
Alex dan David sampai di tempat golf. Mereka di temani dua orang Caddy yang cantik dan seksi, dengan pakaian sangat minim sekali, rok hanya menutupi bagian sensitifnya saja dan baju yang menurut Alex sangat kurang bahan, bahkan pusarnya terekspose dengan jelas.
Kedua Caddy tersebut sangat centil dan berusaha menggoda dua laki-laki itu, sungguh membuat Alex dan David risih.
Kalian jangan terlalu dekat, saya alergi jika disentuh oleh seorang wanita," ucap Alex dingin.
"Alergi? Apa dia gay?" bisik Caddy tersebut kepada temannya sambil melirik.ke arah Alex.
"Entahlah, padahal dia kan pemilik Parvis Group, sayang sekali kalau dia tidak suka perempuan, tidak ada yang bisa menikmati kerja kerasnya dong kalau begitu," balas Caddy yang satunya, yang ikut melirik.
"Ada,"
"Siapa?"
"Pacar laki-lakinya hihi," mereka pun terkekeh.
"Bos, mereka pikir bos seorang gay," bisik David yang mendengar bisik-bisik tetangga tersebut.
"Sepertinya mereka kurang update, tidak tahu kalau bos sudah punya istri," lanjut David.
"Biarkan saja, aku tidak tertarik untuk mengurusi omongan mereka, paling juga mereka pikir kamu pacarku," sahut Alex santai. Ia melihat dua gadis tersebut sekilas.
David menggidikan kedua bahunya mendengar ucapan Alex, tidak bisa membayangkan bagaimana kalau mereka benar-benar gay.
"Aku paling malas main golf ya gini, caddynya selalu saja pakai baju kayak gitu Dave, nggak takut masuk angin apa," bisik Alex sambil berjalan.
"Kenapa emangnya bos, pakaian Caddy kan emang seksi-seksi, bikin mupeng ya?" goda David.
"Sial kamu, aku hanya bernafsu sama istriku. Nggak suka aja lihat perempuan pakai baju kurang bahan begitu,"
"Apa perlu saya suruh mereka ganti dengan baju kurung bos, atau gamis biar tertutup?" canda David.
"Resek kami Dave!"
"Ngomong-ngomong itu tuan Yokohama bos, sebaiknya kita samperin sekarang, takutnya beliau sudah menunggu lama," ucap David, tangannya menunjuk seorang pengusaha adalah Jepang.
Alex dan David sebenarnya main golf karena undangan dari tuan Yokohama dari perusahaan Glory Japan, karena mereka akan membahas kerja sama kedua perusahaan sembari bermain golf.
"Tuan Parvis, Anda sudah datang," sapa tuan Yokohama.
"Baru saja tuan, maaf kami sedikit terlambat," sahut Alex.
"Oh tidak masalah tuan, mari kita mulai saja, setelah itu kita bisa santai sambil membahas proyek yang akan kita kerjakan," ucap tuan Yokohama.
"Baik tuan," David yang menyahut.
"O ya, kenalkan ini sekertaris saya Liza," wanita yang bernama Liza tersebut menganggukkan kepalanya memberi hormat dengan tersenyum.
"Liza," mengulurkan tangan untuk menyalami Alex, tapi Alex tak bergeming. Alhasil David yang menyambut uluran tangan dari sekertaris berpenampilan seksi tersebut.
"Kenapa penampilan sekertaris seringnya begitu sih, beda sama Anes dulu, dia lebih mengutamakan kinerjanya, dari pada menonjolkan dadanya," batin Alex enggan menatap sekertaris rekan bisnisnya yang menatapnya sensual tersebut.
"David," ucap David.
"Cih sombong sekali tuan Parvis ini, di ajak salaman pun nggak mau,". batin Liza dengan mengangkat sudut bibirnya ke atas.
"Menurut gosip yang beredar, nona Liza ini bukan hanya sekedar sekertaris bos, tapi juga simpanannya tuan Yokohama," bisik David.
"Biarkan saja, itu urusan mereka, aku hanya peduli dengan kerja sama ini, kalau skandal mereka terungkap tinggal kita batalkan saja kerja samanya, kan kita bisa menuntut ganti ruginya sesuai perjanjian, dan kita tetap akan untung," balas Alex berbisik.
"Dasar bos, tidak mau rugi," batin David.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Di tempat lain, Anes dan Amel berkeliling mall untuk sekedar melihat-lihat. Toko-toko perlengkapan bayi yang paling mereka masuki.
