MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 214


__ADS_3

Detik kemudian, Anes meminta asisten dokter Irene untuk memanggil Alex masuk ke dalam, biar bagaimana pun juga Alex adalah ayahnya, jadi dia berhak tahu perkembangan calon buah cintanya bersama Anes.


Saat Alex sampai di depan pintu, ia berhenti karena David mengekorinya.


"Jangan ikut masuk Dave, tunggulah di luar!" pintar Alex, kali ini lebih tegas dan serius tidak seperti tadi yang bergurau.


"Baiklah bos," sahut David tak membantah kali ini. Ia tahu menempatkan diri.


Alex pun melangkahkan kakinya ke dalam.


"Mel, kamu keluar dulu, temani David!" perintah Alex.


Amel menoleh ke arah Anes dan Anes menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Amel langsung keluar dan mencari keberadaan David. Di lihatnya David sedang duduk santai. Amel menghampiri David.


"Kenapa keluar? Udah selasai periksanya?" tanya David.


"Di usir sama pak Alex," sahut Amel.


"Ya udah sini, itu kan memang hak mereka, yang mau di periksa kan anak mereka, bukan anak kita," David menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Amel duduk dan menyenderkan kepalanya di pundak David.


"Tadi aku waktu lihat wajah sama dengar detak jantung si kecil dari monitor usg, rasanya luar biasa takjub Dave. Nggak bisa bayangin kalau detak jantung itu milik kita, anak kita, tak bisa terlukiskan betapa senangnya, beruntung ya ak Alex sama Anes sudah mau punya baby, pelengkap kebahagiaan mereka,"


" Sebentar lagi kita juga akan mendengar detak jantung buah hati kita sendiri," David mengecup puncak kepala David.


" Maksudnya?"


" Nggak ada maksud apa-apa, nggak usah di pikirin," jawab David.


" Huh, dasar nggak peka, aku udah ngasih kode ini Dave, dengan bilang udah pengen punya baby, lamar kek! Ajakin nikah kek, tinggal lanjutin tuh kata-kata kamu yang bilang sebentar lagi kita bakal dengar jantung anak kita, masak iya, masa iya, punya baby nggak nikah dulu? Jangan gila dong," batin Amel.


Yang sebenarnya niat David sendiri juga adalah memberi kode kepada Amel, tentang keinginannya segera menghalalkannya, ia sudah memikirkan bagaimana kedepannya, sudah ia rencanakan.


"Tinghu waktunya tiba beb, aku akan secepatnya mengubah status kamu menjadi nyonya august," batin David.


"Dave, aku haus!" ucap Amel.


"Ya udah ayo kita keluar cari minum," David berdiri dan meraih tangan Amel, lalu menariknya.


Tapi bukannya langsung keluar dan mencari minum, David malah menarik tangan Amel ke lorong rumah sakit yang sepi, di pepetnya amel di dinding dengan kedua tangannya mengunci tubuh Amel . David langsung menyerang bibir Amel dengan mel*m*tnya.


Pikiran Amel sudah tidak bisa jernih lagi, ia ingat kata-kata David yang bilang mereka akan segera memiliki buah hati, pikirannya langsu saja ngeres.

__ADS_1


"Astaga Dave!" Amel membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Kenapa?"


"Punya baby ya punya baby, tapi nggak di sini juga klo buatnya dan kayaknya prosedurnya salah deh, nikah dulu baru buay, bukan buat dulu terus nikah. Lagian masak sambil berdiri gini sih, minimal di hotel lah, " ucap Amel, antara polos dan ngeres jadi satu.


David hanya mampu mengusap wajahnya kasar mendengar kemesuman kekasihnya tersebut. Bagaimana nggak piktor coba si Amel, David main narik dia ke tempat sepi segala habis ngomongin anak, apalagi di la langsung nyosor Amel gitu aja.


" Kalau di hotel mau?" bisik David di telinga David berniat menggodanya.


"Hotel bintang lima ya?" celetuk Amel.


"Hem, ayo!" David kembali menarik tangan Amel.


"Ke hotel?"


" Cari minum, katanya haus,"


Amel mendengus, "Huh, kirain! Udah mau nyiapin mental nih!" gumamnya.


David hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Amel karena gemas.


"Sabar, akan ada waktunya kita melakukan itu," ucap David lembut.


"Enggak ah yang, beliin aku air mineral aja, minumnya di mobil aja," sahut Amel.


"Siap 86!" seri David.


🌼🌼🌼


Sementara itu di ruangan dokter, Alex dan Anes mengamati layar monitor usg dengan sesama sambil mendengarkan penjelasan dokter Irene mengenai kondisi kehamilan Anes yang sehat dan berkembang sesuai dengan usia kehamilannya. Dokter juga memberitahukan kalau Anes akan memasuki masa kehamilan trimester ketiga atau trimester akhir.


