
Anes menceritakan semuanya kepada Amel sambil menangis.
Amel tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, ia bisa mengerti kalau saat ini Anes marah, kecewa dan sedih. Wanita manapun juga akan seperti itu, bahkan Amel bisa merasakan kekecewaan yang Anes rasakan. Ia juga ikut marah dan kecewa sama presdirnya tersebut.
Amel hanya bisa mencoba menghibur Anes. Ia bukannya tidak ingin berkomentar ataupun tidak peduli, tapi untuk saat ini, lebih baik menjaga mulutnya, salah-salah ia hanya akan menambah kesedihan sahabatnya tersebut dengan ucapannya.
"Ya ampun, jadi ternyata seperti itu kenyataannya. Nyonya Rania adalah cinta pertamanya pak Alex? Tapi kenapa bisa dia menikah dengan pak Arya? susah di cerna oleh otakku," batin Amel yang kini sudah memeluk Anes.
"Aku harus bagaimana sekarang Mel? apalagi sepertinya sekarang aku sedang hamil anak mas Alex,"
"Kamu beneran hamil?" tanya Amel.
"Sepertinya begitu, tadi pagi aku test pack dan hasilnya positif, aku ingin memberikan kejutan buat mas Alex, tapi apa yang aku dapat?" Anes kembali menitikkan air matanya.
"Ya ampun, kenapa bisa jadi begini sih. Kamu yang sabar ya? semua pasti ada jalan keluarnya,"
"Bagaimana kalau selama ini mereka diam-diam masih menjalin hubungan Mel?"
"Kamu percaya suami kamu atau Rania si demit itu?" tanya Amel.
"Aku ingin sekali percaya sama mas Alex, tapi tadi apa yang aku dengar dan lihat membuat aku sedikit ragu," jawab Anes.
"Mungkin benar apa yang kamu dengar, mereka memang pernah memiliki masa lalu, tapi bukan berati mereka masih berhubungan kan Nes. Dan untuk yang kamu lihat, beneran pak Alex mencium Rania? atau Rania yang mencoba menciumnya?" namanya Amel, tidak ingin berkomentar ya tidak bisa, tapi ia berusaha untuk tidak memprovokasi Anes.
Amel tidak ingin sahabatnya itu salah mengambil keputusan nantinya, apalagi kini ia tengah mengandung.
Anes tertegun mendengar ucapan Amel.
"Aku sendiri tidak yakin apa yang sudah mereka lakukan tadi, tapi tetap saja rasanya sakit Mel, tadi aku benar-benar terbawa emosi dan tidak bisa berfikir dengan jernih,"
" Mungkin karena kamu lagi hamil, makanya jadi lebih sensitif Nes, Yadah sekarang kamu tenangksan diri dulu, kamu istirahat ya, nanti kita bicara lagi, jangan nangis terus, kasihan baby kamu kalau kamu sedih begini," ucap Amel.
"Kamu benar Mel, aku nggak boleh begini, aku harus kuat demi anakku," sahut Anes sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ
"Bi, apa bos Alex sudah kembali?" tanya David yang baru saja sampai di kediaman Alex.
"Sudah tuan, baru saja tuan muda pulang. Beliau sepertinya berada di ruang belajar," jawab bi Ina.
"Baiklah terima kasih," David langsung menuju ruang belajar Alex.
"Tok tok tok! Bos ini saya," ucap David, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Di lihatnya ruang belajar bosnya tersebut sangat berantakan semua benda dan buku berserakan di lantai.
Alex duduk menunduk di kursi sambil menjambak rambutnya sendiri. Tampak sekali rasa putus asa dan frustasi dalam dirinya.
David melewati beberapa pecahan vas bunga yang ia yakini itu sebagai korban kemarahan Alex.
"Bagaimana? apa kamu tahu di mana Anes berada sekarang?" tanya Alex.
"Belum bos, tapi Anda tidak perlu khawatir, nona Anes pasti baik-baik saja," sahut David.