"Dari tadi cuma lihat-lihat aja Nes, nggak ada yang tertarik untuk di beli gitu?" tanya Amel.
"Aku emang cuma mau lihat-lihat aja Mel, belanjanya nanti kalau sudah tujuh bulan," jawab Anes sambil terus berjalan.
"Kenapa emang? pamali ya kalau belum tujuh bulan beli perlengkapan bayi, seperti kata orang-orang," Amel menghentikan langkahnya di depan Anes.
"Itu cuma mitos Mel, aku nunggu tujuh bulan karena emang rencananya mau belanja sama mas Alex, bukan karena mitos itu," jawab Anes.
"Kirain kamu percaya sama mitos itu Nes,"
"Ya itu sih kembali ke diri kita masing-masing aja Mel, mau menanggapi mitos itu seperti apa. Kalau menurutku sih ambil sisi positifnya aja dari mitos tersebut, misalnya biar kita nggak kalap belanja misalnya. Kalau jauh-jauh hari sudah belanja, takutnya banyak yang pada akhirnya nggak kepakai, kan mubazir," jelas Anes.
"Capek ya Nes, duduk dulu gih," ajak Amel yang sudah mendahului Anes untuk duduk.
Karena lelah berjalan, Anes dan Amel duduk di salah satu kursi panjang di salah satu sudut mall tersebut.
"Aku beliin minuman dulu ya, haus kan?"
"Tahu aja kamu Mel, Thai tea di sudut sana kayaknya segar tuh Mel," Anes menunjuk yang di maksud.
"Oke," Amel langsung menuju ke stand yang di maksud Anes.
Setelah menyedot Thai tea beberapa kali, akhirnya Anes dan Amel memutuskan untuk nyalon sebentar di mall tersebut. Sengaja tidak nyalon di salon khusus yang biasanya.
Di salon tersebut, mereka melihat salah satu pengunjung yang tidak asing bagi mereka. Mereka saling pandang dan mengangkat alis.
"Sandra," ucap Anes dan Amel bersamaan.
"Anes! Amel! kalian di sini juga?" sapa Sandra. yang sedang memegang majalah di tangannya.
"Kamu apa kabar San? lama tidak bertemu," Anes menanyakan kabar teman sekolahnya itu.
"Aku baik Nes, wah kamu lagi hamil ya Nes? berapa bulan? nikahnya kok nggak undang-undang sih Nes?" tanya Sandra.
"Iya San, lima bulan San, aku nikahnya emang nggak undang-undang dan, cuma dihadiri kedua belah pihak keluarga terdekat aja. Kamu sendiri udah nikah? udah punya anak?" Anes balik tanya.
"Aku udah menikah Nes, tapi waktu itu aku keguguran waktu hamil baru 2 bulan, dan belum hamil lagi sampai sekarang, lagi program buat hamil lagi Nies sekaran. Kalau kamu Mel? Udah nikah?" Sandra beralih Amel.
"Belum San, hehe belum ketemu jodohnya," jawab Amel yang merasa sedih karena ingat dengan David. Merutuki kebodohannya karena pernah menolak ketika di ajak menikah oleh David.
"Oh begitu, semoga cepat ketemu ya jodohnya,"
"Amel sebenarnya udah punya kekasih, dan sebentar lagi mereka akan menikah," Anes mencoba meyakinkan Amel dengan kata-katanya. Ia tidak ingin sahabatnya itu terkesan tidak laku di mata teman SMAnya itu.
"Oh begitu, ngomong-ngomong sekarang kalian kerja di mana?" tanya Sandra.
"Aku tidak kerja San, sedang fokus menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami, apalagi sebentar lagi aku akan punya baby," jawab Anes.
" Aku kerja di Parvis Group, di kantor pusat, tadinya Anes juga kerja di sana," sambung Amel.
"Wah, suami aku juga kerja di salah satu bank milik Parvis Group, dia seorang manajer loh di sana," ucap Sandra dengan bangganya.
"Aku istri ceo-nya, mau apa?" batin Anes.
"Walaupun suami aku gajinya udah gede, tapi aku tetap bekerja juga, sebagai manajer di sebuah restauran bintang lima, karena untuk hidup enak kita harus kerja keras, untuk bisa menabung juga. Kalau Anes orangnya kan nerimaan ya dari dulu hatinya selalu baik, Di kasih bulanan berapapun pasti terima, nggak seperti aku yang maunya hidup enak. Hehehe,"
Mendengar ucapan Sandra Amel hanya menahan tawanya. Ya emang tidak banyak yang tahu kalau Anes istri dari Alex, masalah pribadi Alex tidak pernah di ekspose di media, kalaupun Alex muncul di televisi atau lainnya, ia tidak pernah mengatakan siapa istrinya, hanya bilang sudah beristri dan sangat mencintai istrinya tersebut.
