MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 55


__ADS_3

Setelah duet maut yang Alex dan Anes lakukan, kini giliran acara dansa. Lagi-lagi, Alex dan Anes mampu menyedot perhatian para tamu undangan. Mereka menganggap bahwa Alex dan Anes pasangan yang sangat serasi. Bahkan para tamu ikut berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Suasana pun menjadi meriah.


Acara dansa telah usai, kini tinggal acara santai. Para tamu dapat bercengkerama dan bersantai sambil menikmati hidangan yang di sediakan.


Alex dan Anes tampak sedang asyik berbicara, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.


"Tuan Alex, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin saya bicarakan sebentar, ini soal kerja sama yang telah saya ajukan," ucap orang tersebut.


Alex menatap Anes, meminta persetujuannya. Anes mengangguk tanda mempersilahkan, kemudian Alex meninggalkan Anes sendiri lagi.


Saat Anes sedang mengambil minum, ada seorang laki-laki menghampirinya.


"Salsa, ini benar kamu kan? Aneska Salsabila Putri," sapa laki-laki itu.


Anes menoleh dan kaget melihat siapa yang menyapanya.


"Kak Reyhan?"


"Iya, ini aku Rangga Sanjaya Wiraguna. Dari tadi aku memperhatikan kamu, ternyata benar kamu Salsa."


"Duh kebetulan apalagi ini, kenapa kak Reyhan juga ada disini, sebenarnya ini acara pesta amal atau reuni SMA sih, tadi Jesica sekarang kak Reyhan,"


Rangga adalah kakak kelas Anes waktu SMA, mereka dulu sangat dekat, sampai-sampai banyak teman mereka yang mengira mereka pacaran. Tapi kenyataannya mereka hanya berteman. Sebenarnya dulu mereka saling suka, tapi mereka tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Rangga yang notabennya anak orang kaya telah dijodohkan dengan anak rekan bisnis orang tuanya. Orang tua Rangga tidak menyukai Anes yang anak seorang pegawai negeri, menurut mereka dia tidak sepadan dengan putra mereka. Rangga hanya menurut kepada kedua orang tuanya, sehungga dia tidak pernah mengungkapkan cintanya kepada Anes. Begitupun Anes, dia hanya menunggu dan menunggu ditembak oleh Rangga tapi tak pernah terjadi. Hingga Rangga lulus sekolah dan melanjutkan kuliahnya di Singapura bersama gadis yang dijodohkan dengannya. Anes sangat kecewa dan sejak saat itu, Anes memupus perasaannya sebelum terlalu dalam.


"Kak Rangga apa kabar?" tanya Anes.


"Aku baik, sangat baik. Apa kamu tahu aku dan Chintya tidak jadi menikah, dia mengkhianati aku dan lebih memilih laki-laki lain. Sejak saat itu orang tuaku tidak pernah lagi mempermasalahkan siapa perempuan yang akan aku nikahi," ucap Rangga.


"Apa gunanya kamu menjelaskan itu semua kepadaku, dulu saja kamu pergi tanpa pamit, kamu tidak mau memperjuangkan perasaanmu buatku."


"Oh aku turut prihatin ya kak, dengan apa yang menimpa kak Rangga, semoga kak Rangga mendapat istri yang lebih baik lagi, atau kak Rangga sudah menikah sekarang?". Sebenarnya Anes malas meladeni Rangga, tapi biar bagaimanapun dulu mereka pernah dekat walaupun setatus mereka hanya berteman.

__ADS_1


"Aku malah senang tidak jadi menikah dengannya, tentunya kamu tahu siapa perempuan yang aku sukai kan? Dan rasa itu sampai sekarang tidak berubah Salsa," Rangga memang sering memanggilnya Salsa daripada Anes.


"Maaf kak, aku tidak tahu, kak Rangga tidak pernah bilang siapa yang kakak suka." ucap Anes acuh.


"Memang semua salahku Salsa, aku memang pecundang yang tidak berani mengungkapkan perasaanku, tidak berani memperjuangkan cintaku," Rangga merutukinya dirinya sendiri.


"Hah sangat terlambat kami bilang begitu, sudah tidak ada gunanya lagi," batin Anes.


"Sudahlah kak, itu semua masa lalu, dan sekarang seperti yang kak Rangga dengar tadi di acara lelang kalau aku sudah menikah, dan tolong panggil aku Anes kak, jangan panggil aku dengan salsa lagi," ucap Anes sambil memperlihatkan cincin kawin yang terpasang di jari manisnya.


"Aku berharap semua itu tidak benar, aku berharap masih memiliki harapan untuk memperjuangkan hubungan kita Salsa," Reyhan meraih tangan Anes.


