MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 105


__ADS_3

Anes langsung berlari dan melompat ke pelukan Alex. Ia melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Alex dan kedua kakinya melingkar di pinggang Alex. Persis seorang anak kecil yang sedang di gendong ayahnya.


"Ini benar kan mas Alex? Aku enggak sedang bermimpi kan?" tanya Anes yang tak percaya. Ia memandangi wajah Alex dengan mata berkaca-kaca.


Alex menggendong Anes dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Lalu, dia mencubit pipi Anes dengan gemas.


"Aw! Sakit mas!" ucap Anes sambil mengelus pipinya.


"Sekarang kamu percaya kan ini bukan mimpi?" Alex tersenyum dan membelai pipi Anes, lalu membimbing Anes untuk memiringkan wajahnya dan mencium bibirnya lembut.


"Sekarang tambah yakin kan?" tanya Alex.


Anes mengangguk dan memeluk Alex, tak terasa air matanya jatuh tanpa permisi.


"Kenapa mas sudah pulang? Bukankah ini belum ada seminggu? Bahkan mas bilang bisa sampai tiga Minggu di sana," ucap Anes dalam pelukan Alex.


"Apa nyonya muda Parvis tidak senang jika suaminya kini sudah pulang?" Alex mengusap air mata yang lancang tersebut.


"Baiklah, kalau begitu mas pergi lagi saja," goda Alex.


"Jangan!" Anes semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku ingin mas tetap di sini! Tapi apa pekerjaan mas di sana udah selesai?"


"Belum," jawab Anes.


"Terus? Kenapa sudah pulang secepat ini?"


"Em ini terlalu cepat ya? Padahal, mas kira ini udah lama loh. Mas aja udah kangen banget sama kamu,"


"Aku lebih kangen tahu!" protes Anes.


"Iya, iya mas percaya,"


"Terus bagaimana pekerjaan mas di sana? Kalau belum selesai kenapa di tinggal pulang?" masih penasaran.


"Karena mas tahu, istri mas ini sekarang pasti sedang membutuhkan pelukan mas kan? Mas tahu dari tadi pagi pasti kamu menangis terus kan? Mana mungkin mas bisa tetap tenang di sana, sementara istri mas di sini sedang sedih," mengusap pipi Anes.


"Jangan khawatir, masalah utamanya sudah mas selesaikan. David bisa urus sisanya. Besok akan aku kirim mood booster kepadanya," lanjutnya lagi sambil mengecup puncak kepala Anes.


"Maksud mas?" Anes tidak mengerti.


"Besok kamu juga akan tahu," jawab Anes.


Anes tak lagi bertanya, ia hanya ingin memeluk dan memeluk suaminya. Kehangatan yang Alex berikan untuknya membuatnya merasa sangat nyaman.


"Mas," panggilnya lirih sambil membuat garis bentuk hati di dada Alex menggunakan jari telunjuknya.


"Hem,,"sahut Alex.

__ADS_1


"Seandainya aku tidak bisa memberi kan mas keturunan apa mas akan mencari wanita lain?" tiba-tiba suasana menjadi sedih.


"Ternyata benar, dia masih saja kepikiran omong orang-orang tidak berguna tadi," batin Alex.


"Dari mana kamu dapat pemikiran seperti itu sayang? Mas saja tidak pernah sedikitpun kepikiran hal bodoh seperti itu,"


"Tapi...."


"ssst! dengerin mas!" mengubah posisi duduk dan. menempelkan jari telunjuknya di bibir Anes


"Apapun kondisi kamu mas tidak akan meninggalkan kamu sayang. Hadirnya seorang anak memang sangat penting, tapi bukan berati menjadi tolak ukur seseorang untuk menjadi tidak menghargai pasangannya..."


" Mas sudah bilang, mereka itu hanya omong kosong. Jangan dengarkan omongan orang atau hanya akan menyakiti hati kamu sayang. Kita menikah juga baru sebentar, positif thinking saja sama Tuhan. Kalau sudah waktunya pasti akan di kasih. Banyak di luaran sana yang lebih lama dari kita tapi belum juga di percaya sama Tuhan. Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya, dan jika waktu itu tiba kita akan jauh lebih bersyukur kepada Tuhan," Alex mencoba menjelaskan.


Anes masih diam, entahlah hatinya masih sedikit ragu dan takut. Dia sangat mencintai Alex, dan tentu saja dia ingin memberikan kebahagiaan yang lengkap untuk sang suami.


"Memilikimu saja mas sudah sangat bersyukur dan bahagia sayang. Bukannya mas tidak menginginkan anak, tapi jika memang Tuhan tidak mengijinkan kita, mas sudah bersyukur memiliki kamu dalam hidup mas," masih mencoba meyakinkan Anes.


"em bagaimana jika sebenarnya mas yang bermasalah?"


Anes langsung mendongak menatap wajah Alex serius.


"Maksud mas?" tanyanya tidak mengerti.


