MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 130


__ADS_3

Sore harinya... Anes sudah memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pikirannya sudah mulia bisa di ajak kompromi. Ia sadar tidak seharusnya waktu itu pergi begitu saja tanpa penjelasan. Harusnya ia menghadapi wanita licik itu dengan cara yang lebih elegan, memegang ia mampu menahan tangisnya di hadapan Rania tapi masih belum mampu menahan emosinya. Dan juga seharusnya dia menggunakan prinsip praduga tak bersalah, bisa jadi apa yang terjadi tidak seperti yang ia pikirkan.


"Nyonya muda, akhirnya Anda kembali," sapa Bi Ina senang.


"Iya bi, maaf sudah membuat kalian semua khawatir," sahut Anes.


"Tidak apa-apa nyonya, yang penting nyonya muda baik-baik saja,"


"Mas Alex belum pulang Bi?" Anes menanyakan keberadaan suaminya.


"Itu nyonya, anu. Tuan muda tadi pulang lebih awal. Dan sampai sekarang belum keluar dari kamar nyonya, Akhir-akhir ini beliau selalu menyendiri kalau tidak di ruang belajar ya di kamar. Tidak ada yang berani mengganggunya nyonya," sahut bi Ina.


Mendengar ucapan bisa Ina, Anes langsung pamit ke kamarnya.


Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati Alex sedang tidur. Pelan-pelan ia mendekati suaminya. Anes merasa ada yang tidak beres dengan tidurnya sang suami.


"Ya ampun, kamu demam tinggi mas!" ucap Anes.


Anes langsung berdiri untuk mengambilkan kompres untuk Alex, namun Alex memegang pergelangan tangannya tanpa sadar.


"Jangan pergi, jangan tinggalin mas sayang, mas nggak bisa tanpa kamu. Mas tahu mas salah, tapi Mas mohon jangan siksa mas seperti ini, jangan diamkan mas. Kamu satu-satunya yang mas miliki di dunia ini. Hukumlah mas sesukamu, tapi jangan pergi, Mas nggak bisa kehilangan kamu, mas sangat mencintai kamu," Alex terus mengigau karena demam tingginya.


Anes menyentuh lembut tangan Alex, tanpa terasa air matanya menetes.


"Aku nggak akan ninggalin mas lagi. Aku juga mencintaimu mas, maaf sudah membuat mas khawatir. Mas tenang ya, aku ada di sini," Anes mencoba menenangkan suaminya yang sedang mengigau tersebut dengan memeluknya.


"Selama ini pasti berat buat kamu menjalaninya mas, menghadapi kenyataan yang mungkin jika aku dalam posisi kamu, aku nggak akan sanggup. Sekarang mas tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan wanita itu mengganggu rumah tangga kita, terutama mengganggu mas lagi," batin Anes, ia mengingat kembali cerita David tentang masa lalu Alex.


Pelan-pelan ia melepaskan genggaman tangan Alex untuk mengambil kompres.


Dengan telaten Anes mengurus suaminya tersebut. Beberapa kali ia mengganti kompres dan juga mengecek suhu tubuh suaminya. Sampai akhirnya ia tertidur di samping ranjang dengan menyandarkan kepalanya di dada Alex.


🌼🌼🌼


Saat subuh, Anes membuka matanya, ia kembali mengecek suhu tubuh sang suami.


"Syukurlah, demamnya sudah turun," gumam Anes. Kemudian, ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung menuju ke dapur.


"Selamat pagi nyonya muda," sapa Bi Ina.


"Pagi Bi, Biar saya yang masak bisa," ucap Anes.


"Baik nyonya muda, tuan muda pasti senang sekali bisa makan masakan nyonya muda lagi," balas Bu Ina.


"Iya bi, saya juga kangen pengen masakin buat mas Alex. Tolong bantu saya potong wortelnya ya Bi," Anes ingat betul kalau suaminya tersebut sedang ngidam suka makan wortel.


Di kamarnya, Alex mulai mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Ia seperti mengingat sesuatu, ya, semalam Anes berada di sisinya. Mengurus dan menjaganya. Namun, ia menepis ingatan itu. Karena menurutnya itu tidak mungkin, hanya halusinasinya karena demam tingginya.


"Ternyata aku cuma mimpi, mas merindukan kamu sayang," ucap Alex sendu.


"Apanya yang cuma mimpi?" Anes sudah masuk membawa secangkir teh buat Alex.


Alex malah bengong melihat Anes menghampirinya. Ia masih menganggap itu sebagai mimpi.


"Aku berharap ini bukan mimpi," gumam Alex.

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, Anes tersenyum, ia meletakkan teh tersebut di atas nakas, kemudian ia mengecup bibir Alex.


