MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 198


__ADS_3

"Aku mencintaimu," ucap Amel mengecup pipi David.


" Aku tidak yakin," sahut David sepele.


"David?" Amel menabok lengan David.


"Buktinya gitu aja kamu udah mau nyerah Mel, udah mau lari ke laki-laki lain,"


"Siapa bilang aku nyerah Dave, aku cuma sedikit menguji kamu," Amel mengusap rahang David.


"Nakal ya, berani mengujiku," David mencubit hidung Amel gemas.


"Jangan lakukan itu lagi Mel, aku tidak jamin bisa menahan amarahku lagi kalau kamu seperti itu lagi," lanjut David.


"Hem," sahut Amel tersenyum mendongak melihat wajah sang kekasih.


"Kamu juga jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain Mel. Jangan menguji kesabaranku. Aku benci pria lain menyentuh wanitaku, atau aku akan mematahkan tangannya, kalau perlu aku kirim orang itu ke liang lahat," ucap David serius.


"Maafkan aku," giliran Amel meminta maaf. Ia tahu sikapnya tadi sudah memancing emosi David.


David melepaskan pelukannya, ia mengusap wajah Amel menggunakan kedua tangannya. Kemudian, di ciumnya kening Amel dengan lembut.


"Jangan menangis lagi," ucap David lalu mengecup bibir Amel.


Amel mengangguk. Ia kembali menyusup ke dalam pelukan David.


"Aku sangat merindukan kamu yank," sikap Amel langsung berubah manja.


"Aku juga," balas David tersenyum. Akhirnya ia dan Amel bersatu kembali.


Tiba-tiba perut David berbunyi ,"krucuk krucuk,"


Amel merenggangkan pelukannya, ia melihat ke arah perut David.


"Lihatlah, cacing-cacing dalam perutku ikut bersorak karena kita akhirnya baikan," canda David.


"Kamu belum makan yang?" tanya Amel serius.


David menggeleng.


"Tidak sempat, seharian aku sibuk Beb," balas David kemudian.


"Seharian nggak makan?"


Kali ini David mengangguk.


"Rencana tadi aku mau makan di acara reuni, eh mendadak nafsu makannya hilang, karena melihat kamu sama laki-laki itu. Kenapa kamu nggak ngajak aku sih ke sana? Durhaka sama pacar, dasar!" David mengacak rambut Amel.


"Mana ada Dave, yang ada kamu yang durhaka sama aku, beraninya melupakan pacar secantik dan sebaik aku, untung aku yang jadi pacar kamu Dave, kalau cewek lain udah kabur tuh ke pelukan cowok lain,"


"Iya, iya aku yang salah, cewek emang selalu benar," gumam David, Amel hanya tersenyum.


"Ya udah ayo ke apartemen kamu, aku akan masak buat kamu," ajak Amel.


"Kamu masak?" David tak percaya.


"Ya, aku udah belajar sedikit-sedikit," jawab Amel sedikit ragu.


"Baiklah, ayo kita coba sejauh mana kemampuan kamu memanjakan perut kekasihmu ini,"


Mereka pun kembali ke dalam mobil. David terus memegang tangan Amel, seakan tak ingin melepaskannya sedetik pun. Berkali-kali ia menarik tangan Amel dan menciumnya.


"Dave, fokus nyetir!" Amel berusaha melepaskan genggaman tangan David.


"Jangan di lepas, aku takut kita akan jauh dan terpisah oleh jarak lagi,"


"Tidak akan Dave, o ya, gara-gara kelakuan kamu tadi, pasti besok media sosial akan heboh dengan berita kita Dave. Kasihan, Aldo pasti juga akan kena dampaknya apalagi dia artis," ucap Amel.


"Kenapa kamu begitu peduli pada laki-laki itu?" ucap David tak suka.


"Aldo Dave, namanya Aldo,"


"Apa kamu nggak dengar dari tadi dia juga manggil aku kakak tua!" protes David.


Amel diam, ia tak ingin berdebat lagi. Ya, dia tahu betapa gondoknya David kepada Aldo, apalagi dia dipanggil kakak tua.


"Emang aku kelihatan setua itu Mel?" mendadak kehilangan rasa percaya diri.


"Walaupun tua kalau seganteng ini siapa yang menolak," gumam Amel.


"Amel!"

__ADS_1


"Bercanda Dave! Mulut Aldo emang begitu, sebelas dua belas sama pak Juna," balas Amel.


