
Keesokan harinya...David telah di pindahkan ke ruang ICU dari ruang operasi semalam. Ruang ICU tersebut di buat senyaman mungkin seperti di rumah sendiri dengan fasilitas lengkap sesuai permintaan Alex.
Sementara Anes mendapat perawatan di ruang perawatan rumah sakit karena kondisinya yang lemah, ia sempat tak sadarkan diri setelah mendengar kabar kondisi David yang koma.
Anes tidur miring di ranjang dengan tatapan kosong menghadap ke jendela. Bu Ratna dan pak Hari pagi-pagi sekali pamit pulang untuk mengambilkan baju dan membuatkan makanan untuk Amel dan juga lainnya.
Alex yang baru saja masuk ke ruang perawatan Anes setelah melihat kondisi David di ICU, langsung menghampiri istrinya tersebut dan duduk di ranjang di mana Anes kini sedang berbaring.
"Mas bagaimana pak David?" Anes menggeser badannya, dan duduk bersandar bantal.
"Dia sudah di pindahkan ke ruang ICU semalam saat kamu pingsan sayang, kalau semuanya stabil dia akan di pindahkan ke ruang perawatan biasa besok atau lusa," jawab Alex.
Anes menyeruak ke dalam pelukan Alex.
"Mas, aku takut kalau pak David..."
"Ssstttt, kamu jangan terlalu berpikir sayang, kita harus yakin David akan segera sadar, mas akan mengupayakan apapun untuknya. Kamu tenanglah, ingat kan di sini ada anak kita? kalau kamu banyak pikiran, itu akan berdampak buat anak kita. Jangan biarkan pengorbanan David sia-sia," ucap Alex, tangannya menyentuh perut Anes.
"Aku mau lihat pak David mas, aku nggak perlu di rawat seperti ini, aku baik-baik saja," ucap Anes yang mencoba melepas jarum infusnya.
"Tenang sayang, kamu masih lemah, setidaknya biar infus ini habis dulu, baru kita bisa keluar dari sini, dan mas janji nanti mas akan bawa kamu menjenguk David," sahut Alex.
"Amel, Amel di mana mas? Bagaimana keadaannya sekarang?" Anes mengkhawatirkan kondisi sahabatnya tersebut.
"Dia sedang berada di ruang ICU sekarang, sedang menunggui David di sana, sejak semalam dia tidak ingin beranjak sedikitpun dari sisi David," jelas Alex.
"Kasihan Amel mas, pasti di sangat terpukul, Mereka baru saja merasakan kebahagian sebagai sepasang kekasih, aku masih ingat jelas bagaimana pak David menciumnya di depan kita kemarin, tapi sekarang...hiks hiks hiks, sekarang pak David seperti ini, karena menolongku mas. Kalau pak David tidak menolongku pasti sekarang aku, aku hiks hiks hiks," Anes merasa sangat bersalah dengan keadaan sekarang ini.
"Dengerin mas sayang, kamu tahu kan David seperti apa? Percayalah, ia tidak akan pernah menyalahkan kamu, jadi kamu harus kuat dan tegar," Alex mengusap air mata yang tak hentinya keluar dari mata Anes.
"Aku berhutang nyawa sama pak David mas,"
"Mas tahu, mas juga berhutang nyawa sama dia, kamu dan anak kita adalah nyawa mas, kalau terjadi sesuatu sama kalian, mas nggak bisa hidup," Alex kembali mendekap Anes dalam pelukannya.
"Udah jangan nangis terus ya, lihat tuh mata kamu seperti mata panda," Alex mengusap pipi Anes lembut.
"Permisi tuan, ini saya mengantar sarapan untuk nyonya muda," ucap perawat yang baru saja masuk.
"Bawa sini sus, biar saya yang menyuapi istrinya saya," Alex mengisyaratkan kepada suster untuk menyerahkan sarapannya kepada Alex.
Suster memberikannya kepada Alex dan langsung pamit keluar.
__ADS_1
"Sayang, makan dulu ya? Aaa!" Alex menyodorkan sesendok bubur ke mulut Anes.
"Aku belum lapar mas," Anes melengos menghindari suapan Alex.
"Sedikit saja, semalam kamu sudah nggak makan, kasihan anak kita pasti dia lapar, jangan siksa anak kita sayang," ucap Alex, berharap dengan dia bilang seperti itu, Anes mau makan.
"Mas kok ngomongnya begitu, mana mungkin aku mau menyiksa anak kita," protes Anes.
