
Sepanjang jalan menuju ke rumah, Anes hanya diam tanpa bersuara. Alex mengira bahwa istrinya tersebut masih kepikiran masalah Amel, sehingga ia tidak menanyakan apapun pada sang istri.
Malam pun tiba, namun Anes masih saja banyak diam tidak seperti biasanya. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Alex yang baru saja keluar kamar mandi langsung menghampiri Anes.
"Kenapa di luar? di sini kan dingin," ucap Alex sambil memeluk Anes dari belakang.
"Nggak papa mas, lagi lihatin bintang aja," sahut Anes seadanya.
"Ya udah yuk masuk di sini dingin," Alex semakin mengeratkan pelukannya.
Mereka pun masuk ke dalam kamar. Alex duduk bersila di atas tempat tidur yang berukuran king size itu. Sedangkan Anes duduk menyerong dengan kaki menapak ke lantai.
"Mas sepertinya aku ingin berhenti bekerja," ucap Anes.
"Yang bener? kamu enggak sedang bercanda kan?" tanya Alex sangat antusias, ia langsung mengubah posisi duduknya.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda? Tunggu, kenapa mas kelihatan girang sekali mendengar aku mau resign?" Anes menatap Alex curiga.
"Enggak bukannya gitu sayang, tapi kenapa tiba-tiba kamu mau resign? Bukannya kamu sendiri yang bilang, walaupun sudah menikah ingin tetap bekerja?"
"Aku pikir-pikir, buat apa aku bekerja kalau uang suamiku aja unlimited begini," jawab Anes sambil tersenyum.
Sebenarnya sejak tadi pulang dari taman, Anes sudah memikirkan hal itu. Mungkin dengan berhenti bekerja dia bisa lebih cepat hamil. Dan malam ini ia memantapkan keputusannya untuk berhenti bekerja. Entah untuk sementara atau selamanya.
"Yes! Akhirnya dia mau berhenti bekerja juga, udah lama aku menunggu kata-kata itu," batin Alex senang.
"Hahaha kamu benar sayang, bukankah mas udah bilang dari dulu sama kamu, enggak usah bekerja, bukannya apa-apa, kamu itu nyonya muda Parvis, tidak bekerja pun tidak akan kekurangan. Mau minta di belikan pulau pin mas sanggup," ucap Alex bangga.
"Ck. Dasar!" Anes melempar bantal ke wajah Alex.
"Haha, tapi mas jadi nggak bisa lihat wajah kamu setiap hari di kantor," pura-pura sedih.
"Kan di rumah juga ketemu mas? sampai kapanpun mas tetap Presdir kesayanganku," ucap Anes sambil memeluk Alex.
"Semoga keputusanku ini yang terbaik," batin Anes.
"Ya udah, sekarang tidur yuk udah malam," ajak Alex dan di iyakan oleh Anes.
Setelah Anes terlelap, Alex pelan-pelan turun dari tempat tidur menuju ke balkon. Di sana ia tampak menghubungi seseorang.
"Hem, baiklah. Lakukan sesuai yang aku perintahkan. Buat laki-laki itu jera!" ucap Alex sebelum mengakhiri panggilannya.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya, di kantor Dimas. David datang di ikuti beberapa orang berbadan tegap.
__ADS_1
"Lihat! itu bukannya asisten pribadinya Presdir Parvis Group?" tanya seorang karyawan berbisik.
"Iya, apa yang membuat beliau datang ke perusahaan kecil seperti ini? Enggak mungkin kan mau menjalin kerja sama dengan perusahaan ini?" sahut yang lain.
"Ya nggak mungkinlah, perusaahan ini bukan level mereka," yang lainnya ikut menyahut.
"Tapi ekspresinya menegangkan, serem!"
Tanpa permisi David langsung menuju ke ruangan Dimas selaku pemilik perusahaan tersebut.
"Pa pak David?" Dimas bangkit dari duduknya. Ia tampak gugup.
"Sudah aku duga, ini pasti akan terjadi. Tapi, aku tidak menyangka akan secepat ini," batin Dimas.
"Anda tahu kan, apa konsekuensinya karena telah membuat perkara dengan istri tuan muda Parvis?" ucap David dingin.
"Sa saya tahu Tuan David, tapi saya benar-benar minta maaf, semua ini hanya salah paham. Istri saya tidak tahu kalau di salah mengenali orang. Di kiranya Anes adalah Amel,"
"Jadi kalau itu benar Amel, Anda akan diam saja melihat istri Anda berbuat seperti itu?" David mengepalkan tangannya.
"Tidak tuan David, semua salah saya, saya menyesal telah mempermainkan Amel, tapi saya benar-benar mencintai dia,"
"Dasar laki-laki nggak punya otak! Udah punya istri dan anak berani-beraninya bilang cinta terhadap wanita lain," David semakin kesal mendengar Dimas mengatakan cinta terhadap Amel.
David meminta berkas-berkas yang di bawa oleh bawahannya, lalu melempar berkas tersebut ke meja kerja Dimas.