"Bapak betul kamu sama dua orang itu,"


"Astaga Dave, setir aja yang benar. O ya, bagaimana masalah berita besok?" Amel masih kepikiran.


"Kamu lupa siapa pacar kamu ini? Akan aku atasi semuanya, nggak usah khawatir,"


"Beneran?"


"Hem," sahut David kembali menarik tangan Amel dan menciumnya.


🌼🌼🌼


Sesampainya di apartemen, Amel langsung menuju ke dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan yang menurutnya bisa ia masak.


David bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.


beberapa saat kemudian, David turun ia melihat Amel sudah selesai masak dan menatanya di meja makan.


Amel tersenyum melihat David yang sudah berganti dengan pakaian santai.


"Duh gantengnya pacarku, ayo sini makan, katanya tadi lapar,"


David menarik kursi dan mendudukinya. Ia mulai makan. Saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya, David merasa tercekik dengan rasa masakan Amel yang tidak jelas tersebut.


"Ya ampun, kita baru aja baikan. Tapi kenapa aku merasa sekarang dia ingin meracuniku dengan makanan ini," batin David.


"Bagaimana? Enak nggak? Ya, aku baru belajar sih sebenarnya," Amel penasaran, melihat muka David yang sudah ia artikan itu.


"Em, enak. Enak sekali," bohong David. Ia baru saja baikan dengan Amel, dan baru saja membuat wanita itu tersenyum kembali, ia tak ingin melihat Amel kecewa.


"Serius?" Amel tampak bersemangat.


"Hem," David tersenyum. Dia terus memakannya sesendok demi sesendok. Berusaha menelannya walaupun dengan susah payah.


"Kalau begitu aku mau coba dong," Amel penasaran dengan hasil masakannya.


"Jangan Mel, aku lapar biar aku habiskan semuanya," sahut David cepat.


"Em baiklah," Amel hanya melihat David makan, ia menopang dagunya dengan kedua tangannya.


"Kenapa? Pasti nggak enak kan masakan aku? Huh padahal aku udah belajar, tapi tetap tidak bisa. Emang bakat aku cuma makan, maaf," ucap Amel sedih.


"Bukan begitu Mel, enak kok. Cuma perlu sedikit peningkatan, ini enak kok. Buktinya aku makan habis semua kan?" David melihat tangan Amel sampai di plester karena terkena pisau, demi untuk memasak dan menyenangkannya.


Amel mendesah kecewa, ia yakin David melarangnya karena memang masakannya tidak enak masih seperti dulu, hanya saja David tidak ingin membuat Amel kecewa.


"Jangan cemberut begitu dong. Tidak masalah kamu mau bisa masak atau tidak, aku tetap cinta sama kamu," ucap David.


Amel hanya menunduk, merutuki dirinya sendiri, menurutnya, ia sama sekali bukan apa-apa jika di sandingkan dengan laki-laki sesempurna David.


"Maafkan aku," ucap Amel lirih.


"Aku tidak seperti Anes, dia bisa segalanya, sedangkan aku?" sambung Amel.


"Lihat aku," David menarik dagu Amel supaya melihat wajahnya.


"Aku mencintai kamu apa adanya Mel, jangan pernah kamu berubah hanya karena ingin menjadi seperti orang lain. Aku mencintai kamu yang seperti ini. Amel yang seperti inilah yang mewarnai hidupku, yang membuat aku jatuh cinta," manik mata David menatap Amel tajam. Amel menyapanya lekat, ia tidak menemukan kebohongan sama sekali dari ucapan David. Laki-laki itu berkata tulus, bukan hanya untuk menghibur Amel semata.


"Jangan pernah bilang kamu tidak pantas buat aku, karena alami yang menyempurnakan hidupku. Mengerti?"


Amel hanya mengangguk, sungguh dia merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki kekasih seperti David, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


David menarik tubuh Amel ke dalam dekapannya.


"Malam ini mau pulang, atau menginap di sini?" tanya David.


"Emang boleh menginap di sini?" tanya Amel.


"Asal jangan macam-macam," goda David.


"Tidak akan, aku hanya ingin menghabiskan malam berdua sama kamu. Aku sangat merindukan kamu Dave," ucap Amel.


Menarik tengkuk Amel dan mencium bibir Amel.


"Tapi aku nggak bawa baju ganti," ucap Amel.