Alex menggenggam tangan Anes erat sambil terus melihat calon buah hatinya. Ia sudah tak sabar menunggu kelahiran penerus keluarga Parvis tersebut.


Dalam penjelasannya, dokter Irene tanpa sengaja menyebut jenis kelamin dari calon buah hatinya tersebut.


"Oh maaf tuan muda, saya keceplosan," ucap dokter Irene menutup mulutnya, takut kalau Alex akan marah kepadanya.


"Yah dokter kenepa di kasih tahu sih jenis kelaminnya, kan saya pengennya tahu setelah dia lahir saja," ucap Alex yang malah fokus kepada ketidak sengajaan dokter Irene, bukan kepada apa jenis kelamin anaknya. Ia memicingkan kedua matanya ke arah dokter Irene.


"Maaf tuan muda, saya benar-benar keceplosan," dokter Irene meminta maaf lagi.


"Lagian kenapa sih emang, kalau tahu anaknya cowok atau cewek sekarang, gitu aja jadi masalah, ribet amat hidupmu Tuan muda," batin dokter Irene.

__ADS_1


"Udah bosan jadi dokter?"


"Tidak tuan, saya benar-benar minta maaf tuan," wajah dokter Irene berubah menjadi tegang. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati kenapa bisa keceplosan, walaupun baginya hal sepele tapi kalau tuan Parvis marah karena itu, tamatlah riwayatnya.


"Udah nggak apa-apalah mas, lagian bagus juga kita tahu sekarang, kan lebih mudah nyiapin namanya," Anes menarik dasi Alex supaya lai-ak itu lebih mendekatkan telinganya.


"Lihat itu wajah dokter Irene, kasihan tahu, ketakutan gitu, jangan ancam profesinya, lagian nggak masalah lah tahu sekarang atau nanti, mas nggak penasaran sama anak kita?" bisik Anes.


"Ya penasaran sih sayang, kan niatnya biar sureprise gitu nanti pas dia lahir. Eh, tadi dokter bilang apa? Dia laki-laki atau perempuan?" Alex ingin menegaskan, karena sejujurnya tadi ia tidak begitu ngeh dengan ucapan dokter Irene.


Dokter Irene menghela nafasnya yang sempat tertahan di tenggorokannya karena ancaman Alex. Ia lega karena sepertinya Alex tidak jadi marah kepadanya.


"Anak kita laki-laki mas, telmi ih mas Alex!"


"Beneran laki-laki dokter?"


"Iya tuan, ini terlihat jelas ya monasnnya," jelas dokter yang menunjuk ke arah monitor USG.


Alex tampak senang sekali setelah dokter menegaskan kalau anaknya benar laki-laki. Alex mencium kening Anes saking senangnya, bahkan ia mencium perut sang istri tanpa memeperdulikan keberadaan dokter dokter Irene yang hanya dianggapnya sebagai obat nyamuk saja.


"Sayang, cepat lahir dong, daddy udah nggak sabar nih pengen ngajak main kamu, main nendang bola ke gawang, main kuda-kudaan dan main tembak-tembakan," ucap Alex di dekat perut Anes.


Tak ada maksud atau kiasan lain dalam ucapan Alex, tapi Anes yang mendengarnya malah berdersir, Anes mengartikannya lain, ia malah mengarah ke tempat tidur.


" Oh jadi nanti udah nggak mau main sama aku lagi nih?" tanya Anes spontan.


" Astaga! Kenapa pikiranku mengarah kesana sih," batin Anes menutup mulutnya sendiri.


"Ya tetap sama kamu dong sayang, kita main bertiga, iya kan anak daddy yang gantengnya pasti seperti daddy," jawab Alex, sebelum ngeh dengan ucapan Anes.


Detik kemudian, Alex baru mengerti maksud ucapan Anes. Kemudian, ia berisik di telinga Anes.


"Kalau berdua sama kamu beda sayang, nembaknya bukan pakai pistol-pistolan, tapi pakai benih calon adiknya dedek," bisik Alex di telinga Anes lalai kembali mencium kening Anes.


"Ih mas Alex, malu ada dokter,"


"Dokternya pengertian, iya kan dok?"


"Eh iya tuan," jawab dokter Irene, wajahnya sudah memerah karena malu.


"Sweet banget sih, jadi nyesel deh masih jomblo sampai sekarang, mau juga di posesifin kayak gitu, dimanja kayak gitu. Kok mereka yang mesra aku yang merona malu begini ya melihatnya." batin dokter Irene.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2