
"Eh lihat ini, ada berita online tentang acara pesta amal tadi malam. Di sini di katakan, kalau Presdir Alex datang ke acara tersebut bersama istri sahnya! " ucap Siska yang juga berada di kantin tersebut. Ia sengaja mengeraskan suaranya dan menekan kata istri sah supaya sampai ke telinga Anes dan teman-temannya, karena Siska dan teman-temannya berada cukup jauh dari Anes duduk.
"Mana coba aku lihat?" sahut yang lainnya sambil membuka ponselnya.
"Wah benar! Tapi sayang tidak ada yang memuat siapa sebenarnya istri dari pak Presdir. Di sini hanya di katakan kalau istrinya sangat cantik, tinggi bak seorang model dan bertalenta. Bahkan, pasangan tersebut menyita perhatian para tamu yang hadir dengan berduet dan berdansa. Siapa ya istri pak Alex sebenarnya?"
"Yang pasti istrinya bukan seseorang yang belakangan suka menggoda pak Alex lah, pasti istrinya levelnya jauuuuh di atas perempuan penggoda itu. Dan pastinya, pak Alex akan lebih memilih istrinya dari pada seorang pelakor yang tidak ada apa-apanya. Hah, kasihan ya? pengen hidup enak, tapi dengan cara menjijikkan!" ucap Siska dengan nada mencibir.
"Brak!" Mendengar ucapan mereka yang sengaja di keras-keraskan dan terlihat jelas pembicaraan mereka mengarah ke Anes, Amel langsung menggebrak meja karena tersulut emosi.
"Heh! Apa maksud kalian ngomong seperti itu? Apa kalian sudah sudah beralih profesi menjadi tukang gosip dan tukang fitnah? kalian ngajak berantem rupanya, mau aku simpel tubuh mulut biar nggak asal bicara?" Amel sangat geram.
"Amel, sudah biarin aja, nggak usah di tanggapi, ayo lanjut aja makannya," ucap Anes.
"Orang-orang kayak gitu nggak bisa di biarin Nes, mulut mereka emang nggak ada saringannya, makanya asal bicara!"
"Eh Mel, kenapa kamu yang sewot? kamu merasa, kalau sahabat kami itu memang seorang penggoda suami orang? padahal kita kan nggak nyebutin nama, kok marah? berati benar dong," ucap Siska merendahkan.
"Diam kamu Siska! apa peringatan pak David waktu itu tidak cukup untuk membuat kalian tutup mulut hah?"
"Uuuuhh takuuuut, hahaha," sahut Siska dan teman-temannya.
"Sudah-sudah! kalian nggak malu teriak-teriak begitu di kantin? dan perlu kalian tahu, aku bukan seorang penggoda maupun perebut suami orang. Jadi, tolong buang pikiran buruk kalian. Kita di sini sama-sama bekerja secara profesional, gunakan otak kita dengan baik buat bekerja, jangan buat mengarang cerita yang tidak benar," ucap Anes dengan tegas.
Amel dan Ricko hanya diam sambil menatap Anes bicara.
"Hah apa? malu? yang malu itu harusnya kau kamu Nes. Dasar nggak tahu malu, kayak nggak laku aja, sampai laki-laki yang punya istri juga mau di embat," sahut Siska dengan nada mengejek.
"Atas dasar apa kalian menuduh Anes seperti itu?apa kalian punya bukti hem?" Ricko ikut bersuara.
"Bukti? kita memang belum punya bukti, Tapi, cepat atau lambat, bukti itu pasti akan ada, dan saat bukti itu jelas ada, kamu tidak bisa lagi mengelak dan membela diri Aneska."
"Aku ingin lihat seperti apa wajah kalian saat tahu kenyataannya. Kenyataan kalau orang yang selalu kalian hina ini adalah istri sah dari Presdir," batin Anes.
__ADS_1
"Baik, buktikan kalau kalian memang bisa. Tapi, sebelum kalian membuktikannya, berhenti bergosip atau kalian akan menyesal kalau sampai pak David mendengarnya. Ayo Mel, Ko, kita pergi dari sini," balas Anes.
Amel dan Ricko mengikuti langkah Anes meninggalkan kantin.
