MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 83


__ADS_3

Byak! lampu menyala dan, "Surprise!!!" teriak Juna dan yang lainnya kompak.


Alex melihat ruangan yang di hias. Meskipun tak ada tulisan selamat ulang tahun, tapi dia menangkap situasi yang ada dengan cepat. Ia diam, tertegun dengan ekspresi yang susah di cerna oleh semua yang ada di sana.


Bahkan, senyum manis yang di tujukan Soleh Anes kepadanya pun tidak di balas oleh Alex. Anes berpikir mungkin suaminya masih syok karena terkejut.


"Bentar ya mas aku ambil sesuatu dulu," Anes berlari kecil ke dapur dan mengambil kue tart yang sudah ia siapkan lengkap dengan lilinnya.


"Happy birth day to you, Happy birth day to you....." Anes kembali ke ruang tamu dengan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Alex.


Juna dan kawan-kawan saling melempar pandang dan saling mengangkat bahu mereka. Juna memandang David untuk meminta penjelasan. Namun, David bungkam.


"Selamat ulang tahun ke 29 mas," Anes menyunggingkan senyum semanis mungkin.


Alex yang sedari tadi mematung hanya mengeluarkan satu kata "Terima kasih," dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Kemudian, Alex melangkahkan kakinya menuju ke tangga.


"Mas," Anes bingung dengan tingkah sang suami.


"Mas lelah, kalian lanjutkan saja," Alex mulai menaiki anak tangga.


Suasana menjadi hening dan dan mencekam.


Segitu tidak menghargainya kah usaha yang sudah ia siapkan sejak pagi tadi, pikir Anes. Bulir-bulir bening mulai turun membasahi pipinya. Namun, dengan cepat ia menyekanya, karena ia tak ingin yang ada di sana tahu betapa kecewanya dia saat ini.


"Kenapa mas Alex seperti itu? apa aku salah jika ingin membuat kejutan kecil untuk suamiku sendiri?"


"Nes," Amel memegang pundak Anes.


"Aku nggak papa kok Mel. Mungkin memang mas Alex sedang benar-benar capek," mencoba tegar.


"Tuh kan, sudah kuduga pasti begini jadinya," David mendesah dalam hati.

__ADS_1


"Nona, sebaiknya nona menyusul bos ke atas. Saya tahu saat ini bisa sangat membutuhkan nona," David mulai bersuara.


"Tapi pak David lihat sendiri kan tadi ekspresinya seperti apa?" Anes malu dengan teman-teman Alex.


"Bukankah sayang sudah mengingatkan nona, untuk tidak melakukan hal ini?" ucap David mengingatkan.


Yang lain hanya menyimak pembicaraan Anes dan David.


"Emang salah ya kalau saya hanya ingin memberinya sebuah kejutan kecil? sampai harus segitunya tidak menghargai usaha saya dan main pergi begitu saja?"


"Iya Anda tidak salah, yang salah adalah keras kepalanya Anda nona," batin David.


"Tidak, Anda tidak salah nona. Tapi, apa nona Anes tahu kenapa bos sangat benci merayakan ulang tahunnya?"


Anes menggeleng.


"Waktu kecil, saat bos Alex berulang tahun. Dia memaksa Almarhum nyonya besar untuk menemaninya pergi ke taman hiburan karena dia sedang berulang tahun. Nyonya besar awalnya menolak karena kondisi kesehatannya yang tidak baik. Beliau sering sakit-sakitan waktu itu. Tapi, karena bos merengek terus, akhirnya nyonya menuruti keinginan bos untuk pergi bersamanya ke taman hiburan. Baru sampai depan pintu masuk area taman, tiba-tiba nyonya besar tak sadarkan diri dan hari itu juga nyonya menghembuskan nafas terakhirnya. Bos sangat merasa bersalah dan terpukul. Kalau saja dia tidak berulang tahun dan tidak memaksa nyonya pergi ke sana mungkin nyonya tidak akan meninggal waktu itu, begitulah pemikiran bos sampai saat ini. Setiap kali bos berulang tahun, dia akan pergi ke makam nyonya dan merutuki dirinya sendiri di sana," jelas David panjang lebar.


"Kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin sih?" protes Anes


"Saya sudah berusaha menjelaskan, tapi bukankah waktu itu nona memotong kalimat saya dan tetap kekeh dengan keputusan nona untuk memberi kejutan kepada bos,"


"Kenapa kamu juga tidak ngotot untuk menjelaskan?" Anes kesal.


"Tuh kan jadi aku yang salah, nasib, nasib," David kembali mendesah dalam hatinya.


" Ish, menyebalkan!" Anes menyodorkan kue yang ia pegang dengan kasar kepada David dan menginjak kaki Davi lalu berlari menuju ke lantai atas.


"Aw!" pekik David saat kakinya di injak dengan keras oleh Anes.


Juna dan lainnya yang menyaksikan terkekeh melihat David meringis kesakitan. Kemudian, mereka menatap tajam kepada David meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menatap dan terus menatap sambil mendekati David.

__ADS_1


"Jelaskan!" seru Bryan yang sudah mengepalkan tangannya seolah ingin menonjok muka David.


"Ini semua ide nona Anes, saya hanya menjalankan perintah. Kalau menolak dan nona marah, saya juga yang bakal kena semprot bos karena sudah membuat nona marah. Kalau saya bilang sama kalian yang sebenarnya, pasti kalian tidak akan datang kan?"


"Tentu saja tidak!" jawab tiga sekawan tersebut kompak.


"Yah, sekarang kita tunggu saja dan berdoa semoga tidak ada vas melayang, atau yang ekstrim perang dunia ke empat," ucap Bryan.


"Dasar Alexnya aja yang lebay, istrinya yang cantik mulus aduhai, udah susah payah menyiapkan semuanya malah tidak di hargai. Setidaknya tiup lilin dulu dan nyuruh kita makan baru marah dan pergi. Lapar tahu! Hah, Anes Anes, sini sama mas Juna aja, pasti nggak bakal aku sia-siakan. Malah bakal aku kelonin terus tiap detik," celetuk Juna.


"Diam! berisik amat! bini sahabat sendiri tuh. Jaga tuh mulut. Pasang filter kek biar nggak sembarangan mangap tuh mulut!" ucap Bryan.


"Sudah sudah malah ribut sendiri. Bikin tambah pusing tahu nggak. Banyak-banyak berdoa, semoga semua baik-baik aja, dan Alex tidak marah. Doakan Anes juga semoga bisa keluar dari kamar dengan selamat, tanpa ada kekurangan apapun" Baim menasehati kedua sahabatnya.


"Baik pak Ustadz!" sahut Juna dan Bryan kompak.


"Sial, aku bukan ustadz!"protes Baim. Mereka terus bercanda satu sama lain. Sedangkan David was-was dengan situasi yang ada. Ia standby di bawah tangga. Berkali-kali david mendongak ke atas dan memasang telinganya dengan baik memastikan kalau tidak ada suara keributan seperti barang pecah atau teriakan histeris dari Anes.


Sementara Amel, bertolak pinggang menuju ke sofa.


"Sayang mau kemana?" tanya Dimas yang menyusulnya.


"Duduk, capek berdiri terus," sahut Amel yang sudah mendaratkan pantatnya dengan selamat di sofa empuk milik Alex.


"ssst diam! pikirkan nasib Anes malah bercanda!" ujar Baim


"Kan aku udah bilang, kalau Alex menyakitinya, aku siap menerima Anes dengan kedua tangan terbuka," celetuk Juna lagi, Yang sebenarnya itu hanyalah candaannya saja.


"Mending diam deh, daripada ngomong tapi ngawur! Habis dari sini aku antar kamu ke dokter jiwa! sepertinya otak kamu perlu di benerin," ucap Bryan


"Sialan!" Juna melayangkan satu kakinya buat menendang Bryan.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2