
Di cafe....
"Aku heran kenapa mas Alex akhir-akhir ini bersikap sangat aneh, keluar jalur tidak seperti biasanya," Anes memulai cerita kepada Amel tentang perubahan yang ada pada suaminya akhir-akhir ini.
"Aneh bagaimana maksudnya?" tanya Amel sambil mengunyah chicken fingers yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.
Anes menyedot kembali jus strawberry yang kini tinggal setengah gelas tersebut sebelum meneruskan ceritanya kepada Amel.
"Ya gitu, dia selalu nempel kepadaku kayak ulet keket," jawab Anes.
"Emang gitu kan biasanya suami kamu, nempel terus sama kamu. Maklum bucin akut," sahut Amel yang merasa tidak heran dengan sikap Alex.
"Tapi ini lebih parah Mel, masa iya, aku mau pup aja dia mau ikut, pengennya di manja terus. Setiap bangun tidur dia mual. Udah gitu nih ya, parfum yang gedenya cuma seupil dan harganya puluhan juta yang dia belikan itu di bilangnya aromanya nggak enak, bikin mual. Bau bawang goreng di dapur juga mual. Parahnya lagi, dia benci bau keringatnya sendiri, bahkan mau pingsan kalau nyium keringatnya sendiri. Makanya sebisa mungkin dia nggak berkeringat. Makan juga pilih-pilih nggak kayak biasanya, yang biasa dia nggak suka malah di makan. Aneh kan," lanjut Anes sambil memainkan sedotan, dan di akhiri dengan helaan nafas panjang dan kembali menyedot jusnya.
"Hamil kali!" celetuk Amel setelah mendengar curhatan sang sahabat.
"Sembarangan kalau ngomong! suamiku laki-laki tulen kali. Dia punya "pedang" dan pedangnya aja bisa berdiri dengan tegak dan gagah kok. Bagaiman ceritanya bisa hamil, yang ada menghamili kali," Anes langsung memasukkan onion ring ke mulutnya.
"Habis, ciri-cirinya kayak orang hamil. Dulu kakak ipar juga kayak gitu waktu hamil cyra," sahut Amel.
"Ya tapi kan mas Alex cowok Amel, nggak mungkin hamil, gimana sih?"
"Ya, kalau bukan pak Alex yang hamil, berati kamu yang hamil, lebih masuk akal kan?" ucap Amel.
"Hamil? aku? masa sih? tapi aku nggak merasakan apa-apa, biasa aja, cuma jadi sedikit lebih sensitif aja."
"Ya bisa jadi kan? Emang udah telat belum datang bulannya?" tanya Amel.
Anes menggelengkan kepalanya.
"Bulan kemarin masih datang bulan, dan bulan ini harusnya sekita 3 harian lagi menstruasinya," ucap Anes.
"Coba aja di testi pack, siapa tahu positif," Amel memberi saran kepada Anes.
Anes ragu untuk melakukannya, takut kecewa, tapi tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu beneran positif pikirnya.
Mereka melanjutkan mengobrol sampai akhirnya Anes di jemput oleh pak Anton.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Pak berhenti sebentar, ada yang ingin saya beli," Anes meminta sopir pribadinya untuk berhenti di depan sebuah apotik. Ia berniat untuk membeli test pack, karena persediaan test packnya di rumah kebetulan habis.
"Baik nyonya muda," sahut pak Anton langsung menepikan mobilnya.
Anes turun dari mobil dan masuk ke dalam apotik.
__ADS_1
"Selamat datang nona, mau cari apa?" tanya penjaga apotik.
"Em saya mau beli test packnya 10 mbak," jawab Anes.
Apoteker tersebut menatap heran kepada Anes karena membeli begitu banyak, namun tetap ia ambilkan sesuai permintaan Anes.
"Ini nona, totalnya menjadi xxx," ucap apoteker.
Anes mengeluarkan uang untuk membayarnya. Sebelum meninggalkan apotik, Anes dengan ragu-ragu bertanya, " Em kalau belum telat datang bulan, apa sudah bisa di testis pack mbak?"
"Sudah bisa nona, jika Anda sudah mengalami gejala hamil morning sickness misalnya," jawab apoteker.
"Tapi yang merasa seperti orang hamil suami saya mbak," ucap Anes.
"Suami nona bukan perempuan kan?" tanya apoteker.
"Ya iyalah mbak, suami saya laki-laki. Kalau suami saya perempuan dan saya juga perempuan mana bisa hamil salah satunya, benihnya dari mana coba? Lagian saya normal bukan pecinta sesama jenis," sungut Anes.
