MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 160


__ADS_3

Di rumah utama Parvis...


Rania yang baru saja pulang dari luar negeri, sudah tidak sabar untuk menemui Alex. Ia pikir setelah kejadian di kantor waktu itu, membuat hubungan Alex dan Anes menjadi renggang bahkan mungkin berpisah.


Ya, 2 bulan lebih Rania habiskan waktunya di luar negeri untuk mengurus aset peninggalan pak Arya, selain itu ia juga membangun usaha di sana bersama teman sosialitanya, sehingga mau tidak mau dia harus mengesampingkan urusan Alex terlebih dahulu. Dan kini ia sudah kembali, dan dengan percaya diri ia yakin akan membuat Alex kembali kepadanya.


🌼🌼🌼


Sementara itu, Anes sudah siap untuk pergi ke kantor. Setelah mengambil tasnya, ia menuju ke mobil yang sudah siap mengantarkannya.


"Ayo pak jalan," perintah Anes pada pak Anton.


",Baik nyonya," sahut pak Anton.


Setibanya di kantor, David yang baru saja dari luar melihat kedatangan Anes. Ia langsung menghampiri Anes yang masih berdiri di depan kantor tersebut.


"Nona," sapa David.


Anes tak menyahut, ia masih kesal dengan David karena masalah video itu.


"Nona, saya minta maaf Maslah video itu. Nona pasti marah kan sama saya?" ucap David.


"Udah tahu nanya," jawab Anes sewot.


"Saya benar-benar minta maaf nona, waktu itu saya hanya bisa ngasih saran kepada bos seperti itu, dari pada bos berduet dengan wanita-wanita malam yang tidak jelas di luar sana, jadi sayang menyarankan itu supaya dia bisa bermain solo saja di rumah dan tetap aman nona," jelas David, ia mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Anes.


Anes hanya meliriknya sekilas.


"Tapi tidak dengan video-video seperti itu kan pak David," ketus Anes.


"Iya nona, saya memang salah. Maafkan saya. Maafkan saya nona, mm bagaimana kalau saya traktir nona makan siang sebagai permintaan maaf saya?"


"Tidak berminat," sahut Anes datar. Sebenarnya dia tidak marah kepada David, hanya sedikit kesal saja. Biar bagaimanapun, Anes tahu David selalu berusaha yang terbaik, walaupun mungkin kadang caranya salah. Ia terlalu memanjakan bosnya itu.


"Ayolah nona, tolong jangan marah lagi sama saya, bagaimana nona akan memaafkan saya. Nona boleh mengumpat kepada saya sepuasnya, tapi tolong marahnya jangan lama-lama,"


"Saya maafkan, tapi jangan diulangi," jawab Anes kemudian.


"Terima kasih nona, saya tidak akan mengulanginya," sahut David lega. Ia tahu nonanya tersebut memang berhati baik. Tak mungkin ia akan benar-benar marah kepadanya.


"Tapi nanti siang jadi traktir ya, sekalian ajak mas Alex dan juga Amel, kita makan siang bareng," ucap Anes lalu berjalan mendahului David melewati meja resepsionis.


"Selamat siang nyonya muda Parvis," sapa para resepsionis.


"Siang, mas Alex ada kan di ruangannya?" sahut Anes dengan senyum ramahnya.


"Ada nyonya, tapi,,," ucap resepsionis tidak melanjutkan ucapannya karena Anes keburu melewati mereka dan sudah berada di depan lift.


"Ada apa? kenapa wajah kalian berubah seperti itu?" tanya David kepada dua resepsionis tersebut.


"Itu pak David, baru saja nyonya Rania datang," jawab resepsionis dengan khawatir.


"Kenapa nggak bilang dari tadi," David langsung berlari menyusul Anes ke dalam lift.


"Tunggu nona!"


"Apa lagi pak David?" tanya Anes, ia memencet tombol lift menuju ke ruangan suaminya namun di cegah oleh David.


"Em bagaimana kalau sekarang saya traktir anda di kantin nona? pasti Anda sudah lapar kan? kita ganjal perut Nona di kantin dulu baru nanti siang kita makan lagi saat jam makan siang, bagaimana?" David mencari cara untuk mengulur waktu supaya Anes tidak bertemu Rania.


"Tadi saya sudah makan di rumah sebelum ke sini pak David," sahut Anes.


"Bagaimana kalau kita ke pantry atau ketemu Amel dulu, pasti nona kangen kan sama pacar saya?"


"Ck, bilang saja pak David yang mau menemuinya, dasar modus!" ucap Anes.


"Cepat pencet tombolnya pak David!" pinta Anes.


"Tapi nona,"

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa pak David? jawab jujur atau saya akan marah?" ancam Anes.


"Itu nona, kata resepsionis, nyonya Rania baru saja datang," jawab David ragu-ragu.


"Huh wanita itu, setelah ngilang nggak ada kabar beberapa saat kirain udah insyaf, eh ternyata," Anes buru-buru mencet tombol liftnya, ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di ruangan suaminya.


