MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 208


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, mobil David masuk ke pekarangan rumah singgah yang nampak asri tersebut. Raut wajah David seketika berubah menjadi penuh amarah kembali. Ia segera menakutkan mobilnya dan turun dari mobil, di susul oleh Amel.


Anak-anak rumah singgah yang tidak tahu menahu tentang masalah tersebut, berhamburan keluar menyambut kedatangan David, pun begitu dengan bibi yang biasa membantu mengurusi anak-anak dan rumah singgah tersebut. Hanya Dila yang tidak tampak ikut menyambutnya seperti biasa.


Tapi, David tidak mengindahkan sambutan penuh senyum ceria dari mereka, sorot mata dan langkah kakinya langsung tertuju ke dalam rumah, membuat anak-anak menatap heran ke arah punggung David.


"Nona, apa yang terjadi? Sepertinya tuan muda tidak dalam mood yang bagus?" tanya bibi kepada Amel.


"David ingin menemui Dila bi, Dila membuat masalah untuk David, dia pulang ke sini?" Amel menjawab dan juga balik bertanya kepada bibi.


"Iya kak, tadi malam kak Dila pulang larut malam," sahut salah satu anak rumah singgah.


"Ya udah, bi bawa mereka ke belakang, Saya mau menyusul David," perintah Amel. Ia tak ingin anak-anak yang lain melihat keributan yang sudah di pastikan akan terjadi sebentar lagi.


Dan mereka pun menuruti perintah Amel seperti menurut kepada David, karena mereka tahu siapa Amel. Perintah Amel sama halnya perintah David.


Amel buru-buru berlari masuk ke dalam mengejar David.


"Dila! Keluar kamu! aku tahu kamu ada di sini!", teriak David sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Dave, tenang dulu," ucap Amel, David tak menggubris, ia menuju ke arah kamar Dila dan menindak paksa pintu kamar gadis tersebut menggunakan kakinya.


"BRAK!!" suara pintu yang terbuka dengan paksa.


David langsung menarik Dila yang tampak ketakutan menuju ke ruang tengah.


"Bang, aku minta maaf," hanya itu kata yang mampu Dila ucapkan saat ini. Lidahnya terasa kelu karena ketakutan, ia tahu seperti apa David orangnya kalau sudah marah.


"Plak!!!" David menampar Dila dengan tangannya, hingga pipi gadis itu memerah. Dila terisak sambil memegangi pipinya.


Sementara Amel hanya meringis seakan ikut merasakan sakit akibat tamparan David. Tapi dia datang bukan untuk membela Dila, jadi Amel lebih memilih untuk diam.

__ADS_1


"Maafin aku bang, aku menyesal. Aku khilaf bang," Dila merosot bersimpuh di hadapan David, memeluk kaki laki-laki yang sudah menolong hidupnya tersebut, yang sudah membawanya dari jalanan dan menjamin hidupnya menjadi lebih layak.


David masih diam, ia memejamkan matanya lalu menghela napasnya kasar.


Dila tetap tidak diam, dia terus meronta-ronta meminta maaf kepada David.


"Apa yang sudah kamu lakukan Dila? saya sudah membiayai sekolah kamu tinggi-tinggi hanya untuk membuat saya malu? Apa ini balasan kamu kepadaku Dila? Jawab!" teriak ucap David penuh emosi.


"Maaf bang, maafin Dila bang. Aku menyesal," ucap Dila dengan penuh derai air mata dan masih bersimpuh di kaki David.


"Bangun!" bentak David. Dila yang sudah ketakutan hanya menuruti perintah David.


David hendak melayangkan satu tamparan lagi kepada Dila, tapi ia urungkan. Bagiamana pun ia tak tega berbuat kasar terhadap wanita.


David mendekati Amel yang sedari tadi duduk dan ikut duduk di sampingnya.


"Duduk Dila!" pinta Amel. Dila pun duduk dengan kepala terus menunduk, tanpa berani menatap David.


"Kau tahu, nama baikku sudah kamu coreng tanpa ampun Dila, bagaimana aku harus menghadapi bos Alex setelah ini? Aku sudah sering katakan jangan buat aku malu Dila. Kamu tinggal di sana, dengan mempertaruhkan nama baikku Dila, tapi lihatlah kelakuan kotormu. Apa yang ada dalam otakmu itu, aku menyekolahkanmu bukan untuk menjadi jal*ng!," David masih di kuasai emosi.


David mengusap wajahnya kasar mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Dila.


"Tapi tidak dengan merebutnya kan Dila? Dia sudah punya istri Dila, laki-laki yang kamu kagumi itu suami orang, suami sahabatku sendiri. Orang yang sudah berbaik hati menampung kamu di rumahnya. Jujur aku sebagai perempuan merasa malu mengenal gadis seperti kamu Dila, yang rela melakukan segala cara hanya untuk menjerat laki-laki yang sudah punya istri. Apalagi menggunakan trik kotor seperti itu, kebanyakan baca komik online ya kamu? Jadi nggak ada akhlak begini, pakai obat kayak begitu segala," Amel ikut kesal dan marah kepada Dila.


