MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 106


__ADS_3

Keesokan harinya di kantor...


"Tok tok tok!" Amel mengetuk pintu ruangan Alex.


Setelah dipersilahkan masuk, Amel membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Permisi pak, Bapak memanggil saya kesini ada apa ya?" tanya Amel.


"Duh, aku nggak berbuat salah kan?" batin Anes cemas.


"Duduk!" perintah Alex. Amel hanya menurut dan langsung duduk.


"Sekarang kamu pulang dan berkemas!" perintah Alex.


Amel bingung, mengapa tiba-tiba Alex menyuruhnya berkemas.


"Maksud Bapak?" Amel meminta penjelasan.


"Saya sudah pesankan tiket buat kamu, sekarang kamu pulang dan berkemas. Pesawat akan terbang sekitar 2 jam lagi," ucap Alex, membuat Amel semakin bingung.


"Maksudnya apa sih nih orang? Tiket pesawat? Memangnya aku mau kemana? Tidak jelas! Tunggu! Apa pak Alex akan membuang ku ke suatu tempat? Atau mengirim aku sebagai TKW? Apa aku berbuat salah? Perasaan tidak deh! Ya ampun macam ibu tiri saja mau menyingkirkan anak tirinya," batin Anes dengan pikiran jeleknya.


"Malah bengong," Alex meletakkan sebuah tiket pesawat di depan Amel.


"Pak, saya salah apa Pak? Kenapa Bapak tega mau membuang saya keluar negeri? Bapak ingin menjual saya ya? Bapak kan udah kaya. Bagaimana dengan ibu saya Pak, kalau saya di kirim ke luar negeri?" Amel mulai panik. Wajahnya memelas.


"Nih anak, pikirannya benar-benar ajaib. Bagaimana bisa dia berpikir aku akan membuangnya? Kok bisa Anes punya sahabat seperti ini sih. Hah aku nggak yakin dia cocok sama David," batin Alex mengamati dengan seksama.


"Siapa yang akan membuang kamu?" ucap Alex tanpa datar.


"Kalau bukan untuk menyingkirkan saya, untuk apa pak?" berpikir terlalu jauh, efek sering menonton sinetron.


"Poor David!" batin Alex.


"Ck. dasar percaya diri sekali kamu. Apa urusannya sehingga saya harus menyingkirkan dan membuang kamu?"


"Anes suami kamu bener-bener deh! mulutnya tajam," batin Amel.


"Kalau begitu yang jelas dong Pak kalau ngomong, jangan buat saya gagal paham,"


"Saya kirim kamu ke luar negeri, tepatnya ke Australia untuk menemani David di sana. Kamu bisa menjadi asistennya atau apalah terserah.Yang jelas sekarang kamu pulang dan bersiap-siap. Nanti sampai di sana biar di jemput oleh David."


"Tapi Pak? Kenapa saya harus menemani pak David? Apa hubungannya sama saya?" semakin bingung.


"Jangan banyak tanya! Ini tugas dari kantor, atau mau saya pecat?" ancam Alex. Sebenarnya dia juga bingung bagaimana menjelaskan kepada Amel. Tidak mungkin terang-terangan untuk menjodohkan mereka seperti keinginan Anes. Bisa-bisa nanti julukannya beralih dari Presdir menjadi makcomblang.


"Huh tukang ngancam!"


"Baik pak, saya akan berangkat, saya permisi!" Amel langsung bangkit dari duduknya dengan ekspresi yang penuh tanda tanya tak lupa ia mengambil tiket pesawatnya.

__ADS_1


"Hem," sahut Alex. Kemudian ia mengambil ponselnya.


"Sayang, mas udah kirim mood booster buat David," Alex mengirim pesan kepada Anes


"Maksudnya?" balas Anes.


"Aku kirim Amel ke sana. Bagaimana?" balas Alex.


"Cerdas 😘," balasan dari Anes.


🌼🌼🌼


Di Australia...


David sedang memimpin sebuah rapat. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada pesan singkat yang masuk. Ia melirik layar ponselnya. Begitu melihat nama Alex, ia langsung membukanya.


"Aku kirimkan mood booster buat kamu. Dua jam lagi akan berangkat dari bandara. Kira-kira dia sampai di sana, jemput dia di bandara. Jangan lupa berterima kasihlah kepadaku nanti😀," isi pesan dari Alex.


"Maksud bos apa sih? Nggak jelas!" batin David.