"Tapi nona, tolong nanti jangan salah paham lagi,"


Anes diam tak menanggapi.


"Nona, ingat Anda sedang mengandung, jangan pikirkan macam-macam, dan jangan gegabah, pikirkan bayi yang ada di dalam perut Anda," David terus mewanti-wanti Anes.


"Saya tahu suami saya pak David," sahut Anes.


🌼🌼🌼


Ting! pintu lift terbuka, Anes langsung keluar dengan langkah cepat menuju ke ruangan Alex.


"Nona, mohon tenanglah," ucap David cemas.


Dan benar saja, Rania baru saja masuk ke ruangan Alex tepat di depan Anes.


"Sayang kamu sudah datang, i Miss you!" ucap Alex.


Rania senang bukan main, ia kira Alex menyapanya, namun ternyata ia salah, Alex melewatinya begitu saja dan langsung memeluk Anes yang berada di belakang Rania.


"Iya mas, tadi aku buru-buru ke sini, soalnya perasaanku nggak enak, eh ternyata karena ada pengganggu di sini," ucap Anes melirik sinis ke arah Rania.


"Jangan hiraukan dia," ucap Alex mencium kening Anes.


"Heh dasar! yang jadi pengganggu di sini itu kamu Anes, kalau saja kamu tidak hadir dalam hidup Alex, pasti saat ini kami sudah hidup bahagia," ucap Rania.


Anes melepas pelukan Alex.


"Sayang?" Alex menatap Anes.


"Oh jadi karena aku ya ma, ups! maaf aku lupa kalau kamu tidak sudi aku panggil mama," Anes menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.


"Kenapa nggak sadar juga sih Ra ni a? kamu sendiri yang menghancurkan hubungan kamu dengan suamiku dulu, kamu yang serakah sehingga kamu kehilangan dia dan juga cintanya,"


"Hah, kamu bilang cintanya hilang? kamu lupa kejadian di ruangan ini beberapa waktu lalu Anes? bukankah waktu itu jelas kalau Alex masih menyimpan rasa untukku?" Rania mencoba mengingatkan Anes kejadian waktu itu.


"Bos, bagaimana ini. Kenapa bos diam saja, cepat bela istri bos," bisik David.


"Kamu tenang Dav, aku percaya istriku. Kita tinggal lihat saja pertunjukan ini," sahut Alex santai.


"Istri mau berantem malah di tonton, dasar gendeng," gumam David.


"Aku dengar Dav, apa kamu mau berantem sama aku juga Dav?" ucap Alex penuh penekanan.


"Tidak bos,"


"Kamu tenang saja, Anes pasti bisa mengatasi wanita rubah itu, biarkan dia mengeluarkan unek-uneknya kepada rubah itu Dav," ucap Alex.


"Baik bos," sahut David dan kemudian dua pria itu hanya mengamati Anes yang sedang beradu mulut dengan Rania.


"Ya sangat jelas Rania, jelas kalau suamiku benci sama kamu, kamunya aja yang gatel minta di garuk, hahaha," sahut Anes.


"Kurang ajar kamu Anes, beraninya kamu menertawakan aku, kamu lupa kalau aku adalah cinta pertama Alex? biar bagaimanapun cinta pertama akan sulit di lupakan, dulu Alex begitu mencintaiku, dan aku yakin sekarang pun sama, hanya saja hatinya buta karena di hasut oleh wanita jal*ng seperti kamu,"


"Cukup Rania! wanita yang kamu bilang jal*ng itu adalah istriku!" teriak Alex yang tidak terima dengan kalimat yang di lontarkan Rania.


"Katanya cuma nonton, nyatanya tidak tahan juga melihat istrinya di hina," batin David.


"Mas diam saja, biar aku yang bicara dengannya," ucap Anes melihat ke arah Alex dan David.


"Memang aku akui kalau kamu adalah cinta pertamanya mas Alex, tapi apa bagusnya hanya sebagai cinta pertama yang kandas dan berakhir menyedihkan. Di sini aku tegaskan, kamu memang yang pertama tapi aku adalah yang terkahir buat mas Alex. Sakit bukan hanya pernah singgah tapi tidak jadi jodohnya. Terima saja takdirmu Rania, jangan terlalu kamu paksakan atau hidupmu akan hancur karena sikapmu sendiri,"


"Kamu, berani-beraninya," Rania mengangkat satu tangannya untuk menampar Anes dan..

__ADS_1


Plak! tangan Anes sudah mendarat sempurna di pipi Rania terlebih dahulu. Ya, sebelum Rania berhasil menampar Anes, Anes sudah menamparnya terlebih dahulu.


"Beraninya kamu menamparku Anes!" geram Rania sambil memegang pipinya yang merah.


"Kenapa aku harus takut dengan pelakor seperti kamu Rania," Anes melihat satu tangan Rania memegang sebuah kertas. Dengan cepat ia mengambil kertas itu dan membacanya.


