MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 176


__ADS_3

Selesai makan siang, mereka bertiga pergi ke rumah sakit.


"Mel masuklah duluan, aku mau ke toilet sebentar," ucap Anes begitu turun dari mobil.


"Perlu aku temenin Nes?" tawar Amel.


"Biar saya yang menemaninya, kamu masuklah duluan!" ucap Alex.


"Baiklah kalau begitu, aku masuk duluan," Amel lalu berjalan masuk ke rumah sakit sementara Anes menuju ke toilet di temani oleh Alex.


Sesampainya di depan ruang perawatan David, Amel membuka pintu dengan pelan, takutnya David sedang tidur, dan benar saja laki-laki itu sedang memejamkan matanya.


Sebenarnya dia David tidak tidur, tapi karena dia tahu ada seseorang yang akan masuk, ia pura-pura tidur, karena dia pikir itu perawat yang akan memaksanya minum obat.


Amel meletakkan tasnya di meja lalu mendekati David.


"Gantengnya pacarku ini kalau lagi tidur," gumam Amel.


"Kenapa makanannya nggak di makan sih? apa dia nggak pengen cepat sembuh," gumamnya lagi setelah menoleh di atas nakas ada jatah makan siang David yang masih utuh.


"Sial ternyata bukan suster, tapi Amel,". batin David yang masih pura-pura tidur.


Amel menarik kursi di bawah brankar David dan mendudukinya.


"Kenapa Anes dan pak Alex lama sih cuma ke toilet doang, jangan-jangan pak Alex menagih hutang Anes tadi di toilet lagi? Aduh nih otak ya, mikirnya ngeres minta di sapu sepertinya," Amel mengetuk-ngetuk pelan kepalanya sendiri. Merutuki pikirannya yang tidak-tidak.


Terang saja Anes dan Alex lama sampainya, setelah dari toilet, mereka tidak langsung masuk. Anes mengajak Alex ke taman yang ada di rumah sakit tersebut, dia ingin memberikan waktu untuk Amel dan David lebih lama lagi. Mereka sedang duduk di bawah pohon rindang dengan posisi Anes duduk dan Alex tiduran di atas pahanya sambil mengajak anak dalam kandungan anda terus mengobrol.


Amel kembali fokus melihat wajah sang kekasih, ia sangat gemas sekali melihatnya. Tak tahan melihat bibir David yang menurutnya melambai-lambai untuk di cium itu.


"Jangan bangun ya yang, jangan bangun," gumam Amel sembari mendekatkan bibirnya ke bibir David.


Cup! satu kecupan mendarat sempurna di bibir David. David yang kaget dengan kelakuan Amel mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak berdisko ria tersebut.


"Apa? dia menciumku! Beraninya dia!" umpat David dalam hati, tapi anehnya dia tidak merasa marah dengan Amel.


"Ini aneh, sungguh aneh! Harusnya aku marahi dia karena berani menciumku diam-diam, perasaan apa ini, sungguh aneh!" batin David.


Karena David tidak bereaksi, itu tandanya ia masih tidur pulas, pikir Amel. Dia kembali mendekatkan bibirnya ke bibir David, namun kali ini David membuka matanya tepat saat Amel mendaratkan bibirnya di bibir David.


Refleks, David mendorong tubuh Amel hingga jatuh ke lantai.


"Aw!! pekik Amel meringis.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya David merasa bersalah karena mendorong Amel terlalu kuat.


"Gila kamu Dave, pacar sendiri di dorong sampai jatuh," ucap Amel mencoba bangun.


David ingin membantu Amel bangun, namun apa daya, luka di perutnya menghalanginya untuk bergerak bebas. Alhasil, dia hanya melihat gadis yang menurutnya mengaku-ngaku sebagai pacarnya itu bangun sendiri.


"Siapa suruh mencium saya tanpa permisi, ini aset, tidak bisa sembarangan di obral," ucap David sambil menunjuk ke arah bibirnya.

