
Anes menarik nafasnya panjang, ketika ia berhasil mendaratkan pantatnya di kursi meja kerjanya. Ia menoleh keruangan Alex sebentar. Tapi, tetap saja, suaminya tersebut tidak kelihatan dari sana. Ia kembali menarik nafasnya dalam, mengingat perkataan teman kantornya tadi. Tetapi kemudian dia langsung fokus pada pekerjaan yang sudah menantinya. Bukan Anes namanya kalau terlalu menanggapi omongan tidak penting dari orang, itu hanya akan merusak moodnya, ya, begitulah kira-kira menurutnya.
Sementara Alex tampak tersenyum lega, ketika ia melihat sang istri sudah berada dalam ruangannya. Pasalnya, dari tadi ia sampai di ruangannya, Alex selalu mondar-mandir melihat kearah ruangan Anes.
"Emm, sebaiknya aku buatin mas Alex teh dulu," gumam Anes kemudian ia mengeklik mouse untuk mengembalikan layar komputer yang ada didepannya ke layar utama.
"Tok tok tok"(pintu di ketuk)?
"Ceklek!" belum mendapat sahutan dari dalam, karena Alex sedang sibuk dengan pekerjaannya, Anes langsung membuka pintu dengan inisiatifnya sendiri. Toh ini ruangan suami sendiri, pikirnya.
Melihat Anes yang membuka pintu, membuat Alex merasa senang. Perasaan baru tadi pagi mereka bertemu, tapi Alex sudah merindukan istrinya tersebut. Rasanya ia tak ingin lama-lama jauh dari Anes.
"*A*h aku benar-benar sudah gila dibuatnya, baru sebentar nggak ketemu aku sudah sangat merindukannya," batin Alex.
"Permisi Pak, ini saya buatkan teh untuk Anda," ucap Anes ketika melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja kerja Alex.
"Pak? Anda?" batin Alex sambil terus menatap Anes dengan tatapan menginterogasi.
Anes meletakkan teh di depan Alex dan meletakkan beberapa berkas yang harus Alex tanda tangani.
"Ini, ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani. O ya, hari ini Bapak tidak ada jadwal meeting dengan siapapun," jelas Anes kemudian.
"Kenapa kamu bicara terlalu formal kepadaku?" tanya Alex .
"Sssttt, ini kan di kantor mas, aku harus tetap profesional," jawab Anes berbisik.
" Tapi, tidak ada siapa-siapa disini, kecuali kita berdua," ucap Alex.
"Ini, namanya totalitas dalam berakting," bisik Anes lagi.
"Kamu pikir kita sedang main sebuah drama?"
"Anggap saja begitu, jadi mas juga harus mengimbanginya, anggap saja mas sebagai pemeran utama laki-laki."
Alex merasa gemas dengan tingkah sang istri. Ia berdiri dan mengitari meja kerjanya dan memeluk Anes dari belakang.
"Mas, ini di kantor!" seru Anes.
"Memangnya kenapa kalau dikantor?"
__ADS_1
"Aku malu, bagaimana kalau nanti tiba-tiba ada yang lihat?"
"Tidak akan ada yang lihat, kamu lupa dinding kaca itu tidak tembus pandang kalau dari luar?"
"O iya, aku lupa. Eh tapi nanti kalau pak David lihat bagaimana? ruangnya kan di situ," ucap Anes sambil menunjuk ruangan yang dimaksud.
" Tenang, kalau dia didalam, dia juga tidak akan lihat apa-apa," sahut Alex.
"Kalau, tiba-tiba dia keluar bagaiman?"
"Biarkan saja, toh kita suami istri, kenapa harus takut seolah-olah tertangkap basah sedang melakukan sebuah dosa. Aku yakin David akan memakluminya."
"Mas Alex, walaupun kita suami istri, kita tetap harus profesional, lagian kita kan udah sepakat buat merahasiakannya."
"Tapi kan David tahu kita sudah menikah Mmm, bagus juga kalau dia lihat kita sedang bermesraan, biar dia kepingin, terus termotivasi untuk mencari seorang pacar, biar nggak jadi jomblo abadi," sahut Alex
"Tapi, dia masih normal kan? maksud aku, dia menyukai perempuan kan bukan laki-laki?" tanya Anes polos.