"Kamu selalu takut kalau kamu tidak bisa memberi mas anak, tapi apa kamu pernah berpikir dari sudut mas? Apa yang mas pikirkan dan takutkan? Sama halnya dengan kamu sayang. Bagaimana jika mas yang tidak sehat dan tidak bisa membuat kamu hamil? apa kamu akan meninggalkan mas?" mencoba membalikkan sudut pandang. Memposisikan dirinya sebagai tersangka atau penyebab.


"Hiks hiks, mas Alex jangan bilang seperti itu," langsung memeluk suaminya.


"Sekarang kamu mengerti kan maksud mas?"


Anes mengangguk.


"Em begini saja, akhir Minggu ini kita konsultasi ke dokter kandungan?" tanya Alex.


"Mas yakin mau ke dokter?"


"Iya, biar semuanya jelas dan kamu nggak kepikiran lagi. Karena mas yakin kita berdua baik-baik saja. Semua hanya masalah waktu," ucap Alex.


"Baiklah," sahut Anes.


"Semoga semuanya sesuai dengan keinginan kita. Semua baik-baik saja," batin Anes.


"Udah ya, jangan sedih lagi. Mas jauh lebih sedih dan sakit kalau kamu sedih sayang," ucap Alex.


Anes mengangguk sambil tersenyum. Kejutan yang di berikan Alex malam ini benar-benar bisa menjadi mood boosternya.


"Em, apa mas perlu kasih ibu-ibu itu pelajaran? Biar mereka kapok dan kedepannya bisa menjaga ucapan mereka?" meminta pendapat Anes.


"Mas yakin, mau membalas ibu-ibu itu? Hah dasar pendendam. Ibu-ibu aja di ladenin,"

__ADS_1


"Hehe bercanda sayang, kalau melawan ibu-ibu rempong mas tidak yakin bisa menang. Takut kualat juga. Bisa-bisa sapu, tutup panci, gayung, dan kawan-kawannya di lempar ke muka mas yang ganteng ini," canda Alex narsis.


"Hahaha mas bisa aja,"


" Nah! gitu dong tertawa, kan enak di lihatnya.


Ya udah, mas mau mandi dulu, habis itu kita makan ya? kamu pasti dari pagi nggak selera makan kan? tuh, makanan aja masih penuh di meja," menunjuk makanan di atas meja.


"Suapi!" rengek Anes dengan manjanya.


"Baiklah tuan putri, tapi suamimu ini mau mandi dulu," beranjak dari tempat tidur.


"Biar aku siapkan airnya!" tawar Anes juga berdiri dari duduknya.


"Tidak usah, kamu duduk yang manis di sini. Biar mas siapkan sendiri," menekan kedua bahu Anes supaya kembali duduk.


"Kecuali kalau mau mandi bareng, mas nggak nolak," ucap Alex dengan senyum devilnya.


"Maunya!" melempar bantal ke arah Alex, sang langsung Alex tangkis dengan tangannya.


"Awas ya," Alex menggelitiki Anes, membuat Anes menggeliat karena kegelian.


"Mas udah udah! Aku capek!" ucap Anes berteriak, ketika ia sudah kehabisan tenaga karena kewalahan menghadapi kejahilan sang suami. Kini posisinya tiduran sedangkan Alex mengungkungnya.


Alex berhenti menggelitiki Anes.


"Cepat memohon, kalau tidak mas akan gelitiki kamu lagi,"


"Mas, please!" memohon dengan wajah imutnya.


Alex membantu Anes bangun. Lalu, ia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Anes mengerti kode yang di berikan oleh Alex dan langsung mencium bibir Alex sekilas. Namun, tengkuknya langsung di tekan oleh Alex agar bibirnya tetap menempel dan mereka berciuman cukup lama.


Anes sangat menikmati setiap ciuman yang di berikan oleh Alex hingga ia tanpa sadar mendesah. Saat sedang nikmat-nikmatnya ciuman mereka, Alex menyudahi ciumannya.


Anes menatap Alex dengan tatapan protes.


"Mas mau mandi," ucap Alex sambil tersenyum jahat.


"Huh dasar!" Anes kesal karena suaminya berhasil mengerjainya.


"Udah kangen banget ya sama sentuhan mas?" ucap Alex di telinga Anes sambil mengusap area sensitif Anes dari luar pakaiannya, seketika pipinya merona.


"Udah cepat sana mandi!" mendorong dada bidang Alex.


Alex terkekeh dan langsung berkacak pinggang, meninggalkan Anes yang masih merasa panas di wajahnya karena ucapan Alex.


"Terima kasih karena sudah bela-belain pulang cepat demi aku," batin Anes, tersenyum melihat punggung Alex yang berjalan menuju kamar mandi.


🌼🌼🌼

__ADS_1


💠please! jangan bully author ya kak😁 ✌️ karena di part ini masih belum juga hamil anesnya ✌️ biar alurnya runtut kak😁 em kira-kira mood booster apa ya yang akan di kirim kepada David?💠


__ADS_2