
Tepat saat Anes dan Alex turun dari mobil, Amel juga sampai di sana. Ia lalu menghampiri mereka.
"Kenapa kalian pakai baju serba hitam begini? Eh tunggu! David nggak kenapa-napa kan? Dia baik-baik saja kan? Jangan bilang kalau dia..."
"Astaga Mel, pikiranmu itu, kamu menyumpahi pacarmu sendiri meninggal begitu?" Anes dengan segera menyerobot ucapan Amel, ia tahu apa yang ada dalam pikiran sahabatnya tersebut.
"Habisnya kalian kompakan pakai baju hitam semua, kayak orang habis dari pemakaman tahu nggak," sahut Amel.
"Emang kita dari pemakaman, tapi bukan pak David Mel. Dih amit-amit deh, jangan sampai ya," timpal Alex.
"Terus pemakaman siapa pak?" tanya Amel.
"Rania," Anes yang menjawab.
"What???? ah akhirnya si rubah betina itu lenyap juga dari peredaran," ucap Amel bernafas lega dan senang.
"Jahat banget sih Mel? orangnya sudah meninggal, jangan di di maki lagi, kasihan tahu, biar dia tenang di sana," ucap Anes.
"Orang jahat mah di sana juga pasti nggak tenang Nes," sahut Amel, sambil mengikuti langkah Anes yang di gandeng oleh Alex.
"Rahasia Tuhan tidak ada tahu Mel, udah aja jangan gunjing orang yang sudah meninggal, nggak baik," timpal Anes.
"Eh penasaran nih, dia meninggal karena apa? karena kekurangan cinta?" tanya Amel.
"Dia bunuh diri, melompat dari atas gedung," jawab Anes lirih.
"Oh my my!! Benar-benar aku acungin jempol buat dia, sebucin itu hingga nyawanya sendiri tak berarti buat dia? Tuh kan Nes, matinya aja bunuh diri, jalannya aja udah salah, nggak bakal deh bahagia di sana,"
"Dia bukan bucin Mel, tapi terlalu terobsesi hingga menjadi bodoh, sangat bodoh," Alex yang menimpali.
"Ssst, nggak boleh begitu ah, udah jangan ngomongin dia lagi, kasihan, kuburannya juga belum kering, cepat mas panggil pelayan dan pesan," ucap Anes, kini mereka sudah duduk di dalam rumah makan. Alex dan Anes duduk berdampingan sedangkan Amel duduk di berhadapan dengan Anes.
Alex segara mengangkat tangannya, untuk memanggil pelayan. Dan pelayanan langsung datang.
"Pesan nasi, nila bakar sambalnya di ganti sambal mattah, sama kentang gorengnya satu, minumnya jus strawberry sama air putih saja," ucap Alex kepada pelayan.
"Kamu mau makan apa Mel?" Alex menoleh ke arah Amel.
"Em saya, Ramen aja mbak, minumnya es cappucino," ucap Amel.
"Baiklah tunggu sebentar ya," ucap pelayan langsung menuju ke dapur.
"Mas nggak makan?" tanya Anes karena Alex tidak memesan makanan.
"Enggak sayang, mas masih kenyang, makan kentang aja cukup," sahut Alex.
"Jangan bilang bapak nggak nafsu makan karena baru di tinggal mantan ke alam lain," celetuk Amel tanpa berpikir.
"Udah bosan kerja di Parvis dan juga jadi kekasih David?" ucap Alex dingin, ia sungguh tidak suka dengan candaan Amel yang menurutnya garing, bahkan terdengar menjengkelkan di telinganya.
__ADS_1
Amel menelan ludahnya kasar mendengar ucapan Alex.
"Segitunya Pak, saya cuma bercanda pak, jangan di ambil hati, saya masih betah di Parvis, dan masih ingin menjadi kekasih David bahkan menikah dengannya, nanti kalau saya sudah menikah bolehlah jika mau memecat saya, kan udah ada David yang menafkahi saya, bukan cuma lahir saja tapi batin juga," sahut Amel dengan santainya.
Alex hanya meliriknya dengan lirikan maut, lalu menghela nafasnya kasar.
"Kayak David mau aja nikah sama kamu, kalau aku tak merestui kalian, dia juga tidak akan melangkah," ucap Alex kemudian dengan nada mengejek.
"Pasti mau, dan harus mau, Nes bilangin sama suami kamu yang sedingin kutub Utara ini dong, tadi aku cuma bercanda jangan jadi menakutkan begini," Amel memohon kepada Anes.
Anes hanya tersenyum tipis, lalu menarik dagu Alex hingga laki-laki itu menoleh kepadanya.
"Dia cuma bercanda mas, jangan begitu menanggapinya," ucap Anes lembut.
"Mas nggak suka perasaan mas dibuat bercanda sayang, mas takut kamu akan salah paham," jawab Alex.
"Tidak akan, aku tahu suamiku, tidak ada wanita lain dalam pikirannya, hanya ada aku kan? mas mau bilang begitu kan?" ucap Anes.