__ADS_1


"Terus kalau aku permisi dulu minta ijin, bakalan kam ijinin gitu? enggak kan?"


"Tentu saja enggaklah, emang kamu siapa seenaknya nyium orang," kesal David. Lagi-lagi ia merasa aneh, bahkan kekesalannya hanya sebatas di bibir saja, namun hatinya menolak untuk marah. Bahkan ia seperti merindukan kecupan bibir Amel tersebut.


"Pakai tanya lagi, aku pacarmu, pa car kamu Dave, lagian biasanya kamu yang selalu nyosor aku Dave, sekali-kali bolehlah aku duluan," sahut Amel.


"Berhenti omong kosong Mel," sahut David tak terima dengan ucapan Amel.


"Ya sudahlah, lupakan! Itu jatah makan siang kamu kan? Kenapa nggak di makan?" Amel mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin berdebat dengan David tentang hubungan mereka, biarlah semua berjalan sesuai alurnya, pikir Amel.


"Saya tidak lapar!" sahut David.


"Makanlah, biar cepat sembuh, aku suapi ya?" tawar Amel.


"Tidak perlu, saya bisa makan sendiri nanti!" jawab David.


"Gerak aja susah begitu, cepat sini aku suapi, jangan protes!" Amel meraih nampan di atas nakas.


Seperti terhipnotis, David hanya menurut saja ketika Amel menyuruhnya membuka mulutnya.


"Aku tahu Dave, dalam pikiranmu mungkin aku sedang jalan-jalan berkelana , tapi dalam hatimu aku masih stay di sana. Masih menempatinya," senyum Amel dalam hati.


Tiba-tiba David ingat kalau itu masih jam kerja, ia menatap Amel dengan tajam.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu ingat sesuatu tentang kita?" tanya Amel berharap.


"Ini masih jam kerja, kenapa kamu malah kelayapan ke sini? sudah bosan kerja di Parvis group? apa mau aku buatkan surat peringatan?" ucap David dingin.


"Jadi dia kesini karena disuruh nona? Bukan kemauannya sendiri?" batin David semabri membuang nafas kecewa.


"Aku tahu, pengaruhmu di Parvis group sangat besar, kamu orang nomor dua di sana, tapi ingat ada yang lebih berkuasa dari kamu dan pak Alex. Kalau Anes udah membuka mulutnya bicara, kalian bisa apa? bahkan pak Alex sendiri tidak saja bisa menolaknya. Aku jelaskan ya, tadi aku di ajak makan siang sama Anes, habis itu dia minta aku ke sini sama dia dan juga pak Alex. Aku kesini nggak sendiri tapi sama mereka. Mereka bilang mau ke toilet dulu tapi nggak tahu sampai sekarang nggak sampai-sampai, nyasar ke planet lain kali. Jadi kalau mau pecat, pecat saja Anes jadi istri bos kamu!" kesal Amel.


"Biasa aja dong ngomongnya nggak usah pakai urat!" sahut David. Dia tidak menyalahkan apa yang di katakan Amel, karena kenyataannya memang begitu.


"Lagian bos itu lagi bucin-bucinnya makanya begitu," lanjut David.


"Eleh, kamu juga sama kayak pak Alex, cuma lagi amnesia aja makanya dingin kayak gini. Tapi kalau nggak sedang lupa, kamu itu sedang OTW bucin juga sama aku, cepat ini makan lagi," Amel kembali menyodorkan bubur ke mulut David.


Mendengar kalau dia bucin, rasanya David ingin muntah. Apa benar dia seperti itu. Ah, memalukan, pikirnya.


"Mel, jangan di aduk-aduk begitu buburnya, jadi enek saya lihatnya, bikin tambah nggak selera untuk makan," ucap David.


"Sorry Dave, ini minum dulu," Amel menyodorkan air putih kepada David.


