MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 152


__ADS_3

Di ruang belajar, David sudah menunggunya beberapa saat.


"Dav, kapan kamu datang?" tanya Alex yang melihat David sedang tiduran di sofa ruang belajar bosnya tersebut sambil berkirim pesan dengan Amel.


"Eh bos, sekitar tiga puluh menit yang lalu bos," jawab David sambil bangun dari posisi tidurannya.


"Apa ada yang penting?" tanya Alex.


"Begini bos, soal orang yang menyuruh gadis itu mengambil photo nona Anes dan mengirimkannya kepada Anda sudah saya ketahui, gadis itu sudah mengaku sore tadi,"


"Cepat sekali kamu bertindak Dav, perasaan baru tadi pagi kamu bilang dia tidak mau mengaku. Kamu kasih mantra apa ke dia? nggak kamu janjian buat ngawinin dia kan Dave? Anak orang tuh, jangan kasih janji palsu, kasian. Ingat Amel," ucap Alex.


"Tidak bos, dia masih terlalu muda untuk saya ajak kawin," balas David.


"Terus?"


"Intinya saya berhasil membujuknya dan orang di balik itu adalah Ricko, karyawan di Parvis group satu devisi dengan Amel," jelas David.


"Ya aku tahu, dia laki-laki yang menyukai istriku diam-diam bukan?"


"Benar bos, dia merasa kecewa dan sakit hati melihat kebersamaan Anda dan nona Anes. Dia tidak terima, makanya diam-diam dia selalu mencari cara untuk merusak hubungan Anda. Tapi dia tidak pernah punya kesempatan, hingga waktu itu kebetulan nona Anes bertemu dengan tuan Rangga di cafe, dia gunakan kesempatan itu untuk membuat Anda salah paham," jelas David.


"Lalu?"


"Saya sudah mengurusnya bos, Anda tidak perlu khawatir," lanjut David


"Bagus, kamu selalu bisa di andalkan. Berati asumsi kamu waktu itu salah semua Dav,"


"Iya bos, maafkan saya," ucap David lirih.


"Hahaha sepertinya kamu memang tidak cocok menjadi polisi Dav, untung waktu itu aku mengajakmu bersamaku, dan tidak menjadi polisi seperti cita-citamu itu," Alex tertawa mengingat ucapan David yang mengatakan dia ingin menjadi seorang polisi.


"Apanya yang lucu? sakit tahu cita-cita nggak kesampaian," batin David.


David hanya memutar kedua bola matanya, malas menanggapi ejekan bos sekaligus sahabatnya tersebut.


"Ada lagi?" tanya Alex setelah berhenti tertawa.


"Itu bos, nyonya Rania sekarang sedang berada di luar negeri untuk mengurus aset peninggalan tuan besar, dia ingin menjual salah satu apartemen di sana, apakah harus dihentikan?" lanjut David.


"Biarkan saja, aku tidak ingin berurusan dengan wanita itu lagi. Biarkan dia sesuka hatinya, selama itu bukan hal yang penting. Tapi kalau rumah utama yang ingin dia jual, segera lakukan sesuatu, rumah itu banyak kenangan bersama orang tuaku," timpal Alex.


"Baik bos," sahut David.


"Ada lagi?" tanya Alex.


"Tidak bos, kalau begitu saya permisi pulang,"


"Jangan pulang dulu, aku masih punya misi untukmu," tiba-tiba Alex ingat pohon mangga yang ia lewati sewaktu pulang dari kantor tadi.


"Misi apa bos?" tanya David.


"Mmm aku mau kamu petikan buah mangga. muda untukku," jawab Alex.


"Baiklah bos, saya akan memetiknya untuk Anda," David langsung beranjak menuju ke pintu.


"Mau kemana kamu?"


"Mau memetik mangga muda yang ada di kebun buah belakang rumah bos, bukannya tadi Anda meminta saya memetiknya?" jawab David.

__ADS_1


"Bukan yang itu yang aku mau,"


"Lalu?"


"Ikut denganku!" Alex memundurkan kursinya dan berdiri, lalu berjalan mendahului David keluar dari ruang belajarnya.


David yang tak mengerti maksud Alex, hanya bisa pasrah dan mengikutinya.


"Bos, kenapa pakai bawa mobil segala, memangnya kita mau metik mangga dua di mana?"


"Jangan banyak tanya, jalankan saja mobilnya," titah Alex.


"Baik bos," David segera melajukan mobilnya dan mengikuti petunjuk yang di berikan oleh Alex.


,🌼🌼🌼


Keesokan harinya, Anes meraba-raba tempat tidur di sampingnya. Kosong dan dingin tidak ada tanda-tanda tempat itu baru di tiduri oleh suaminya.


"Kemana mas Alex?" gumam Anes. Ia merenggangkan otot-ototnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka.