"Huh, benar- benar pengen aku sumpel tubuh mulut mereka," Amel masih kesal. Kini Anes dan Amel sudah berada di toilet perempuan.
"Lagian kenapa sih, kamu nggak jujur aja kalau kamu itu istrinya pak Alex," lanjut Amel.
"Jujur tadinya aku hanya ingin bekerja secara profesional tanpa memasukkan urusan pribadi. Dan juga, aku mau memastikan dulu perasaan mas Alex sama aku Mel. Kamu tahu kan sebenarnya mereka itu fansgirlnya mas Alex, mereka seperti itu karena merasa kalah saing aja. Aku takut kalau aku mengungkapkan siapa aku sebenarnya dan ternyata mas Alex tidak mencintaiku, bagaimana aku bisa tetap bertahan bekerja disini karena mereka pasti akan lebih menghina aku, sebagai istri yang tidak diinginkan dan tidak di cintai. Tapi sekarang aku tidak terlalu khawatir lagi, karena mas Alex sudah menyatakan cintanya sama aku," ucap Anes, terlihat guratan kebahagiaan dari wajahnya.
"Serius kamu Nes? wah selamat sayangku, akhirnya cinta kamu terbalaskan. Haha mereka pasti bakal seperti di sambar petir kalau tahu kenyataannya," sahut Amel.
Mereka saling berpelukan, lalu meninggalkan toilet untuk menuntut ruang kerja masing-masing.
🌼🌼🌼
"Mas ini makan siangnya, maaf ya kalau lama hehe soalnya asyik ngobrol sama Amel dan Ricko," ucap Anes bohong. Ia tidak ingin Alex tahu kejadian di kantin.
"Ricko?"
"Jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu, dia bahaya," ucap Alex.
"Bahaya? emang binatang buas?"
"Kita cuma berteman mas, nggak lebih dan nggak akan lebih," jelas Anes.
"Tapi, tetap saja di laki-laki dan dia suka sama kamu!" ucap Alex posesif.
"Iyain aja deh, daripada panjang urusan."
"Ok, ok! sekarang mas makan dulu, sekalian ajak pak David,"
"Hah, panjang umur dia. Dav, ayo makan siang dulu, habis ini kita harus meeting dengan klien penting," ajak Alex yang melihat David keluar dari ruangannya. Memang, ruangan Alex dan David saling terhubung.
__ADS_1
"Baik bos," sahut David.
"Kalau begitu, aku lanjut bekerja ya mas?"
"Hem, o ya, nanti kamu nggak usah ikut meeting. Biar aku sama David saja. Kamu pasti capek karena semalam. Pulanglah dulu, nggak usah nunggu mas. Nanti biar di jemput pak Anton."
"Nggak usah mas, nanti aku pulang pakai taksi online aja," balas Anes.
"Jangan membantah, lebih aman kalau pulang Sam pak Anton." ucap Alex posesif.
"Ya ya baiklah, aku keluar dulu. Pak David, selamat makan siang,"
"Suaminya aku, kenapa kamu yang dapat ucapan selamat makan siang?" ucap Alex sambil menatap tajam David.
"Ampun bos, saya juga tidak tahu," sahut David sembari mengangkat kedua bahunya.
"Hahaha kadang aku merasa aneh. Dia kadang seperti kesal dan benci sama kamu, tapi kadang juga baik sama kamu, kalian tidak ada dendam pribadi kan?"
"Mungkin karena nona Anes cemburu sama saya bos, karena saya lebih mengerti dan memahami Anda," ucap David percaya diri.
"Bahkan saya mengerti apa yang Anda inginkan dengan hanya melihat sorot mata Anda. Sedangkan nona Anes kan masih harus menerka-nerka," batin David
"Haha percaya diri sekali kamu."
"Tapi, memang benar kamu selalu bisa ku andalkan."
"Tuh kan benar," batin David senang.
"Tapi, Anes juga sangat mengerti dan memahami aku, kalian memiliki peran penting masing-masing dalam hidupku."
"Ya bos, saya mengerti."
"Tapi, saya lebih mengerti dan memahami Anda kan, iya kan? pokoknya iya" batin David tetap tidak mau kalah.
__ADS_1
🌼🌼🌼