MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 42


__ADS_3

Saat keluar dari ruangan Alex, Anes berpapasan dengan nona Vanya selaku manajer keuangan yang ingin melaporkan masalah keuangan kepada Alex. Ya, kalau orang lain biasanya bertanya kepada sekretaris terlebih dahulu untuk bertemu Presdir mereka, berbeda dengan Vanya, dia selalu mengabaikan prosedur tersebut. Alasannya ya karena ia tak menyukai Anes.


Vanya melihat Anes keluar dengan rambut yang sedikit berantakan, itu membuatnya sedikit curiga dan menatapnya dengan tatapan tak suka. Anes langsung duduk di meja kerjanya, sementara Vanya masuk keruangan Presdir.


"Ceklek!"


"Permisi Pak, saya mau melaporkan masalah keuangan pada Bapak," ucap Vanya yang belum disuruh masuk tapi sudah berani masuk begitu saja.


Alex mengerutkan dahinya, melihat tingkah Vanya yang menurutnya tidak ada etikanya tersebut.


"Siapa yang ijin kamu masuk, apa kamu lupa etika masuk ke ruangan Presdir?"


"*M*ampus, tadi aku lupa mengetuk pintu, karena fokus melihat Anes yang keluar dari sini," batin Vanya.


"Ma maaf Pak tadi saya lupa mengetuk pintu, karena saya tahu Bapak didalam jadi saya langsung masuk."


"Lain kali, katuk pintu dulu dan yang penting tanyakan kepada sekretaris saya apakah saya sedang sibuk atau tidak, jangan seenaknya masuk, saya tidak akan mentolelir karyawan yang tidak mematuhi prosedur perusahaan, mengerti!" Alex meninggikan suaranya.


"Baik Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi, kebetulan tadi saya berpapasan dengan Anes saat dia luar dari siji, dia bilang saya suruh langsung masuk saja karena Bapak ada di dalam dan sedang tidak sibuk," ucap Vanya bohong.


Mendengar penjelasan Vanya yang bilang kalau Anes yang menyuruhnya masuk, Alex menjadi sedikit melunak.


"Tetap saja, tadi harusnya Anes menelpon saya dulu kalau ada yang ingin menghadap dan bertemu saya,"


"Kalau itu saya tidak tahu Pak, dia bilang begitu suruh saya masuk saja."


"Ya sudah, mana laporan yang akan kamu sampaikan?" tanya Alex tegas.


"I ini Pak!" Vanya menyerahkan sebuah dokumen kepada Alex. Dalam hati ia tersenyum bangga, karena Alex tidak terlalu marah, padahal tadi ia jelas-jelas sengaja masuk tanpa permisi.


"*W*alaupun sudah menikah, tapi kalau dia mau sama aku, kenapa enggak?" batinnya kepedean.


"Kamu boleh keluar!" ucap Alex tiba-tiba membuyarkan khayalan Vanya.


"Sekarang Pak?"


"Hem" sahut Alex tanpa menoleh kearahnya sedikitpun dan tetap fokus menatap dokumen yang ia pegang saat ini.


"Tapi..."

__ADS_1


"Nona Vanya, bukankah Anda sudah mendengarnya, Presdir sudah menyuruh Anda keluar, jadi kalau sudah tidak ada pekerjaan yang ingin disampaikan, sebaiknya Anda meninggalkan ruangan ini. Segera!" David yang dari tadi setia berdiri di samping Alex akhirnya membuka suara.


"*K*urang ajar asisten pribadi ini!" bangu Vanya sambil melirik tajam kearah David, namun David tampak acuh dengan lirikan Vanya.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Vanya namun tak di jawab oleh Alex.


"*Si*al, aku udah dandan cantik-cantik, dan berpakaian seksi tapi sedikitpun dia tidak melirikku, seperti apa sih istrinya, apa dia lebih baik dan lebih cantik dariku? aku jadi penasaran, " umpat Vanya dalam hati sambil berjalan keluar dari ruangan Presdir.


Saat ia melewati ruangan kerja Anes, ia menatap Anes sekilas dan langsung berjalan dengan kesal. Anes yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


🌼🌼🌼


"Mas, nanti mau makan siang apa, biar aku pesenin" Anes mengirim sebuah pesan singkat kepada Alex.