__ADS_1
"Kalau suami kamu kerja di mana Nes?"
"Di Parvis group juga San," Jawab Anes.
"Kalau pacar kamu Mel,?"
"Sama, di Parvis group juga," sambil fokus menatap layar ponsel.
"Haha sepertinya nasib kita sama, punya suami yang bekerja bawah naungan Parvis Group, perusahaan itu emang nomor satu dan paling banyak di minati untuk menari rupiah, mereka tidak tanggung-tanggung memberikan gaji yang besar untuk para karyawannya,"
Anes dan Amel hanya saling melempar pandang dan tersenyum.
"O ya, kalian akan datang kan ke acara reunian SMA kita?" tanya Sandra yang tiba-tiba ingat kalau akan di adakan ya reuni di SMA Bhakti Negara tempat mereka menimbulkan ilmu dulu.
"Reuni?" Anes dan Amel menatap tajam ke arah Sandra.
"Iya Reuni, jangan bilang kalian tidak tahu, dua Minggu lagi acaranya, kalian datang ya, dan ingat harus bawa pasangan, itu syaratnya," jawab Sandra.
"Lihat nanti deh San, tapi akan kita usahain," sahut Amel.
"Oke, kalian lihat aja di sosmed sekolah kita, ada kok di sana pengumumannya,"
"Oke,.coba nanti aku lihat," sahut Amel.
"Eh kira-kira Jessica akan datang nggak ya, aku dengar perusahaan suaminya bangkrut gara-gara dia menghina istri tuan muda Parvis, dan sekarang mereka sedang berusaha buka usaha lagi," ucap Sandra.
Anes jadi ingat kejadian waktu di acara pesta waktu itu, apa bangkrutnya perusaan suami Jessica karena Alex suaminya?.
"Setahu aku sih, perusahaan keluarga suaminya emang bermasalah San waktu itu, jadi bukan hanya karena tuan muda Parvis, waktu itu aku masih bekerja di sana, dan aku tahu yang sebenarnya," jelas Anes.
"Oh begitu ya, sayang sekali ya kamu harus keluar kerja dari sana, padahal kan kamu mau punya anak, butuh banyak biaya," entahlah itu ejekan atau hanya sekedar ucapan simpati dari mulut Sandra.
"Nggak papa San, insyaallah suami aku mampu kok membiayai hidupku dan anakku nanti," jawab Anes tanpa ingin menyombongkan statusnya sebagi istri seorang CEO.
"Uuuhhh kamu emang selalu baik Nes, beruntung sekali suami kamu punya istri seperti kamu," puji Sandra.
"Kamu berlebihan San, bukannya seorang istri memang harus begitu?"
"Iya sih, tapi kalau aku belum bisa Nes, hehe masih suka menuntut sama suami," Ujar Sandra jujur.
Mereka pun terus asyik mengobrol sambil menerima perawatan di salon tersebut.
Acara nyalon pun selesai, mereka bertiga keluar dari salon tersebut.
"Sandra, mau ikut kita ke cafe? kita makan siang di sana nanti," tawar Anes.
"Iya San, ikut aja yuk, masih pengen ngobrol nih, kan udah lama nggak ketemu," sambung Amel riang.
"Nggak ah Nes, Mel, lain kali aja ya, aku udah ada janji sama teman-teman arisan, biasa weekend gini kita suka ngumpul gitu, sama nyonya-nyonya sosialita," tolak Sandra.
"Oh begitu. Ya udah, kita duluan ya?" pamit Anes.
"Oke, hati-hati," sahut Sandra sambil.melambaikan tangannya.
Anes dan Amel meninggalkan Sandra sendiri.
"Suaminya karyawan biasa di Parvis Group, tapi tasnya branded, apa mungkin itu KW? Kalau KW pintar benar yang buat, seperti asli begitu, bahkan tasku yang KW kualitas nomor satu kalah," gumam Sandra sambil memperhatikan dua sahabat itu berjalan sambil bercanda ria.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
💠Jangan lupa like, komen dan votenya ya kak, author tunggu. Salam hangat author❤️❤️❤️💠
__ADS_1