Setelah itu, Anes keluar untuk mencari keberadaan Alex.


"Bi, mas Alex kemana? saya cari-cari kok nggak ada," tanya Alex pada pembantunya.


"Anu nyonya muda, semalam tuan muda pergi dengan tuan David, dan sepertinya mereka belum pulang nyonya muda," sahut bibi.


"Pergi kemana mereka, malam-malam. Awas kalau macam-macam!" monolog Anes merasa kesal. Karena suaminya pergi dan tidak kembali sampai pagi.


Tak berselang lama, mobil yang dikendarai dua pria tersebut memasuki halaman rumah.


Anes sudah menghadang mereka di depan pintu, dengan wajah kesalnya.


"Sayang, udah bangun?" tanya Alex.


"Dari mana?" tanya Anes menginterogasi dengan tatapan sinis. Ia melirik kantong kresek yang di tenteng oleh David.


"Habis metik mangga muda sayang," jawab Alex.


Anes mengerutkan dahinya mendengar jawaban Alex.


"Mangga muda atau daun muda?" sindir Anes .


"Mangga sayang," jawab Alex.


"Kalau mangga muda, di kebun ada, kenapa mesti keluar?"


"Begini nyonya, semalam bos ngidam pengen makan mangga muda, saya ingin memetiknya di kebun buah rumah ini, tapi yang bos inginkan bukan dari pohon itu," jelas David.


"Terus?"


"Dav, kamu saja yang jelaskan," perintah Alex.


"Bos, ingin saya memetik buah mangga milik orang Nona,"


"Oh, minta sama orang,"


"Tidak nyonya,"


"Terus?"

__ADS_1


"Kita tidak bilang sama pemiliknya nona,"


"Mas mencuri?"


"Tidak sayang bukan begitu, awalnya memang mas menyuruh David memanjat pohon mangga punya orang. Tapi ketahuan sama yang punya, untung nggak di gebukin masa," jelas Alex.


"Terus?"


"Terus mas bilang aja istri mas lagi ngidam minta di petikan buah mangga milik mereka, dan mas mengeluarkan cek 50 juta untuk membayar mangga muda mereka sebanyak 5 biji yang udah David petik,"


"Istri mas yang ngidam?" tanya Anes penuh penekanan.


"Maaf sayang, mas malu kalau bilang mas yang ngidam," jawab Alex lirih.


"Terus kenapa pagi begini baru pulang?"


"Itu karena setelah menerima ceknya, mereka langsung menjamu kami nona, kami di persilahkan mampir ke rumah, tanpa sadar kami ketiduran di sana karena asyik mengobrol nona," David yang menjawab.


Anes hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah dua pria konyol di depannya itu.


"Sekarang mangga ya mau di apain mas? di rujak?" tanya Anes


"Enggak sayang, di makan gitu aja, tapi bukan mas yang makan," sahut Alex.


"Terus siapa? aku?" Anes menunjuk wajahnya sendiri dengan kesal.


"Bukan kamu, tapi David. Mas pengen lihat ekspresi mukanya ketika makan mangga muda yang masam itu," ucap Alex dengan tanpa dosa.


"What the hell!" umpat David dalam hati begitu mendengar ucapan Alex.


"Dav," panggil Alex.


"Baiklah bos, saya akan memakannya di depan Anda," jawab David lesu.


Alex tersenyum manis, dan di balas senyum kecut oleh David.


"Puas?" batin David.


"Aku akan mandi dulu. Kamu juga mandilah, nggak usah balik ke apartemen, nanti kita langsung berangkat ke kantor dari sini, pakai saja bajuku yang belum pernah aku pakai," ucap Alex yang langsung ngeloyor menuju lift ke kamarnya.


"Pak David, jangan terlalu memanjakan mas Alex, kalau nggak mau, tolak saja," ucap Anes.


"Tidak nona, saya akan melakukan apapun perintah bos," jawab David.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menyiapkan sarapan dan juga mengupas mangga ini. Pak David bisa membersihkan diri," ucap Anes.


"Baik nona, ada yang ingin saya tanyakan kepada nona Anes,"


"Soal?"


"Kira-kira kapan bos Alex akan berhenti ngidam nona?" tanya David.


"Sebentar lagi pak David, yang sabar ya menghadapi orang ngidam, berdoa saja semoga setelah ini mas Alex nggak ngidam yang absurd lagi, biar pak David bisa tidur dengan nyenyak," sahut Anes.


"Iya nona, kalau perlu akan saya tikung ngidamnya di sepertiga malam," jawab David.


Anes terkekeh mendengar ucapan David.


"Nona, kalau boleh saya request, kalau nanti nona hamil lagi, nona saja yang ngidam," ucap David jujur.

__ADS_1


"Semoga saja ya pak David," sahut Anes menahan tawanya.


🌼🌼🌼


__ADS_2