David hendak menerimanya, namun Amel langsung bilang," biar aku bantu minumnya,"


Amel membantu meminumkan air putih tersebut kepada David. David merasa tersentuh dengan perhatian yang di berikan oleh Amel, walaupun gadis itu absurd menurut David, tapi ada poin tersendiri yang menarik darinya.


Perawat datang membawa obat untuk David, David melihatnya dengan wajah malas.


"Habis makan minum obatnya ya tuan David," ucap suster tersenyum ramah.

__ADS_1


"Hem," sahut David acuh.


"Habisin makannya Dave, terus minum obat," ucap Amel.


"Udah Mel, aku udah kenyang, enek juga lihat buburnya udah abstrak begitu bentuknya," tolak David.


"Bubur ya begini Dave bentuknya," sahut Amel santai sambil meletakkan mangkuk ke atas namanya yang ada di nakas.


Kemudian, Amel membuka obat yang di berikan perawat dan meraih air putih dengan tangan yang satunya.


"Mau aku gerus lagi obatnya?" tanya Amel.


"Tidak usah, malah tidak enak rasanya kalau di gerus," jawab David


"Terus?"


"Entahlah, aku tidak ingin meminumnya, suruh perawat memasukkannya ke dalam cairan infus saja,"


"Yang lewat infus udah ada sendiri Dave, ini yang harus di telan dengan mulut," timpal Amel.


"Ya udah kamu minum aja sendiri obatnya, tanpa obat itu aku juga akan sembuh," David mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Sungguh ia merasa malu, udah setua itu masih saja bertingkah seperti anak kecil hanya untuk urusan minum obat. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang tidak bisa. Bukankah setiap manusia memiliki kelebihan dan juga kekurangan masing-masing.


Amel gemas rasanya, melihat tingkah David yang seperti anak kecil tersebut. Bagi David memalukan, tapi baginya itu sangat imut.


"Obat-obat ini harus di minum supaya kamu cepat sembuh, emang mau lama-lama di rumah sakit? Aku akan bantu kamu, tapi apapun caraku, kamu tidak bisa protes, hanya boleh menerima dan menikmatinya," ucap Amel.


David mendadak merinding mendengar ucapan Amel, kenapa dia harus menikmatinya, apa yang akan di lakukan perempuan di depannya ini.


"Jangan macam-macam Mel,"


"Tidak, kamu pejamkan saja matamu," perintah Amel.


"Kamu mau ngapain?"


"Turuti saja kataku, daripada drama obat ini lama," ucap Amel.


Dengan ragu David memejamkan matanya.


Amel melakukan aksinya seperti waktu ketiak David sakit dulu, dia memasukkan obatnya ke dalam mulutnya dan memaksa memasukkannya ke bibir David sambil berciuman.


Sontak David membuka matanya bulat-bulat karena terkejut. Amel memaksanya membuka mulutnya dan karena terbawa suasana David pun membuka mulutnya, Amel tidak memberikan celah kepada David untuk bernapas, hingga obat-obat itu berhasil masuk.


Di pintu ada sepasang mata yang menatap adegan minum obat yang aneh itu sambil berdecak geleng-geleng kepala. Ya, dia adalah Alex, yang baru saja masuk bersama Anes. ketika mereka masuk dan melihat Amel dan David sedang berciuman panas, Alex langsung menarik Anes yang kaget ke dalam pelukannya. Di benamkannya wajah sang istri di dadanya, ia tak ingin Anes melihatnya, tak ingin mata indah sang istri ternodai. Tapi dia sendiri? Melihatnya sambil terus berdecak dan geleng-geleng kepala, kakinya Pelan-pelan mendorong pintu supaya tidak mengagetkan dua insan yang sedang asyik tersebut.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


nih aku kasih visual babang David tercinta, biar semakin mulus ngehslunys. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi kalian, karena sampai detik ini masih belum nemu yang cocok. Pak David terlalu spesial..wkwkwk. pasti ada yang banding-bandingin dengan pak Alex habis ini ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…Jangan lupa like n votenya, udah author kasih bonus visual pak David loh ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜



__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2