"Kalau begitu sekarang makanlah, aaaaa,"
Akhirnya Anes mau membuka mulutnya, meskipun ia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan.
"Nggak enak mas," ucap Anes menyipitkan kedua matanya.
"Ya namanya makanan rumah sakit sayang, tapi Kamu harus tetap makan, biar cepat pulih dan mas akan bawa kamu ke ruangan David,"
"Janji?" Anes mengangkat jari kelingkingnya.
"Mas janji," Alex menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Anes.
Tiba-tiba ponsel Alex berdering, Alex mengambil ponsel dari sakunya dan langsung mengangkat panggilannya.
"Halo tuan muda Parvis, ini dari kepolisian yang menangani kasus penusukan tuan David,"
"Sebentar pak,,," ucap Alex. Ia melihat ke arah Anes.
" Mas keluar dulu sebentar ya, ada telepon penting, mas takut ganggu kamu, berbaringlah lagi," ucap Alex. Anes mengangguk lalu kembali berbaring, Alex menyelimutinya dan keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf Pak, sekarang bisa Anda lanjutkan!" ucap Alex sambil menutup pintu ruang perawatan Anes.
"Begini tuan, kami sudah berhasil menangkap pelakunya dini hari tadi," ucap polisi.
Mendengar ucapan polisi, Alex langsung mengepalkan tangannya.
"Baiklah pak, saya akan ke sana sekarang," ucap Alex lalu mematikan panggilan.
"Lex," pak Hari yang baru saja tiba menepuk pundak Alex.
"Eh pa, ma,"
"Kenapa di luar?" tanya Bu Ratna yang baru saja datang bersama pak Hari.
__ADS_1
"Eh ini, baru saja polisi bilang sudah menemukan pelaku penusukannya ma, kebetulan papa sama mama sudah datang, Alex titip Anes, Alex harus ke kantor polisi sekarang," ucap Alex.
"Pergilah nak," sahut pak Hari.
"Tapi apa kamu nggak sarapan dulu? Mama sudah masak buat kalian," ucap Bu Ratna.
"Nanti saja ma, Alex sudah tidak sabar ingin melihat wajah baj*Ng*n itu," ucap Alex.
"Tapi sejak semalam kamu belum makan,"
"Nggak papa ma, nanti Alex bisa makan apapun di jalan, Amel ada di ruang ICU, tolong bujuk dia buat makan ma,"
"Baiklah, nanti mama akan membujuk Amel, mama mau ke dalam ketemu Anes dulu sebentar, nanti mama akan menemui Amel,"
"Hem, Alex pamit, tolong bilang sama Anes ya ma?" Alex menyalami kedua mertuanya bergantian lalu pergi.
"Kasihan menantu kita pa, dia pasti sekarang sedang bingung dan kalut, lihatlah mukanya terlihat jelas sekali kesedihan yang ia hadapi, tapi dia berusaha tetap tegar demi kita semua," ucap Bu Ratna sembari melihat menantu laki-lakinya tersebut berlalu.
"Iya ma, kita berdoa saja semoga pak David cepat sadar dan semua segera berlalu, ayo masuk," ajak pak Hari.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Alex menemui David di ruang ICU, di sana terlihat Amel sedang memegangi tangan David seperti enggan untuk melepaskannya.
"Mel,"
"Eh pak Alex," Amel menoleh.
"Istirahatlah dulu, semalaman kamu juga tidak tidur, ada dokter dan suster yang selalu memantau David, kamu pergilah ke ruang perawatan Anes, mama Ratna sudah membawakan sarapan.
"Saya tidak lapar pak, saya ingin tetap di sini menemani David," sahut Amel.
"Saya tahu kamu sedih, tapi kamu tetap harus menjaga kesehatan kamu Mel, kalau kamu juga sakit, saya harus bagaimana, tolong bantu saya dengan tetap sehat Mel, Anes sudah sakit, David seperti ini,"
"Baiklah pak, nanti saya akan makan. Pak Alex jangan khawatir, saya harus kuat demi David," sahut Amel.
"Dav, aku pergi dulu sebentar, cepatlah bangun," Alex mendekat ke arah David.
"Akan aku pastikan pelakunya akan mendapat balasan yang setimpal, aku janji Dav," batin Alex penuh amarah.
"Pak Alex mau kemana?" tanya Amel.
"Kantor polisi," jawab Alex dan langsung meninggalkan Amel dan David.
__ADS_1
🌼🌼🌼