditangkis oleh Juna.
"Itu Dila, adik angkatnya bang David Jun," ucap Anes.
"Wih, gila tuh David, punya adik angkat bening begitu di sembunyiin di mana selama ini.
"Dia tinggal di rumah singgah milik Abang, di luar kota," jawab Anes.
"Terus ngapain dia di sini? David nggak menyuruh kamu buat poligami dengan adiknya kan Lex?"
Alex hanya mencebikkan bibirnya, malas menanggapi omong kosong dari sahabat gesreknya tersebut.
"Dia sedang magang di kantor Jun, dan sementara dia tinggal di sini. Dari pada tinggal sama Abang kan, mending di sini ada banyak mata, kalau di apartemen, aku khawatir biar bagaimanapun kan mereka nggak sedarah dan udah dewasa," jelas Anes.
"Tapi nggak nampung dia di sini juga kali Nes, malah bahaya loh, lihat pesona suami kamu tuh! Kamu sama aja mengundang calon pelakor ke rumah tahu nggak? Kenapa nggak sewain hotel, apartemen atau apa gitu. Lagian apartemen suami kamu kan berserakan di mana-mana, kenapa nggak siswi satu buat ia tinggali,"
Anes berpikir sejenak, memang benar yang di katakan Juna, ia merasa telah salah langkah dengan meminta Dila tinggal di rumahnya.
"Apartemenku semuanya penuh, tinggal apartemen pribadiku. Dan aku nggak mau orang lain menempatinya," ucap Alex.
"Ya sewain lah Lex, beliin yang baru kalau perlu buat dia tinggal,"
"Anes yang memintanya tinggal di sini, kamu tahu kan gimana istriku ini sama David?"
"Ya ya ya, itu hak kalianlah, tapi saranku sih kalian harus tetap waspada terhadap segala kemungkinan. Aku ke sini mau kasih ini!" Juna menyodorkan undangan kepada Alex.
"Apa ini?" tanya Alex.
"Undangan Lex, nggak bisa baca?"
"Aku tahu ini undangan, tapi siapa yang mau nikah?" tanya Alex mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Akulah!" seru Juna menunjuk dirinya sendiri.
"Serius Jun?" Anes terkejut sedangkan Alex tetap datar.
"Iyalah, masa aku bohong. Di kira sedang main prank apa?"
"Wah selamat ya, akhirnya. Ikut senang deh! Eh tapi ngomong-ngomong siapa nama calon istri kamu? Kenapa di sini enggak ada namanya?" Anes tampak membolak-balik undangannya yang di berikan Juna.
"Wkwkwk halu berati dia! Calon nggak ada main nyebar undangan," Alex tiba-tiba tertawa.
"Hei kisanak! Jangan lebar-lebar mangapnya. Siapa juga yang halu. Sorry sorry to say ya, aku beneran mau nikah, tiga Minggu lagi. Soal nama calonnya, aku lupa. Soalnya bokap bilang pertemuan keluarga akan di adakan satu Minggu lagi. Aku cuma ingat namanya El, siapa gitu. Ah yang jelas aku mau nikah, udah panas kupingku setiap hari di ultimatum sama bokap. Hampir meledak nih telinga," jelas Juna.
"Jadi kamu di jodohin Jun?" tanya Anes.
"Ya begitulah, dengan anak salah satu kolega sekaligus sahabat bokap. Sebagai anak yang berbakti, aku sih yes!"
"Alah bilang aja udah nggak mampu nyari sendiri, makanya mau di jodohin. Playboy tapi tak bisa cari istri. Mau nikah tanpa cinta?" ledek Alex.
"Mas, ngaca diri sendiri dong! Kita juga di jodohkan," Anes memperingatkan.
"Beda cerita sayang," Alex tak mau kalah.
"Takutnya, kalau aku nyari sendiri asal ambil aja, nggak bagus bibitnya Lex. Berharapnya sih yang papa pilihkan bibit unggul,"
"Thanks bro. Eits, intinya aku ke sini itu untuk nagih janji Lex, katanya mau kasih hadiah resepsi mewah komplit dengan tiket honeymoonnya," ucap Juna dengan senyum devilnya.
"Dasar! kalau masalah uang, ingat aja kamu jun,"
"Ya ingatlah, makanya aku datangi kalian lebih lebih awal, bahkan calonnya saja aku belum bertemu. Biayanya dululah aku tagih,"
"Astaga Jun, keluargamu nggak jatuh miskin kan? Sampai segitunya, kalau papamu tahu bisa dipecat beneran kamu jadi anak, bikin malu aja," Alex geleng-geleng kepala.
"Bokap tahu Lex, aku udah cerita sama dia kok. Malah dia bilang, sekalian belikan rumah juga boleh," Juna terkekeh.