"Pakai punyaku," sahut David.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Malam semakin larut, sepasang kekasih tersebut sedang asyik menonton televisi. Karena ngemil terus, Amel merasa haus, ia berdiri hendak mengambil minum di dapur.


"Aku mau ambil minum dulu, haus," ucapnya.


"Biar aku ambilkan," ucap David seraya tangannya menarik tangan Amel supaya kembali duduk, tapi Amel malah jatuh dan menindih David di lantai.


"David!" teriak Amel.


"Maaf, aku terlalu kencang nariknya, aku cuma mau nyuruh kamu duduk tadi," ucap David yang kini berada di bawah Amel.


Tanpa sebagai Amel menyentuh tongkat sakti milik David yang sudah menegang di bawah sana.


Amel penasaran dengan apa yang dia sentuh tersebut.


"Astaga Dave! Belalainya jadi panjang!" seru Amel dengan polosnya.


"Belalai?" David mengernyit.


"ini," Amel menyenggolnya.


"Ya Tuhan, kenapa di senggol sih Mel? Semakin kaku kan jadinya ini. Bantu aku menahannya tuhan," batin David menahan hasratnya.


"Itu tongkat sakti sun go kong ku Mel, bukan belalai gajah," jawab David.


"Lebih mirip belalai Dave!" Amel tak aku kalah.


"Belalai bengkok Mel, sedang ini kaku, dan lebih sakti tentunya,"


"Belalai!"


"Tongkat sakti!


"Belalai Dave!"


Mereka terus berdebat hanya untuk sebutan aset masa depan milik David tersebut, tanpa mereka sadari posisi mereka masih seperti semula, David di bawah dan di tindih Amel.


"Kita buktikan ini belalai atau tingkat sakti!" ucap David.


David langsung membalik posisi Amel menjadi di bawahnya. Ia melihat Amel dengan senyum menyeringai.


Deg deg, deg deg! jantung Amel semakin berdetak kencang dengan posisi mereka yang seperti ini.


"Kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya Mel,"


"Kok aku sih Dave?" ucap Amel gugup.


David langsung mencium bibir Amel penuh nafsu. Jantung Amel semakin tak karuan. Apa maksud ucapan David? bagaiman Amel harus bertanggung jawab? Apakah David akan...? Amel memejamkan matanya, membayangkan jika David benar-benar menginginkannya.


"Bagaimana ini? Aku memang mencintainya tapi untuk hal itu? Sebelum menikah? Tidak aku seperti itu" batin Amel.


"Buka mata kamu," perintah David. Amel membuka matanya.


David kembali menciumnya, Amel yang terbawa suasana melingkarkan kedua tangannya di leher David.


Beberapa saat kemudian, David mengangkat tubuh Amel dan membawanya ke kamarnya.


Ia merebahkan tubuh Amel dengan hati-hati.


Kembali David mencium dan mel*m*t bibir Amel. Tangannya hendak bergerilya di area dada Amel yang mengenakan kaos David tersebut.


"Tidurlah sudah malam," ucap David setelah mengakhiri ciumannya dan tangannya tidak jadi mendadak di dada Amel.. Diacak-acak ya rambut Amel. Amel hanya menatap David tak mengerti.


"Kita akan melakukannya setelah menikah," ucap David lalu mengecup kening Amel. Ia menarik selimut untuk menutupi badan Amel.


"Mimpi indah, aku akan tidur di kamar tamu," ucap David sambil membalik badannya.


Amel menahan tangan David. David menoleh.


"Terima kasih," ucap Amel.


David tersenyum, lalu mengecup bibir Amel sekilas, kemudian benar-benar keluar.


Amel membuang nafas lega.


"Huh, untung saja. Kirain dia mau macam-macam tadi. Tapi aku tahu kamu bukan orang seperti itu Dave. Makin cinta deh!" Amel senyum senyum sendiri. Lalu menenggelamkan seluruh badannya di balik selimut.


Akhirnya malam itu David dan Amel tidur dengan perasaan bahagia. Ya, meskipun David harus bersolo ria terlebih dahulu di kamar mandi sebelum tidur. Tapi perasaannya sangat senang, karena akhirnya dia dan Amel baikan.


🌼🌼🌼


💠Jangan lupa like like like,komen komen komen, vote vote vote😄😄😄 salam hangat author ❣️❣️❣️💠

__ADS_1


__ADS_2