Mendengar pertanyaan Anes, Alex hanya terkekeh.
"Malah tertawa, aku serius tanya, jangan-jangan sebenarnya kalian...."
"Mmmphhh mas Alex," Anes berusaha melepas ciuman Alex. Tapi Alex malah memperdalam ciumannya dan karena terbawa suasana, Anes membalas ciuman Alex. Mereka saling berpagut dengan mesra, tanpa mereka sadari, sepasang mata menyaksikan kegiatan mereka dengan perasaan iri.
"Masih meragukan kalau suami kamu ini seorang pria normal hem? mau bukti lagi sekarang? ayo kita lakukan disini!" tanya Alex lembut sambil menyelipkan rambut Anes ke telinganya.
Anes menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa bersuara.
"Apa?"
" Enggak," jawab Anes singkat.
"Enggak apa?"
"Engga ragu, kalau mas laki-laki normal, tapi kalau pak David...."
"Saya juga seorang laki-laki tulen nona, saya juga menyukai wanita bukan laki-laki," sahut David yang kini tengah menyenderkan badannya di ambang pintu dengan tangan disilangkan di dada.
Anes yang mendengar suara tersebut pun kaget dan langsung menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Pak David, sejak kapan berdiri disana?"
"*S*ejak tadi Anda meragukan kejantanan saya nona, dan Anda bos, bukannya saya sengaja ingin menjadi jomblo terus, itu karena saya terlalu sibuk melayani Anda, sampai saya tidak punya waktu untuk berkencan, jadi berhentilah pamer kemesraan di depan jomblo sepertiku," David menggerutu dalam hati.
" Saya baru saja keluar dari ruangan saya nona, dan kebetulan saya mendengar nona bicara kalau bos laki-laki normal dan meragukan kalau saya juga sama, normal." David berbohong, tidak mungkin dia bilang dia melihat mereka bercumbu.
"Mmm, saya permisi ke ruangan saya dulu Pak" ucap Anes tiba-tiba sambil melepaskan pelukan Alex, ia menjadi salah tingkah.
"Tunggu!" Alex menarik satu tangan Anes.
"Ya Pak?"
"Nanti saya mau vitamin rasa strawberry," ucap Alex sambil memberikan sebuah permen rasa strawberry.
Mengerti maksud dari ucapan Alex, Anes menerima permen tersebut dengan wajah memerah. Dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Alex, tapi lagi-lagi lagi dicegah oleh Alex, karena Alex ingin memastikan sesuatu.
Alex mengamati tangan Anes, lalu dia menatap Anes dengan tatapan tajam. Seolah mengetahui arti tatapan sang suami, Anes langsung menjawabnya.
"Mmm, saya menaruhnya di tas, saya tidak mau ada yang curiga kalau saya memakai cincin kawin Pak, nanti saya akan memakainya lagi kalau sudah pulang bekerja" jelasnya.
"Dan kamu tidak meminta persetujuanku untuk melepas cincin kawin itu?" batin Alex.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak Presdir," pamit Anes sengaja menekankan dua kata terakhir dan buru-buru keluar.
Alex hanya menarik nafasnya dalam melihat punggung istrinya menghilang dari pandangannya.
"Apa?! sial!" ucap Alex sambil melemparkan bolpoin ke arah David yang sedang menahan tawanya.
"Lihat kan?!bahkan cincin pernikahannya saja sudah ia lepaskan tanpa persetujuanku, sepertinya dia sudah mempersiapkan semua aktingnya dengan matang, dan aku tidak bisa berkata tidak padanya, aku hanya bisa ikut berperan dalam dramanya, ah shit!" ucap Alex sambil meletakkan pantatnya di kursi kebesarannya.
"*K*arena Anda sekarang menjadi bucin bos," batin David.
"Jangan tertawa, suatu saat kamu pasti akan mengalaminya kalau kamu jatuh cinta nanti."
"Tapi semoga saya tidak terlalu bucin seperti Anda bos."
"O ya, ada yang ingin saya beritahukan kepada Anda bos, perihal kerja sama yang akan kita jalin dengan Wijaya corporation"
"Baiklah katakan!"
__ADS_1
💠selamat membaca, jangan lupa like vote n komennya, juga jadikan cerita ini sebagai favorit kalian ya🙏🙏🙏💠