Alex mengangguk. Kalau menoleh ke arah Amel.
"Lain kali kalau bercanda yang benar,"
"Iya pak Presdir, maafkan saya. Berati nggak jadi di pecat dan tetap di restui sama David kan?"
"Tergantung Davidnya," sahut Alex datar.
Pesanan pun datang, tapi baru pesanan Amel dan kentang goreng serta minimnya yang sudah siap, sementara pesanan Anes belum.
"Kamu udah keburu lapar sayang?" tanya Alex.
"Nggak papa mas, bentar lagi juga siap," sahut Anes.
"Makan kentang goreng dulu aja ya," Alex menyuapkan kentang goreng kepada Anes.
Setelah makan beberapa kentang goreng, pesanan Anes tak kunjung datang. Alex bangkit dari duduknya.
"Mas mau kemana?" tanya Anes.
"Mas mau ambil pesanannya sayang, kenapa lama sekali, istri dan anak mas udah lapar kan,"
Beberapa saat kemudian, Alex datang dari dapur dengan membawa nampan berisi nasi nila bakar dan sambal mattah serta kobokan kecil berisi air untuk cuci tangan.
"Tara,,," ucap Alex sambil meletakkannya ke meja.
"Tunggu sebentar, mas akan cuci tangan dulu, nanti mas suapi aja, tangan kamu kan paling nggak bisa menyentuh sambal, nanti setelahnya pasti panas," ucap Alex yang mengerti dengan kondisi Anes. Ia memang akan merasa panas pada tangannya setelah makan menggunakan tangan dan yang ia makan ada cabainya.
Anes yang sudah mau mencelupkan tangannya ke kobokan langsung menarik kembali tangannya.
Alex menuju ke wastafel dan mencuci tangan di sana, ia tidak mau mencuci tangannya di kobokan yang menurutnya tidak akan bersih sama sekali.
__ADS_1
Alex kembali duduk lalu melipat kemeja hitamnya sampai ke siku dan bersiap untuk menyuapi sang istri.
Dengan telaten Alex menyuapi Anes, duduknya menyerong menghadap Anes supaya lebih mudah untuk menyuapinya.
Melihat pemandangan di depannya, sungguh membuat Amel iri.
"Ya elah, kalau cuma mau di jadiin obat nyamuk, tadi bawa aja ba*gon atau aut*n, nggak usah bawa aku kesini," sindir Amel.
"Sirik tanda tak mampu," sarkas Alex yang tetap fokus menyuapi Anes.
"Siapa bilang nggak mampu, saya punya David dan saya mampu kalau cuma begituan," Amel tidak mau kalah.
"Tapi Davidnya yang sedang tidak mampu," jawab Alex.
"Bapak benar," sahut Amel lirih sambil mengaduk-aduk ramen di dalam mangkuk di depannya. Makan ramen membuatnya ingat ketika pagi-pagi ia dan David makan ramen sebelum berangkat bekerja.
"Kapan hal semanis itu akan terulang kembali?" batin Amel.
"Mas jangan gitu ih, kasihan Amel," Anes mencubit lengan Alex.
"Bercanda Mel, jangan masukin hati, nanti David juga bakal ingat kamu lagi." ucap Alex yang merasa tidak enak hati kepada Amel.
"Iya pak saya tahu kok," jawab Amel.
"Tuh kan sayang, tadi mas bilang apa, kasihan Amel dia hanya akan menjadi obat nyamuk kita, kamu sih ngeyel tadi," Alex kembali menyuapi Anes menggunakan tangannya.
"Habis ini kita ke rumah sakit ya Mel, udah kangen lagi kan sama David?" ucap Anes dengan makanan masih penuh di mulutnya.
"Sayang telan dulu makanannya kalau mau bicara, nanti keselak," nasehat Alex.
"Aku kan harus kembali kerja Nes, ini waktu makan siang udah hampir selesai, nanti aja pulang kerja insyaallah aku ke sana," sahut Amel.
"Nggak papa kan mas, kalau habis ini Amel ikut kita ke rumah sakit? mas bisa atur kan biar Amel nggak balik lagi ke kantor?"
"Akan mas atur, kamu tidak perlu kembali ke kantor hari ini Mel," sahut Alex.
"Saya ikut aja deh apa kata bapak," timpal Anes kegirangan.
"Hem, kalau nyonya Parvis sudah bicara, saya bisa apa," ucap Alex. Dan hanya di balas senyum manis dari sang istri.
"Tuan Parvis emang the best," ucap Anes lalu mencium pipi Alex.
"Tapi ini tidak gratis sayang, kamu harus membayarnya," bisik Alex di telinga Anes kemudian.
"Sudah ku duga," balas Anes dengan senyum nakal.
Amel hanya geleng-geleng kepala, tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya mampu berandai-andai, andai David tidak amnesia pasti dia juga bisa bermesraan dengannya.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
๐ Jangan lupa like dan juga votenya , terima kasih ๐๐๐๐