
Dua hari kemudian..
David yang merasakan kalau akhir-akhir ini Amel cuek terhadapnya mulai resah. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya yang dia sendiri tidak tahu apa itu.
"Ah shit!! harusnya aku senang kalau dia tidak merecoki aku lagi, tapi kenapa rasanya aneh begini? Lagian dia kenapa juga menghindari aku? Apa salahku?" gerutu David yang memikirkan perubahan sikap Amel.
Pernah ia ingin mengajak Amel makan siang bareng dengan Dila, tapi Amel menolak. Alhasil David pun membatalkan makan siang di luarnya bersama Dila, tanpa sepengetahuan Amel tentunya.
Sebenarnya David, sudah merasa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hatinya, ia akan senang jika melihat Amel tertawa lepas, dan merasa sakit jika melihat wanita itu bersedih, apalagi jika kesedihan Amel di sebabkan oleh sikapnya yang cuek ataupun kasar.
Karena kesibukannya menangani kerja sama dengan tuan Yokohama , David mengesampingkan perasaan yang menurutnya aneh tersebut, di fokus terhadap pekerjaan.
Namun, apa yang Amel pikirkan adalah dia pikir David benar-benar tidak peduli dengannya, Amel pikir David sibuk pedekate dengan Dila, tidak berniat untuk mengingatnya kembali. Jadi dia lebih memilih untuk menghindari David.
Amel mengetuk pintu ruangan David, dengan ragu-ragu membuka pintu dan melihat David sedang duduk di ruangannya sambil memegang beberapa berkas di tangannya.
"Maaf apa aku mengganggu?" tanya Amel.
"Masuklah," perintah David.
Entah kenapa, David merasa senang saat tahu Amel yang mengetuk pintu ruangannya. Setelah beberapa hari menghindar, ia pikir Amel sudah kembali lagi seperti biasanya.
"Aku ke sini cuma mau mengembalikan ini," ucap Amel sambil menaruh kartu ATM yang pernah David kasih kepadanya.
"Apa ini?" David mengernyitkan dahinya.
"Ini kartu ATM yang pernah kamu kasih ke aku, maaf kalau kamu lupa, tapi beneran aku tidak mengambilnya dalam artian mencurinya. Kamu sendiri yang waktu itu kasih ke aku, aku juga tidak menggunakannya selama kamu lupa sama aku," ucap Amel lirih.
"Terus kenapa di kembalikan?" tanya David menginterogasi.
"Karena aki pikir emang seharusnya aku kembalikan kepada pemiliknya. Waktu itu kamu kasih aku karena kamu masih pacar aku, dan aku sedang butuh uang, sedangkan uangku di pinjam embak, aku udah mau minta mama, tapi kamu melarang dan ngasih itu," jawab Amel jujur.
"Apa dia mencoba bilang kalau sekarang aku bukan pacarnya?" batin David mulai kesal.
"Sudah tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan, aku permisi dulu," ucap Amel lalu membalikkan badannya. Ia tak ingin lama-lama di sana. Takutnya tidak akan tahan godaan, karena sosok laki-laki di depannya itu begitu ia rindukan.
"Bawa kartu itu kalau kamu keluar!" ucap David dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Tidak, itu punya kamu bukan punyaku!" Amel menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya.
David langsung berdiri dan meraih pergelangan tangan Amel. Ia menarik Amel ke dalam pelukannya.
"Dave lepaskan!" Amel mencoba melepaskan pelukan David.
"Diamlah!" bentak David yang merasa kesal karena Amel sepertinya ingin menyerah dalam menunggunya. Dan itu membuat David kecewa.
"Lepaskan atau aku akan teriak," ancam Amel.
"Kenapa? bukannya kamu senang jika di peluk aku? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kau merindukan aku? Kenapa sekarang menghindar?" ucap David.
"Bukan aku yang menghindar, tapi kamu yang menjauh dariku Dave, Kamu yang selalu cuek dan tidak peduli denganku, seberapapun aku berusaha, kamu cuek. Kamu yang mendorongku untuk pergi dari hati kamu. Jadi lepaskan aku Dave!" berontak Amel.