"Bagaimana bisa aku bisa tenang? dia pergi dalam keadaan marah Dav, dan sampai sekarang tidak ada kabar,"
"Berpikir buat apa? buat minta cerai dari aku? begitu maksud kamu Dav!" teriak Alex semakin frustasi.
"Tidak bos, bukan seperti itu, saya yakin nona Anes tidak akan gegabah mengambil keputusan seperti itu. Saat ini mungkin nona Anes merasa marah dan kecewa. Tapi saya yakin, dia mencintai Anda sama seperti Anda mencintainya,"
"Tapi aku menyakitinya David, mungkinya kini berubah menjadi sebuah kebencian. Apalagi tadi dia melihat kami seolah-olah sedang berciuman. Rania, wanita gila itu!" Alex mengepalkan tangannya penuh amarah. Ya, kalau saja bisa ia ingin sekali melenyapkan wanita itu dari dunia ini. Benar-benar menyesal pernah mengenal wanita licik itu.
Alex benar-benar sudah tidak mengenal sosok Rania yang dulu ia kenal. Yang ceria, lemah lembut dan penuh perhatian. Wanita itu kini berubah menjadi seorang monster yang sangat menjijikkan bagi Alex. Bahkan Alex sangat malu jika mengingat ia pernah begitu mengagumi dan mencintai wanita itu.
"Bukankah saya sudah sering mengingatkan Anda tentang Rania bos, supaya Anda jujur kepada nona Anes, nona Anes bukan tipe orang yang tidak bisa menerima sebuah kenyataan, pasti dia akan menerimanya dengan lapang dada, kalau saja Anda jujur sejak dulu,"
"Sekarang bukan waktunya menceramahi ku! pulanglah, aku akan mencarinya lagi," Alex mengambil jasnya dan meninggalkan David di ruang belajarnya.
"Kemana Anda akan mencarinya bos? maaf karena saya tidak bisa memberitahu di mana nona Anes saat ini, kalau saya beritahu sekarang, pasti Anda tidak bisa menahan diri untuk ke sana. Dan itu hanya akan semakin menambah masalah. Biarkan nona Anes tenang dulu," batin David. Ia segera menyusul Alex, untuk mencegahnya.
__ADS_1
"Ini sudah malam, bos mau mencarinya kemana? Sebaiknyam ini istirahat saja, besok baru kita lanjutkan mencari nona Anes,"
"Justru karena ini sudah malam, aku khawatir dengannya! Dia bahkan meninggalkan kartu kredit, ATM di dalam kopernya!" kesal Alex.
"Minggir! jangan halangi aku Dav!" Alex tak mengindahkan saran David ia segera melajukan mobilnya.
"Dasar, keras kepala! mau mencarinya di mana? nona berada di tempat yang aman, mungkin saja nona Anes sedang tidur pulas sekarang," batin David. Ia segera masuk ke mobilnya untuk mengikuti mobil Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Mau sampai kapan bos berkeliling, bahkan sudah melewati jalan ini sebanyak 3 kali," gumam David yang terus mengikuti mobil Alex. Biar bagaimanapun ia mengkhawatirkan bos yang juga sahabatnya tersebut.
Tiba-tiba mobil Alex berhenti mendadak membuat David juga ikut mengerem mobilnya mendadak.
Alex turun dari mobilnya dan menghampiri mobil David, ia mengetuk pintu mobil David. David, segera menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Ngapain dari tadi kamu mengikuti ku?"
"Saya juga mencari nona Anes bos," jawab David alasan.
"Pulang lah, aku akan mencarinya sendiri, ini sudah larut malam," ucap Alex.
"Tidak bos, saya akan pulang jika Anda juga pulang," David menunjukkan loyalitasnya.
"Ah kau ini! buka pintunya!" perintah Alex.
David segera membuka kunci pintu belakang mobilnya.
"Yang depan!" protes Alex.
"Ayo pulang!" ucap Alex setelah masuk ke dalam mobil.
David segera melajukan mobilnya untuk mengantar Alex pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Alex meninggalkan mobilnya di tepi jalan, tanpa membawa kunci mobilnya. Bahkan surat-suratnya lengkap ada di dalam mobil tersebut.
๐ผ๐ผ๐ผ