Anes dan Rangga tidak menyadari bahwa dari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan penuh amarah dan rasa cemburu. Siapa lagi kalau bukan Alex, dia tidak fokus dengan obrolannya dan rekan bisnisnya. Justru dia fokus terhadap dua orang yang sedang berbicara tentang masa lalu tersebut.


"Siapa laki laki-laki itu, apa Anes mengenalnya, mereka kelihatan begitu akrab apa yang mereka bicarakan, kurang ajar! berani sekali laki-laki itu memegang tangan Anes, akan aku patahkan tangan yang berani menyentuh istriku itu," batin Alex. Ia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. Kalau saja dihadapannya buka klien penting, Alex akan meninggalkannya dan menghampiri Anes untuk memberi pelajaran laki-laki itu. Tapi untungnya dia masih bisa berpikir waras, kalau mereka sedang berada di tempat ramai, jadi tidak mungkin untuk menghajar laki-laki itu.


Anes segera menepis tangan Rangga.


"Satu lagi, jangan pernah panggil aku dengan salsa lagi, aku tidak ingin orang curiga tentang adanya hubungan spesial antara kita," imbuh Anes


Rangga hendak mengejar Anes tapi sayang ia sudah di hadang oleh David.


"Maaf tuan, tolong jaga sikap Anda, nona Anes sudah memiliki suami sekarang dan Anda dengar kan tadi, dia sangat mencintai suaminya," rupanya David mendengar percakapan Anes dan Rangga. Awalnya dia khawatir, tapi mendengar jawaban Anes, David malah senang karena dia semakin yakin kalau cinta Alex tidak bertepuk sebelah tangan.


Rangaa pun mengurungkan niatnya untuk mengejar Anes.


Anes menuju ke toilet untuk menenangkan diri.


Rania ternyata sengaja mengikuti Anes. Ia menghampiri Anes ketika Anes sedang melihat pantulan dirinya dalam cermin yang ada di toilet.


"Bagaiman pernikahanmu dengan Alex," tanya Rania tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh mama, pernikahan kami baik-baik saja kok ma," jawab Anes.


"Jangan panggil aku mama, muak!" batin Rania.


"Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" Lanjut Rania.


"Iya ma, mas Alex memperlakukan Anes dengan sangat baik, dia begitu perhatian dan hangat," sahut Anes.


"Kamu jangan senang dulu Anes."


"Apa sih maksudnya, aku nggak ngerti."


"Maksud mama?"


Rania mengeluarkan sebuah photo dari tasnya. Di photo tersebut Alex tampak sedang memeluk seorang perempuan, sayang perempuan tersebut hanya kelihatan bagian belakang saja, karena dia membelakangi kamera. Di photo tersebut sangat jelas terlihat Alex sangat bahagia, dia memeluk perempuan tersebut dengan tersenyum.


"Lihat ini, ini adalah photo Alex dengan pacar pertamanya, kamu harus tahu kalau Alex itu dulu sangat mencintai kekasihnya, karena salah paham mereka akhirnya berpisah, Alex sangat terpukul makanya dia pergi ke Australia. Sampai saat ini pun pasti Alex masih mencintai mantan kekasihnya, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersama mantan kekasihnya. Dia memperlakukan kamu dengan baik, bukan berati dia mencintai kamu, dia hanya tidak ingin menyakiti perasaan kamu. Aku hanya mengingatkan kamu supaya kamu tidak berharap lebih pada Alex. Aku tidak ingin kamu terluka kalau nanti Alex meninggalkan kami dan memilih kembali bersama perempuan yang ia cintai," ucap Rania memprovokasi.


"Jleb!" hati Anes serasa di hunus oleh sebuah pedang berkarat. Sakit sekali mendengar ucapan mertua tirinya itu.


"Mama tahu dari mana," Anes masih mencoba tegar.


"Tentu saja aku tahu, bagaimanapun juga aku kan namanya, semua tentang Alex pasti aku tahu," jawab Rania.


"Tapi kan hubungan kalian tidak baik."


"Percayalah Nes, aku hanya tidak ingin kamu terluka, jadi jangan terlalu berharap pada pernikahan kalian."


"Mungkin mama Rania benar, buktinya mas Alex tidak pernah bilang mencintaiku," air mata mulai lolos dari mata Anes.


"Maaf ma, Anes permisi dulu," Anes meninghalkan Rania karena dia tidak ingin menangis di depan mertua tirinya tersebut. Rania tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memprovokasi Anes, menurutnya.

__ADS_1


Anes terus berlari dengan air mata yang sudah tidak dapat di bendung lagi.


__ADS_2