"Aku mau yang tadi, rasa strawberry." Balas Alex.


"Aku serius mas, jangan bercanda!"


"Aku juga serius"


Anes meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, ia tidak membalas pesan singkat Alex.


"Nggak usah pesan makanan, nanti makan siang diluar saja," Alex kembali mengirim pesan kepada Anes.


Alex hanya tersenyum membaca pesan dari Anes, kemudian ia fokus kembali kepada pekerjaan didepannya.


Jam makan siangpun tiba, Alex keluar dari ruangannya dan menghampiri Anes.


"Ayo keluar cari makan!" ajak Alex


Anes segera mengambil tasnya dan mengikuti Alex.


"Eh eh lihat itu, si Anes kayaknya mau makan siang diluar sama Presdir deh," ucap siska yang melihat Anes dan Alex keluar kantor bersama. Ia bersama rekan-rekan kerjanya termasuk Amel, hendak menuju ke kantin untuk makan siang


"Memangnya kenapa? ada yang aneh? bisa saja mereka makan siang sekalian meeting, kalian lupa Anes sekertaris pak Alex?" sahut Amel.


"Tapi kan biasanya pak David ikut, tapi kali ini mereka cuma berdua, mereka juga tidak terlihat memegang sebuah berkas kalau mau meeting, dan lihat pak Alex menyetir mobil sendiri, sopirnya hanya mengantarkan mobil kedepannya saja," Siska tetap tidak mau kalah berargumen.


" Iya ya, aneh," sahut rekan kerja yang lain dan yang lain yang juga melihat pun mengiyakan pernyataan Siska. Mereka pun saling bergunjing satu sama lain.

__ADS_1


Amel yang malas meladeni pun langsung pergi tanpa membalas cuitan Siska.


"Huh, apa-apaan mereka, memang kenapa kalau bos jalan sama sekretarisnya, bisa saja karena sebuah pekerjaan, kalaupun bukan karena pekerjaan itu hak mereka, apalagi mereka kan suami istri," gerutu Amel lirih sembari duduk di kursi kantin yang biasa ia dan Anes datangi, ya kantin di lantai dasar.


"Sendiri saja?" tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Amel. Ia langsung menoleh kearah sumber suara.


"Pak David!" Amel tak percaya kalau asisten sekaligus sahabat bos besarnya tersebut kini berada di kantin.


Tanpa permisi, David langsung duduk di bangku seberang tempat duduk Amel.


"Tumben Bapak kesini, kenapa tidak makan siang dengan Presdir?"


David tak menjawab pertanyaan Amel, ia malah asyik menyantap makan siangnya.


"Ck, dasar asiaten sama bos sama saja, sama-sama datar tanpa ekspresi dan angkuh" batin Amel.


Keberadaan David di kantin sukses menyita perhatian para pengunjung kantin tersebut.


Sementara di mobil, Alex dan Anes masih berdebat soal menu makan siang yang akan mereka makan.


"Pokonya aku nggak mau kalau di pinggir jalan lagi!" tegas Alex.


"Memang kenapa sih, toh enak makanannya," sahut Anes.


"Aku nggak mau kalau di restoran bintang lima!" lanjutnya kekeh.


"Ok, tapi aku yang pilih restorannya. Titik, tidak bisa diganggu gugat!"


"Terserah!" sahut Anes sewot.


"O ya, mana permen yang tadi aku kasih?" tanya Alex yang tetap fokus terhadap kemudi mobil.


"Udah aku makan," jawab Anes.


Mendengar jawaban Anes, Alex langsung meminggirkan dan menghentikan mobilnya.


"Kok berhenti?" tanya Anes.


"Aku mau mengambil vitamin rasa strawberry ku sebagai pembuka makan siang," ucap Alex sambil melepas seatbeltnya dan langsung menarik tengkuk Anes. Anes tak kuasa menolaknya, ia membalas ciuman Alex. Mereka saling berciuman beberapa saat hingga akhirnya Alex melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


"Kamu semakin pintar berciuman, cepat sekali kami belajar aku sampai kewalahan," ucap Alex dengan senyum liciknya.


"Mas Alex apaan sih, malu tahu!" Anes kesal karena Alex menggodanya, ia mengerucutkan bibirnya dan tangannya disilangkan didada.


__ADS_2