David yang marah, mendadak menahan tawa mendengar Amel lagi-lagi menyangkut pautkan Masalah dengan komik yang seperti ia baca setiap hari.


"Maafin aku kak, aku benar-benar menyesal," Dila terus menunduk dan mer*mas-r*mas kedua tangannya.


"Orang yang paling tidak tahu diri di dunia ini menurutku adalah orang yang tidak tahu balas Budi seperti kamu Dila. Terutama sama David, kamu tidak tahu rasa balas budi kepadanya sama sekali, bahkan kamu tega membuatnya sekecewa ini," Amel yang ikut kesal terus saja ikut menceramahi Dila.


"Kalau bos tidak melarang, sudah ku bunuh kamu Dila. Kamu sama saja menorehkan aib pada mukaku Dila,"

__ADS_1


"Maaf bang, aku benar-benar menyesal,"


"Sekarang bilang menyesal, apa kamu tidak pernah berpikir sebelum kamu berbuat hal kotor seperti itu? Apa akibat yang akan terjadi dari perbuatanmu itu? Hah? Kamu sudah mengecewakan aku Dila, sudah menghancurkan kepercayaanku!" bentak David.


"Kalau kamu ingin mendapatkan laki-laki yang baik, seharusnya kamu perbaiki sikap kamu supaya menjadi pantas untuk laki-laki itu, tapi bukan suami orang tentunya. Yang harus kamu lakukan adalah memantaskan dirimu untuk laki-laki seperti yang kamu inginkan itu, jika kelakuan kamu seperti ini, hanya laki-laki baj*ngan yang pantas untukmu," lanjut David.


"Bahkan laki-laki baj*ngan sekalipun, akan memilih istri yang baik, Dila," imbuh Amel.


"Sekarang kamu pilih penjara atau aku kirim ke luar negeri, ke tempat yang terpencil jauh dari hiruk pikuk kota, Dila? Di sana kamu akan belajar tentang kehidupan, Kamu akan melanjutkan studi di sana. Tapi, akan orang yang selalu mengawasi kamu, kamu hanya bisa pulang dan pergi ke kampus dan menjadi relawan di negara tersebut, tapi kamu tidak bisa berkeliaran bebas, setelah kegiatan kampus selesai atau tidak ada kegiatan sosial, kamu harus terus berada di rumah yang sudah aku siapkan. Dan kapan kamu akan kembali ke Indonesia, bukan kamu yang menentukan. Bahkan mungkin kamu harus menetap di sana," tutur David yang tak ingin basa basi lagi.


Ya, dengan Dila di kirim ke tempat asing yang terpencil dan menutup akses dirinya berhubungan dengan dunia luar, sama saja dengan membuat hidupnya di penjara, tapi dia masih bisa melanjutkan sekolahnya, dengan harapan Dila bisa berubah, dan suatu saat jika memungkinkan kembali, dia bisa menggunakan ilmunya yang ia dapat.


"Bang?" Dila menatap David, mengiba kepada laki-laki di depannya tersebut. Dila adalah gadis yang menyukai kebebasan dan pilihan David cukup sulit untuknya. Meskipun di kirim ke luar negeri dan melanjutkan kuliahnya, tapi ruang geraknya sahabat di batasi, itu sama saja membuatnya tidak bisa bernafas dengan leluasa, apalagi akan ada yang selalu mengawasinya.


"Cepat pilih!" ucap David tanpa ampun.


"Kak?" Dila mengiba kepada Amel, berharap kekasih abangnya tersebut bisa sedikit membantu membujuk David, ia sungguh tak ingin di penjara namun juga tak ingin di asing kan.


"Aku rasa itu pilihan yang bagus Dila, di sana, baik di penjara maupun di pengasingan kamu bisa memperbaiki mental kelakuan kamu itu, dan lebih berusaha untuk memantaskan diri agar nanti bisa mendapat laki-laki yang baik, jika suatu saat pak Alex atau David berbaik hati memintamu di bebaskan dari dua pilihan tersebut," ucap Amel tanpa ingin membela Dila dengan membujuk David.


"Baiklah, aku pilih ke luar negeri kak," ujar Dila lesu.


"Bereskan barangmu, dan aku akan mengirimmu ke sana secepatnya," ujar David dengan wajah datarnya.


Dila pun pergi ke kamarnya.


David menjambak rambutnya frustasi. Dia sudah menaruh harapan besar kepada adik angkatnya tersebut, tapi kenyataannya Dila malah membuatnya kehilangan rasa percaya diri.


Amel merapatkan duduknya ke arah David, ia mencoba menenangkan dan terus memberi support kepada David. Amel juga bisa merasakan apa yang David rasakan, marah, kecewa, sedih dan malu tentunya. Amel menarik David ke dalam pelukannya, mumpung mereka hanya berdua, biar David menumpahkan rasa sedih dan kecewanya. Karena jika di depan yang lain, laki-laki itu pasti akan gengsi.


"Aku nggak papa Mel, cuma sedikit pusing," cicit David.

__ADS_1


"Aku tahu," sahut Amel tanpa ingin menambah pusing di kepala David.


🌼🌼🌼


__ADS_2