MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 95


__ADS_3

"Mel,,," Anes memanggil lirih Amel, memastikan kalau sahabatnya itu baik-baik saja. Namun, tentu saja Amel tidak dalam keadaaan yang sedang baik-baik saja setelah apa yang terjadi.


Tangis Amel pun pecah, Anes langsung memeluk sahabatnya tersebut. Ia tidak mempedulikan penampilannya yang kini terlihat hancur dan menyedihkan akibat siraman jus strawberry tadi.


Anes terus berusaha menenangkan Amel dan meyakinkannya bahwa Dimas bukanlah yang terbaik buat dia dengan terus mengelus-elus punggung Amel.


Anes mengajak Amel ke taman biasa tempat Amel menghabiskan waktunya jika sedang bersedih. Kebetulan letak taman tersebut tak terlalu jauh dari cafe. Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman.


"Udah Mel, jangan nangis terus. Orang seperti Dimas tidak pantas kamu tangisi. Sayang air matamu kalau harus terbuang sia-sia hanya untuk laki-laki brengsek seperti dia," Anes terus mencoba menghibur Amel.


"Aku nggak nyangka Nes, selama ini dia membohongi aku. Aku terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kebusukannya. Pantas, selama ini dia tidak pernah menunjukkan keseriusannya padaku," sahut Amel dengan derai air mata.


"Aku tahu bagaimana perasaan kamu Mel, tapi setidaknya kita harus bersyukur, semuanya terungkap sebelum hubungan kalian melangkah lebih jauh lagi. Karena pasti akan lebih menyakitkan jika hubungan kalian sudah sampai tahap yang serius," ucap Anes menggenggam tangan Amel.


"Kamu benar Nes. Tapi, yang paling membuat aku sakit adalah ternyata aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang Nes. Predikat pelakor kini ada dalam diriku Nes, bagaimana bisa aku menjadi seorang pelakor Nes. Aku sangat benci dengan pelakor karena papaku di rebut oleh wanita lain. Tapi aku? malah menjadi perebut suami orang. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan anaknya jika tahu ayahnya selingkuh dengan wanita lain, dan orang itu adalah aku Nes! aku!. Aku malu pada diriku sendiri, malu pada semuanya Nes. Rasanya pengen mati saja," tangis Amel kembali pecah.


"Ssstt kamu nggak boleh ngomong seperti itu Mel! ini semua bukan salah kamu. Kamu tidak tahu kalau selama ini Dimas sudah memiliki istri dan anak. Jadi, kamu tidak sengaja menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Kamu masih punya aku, mama kamu dan juga kak Aksa yang menyayangi kamu Mel, jadi berhenti menyalahkan diri sendiri apalagi berpikiran untuk mati hanya gara-gara laki-laki tidak tahu diri itu. Apa kamu tidak menganggap kamu Mel? apa kamu tidak sayang sama kami?" Anes memeluk Amel.

__ADS_1


Anes tidak heran juga jika Amel merasa sangat sedih dan kecewa, kalau ia berada di posisi Amel, di tuduh sebagai pelakor, tidak! tidak hanya dituduh tetapi memang menjadi pelakor secara tidak sengaja, dia juga pasti akan seperti Amel bahkan mungkin lebih parah lagi. Pasalnya, selama ini prinsip kedua sahabat tersebut, walaupun di dunia ini sudah tidak ada laki-laki lajang lagi, lebih baik mereka jomblo seumur hidup dari pada harus menjadi orang ketiga. Amel sangat menjunjung tinggi prinsipnya tersebut.


"Sebentar, aku beliin kamu minum dulu ya," Anes melepas pelukannya dan membeli minuman untuk Amel. Penampilan Anes yang jauh dari kata rapi tersebut, bisa di bilang mengenaskan dengan rambut yang lengket dan juga baju yang sangat kotor menjadi pusat perhatian sepanjang jalan menuju penjual minuman. Siapa sangka perempuan yang oleh para pengunjung taman itu dikira perempuan tidak waras adalah istri seorang Alex Abraham Parvis.


Amel menyadari kondisi Anes yang menjadi perhatian banyak orang karena penampilannya yang tidak karuan menjadi semakin merasa bersalah. Amel tak habis pikir bagaimana bisa Anes rela di maki dan di hina oleh istrinya Dimas, ia mengaku dirinya sebagai Amel dan menerima semua kata-kata kasar dari wanita itu.


"Ini Mel minum dulu, biar sedikit lebih tenang," Anes menyodorkan kan air mineral kepada Amel.


"Makasih," Amel menerimanya dan langsung meminumnya. Dan benar, dia sedikit lebih tenang setelah minum.


"Nes, aku minta maaf, gara-gara aku tadi kamu jadi sasaran kemarahan wanita itu. Dia pikir kami adalah aku, seharusnya tadi aku yang diperlakukan seperti itu, bukan kamu. Kamu nggak salah sama sekali tapi malah jadi kambing hitam. Harusnya tadi bilang saja kalau Amel itu aku ,kenapa kamu mencegah aku waktu aku mau bilang yang sebenarnya sama dia," terlihat jelas dari mata Amel, kalau dia sangat merasa bersalah kepada Anes.


"Nes, sebaiknya kamu pulang aja, kamu pasti udah tidak nyaman banget kan karena siraman jus tadi. Pulanglah dan bersihkan diri kamu. Aku masih ingin di sini, sendiri," ucap Amel kemudian.


"Nggak Mel, aku mau nemenin kamu kalau kamu masih mau di sini, aku nggak masalah kok sama penampilanku sekarang. Cuek aja kali," sebenarnya Anes juga tahu saat ini Amel mungkin butuh waktu untuk sendiri. Tapi, ia masih belum tega untuk meninggalkan sahabatnya tersebut sendirian dalam kondisi yang sedang hancur hatinya.


"Nggak papa Nes, aku benar-benar sedang ingin sendiri sekarang," Amel mencari alasan supaya Anes mau pulang karena ia juga tak tega melihat Anes menjadi bahan olokan orang karena kacaunya penampilannya saat ini.

__ADS_1


"Tapi Mel?"


"Nes please! aku pengen sendiri dulu," Amel memohon.


"Baiklah kalau begitu, tapi kamu jangan berbuat macam-macam ya? dan kalau ada apa-apa cepat hubungi aku," pesan Anes kepada Amel sebelum ia meninggalkan sahabatnya itu.


"Iya iya, aku masih bisa berpikir jernih kok, tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh," sahut Amel.


Anes meninggalkan Amel sendiri di taman, ia menyetop taksi yang lewat dan langsung masuk ke dalam taksi tersebut. Sopir taksi tidak langsung menjalankan taksinya karena tidak yakin dengan penampilan Anes.


"Jangan-jangan dia orang gila. Kalau benar pasti tidak punya uang untuk bayar," batin sopir taksi sambil melirik Anes dari kaca yang ada di dalam taksi tersebut.


Anes menyebutkan alamat rumahnya membuat sopir taksi semakin bingung.


"Itu kan kawasan elite, bagaiman mungkin nona ini tinggal di sana," batin sopir taksi.


"Tidak usah khawatir pak, saya bukan orang gila kok, hanya saja tadi ada insiden kurang menyenangkan yang membuat penampilan saya seperti ini. Tolong antarkan saja saya ke alamat tadi," ucap Anes yang menyadari gelagat aneh dari sopir taksi.

__ADS_1


"Ba baik nona," sahut sopir taksi dan langsung melajukan taksinya menuju ke alamat yang di maksud.


🌼🌼🌼


__ADS_2