"Apa ini? astaga Rania, bahkan dengan tidak tahu malunya kamu menyiapkan surat gugatan cerai untuk mas Alex? Kamu pikir mas Alex mau menanda tanganinya dan berpisah denganku? Mimpi!" Anes merobek kertas tersebut dan melemparnya ke Rania.


"Wah bos, nona keren! dapat keberanian dari mana tuh? saya kira tadi dia akan salah paham dan menangis seperti waktu itu, tapi kali ini wow," bisik David.


"Siapa dulu, istriku. Mungkin karena kehamilannya Dav, jadi dia lebih emosional,"


"Tapi nona sedang hamil bos, cepat hentikan! kasihan bos kecil," bisik David lagi.


" Jangan pernah kamu berpikir untuk merebut suamiku Rania, karena itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan wanita seperti kamu mendekati apalagi mengambil ayah dari anakku,"


"Apa? kamu hamil?" Rania tak percaya.


"Ya, istriku sedang mengandung anakku Rania, buah cinta kami berdua, jadi sebaiknya sekarang kamu pergi dan jangan pernah muncul di kehidupan kami lagi," ucap Alex seraya mendekati Anes.


"Lex," Rania sudah berderai air mata.


"Cukup Rania! jangan sampai aku berbuat kasar kepadamu. Aku diam bukan berati aku menerima semua perlakuanmu Rania, selama ini aku hanya menghormati ayahku, dan sekarang dia sudah tidak ada, jadi tidak ada alasan lagi untukku bersikap baik kepadamu. Aku paling tidak suka kasar terhadap wanita, tapi kalau menyangkut istri dan anakku, aku tidak segan-segan berbuat kejam sekalipun itu kepada wanita seperti kamu," untuk pertama kalinya setelah putus Alex bicara panjang pada Rania tapi ucapannya kini sangat menyakitkan buat Rania.


"Tapi Lex..."


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik wanitaku. Pergi dan jangan pernah berpikir untuk memisahkan kami lagi, karena hanya maut yang akan memisahkan kami," Alex memeluk pinggang Anes.


"Dav, seret wanita ini keluar!" perintah Alex.


"Baik bos, nyonya Rania sebaiknya Anda pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi," ucap David yang ternyata sudah memanggil Security bersamanya.


"Ayo nyonya!" Security tersebut memegang tangan Rania.


"Lepaskan! aku bisa jalan sendiri," sarkas Rania.


Anes langsung memeluk Alex dan menangis. Ya, sikap tegasnya tadi semata-mata untuk melindungi harga dirinya dan juga anak di dalam perutnya, ia tak ingin kelihatan lemah di mata wanita yang ingin merebut suaminya tersebut. Tapi, biar bagaimanapun juga hatinya bergetar dan juga sakit.


"Sudah sayang, jangan khawatir. Mas tidak akan pernah membiarkan wanita manapun mengusik kita. Apalagi wanita seperti dia. Maafkan mas, mas menyesal pernah mengenalnya dalam hidup mas sayang, kalau saja mas tahu kamu jodohku, mas tidak akan pernah dekat dengan wanita lain. Tapi mas akan langsung mencari keberadaan kamu begitu mas bisa bicara dan berjalan dulu waktu mas masukbTK dulu, karena mungkin waktu itu kamu baru lahir," ucap Alex.


David yang mendengar kalimat terkahir Alex malah ingin tertawa, ada-ada saja kalimat bosnya itu. Ia segera mengambilkan minum untuk Anes.


"Nona, sebaiknya Anda minum dulu biar lebih rileks," David menyodorkan air putih kepada Anes.


"Terima kasih pak David," Anes menerima dan meminumnya.


"Baiklah kalau begitu, nikmati waktu kalian berdua, saya permisi dulu," pamit David.


"Jangan lupa nanti kita makan siang bareng pak David," Anes mengingatkan.


"Baik nona," David lalu berbalik badan dan melangkahkan kakinya. Sampai di depan pintu, David berhenti dan menoleh. Dan ternyata Alex sedang OTW mencium bibir Anes.


"Tunggu saya keluar dulu kenapa bos?" ucap David dengan entengnya.


Alex mengernyitkan dahinya. Sementara Anes hanya tersenyum malu.


"Nona, Tadi Anda keren!" seru David sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Sudah sana pergi! ganggu saja! Kalau pengen, cari Amel!" hardik Alex.


"Baiklah, saya akan mencari mood booster saya dulu, sekalian mengajaknya makan siang nanti, silahkan lanjutkan!"


"Cepat pergi Dav, kelamaan!" kesal Alex.


David terkekeh lalu benar-benar membuka pintu dan menghilang dari pandangan Alex dan Anes.


🌼🌼🌼


💠Chapter ini cukup panjang loh 1800 kata lebih, jadi jangan lupa tinggalkan jejak like n votenya, terima kasih. Salam hangat author❤️❤️🙏💠

__ADS_1


__ADS_2