"Astaga! anak sama bapak sama saja, gesreknya, di kira aku panti amal apa,"
Anes hanya mampu tertawa tanpa berkata-kata. Bagaimana bisa Juna memberikan undangan yang bahkan nama calon pengantin wanitanya ia tidak tahu namanya.
"Eh Jun, misalnya nih ya, calon istri kamu jelek bagaimana?" tanya Anes.
"Semoga enggak Nes, aku ganteng, masa iya tuhan mau kasih aku jodoh jelek,"
__ADS_1
"Eh bisa jadi Jun, bukannya manusia itu saling melengkapi, siapa tahu kegantengan kamu buat menutupi kejelekannya,"
"Kamu jangan menakut-nakuti aku Nes. Eh tapi papa bilang, orangnya cantik dan body aduhai kok. Masa iya, dia bohong,"
"Palingan juga papamu bohong Jun, yang penting buat dia kan kamu nikah dan kasih cucu," celetuk Alex.
"Ah kamu Lex, bikin parno aja,"
"Udah-udah, bercanda Jun. Orang tua pasti akan memberikan yang terbaik buat anaknya," ucap Anes.
"Gitu dong, bikin hati adem kek, jangan ngomporin!"
Merekapun mengobrol sebentar dan akhirnya Juna pamit pulang.
"Jangan lupa, tiga Minggu lagi datang. dan jangan lupa kirim ceknya," ucap Juna sebelum meninggalkan kediaman Parvis.
"Terserah!" sahut Alex.
"Oke, thanks! bumil cantik, aku pulang dulu," Juna langsung membalik badan dan pergi.
"Huh, ada-ada aja ya si Juna,"
"Emang gitu orangnya, tapi sebenarnya seperti itu hanya untuk menutupi jati dirinya yang sesungguhnya. Dia kesepian, dan kurang kasih sayang orang tuanya. Ibunya meninggalkan dia waktu baru lahir, dimana waktu itu ayahnya belum sukses seperti sekarang. Karena sakit hati terhadap istrinya, ayah Juna kerja mati-matian buat merintis usaha sampai sukses. Yang ayahnya tahu, dulu adalah mencari uang uang dan uang. Juna sangat kesepian dan merindukan ibunya yang tak pernah sekalipun menemuinya sejak kepergiannya bersama laki-laki lain setelah melahirkannya. Awalnya Juna mengira ibunya pergi karena tidak tahan dengan sikap ayahnya yang gila kerja dan tak memiliki waktu buat keluarga, termasuk untuk Juna. Dan setelah remaja ia tahu kenyataannya, membuatnya bertekad untuk selalu membahagiakan ayahnya yang telah berjuang membesarkannya sendiri, meskipun dia sendiri tidak bahagia. Ia selalu menutupi semuanya dengan tingkah konyolnya," cerita Alex sedikit tentang kehidupan seorang Arjuna Wijaya.
"Ternyata, orang-orang kaya ini memiliki masalah yang dramatis dalam hidupnya, tidak seperti yang orang luar lihat. Hidup enak, mewah tanpa masalah. Tapi justru sebenarnya di balik itu semua ada harga yang harus mereka bayar, yaitu waktu bersama orang terdekat tergadaikan. Untung mas Alex beda, dia selalu ada waktu buatku, tidak membiarkan aku kesepian," batin Anes.
"Hei sayang, kok malah melamun? Katanya mau ke rumah mama, ntar keburu sore loh, cepat siap-siap," Alex melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Anes.
"Eh iya, mas. Hanya Baper aja mendengar cerita mas tentang Juna tadi. Ternyata hidupnya juga tak mudah ya,"
"Ya begitulah, namanya juga kehidupan sayang,"
"Kalian hebat mas, sebagai sahabat, bisa saling mendukung tanpa menikung. Aku bisa lihat bagaiman kalian itu sebenarnya saling peduli satu sama lain,"
Anes menyusup ke dalam pelukan Alex, ia semakin cinta dan bangga kepada suaminya.
"Em, apa kamu cemburu kepada mereka jika mas memanjakan mereka seperti itu? misalnya karena mas membiayai pernikahan mewah Juna sedangkan dulu acara pernikahan kita hanya sederhana saja," Alex mengusap-usap kepala Anes.
"Hei, tuan muda, apa istrimu ini kelihatan seperti itu?" Anes mendongak protes.
"Hehe enggak sayang, kamu istri terbaik. Kamu baik dan pengertian, mas tahu itu. Terima kasih," Alex membenamkan wajah Alex ke dadanya dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
Pemandangan yang indah bagi para bibi yang tidak sengaja melihatnya.
🌼🌼🌼