
Setelah selesai periksa kehamilan yang sebenarnya di lakukan setiap satu bulan sekali oleh Anes dan Alex, mereka berempat menuju ke taman hiburan.
Namun, sebelum sampai ke taman hiburan, Amel dan Anes membawa Alex dan David ke sebuah mall untuk membeli baju dan mengganti pakaian mereka menjadi lebih casual.
"Nah, kalau kayak gini kan jadi lebih santai, kan kita mau main bukan mau kerja," ucap Anes ketika melihat Alex dan David keluar dari ruang ganti. Amel mengiyakan ucapan Anes tanda setuju dengan yang sahabatnya tersebut katakan.
"Ayo!" ajek Anes dan Amel yang berjalan duluan, David dan Alex mengikuti keduanya setelah membayar apa yang mereka pakai sekarang.
"Bos, bujuk nona dong, jangan ke rumah hantu nanti, main yang lain ajalah," bisik David yang sudah mulai ketar ketir perasaannya.
"Dari tadi aku jga udah usaha ngomong Dave, tapi emang dia pengennya lihat hantu, mau bagaimana lagi?" Alex hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
"Suruh nona lihat bos marah aja kalau mau lihat hantu, kan sebelas dua belas tuh,"
"Sialan!" Alex. Mencebikkan bibirnya.
"Lagian nona sedang hamil ada-ada aja maunya, double date yang romantis kek, malah ngajak ke rumah hantu. Oh ajaib, bagiku kau sungguh ajaib!" ucap David yang di akhir dengan bersenandung menyanyikan sebuah lagu.
Di dalam mobil, David tetap berusaha Menggoyahkan niat Anes dan Amel, dengan menawarkan berbagai alternatif menggiurkan untuk kencan mereka berempat, siapa tau mereka akan tergoda dengan tawaran tersebut, namun ternyata gagal.
"Bos bantuin kenapa, malah asyik sendiri!" David melihat sekilas apa yang di lakukan bosnya tersebut di kursi belakang. Ternyata Alex sedang asik memainkan rambut Anes dan sesekali mengajak calon anak laki-laki ya mengobrol.
"Ini juga lagi usaha Dave!" sahut Alex.
"Usaha apa bos? Dari tadi saya ngoceh sendiri membujuk dua wanita keras kepala ini," David sudah mulai frustrasi, ia benar-benar tak ingin melihat hantu.
"Ya usaha, buat nyemangatin anak aku supaya nanti kalau lihat hantu atau apa yang seram di sana jangan takut, anggap aja sedang lihat kamu Dave, ," ucap Alex.
David mengerutkan alisnya mendengar ucapan Alex yang tak mendukungnya sama sekali.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sesampainya di tempat tujuan, Alex mulai was-was karena dari tadi David selalu mengimporinya.
" Sayang, kamu yakin mau masuk?" tanya Alex.
" Hem, yakin tuh Amel udah beli tiketnya," menunjuk ke arah Amel yang baru membeli tiket.
"Ya ampun nih mbak pacar, kenapa nggak peka sih kalau aku itu takut sama hantu?" batin David. Ingin jujur tapi gengsi, nggak jujur takut kelepasan dan tidak bisa menahan kencing di dalam.
Mereka pun mulai masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap tersebut dengan di desain sedemikian rupa sehingga terlihat menyeramkan.
Anes dan Amel berjalan bergandengan tangan berdua, sedangkan David terus memegangi baju yang di kenakan Alex.
"Ah shit! Kencan macam apa ini? Kenapa mereka malah asyik berdua, dan aku harus urus bayi bangkotan yang ketakutan ini," umpat Alex.
"Bos kan tahu, kalau saya.... Arrghhh, ya tuhan lindungi hambaMU ini, dari set*n-set*n yang terk*tuk ini," belum jg menyelesaikan ucapannya, David sudah teriak ketakutan karena ada sosok hantu yang menaktinya. David melompat dan bergelayut ke tubuh Alex, membuat Alex berdecak karen risih.
" Itu hantu bohongan dudul, malu-maluin aja! Turun, atau aku kutuk jadi monyet, emang aku pohon di buat gelantungan begitu," sarkas Alex.
Sebenarnya David juga tahu kalau itu hantu bohongan, tapi tetap saja buku kudunya berdiri semua kalau melihat.
Merek terus berjalan, hingga muncul lagi sosok hantu yang berlumuran darah, David kembali menjerit hiateris, dan memejamkan matanya sambil tangannya mer*mas tangan Alex.