"Perusahaan dan seluruh aset yang Anda miliki, termasuk rumah yang Anda tempati, sekarang beralih tangan ke tuan muda Parvis. Silahkan angkat kaki Anda dari sini sekarang!"
"Ta tapi tuan?"
"Ini adalah konsekuensi yang harus Anda terima!" ucap David lalu balik badan dan melangkahkan kakinya hendak keluar. Namun, David kembali dan menghampiri Dimas.
"Buk!" satu pukulan David layangkan ke muka Dimas.
"Ini untuk rasa sakit yang Amel rasakan!"
"Buk!" David kembali melayangkan pukulannya.
"Ini untuk nyonya muda Parvis,"
"Buk!"
"Ini peringatan terkahir buat Anda. Jangan pernah Anda menunjukkan wajah brengsek Anda di depan Amel lagi. Waktu itu saya dan tuan muda Parvis menghargai Anda karena Anda masih berstatus sebagai kekasih dari sahabat nona Anes yang tak lain adalah nyonya muda Parvis," ucap David sambil mencengkeram kerah kemeja yang Dimas pakai dan langsung melepaskannya dengan kasar setelah ia selesai bicara.
David langsung keluar di ikuti oleh orang-orang yang dari tadi mengikutinya.
"Sial! Semua gara-gara Olivia," Dimas mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Olivia adalah nama istri sah Dimas. Ia tampak sangat frustasi memikirkan bahwa seluruh yang ia miliki kini sudah beralih tangan. Entah bagaimana caranya David bisa melakukan hal itu. Yang jelas, itulah salah satu kehebatannya.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Di kantor.
Ini adalah hari terakhir Anes bekerja. Ia ingin menyelesaikan beberapa pekerjaannya dahulu sebelum resign. Sebenarnya berat untuk meninggalkan perusahaan yang hampir 3 tahun ini menjadi tempatnya bekerja tersebut.
"Mas, ini semua sudah selesai aku kerjakan. Dan ini surat pengunduran diri aku langsung kasih ke mas aja ya, malas pergi ke HRD," ucap Anes begitu masuk ke dalam ruangan Alex.
"Apapun buat nyonya muda Parvis, nggak pakai surat resign pun enggak apa-apa," Alex menarik pergelangan tangan Anes supaya duduk di pangkuannya.
"Terus, apa mas akan cari sekertaris baru? Yang cantik? Yang seksi? Yang masih gadis? tanya Anes.
"Tentu!" jawab Alex.
"Ih mas Alex, kalau begitu aku nggak jadi resign aja, ntar malah kamu di godain lagi sama sekertaris yang baru," Anes mengerucutkan bibirnya.
"Bercanda sayang, selama ini kan mas nggak pakai sekertaris, hanya karena kamu yang jadi sekretarisnya makanya mas mau," jawab Alex jujur.
"Terus?"
"Kan ada David!" seru Alex.
"Tapi kan pekerjaan pak David sendiri aja udah banyak. Ya, walaupun kalau di lihat kasat mata dia itu seperti seorang pengangguran, tapi sebenarnya kan pekerjaannya banyak sekali dan menguras pikiran," tiba-tiba Anes merasa kasihan dengan David.
"Percayalah dia mampu menghandle semuanya. Bukannya sebelumnya mas juga nggak pernah memiliki sekertaris. David itu fleksibel bisa menjadi apa saja. Asisten pribadi yang selalu bisa diandalkan dan menjadi sekertaris handal pun bisa ia lakukan. Buktinya dia tidak pernah mengeluh haha, dia bisa di andalkan dalam segala hal," jelas Alex.
"Baiklah kalau begitu. Aku jadi tidak perlu susah-susah cari pengganti dong," sahut Anes.
"Nggak perlu sayang, kamu itu tidak akan pernah terganti. Selalu akan menjadi sekertaris pribadi paling sepesial di hati mas. Kan kamu yang mengurus segala kebutuhan mas, mulai dari makan sampai urusan ranjang," Alex semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas bisa saja. My lovely Presdir," sahut Anes sambil mengelus pipi Alex.
"Eh ngomong-ngomong di mana pak David? kok enggak kelihatan?" Anes menanyakan keberadaan David.
"Dia sedang memberi Dimas pelajaran," sahut Alex.
"Tapi Dimas nggak akan di bunuh kan?" tanya Anes polos.
"Tentu saja, bahkan mas sudah menyiapkan lubang buat mengubur dia," canda Alex.
"Mas Alex!" Anes mencubit pinggang Alex.
"Tapi bohong hehe,"
"Huh," Anes kembali mengerucutkan bibirnya.
🌼🌼🌼
__ADS_1
💠Hai, setelah membaca jangan lupa like komen dan votenya ya, hihi maaf kalau author selalu bawel buat di vote, karena vote yang kalian berikan sangat membantu author. Mari kita saling feedback😁 salam hangat author ❤️❤️💠