"Hehe bercanda nona, jangan baper, sepertinya nona memang sedang hamil, Balerante soalnya," celetuk apoteker.
Tanpa banyak tanya dan bicara lagi, Anes langsung meninggalkan apotik tersebut dengan muka di tekuk.
"Huh aku kenapa sih, jelas-jelas mbaknya cuma bercanda, kenapa aku memasukkannya ke dalam hati," gumam Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes terus berjalan menuju ke meja makan, tanpa menghiraukan suaminya yang terus mengikutinya dari belakang dan merengek karena Anes tidak memeluknya.
"Eleh mas mas, baru juga di tinggal sebentar. Nih aku bawain kamu Batagor mang Roy, yang di ujung jalan sana. Tadi katanya pengen makan itu," ucap Anes seraya menyodorkan batagor kepada Alex yang masih gelendotan kepada Anes.
"Mau di makan sekarang? Biar di ambilkan piring sama bibi," lanjut Anes.
"Nggak ah, mas nggak mau makan, mas cuma pengen lihatin doang batagornya bukan untuk mas makan," sahut Alex dengan manjanya.
"Capek deh," Anes menepuk jidatnya sendiri, lalu menarik kesimpulan makan dan mendaratkan pantatnya.
"Sepertinya akhir-akhir ini kamu sering menepuk jidat sendiri sayang, nanti lama-lama berkerak loh jidatnya gara-gara di tepok terus," ucap Alex dengan polosnya.
"Mas,"
"Iya sayang?" sahut Anes.
"Mas seorang Presdir kan?"
"Tentu saja, apa kamu mendadak amnesia sayang, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Alex.
__ADS_1
"Heran aja, Presdir kok tingkahnya absurd begini," Anes menatap Alex sinis level 10.
"Beda dong sayang, ketika di kantor mas jadi Presdir yang berwibawa dan kompeten, tapi kalau di rumah, mas hanyalah seorang suami yang sangat mencintai istrinya," menyapu seluruh wajah Anes dengan ciuman.
"Haddeh, kalau ada alat pendeteksi tingkat kebucinan, aku yakin alat itu akan jebol tidak sanggup menghitung berapa tingkat kebucinan mas Alex," sindir Anes.
mendengar ucapan sang istri, membuat Alex terkekeh.
"Habis istri mas selalu memabukkan sih, padahal bukan alkohol," sahut Alex.
"Ini benar suamiku bukan sih?" tanya Anes dalam hati.
"Lama-lama aku kenyang makan gombalan receh mu mas mas," ucap Anes.
"Jadi cuma mau di lihatin doang nih batagornya? Apa perlu aku laminating sekalian biar awet dan di pajang di tembok biar bisa mas lihat terus?"
"Huh kamu ini, menggemaskan sekali sih sayang," mencubit pipi Anes.
"Masa, batagor mau di laminating,"
"Habisnya mas juga aneh, minta di belikan batagor cuma buat di lihatin doang, apa bagusnya coba?" Anes mengerucutkan bibirnya. Kemudian, ia bangkit dari duduknya untuk menuju ke kamarnya.
"I love you too sayang!" seru Alex.
"Tuh kan, aku ngomong apa dia nyahutnya apa. Untung aku cinta," gumam Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
Malam harinya, ketika Anes sedang asyik nonton video-video lucu di ponselnya, Alex kepo dengan apa yang sedang Anes lihat.
"Mas, bisa minggir nggak, kalau mas lihatnya kayak gitu, kepala mas menghalangi mataku, aku jadi nggak bisa lihat kan?" Anes berusaha menyingkirkan kepala Alex dari depan ponselnya persis.
"Tapi mas juga pengen lihat sayang,"
"Ya, tapi nggak gitu juga kali mas, lagian kan mas punya ponsel sendiri?"
"Nggak boleh nih mas ikut lihat di ponsel kamu? ya udah kalau begitu," menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Cieee gitu aja ngambek, baperan amat pak. Nih ambil dah ambil! Aku mau tidur, mmuah," Anes menyerhakan ponselnya dan mencium pipi Alex, lalu merebahkan badannya.
"Sayang kok malah tidur sih? udahan nih nontonya?" Alex menggoyang-goyang badan Anes.
"Udah ah, kan aku nggak lihat ponselnya, tapi lihat kepala orang," sindir Anes.
"Hehe maaf maaf, jangan ngambek dong," Alex menyusul ke dalam selimut.
__ADS_1
Dan mereka pun terus bercanda sampai akhirnya terlelap.
๐ผ๐ผ๐ผ