"Oh tuhan, aku ingin keluar dari sini hidup-hidup dan sehat! Aku belum merasakan enaknya kawin. Tolong kalian pergi, makan aku pun nggak enak, dagingku pahit," David terus komat-kmit sambil berdoa dan merancau. Membuat orang-orang yang menyamar menjadi hantu tersebut sekuat tenaga menahan tawa mereka, jika mereka tertawa kan nggak serem lagi.
Sementara Alex merasa mual melihat penampilan hantu yang menurutnya menj*jikkan tersebut.
__ADS_1
" Sudah aku bilang, itu bohongan Dave, kalau nggak percaya sentuh dan hajar saja!" ucap Alex sambil menahan mualnya.
"Saya tahu bos, saya tahu tapi..." tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundak David, refleks ditariknya tangan tersebut, lalu di bantingnya ke lantai.
"Aw!!" pekik hantu yang di banting tersebut kesakitan,
"Mamp*s kau, salah sendiri menakut-nakuti orang, kayak nggak ada kerjaan aja!" sarkas David.
"Ma maaf tuan, bukannya tidak ada kerjaan, tapi memang ini pekerjaan saya," sahut orang tersebut sambil meringis memegangi pinggangnya yang sakit.
Alex mengusap wajahnya dengan kasar dan gusar.
"Astaga Dave! kamu banting beneran tuh hantu, eh orang maksudnya. Untung laki dan badannya gedhe, coba kalau perempuan, parah kamu. Malu sama badan yang gede, muka garang kalau sama orang, preman kelas kakap sekalipun kamu berani, tapi sama hantu aja keok. Hantu bohongan pula kamu takuti."
" Maaf bos, itu memang kelemahan saya. Tapi tadi saya hanya sedikit menggunakan tenaga saya, palingan dia hanya encok, paling parah juga retak tulang," jawab David.
Karena tidak ingin terus merasa mual dan David membuat ulah dengan membantin hantu-hantu yang lain, Alex menarik David kembali keluar dari sana. Mereka melupakan dua orang wanita yang tadi jalan mendahului mereka, Anes dan Amel.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sesampainya di luar, Alex dan David mengatur nafas mereka.
"Beli minum Dave, di dalam sungguh bikin aku mual melihat hantu-hantu itu," pinta Alex, David segera membeli air mineral untuk di minum Alex dan jga dirinya secara bergantian.
Mereka duduk-duduk sambil terus menenangkan diri. Tiba-tiba saja merek berdua meras ada yang kurang atau hilang, mereka meraba-raba saku siapa tahu dompet atau kunci mobil yang tertinggal di dalam. Tapi, semua masih ada dan secara bersamaan mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian, mereka menyebut dua nama,
"Anes, Amel," seru Alex dan David secara bersamaan, Alex. Menyebut nama Anes, sedangkan David menyebut nama Amel.
"Astaga! Kenapa bisa lupa sih kalau mereka masih ada di dalam, suami macam apa aku ini," Alex merutuki dirinya sendiri yang tidak menjaga istrinya di dalam, malah sibuk mengurus David.
"Maaf bos, ini salah saya," David merasa bersalah.
"Nona sedang hamil bos,"
"Aku tahu, aku yang menghamilinya," jawab Alex santai.
"Bukan itu maksud saya, bagaimana kalu Nona ketakutan dan ponakan saya maksa brojol di dalam?" David memepertegas maksud dan tujuan ucapannya tadi.
"Ah kmu bikin panik aja Dave! Ini semua gara-gara kamu! Aku harus masuk dan menyusulnya, takutnya brojol beneran dan yang bantu lahiran mbk kunti atau mas cong, bisa nangis keder anak aku jika yng dilihat pertama kali saat lahir ke dunia mereka yang mukanya bikin mual itu," Alex langsung berdiri dan bergegas menuju ke rumah hantu tersebut.
Alex sungguh khawatir dengan istri dan anaknya tersebut.
" Hah, sayang-sayang, ada-ada aja deh, pakai minta pergi ke tempat beginian segala, mau uji nyali atau bagaimana sih," gumam Alex, ia berlari masuk ke dalam.
Sementara itu, Anes dan Amel yang sudah keluar mencari Alex dan David, mereka menemukan David sedang duduk selonjoran sendirian.
Melihat Anes dan Amel mendekat, David langsung memeluk Amel.
" Syukurlah, kalian baik-baik saja, bagaimana? Apa ada yng terluka?" David memutar badan amel. Untuk memastikan kekasihnya baik-baik saja.
