MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 69


__ADS_3

Mata Anes berbinar-binar bahagia sekali ketika memasuki sebuah taman hiburan, seperti anak kecil. Rasanya sudah lama sekali ia pergi ke taman hiburan. Bahkan, ia sampai lupa kapan terkahir pergi ke taman hiburan.


Bagi Alex sendiri, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di taman hiburan. Karena kesibukkan pak Arya dan ibunya yang sering sakit-sakitan, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk pergi ke taman hiburan waktu Alex masih kecil.


Pernah sekali ia merengek kepada ibunya untuk mengajaknya bermain ke taman hiburan. Namun, sebelum memasuki taman hiburan, ibunya mendadak tak sadarkan diri dan hari itu juga ibunya menghembuskan nafas terakhir. Sejak saat itu, Alex tak pernah sama sekali menginjakkan kakinya di taman hiburan. Dulu, ia sempat berpikir ibunya meninggal gara-gara kenakalannya yang merengek meminta ibunya untuk pergi ke sana. Kalau saja ia tidak meminta ibunya untuk pergi ke sana mungkin ibunya masih ada. Seperti itulah isi dalam pikirannya waktu itu sehingga ia tidak pernah pergi ke taman hiburan setelahnya. Walaupun terkadang, pak Arya mengajaknya, tapi selalu ia tolak. Ada semacam trauma dalam dirinya.


Alex terdiam sesaat saat memasuki taman tersebut. Mungkin, kejadian waktu itu terlintas kembali dalam pikirannya. Namun, ia segera menepisnya. Sekuat tenaga ia mencoba meyakinkan dirinya kalau kematian ibunya adalah takdir bukan karena rengekannya waktu itu.


Ya, sekarang dia pergi ke taman hiburan demi menyenangkan istri tercintanya tentunya. Apapun ia lakukan untuk wanita yang pernah menjadi malaikat penolongnya tersebut.


" Mas!" Anes menyadari perubahan raut muka sang suami


Alex segera menguasai dirinya kembali dari lamunannya dan tersenyum kepadanya.


"Mas nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Anes.


"Ah enggak kok sayang, ayo!" Alex mengajak Anes melanjutkan langkah mereka.


Alex tersenyum melihat tingkah lucu sang istri yang kini sedang melompat-lompat pelan seperti seorang anak kecil tersebut. Ternyata menyenangkan istrinya, sesederhana dan semudah itu, pikir Alex.


"Mas ayo naik itu!" ucap Anes sambil menunjuk roller coaster.


"Yang lain aja ya?" sahut Alex.


"Nggak ah, mau naik roller coaster dulu, ya ya ya?" rengek Anes manja.


Alex tidak menjawab, ia menunjuk pipinya sendiri sambil tersenyum.


"Cup!"


Anes langsung mendaratkan kecupan di pipi Alex, mengerti maksud Alex yaitu minta di cium kalau mau di turuti keinginanya. Kemudian, Alex menunjuk pipi yang satunya dan Anes kembali mendaratkan ciumannya. Alex menunjuk kening, hidung dan bibirnya. Dan Anes mengecup semua yang di tunjuk oleh Alex. Haha seperti seorang ayah terhadap putri kecilnya ya?.


"Udah? ayolah cepat!" rengek Anes tak sabar.


Alex tersenyum lalu mengikuti langkah Anes dengan langkah santai dan kedua tangan ia masukkan ke saku celananya.


"Benar-benar seperti anak kecil, kalau seperti ini berbeda sekali seperti saat di ranjang yang dewasa, di dapur yang keibuan dan juga di kantor yang smart. Mungkin ini akan lebih terlihat seperti seorang ayah yang mengajak anaknya bermain daripada kencan romantis," batin Alex.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Turun dari roller coaster, wajah Alex sedikit berubah menjadi pucat. Kepalanya pusing dan rasanya isi dalam perutnya ingin keluar.


"Mas, mas kenapa pucat begitu? mas baik-baik saja kan?" tanya Anes khawatir.


"Tentu saja mas nggakpapa sayang, ayo lanjutin lagi. Kita mau kemana?" jawab Alex. Sebisa mungkin tidak ingin membuat Anes khawatir. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Anes hari ini.


"Yakin nggakpapa? atau mas sakit?" Anes memastikan sambil memegang kening Alex.


"Nggak panas," gumam Anes kemudian.

__ADS_1


"Yakin bawel, ayo cepat!" sahut Alex sedikit teriak, ia sudah melangkah mendahului Anes. Anes segera mensejajarkan langkah mereka.


"Ck, benar-benar baik-baik saja kalau masih bisa teriak begitu," batin Anes.


"Mmm sekarang kita naik biang lala yuk?" ajak Anes.


"Biang lala? apa itu?" Alex tidak menerima maksud Anes.


"Itu, yang seperti kandang burung," jawab Anes sambil mengalihkan pandangannya ke arah biang Lala yang di maksud.


"Kenapa nggak lain aja? itu misalnya, atau itu," ucap Alex sambil menunjuk komedi putar dan becak air.


"Itu nanti! sekarang biang lala dulu ya?"