"Maksud bos?" balas David.


"Udah, nanti datang saja ke bandara!" balas Alex.


"Baik bos," David tidak bisa membantah perintah Alex.


Beberapa jam kemudian, David sedang menikmati secangkir kopi di apartemennya. Tiba-tiba ia ingat kalau harus menjemput orang yang di kirim oleh Alex ke sana.


David mengambil jaket Hoodie dan langsung berangkat menuju bandara.


Sesampainya di bandara, David bingung sebenarnya siapa yang harus dia jemput. Lalu dia berinisiatif membuat tulisan " Kiriman Parvis Group?" di sebuah kertas besar yang kebetulan ada di dalam mobilnya. Namun, para penumpang yang baru saja tiba, tidak ada yang mendekatinya.


"Sebenarnya siapa sih yang di kirim bos? Atau jangan-jangan dia mau mengerjai aku?" batin David sambil celingak-celinguk.


"Pak David lama sekali sih!" teriak seseorang.


Mendengar suara yang sangat familiar, David langsung menoleh ke arah suara.


"Amel?"


"Pak David kenapa telat menjemput saya? Saya sudah dari tadi sampai. Saya kira tidak ada yang menjemput, saya sudah panik dan takut. Saya pikir pak Alex benar-benar membuang saya ke sini hiks," ucap Amel sambil menangis.


David ingin sekali mengusap air mata Amel, tapi hanya sebatas niat yang tidak tersampaikan. Ia kembali menurunkan tangannya yang hampir sampai di pipi Amel.


"Sudah jangan menangis. Seperti anak kecil saja. Maaf aku telat menjemput kamu. Ayo!" David menyeret koper yang ada di samping Amel. Amel hanya mengikuti langkah David dari belakang.


Di dalam mobil, Amel melihat ke arah jendela mobil, menikmati pemandangan kota Sydney di waktu menjelang malam. Ini kali pertama gadis itu menginjakkan kaki di negara kanguru tersebut.


"Kamu ngapain ke sini?" David membuka obrolan.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu Pak, pak Alex yang menyuruh saya ke sini, kalau saya menolak katanya mau di pecat. Saya juga bingung tadinya saya pikir mau di buang atau dijadikan TKW," jawab Amel polos.


"Ck. pikiran kamu terlalu kreatif!"


Amel hanya nyengir mendengar ucapan David.


Sesampainya di apartemen, David langsung menunjukkan kamar tidur yang akan di tempati oleh Amel.


"Ini kamar kamu, sekarang mandilah! Aku akan menyiapkan makan malam," David meletakkan koper dan meninggalkan Amel.


"Oke!" seru Amel.


Selesai mandi, Amel langsung keluar kamar menuju ke ruang makan. David sudah menunggunya di sana.


"Pak David yang memasak ini semua?" ucap Amel tak percaya


"Hem," sahut David.


"Cepat duduk dan makan!" lanjut David.


Amel duduk dan mulai makan. Suasana hening, hanya suara garpu dan sendok yang saling bertabrakan.


"Saya di sini untuk bekerja, bukan untuk piknik. Jadi kamu jangan berharap lebih. Dan jangan mengganggu pekerjaan saya," ucap David dingin.


"Iya saya tahu, Bapak tenang saja," sahut Amel.


"Terus aku di sini mau ngapain?" batin Amel bingung sendiri.


"Cepat selesaikan makannya dan istirahat!"


"Iya,"


"Huh kaku banget sih? Bukannya waktu itu ngajakin aku nikah tapi lihat! sikapnya saja seperti ini, bagaimana aku bisa yakin,"


"Bapak sudah selesai makannya? kalau begitu biar saya yang mencuci piringnya," tawar Amel.


"Tidak usah, biar saya saja. Kamu bisa istirahat,"


"Tapi Pak?"


David tak menjawab dengan mulutnya melainkan dengan tatapan tajamnya. Membuat nyali Amel menciut.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi ke kamar dulu pak," beringsut meninggalkan David di meja makan.


"Jadi itu yang di maksud bos sebagai mood booster? Hah aku tidak yakin dia akan menjadi mood booster atau malah akan mengganggu pekerjaanku karena tidak bisa konsentrasi saat bekerja," batin David sambil tersenyum mengamati Amel yang berjalan menuju kamarnya.


🌼🌼🌼


💠Kalau mood booster kalian siapa? Vote dari kalian juga salah satu mood booster buat author lhooo😁, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Salam hangat author❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2