"Emangnya aku harus terluka kenapa? Cuma main di rumah hantu, apa yang bisa membuat luka?" ucap Amel.
"Iya bang, kenapa panik begitu, mas Alex mana? Tadi kenapa kalian nggak nyusul kita di dalam?" tanya Anes.
"Nona, juga baik-baik saja kan?" David beralih memegang lengan Anes memastikan kalau wanita yang sedang hamil tersebut baik-baik saja. Di lihat ya perut Anes yang masih buncit.
"Masih buncit," gumam David.
__ADS_1
"Apanya?" tanya Anes.
"Ah tidak nona, bos Kecil semakin tumbuh besar," jawab David sekenanya.
"Lepaskan tanganmu!" sarkas Alex yang sudah kembali dan tampak sedang mengatur napasnya.
David langsung melepaskan tangannya. Ia pikir pasti posesifnya lex bakal keluar habis ini, ia akan di kuliahi panjang lebar setelah ini. Tapi ternyata tidak, Alex langsung memeluk Anes dengan erat, seolah kehilangan wanita ya tersebut dan baru saja menemukannya.
"Mas dari mana?" tanya Anes masih dalam pelukan sang suami.
"Mas habis dari dalam mencari kamu sayang, takutnya kamu kenapa-kenapa, maafin mas tadi nggak jagain kamu, maaf," jawab Alex, ia juga minta maaf kepada Anes.
"Mas nggak perlu minta maaf, mas nggak salah, cuma hal begituan, bukan masalah besar," balas Anes.
"Dedek, baik-baik saja kan?" Alex mengusap perut Anes.
"Iya daddy, aku kan jagain mommy di dalam," sahut Anes menirukan suara anak kecil.
Dan mereka pun duduk lesehan di sudut taman hiburan tersebut, di bawah pohon yang rindang nan sejuk, sambil mengobrol dan bersantai ria. Tak lupa, beberapa camilan juga ikut meramaikan obrolan mereka. Alex menceritakan kekonyolannya dan David di rumah hantu tadi, membuat Anes dan amel tahu jika David yang mereka pikir tidak ada yang ia takut tersebut, ternyata seorang penakut juga.
"Terus saja bos terus ledekin, puas-puasin dah!" cebik David, membuat yang lainnya terkekeh.
"Uluhh uluuuh, pacar ku ini ternyata takut hantu ya? Jadi pengen melindungi dari ara hantu, terutama hantu cantik tapi bukan sundel bolong, makin cinta deh!" Amel mencubit pipi David gemas.
David menahan tangan Amel yang mencubitnya lalu mencium bibirnya.
" Buat ngembaliin mood aku," Ucp David di sela-sela ciumannya.
" Astaga, kamu ini Dave! Beneran nggak ada akhlak! Klau mau adegan delapan belas ples jangan di depan istriku, kasihan dia dan anakku yang masih polos," Alex melempar kulit kacang ke arah David.
" Sory bos, kalau dekat mbak pacar bawaannya pengen ngecas mood mulu, lagian kalau pengen bos kan ada nona, " jawab David dengan wajah tanpa dosanya.
" Istriku pemalu Dave, tahu sendiri,"
" Kalau aku malu-maluin gitu pak maksduny?" Amel berkacak pinggang menatap Alex tajam.
" Bukan saya yang bilang, kamu sendiri lo yng bilang,"sahut Alex yang kini sudah dalam posisi tiduran di paha Anes.
"Dave,,," rengek Amel, meminta pembelaan dari sang pacar.
"Enggak beb, kamu nggak malu-maluin jangan ambil hati, bos hanya bergurau," ucap David lembut.
"Cerdas!" seru Alex masih salam posisi rebahan menghadap ke atas, mata tertutup, kaki di tekuk satu dan tangan bersedekap.
Sementara Anes hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Tangannya mengusap-uap rambut Alex dari depan ke arah belakang.
Dan seperti itulah double date ala-ala mereka yang jauh dari ekspektasi David, namin tetap membuatnya senang, karena bisa berkumpul dan bersantai ria dengan orang-orang terkasihnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
๐ Bayangin ekspresi wajah dua laki-aki ganteng dan keren ini waktu di rumah hantu seperti apa๐ ๐ ๐.
Mamas Alex๐
Babang David ๐
__ADS_1
๐ Jangan lupa like, komen dan votenya, biar author tambah semangat upnya. Terima kasih ๐๐ salam hangat author โค๏ธ๐