Alex mendesah menghela nafasnya panjang. Lagi-lagi dia menunjuk pipi dan kawan-kawannya seperti yang tadi ia lakukan ketika Anes mengajak naik roller coaster. Dan seperti seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu, Anes pun menghujani Alex dengan kecupan singkatnya. Sebenarnya sih Anes malu kalau ada yang lihat. Tapi, tidak ada juga yang dengan sengaja memperhatikan mereka, jadi Anes menyingkirkan malunya saat ini. Ia hanya ingin bersenang-senang tanpa ada beban. Kalaupun ada yang tidak sengaja melihat, justru berpikir pasangan suami istri ini sangat romantis.


Saat biang lala tepat berada di atas, Alex tampak kembali sedikit pucat. Untuk mengurangi rasa tegangnya, Alex meraih tengkuk Anes dan langsung mencium bibir Anes dan Anes membalasnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Setelah mereka menaiki beberapa wahana permainan, Anes merasa sedikit lelah. Alex menyuruhnya duduk di ayunan dan Alex mengayunkannya dari belakang.


Anes menyuapi Alex gula kapas yang sudah ia beli tadi. Awalnya Alex menolak memakannya, tapi karena bujukan sang istri akhirnya dia mau membuka mulutnya dan memakannya.


"Ini terlalu manis sayang," ucapnya ketika pertama kali memakannya.


"Namanya juga gula kapas mas, ya kayak gini rasanya," sahut Anes.


"Haha mas ini bisa aja," gombalan receh Alex sukses membuat Anes tertawa.


"Beneran sayang, mas nggak bohong," sahut Alex sambil mengayunkan ayunan yang di duduki oleh Anes.


Mereka asyik berbincang-bincang sambil menikmati gula kapas berwarna merah muda tersebut. Dari obrolan mereka, Anes jadi tahu kalau sebenarnya tadi Alex merasa takut dan tegang ketika menaiki wahana roller coaster dan biang lala.


"Haha apa mas takut ketinggian? tapi mas tidak masalah saat naik pesawat?" tawa Anes pecah saat mengetahui kebenarannya.


"Mas juga nggak tahu sayang, kenapa bisa begitu," jawab Alex jujur.


"Hah, naik Jets Sky aja nggak takut, bahkan ngebut sekalipun berani. Tapi, naik biang lala aja udah tegang," ucap Anes terkekeh.


"Itu beda sayang, udah lah jangan di bahas lagi. Mas malu," sahut Alex.


"Yaaahhh, padahal masih banyak wahana yang lain yang lebih tinggi, yang lebih menantang adrenalin. Tapi, nanti takutnya mas malah pingsan lagi. Kan repot bawa pulangnya," ledek Anes.


"Udah dong sayang, jangan ledek mas terus," rengek Alex.


"Hihi kapan lagi kan bisa ngeledek mas," sahut Anes.


"Ya ya ya, terserah tuan putri dah, yang penting tuan putri senang."

__ADS_1


Alex berhenti mengayun, kemudian ia mengajak Anes pindah duduk di kursi panjang di bawah pohon yang rindang.


"Duduk sini aja ya, ngadem, disana panas," ucap Alex. Ia langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Anes.


"Mas malu," ucap Anes.


"Biarin, tadi kamu nyium aku aja nggak malu kok. Anggap aja dunia hanya ada kita," sahut Alex dengan mata terpejam dan tangan di silangkan di dadanya.


"O ya, apa mas pernah datang ke taman hiburan sebelumnya?" tanya Anes tiba-tiba.


"belum," jawab Alex singkat.


"Sama sekali?"


"Hem," sahut Alex.


"Pernah waktu kecil, tapi cuma sampai pintunya, tidak jadi masuk," lanjut Alex.


"Kok bisa? kenapa?" tanya Anes penasaran.


"Nggak papa, malas aja terus nggak jadi masuk," jawab Alex bohong.


"Ck. Aneh!"


Alex hanya diam tak menanggapi lagi masih dalam posisi kepala di pangkuan Anes. Sedangkan Anes membelai rambut Alex penuh kasih sayang.


"Mas mau eskrim," ucap Anes.


"Ayo beli!" sahut Alex yang langsung bangun.


Mereka mendekati penjual eskrim yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Rasa strawberry satu sama cokelat satu bang!" ucap Anes pada penjual eskrim.


Mereka kembali duduk di bangku panjang tadi dan menikmati eskrim yang baru saja di beli.


Melihat ada eskrim yang menempel di pinggir bibir Anes, Alex terkekeh.


"Mas kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Anes


"Kamu ini, makan eskrim kayak anak kecil, belepotan," sahut Alex.


"Ah masa sih," Anes hendak mengusap bibirnya dengan tisu tapi tangannya langsung di cegah oleh Alex.


"Biar mas yang bersihin!" Alex langsung mendaratkan bibirnya di sisa eskrim tersebut. Anes sukses di buat tercengang oleh tindakan suaminya tersebut. Rona merah terpancar jelas dari mukanya.


Setelah beberapa saat, mereka melanjutkan kencan dengan menaiki wahana-wahana lainnya. Tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaan mereka ke dalam ponsel pintar mereka.


__ADS_1



๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2