Akhirnya David melepaskan pelukannya.
"Makan sianglah denganku nanti," ucap David
"Tidak terima kasih, aku udah ada janji makan siang sama teman," sahut Amel.
"Teman? perempuan? Nona Anes?"
"Apa dia sudah mendapatkan pengganti aku, makanya dia tidak peduli lagi denganku? Ah shit!! perasaan ancam apa ini, kenapa aku masih belum ingat,". David mengusap wajahnya kasar. Ingin sekali ia membenturkan kepalanya sendiri di tembok.
πΌπΌπΌ
Saat makan siang tiba, Aldo menepati janjinya, ia akan mengajak Amel makan siang. Seperti biasa, ia datang dengan hoodie dan juga masker, membuat yang melihatnya menatap curiga.
"Aldo, kenapa kamu berpakaian seperti itu sih aneh tahu nggak?" tanya Amel yang baru saja keluar menuju loby di mana Aldo menunggunya.
"Biar nggak ada yang ngenalin aku Mel, di mana pacar kamu? apa kita tunggu dia melihat kita?" tanya Aldo.
"Tidak perlu, ayo cabut!" ajak Amel menarik lengan Aldo.
Di depan kantor, Amel dan Aldo berpapasan dengan Juna.
"Pak Juna?"
__ADS_1
"Hai Mel," sapa Juna.
"Pak Juna kenapa ke sini?" tanya Amel.
"Kebetulan tadi aku lewat, jadi sekalian mampir buat ketemu Alex," jawab Juna. Ia melirik ane ke arah Aldo yang menurutnya aneh dan misterius.
"Dia tonggos atau bagaiman pakai masker segala," batin Juna.
Amel yang sadar masih memegang tangan Aldo langsung melepaskannya.
"Eh kenalin, ini Aldo teman saya pak," Amel memperkenalkan Aldo kepada Juna.
"Kalau bosan dengan David, kenapa tidak datang ke saya saja Mel, malah cari orang aneh begini," bisik Juna di telinga Amel.
"Dia cuma teman pak," balas Amel.
Mereka pun mengobrol sebentar. Aldo yang memang supel orangnya bisa dengan cepat beradaptasi dengan obrolan Amel dan Juna. Dia melepaskan masker yang ia kenakan supaya lebih nyaman mengobrol dengan Juna dan Amel.
Dari dalam loby, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka, siapa lagi kalau bukan David. Ia berkali-kali mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan di depannya, melihat Amel yang di kelilingi dua laki-laki tampan yang, mereka saling bergurau.
"Ya udah, nikmati waktu makan siang kalian, aku mau ke dalam dulu," ucap Juna.
"Nggak sekalian makan bareng aja?" tanya Amel, pikirnya makin rame makin seru, jadi dia akan lebih terhibur lagi dan lupa masalah David.
"Tidak, terima kasih," sahut Juna sambil berjalan dan melambaikan tangannya.
"Tuan Juna," sapa David menyembunyikan kekesalannya.
"Dave, Alex ada kan?" tanya Juna
"Ada tuan, bos sedang di ruang istirahatnya," jawab David tanpa mengalihkan pandangannya dari Aldo.
"Baiklah, Belum juga ingat Amel? Aku sarankan, cepat bertindak, lihat tuh Amel udah dekat aja sama laki-laki lain. Tidak selamanya dia bisa menunggu Dave, ada kalanya ia akan lelah," ucap Juna menepuk pundak David lalu meninggalkannya.
Tanpa ragu lagi, David segera menuju mobilnya untuk menyusul Amel dan Aldo yang sudah pergi.
David berencana untuk mengikuti mereka secara diam-diam. Sungguh ia sangat penasaran sekali dengan dua orang tersebut. Apa hubungan diantara keduanya, mereka akan pergi kemana, dan apa yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
πΌπΌπΌ
π jangan lupa like n votenya di setiap chapter, yang nuntut up terus jangan lupa votenya juga ya, terima kasih πππ