"Cup!" Gimana? berasa mimpi atau nyata?" tanya Anes dengan senyum manisnya.


Alex yang menyadarinya sontak langsung memeluk Anes dengan erat.


"Sayang kamu kembali, Mas senang sekali! maafin mas, semua salah mas, mas terlalu bodoh, mas terlalu takut kehilangan kamu. Mas terlalu menikmati kebahagiaan yang kamu berikan, hingga mas menjadi egois. Mas melupakan hal penting yang seharusnya kamu ketahui. Maafkan kebodohan mas, mas janji mas akan lebih terbuka lagi ke depannya," ucap Alex panjang lebar.


Anes ingin melepaskan pelukan Alex tapi Alex mencegahnya.


"Mas nggak akan melepaskan kamu lagi, Walaupun hanya mimpi, mas nggak akan membiarkan kamu pergi," Alex semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas lepasin dulu, aku nggak bisa napas," ucap Anes.


Alex langsung merenggangkan pelukannya.


"Udah bisa napas kan? pokoknya mas nggak akan lepasin kamu," Alex langsung menyapu seluruh wajah Anes dengan bibirnya.


"Mas lepaskan dulu, aku nggak akan pergi lagi. Janji," Anes menggeliat melepaskan pelukan Alex.


Anes mengambilkan teh hangat untuk di minum Alex.


"Minum dulu tehnya, biar lebih enakan. Semalam mas demam tinggi. Untung saja sekarang udah turun," ucap Anes sambil memegang kening Alex.


Alex sangat bahagia sekali, perhatian dan kasih sayang istrinya tidak berubah sama sekali.


Lalu mereka merubah posisi duduk, berhadapan dengan kaki bersila.


" Mas hutang penjelasan sama kamu. Sekarangn jelaskan semuanya sama kamu," ucap Alex sambil memainkan rambut Anes yang tengah duduk di depannya.


"Tidak perlu, aku udah tahu semuanya dari pak David", Anes memegang tangan Alex.


"Jangan begitu, pak David niatnya baik, dia peduli sama mas," ucap Anes.


"Bercanda sayang, biar bagaimanapun mas sangat berterima kasih padanya, akan mas belikan rumah kalau dia menikah nanti," sahut Alex.


"Maafin aku ya mas? Aku terlalu gegabah kemarin, pergi begitu saja tanpa minta penjelasan terlebih dahulu sama mas,"


"Kamu nggak salah, di sini jelas mas yang salah, mas minta maaf. Kamu boleh menghukum mas apa saja, asal jangan tinggalkan mas lagi," ucap Alex serius.


"Dan soal apa yang kamu lihat di kantor waktu itu, ...."


"Ssst!" Anes menempelkan jari telunjuknya.


"Aku percaya sama mas," ucap Anes tersenyum.


Alex langsung menarik tengkuk Anes dan mencium bibir Anes. Anes langsung membalas ciuman Alex, ia melingkarkan tangannya di tengkuk Alex. Mereka melepas kerinduan dalam ciuman panas di pagi hari.


"O ya, aku punya sesuatu buat mas," Anes berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Apa ini? mas kan nggak ulang tahun sayang?" tanya Alex ketika Anes menyodorkan kotak kecil yang sudah ia siapkan waktu itu.


"Buka aja," ucap Anes lalu kembali duduk di depan Alex.


Alex membuka kotak tersebut. Di dalamnya ia melihat ada sebuah test pack dengan dua garis merah dan juga selembar kertas berbentuk hati. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya.

__ADS_1



(source:pinterest)


"Hi Daddy, aku sudah tidak sabar lagi bertemu denganmu, Tunggu aku ya? Karena aku sedang loading. Sekarang aku.tidur di perut mommy, nanti jika tiba saatnya aku akan tidur di antara kalian berdua. Teruslah semangat mencari uang, karena tanggung jawabmu semakin bertambah dengan hadirnya diriku di antara Kalian. lover your baby❤️👶"


Alex menatap Anes tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.


"Sayang?" meminta penjelasan.


Anes mengangguk mantab sambil tersenyum.


"Ini beneran? mas nggak mimpi kan? ahahaha thanks God, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah" Alex kegirangan.


Ia langsung menghujani Anes dengan ciuman.


Alex berdiri dan menarik Anes untuk ikut berdiri. Ia membopong tubuh Anes dan berputar.


"Yeeee! aku berhasil! aku akan jadi Daddy!" seru Alex sambil terus berputar.


Ia menurunkan Anes dan berlutut d depan Anes. Alex meraba perut Anes yang masih rata.


"Sayang, Daddy udah nggak sabar nunggu kamu lahir, cepat gede di dalam sana dan cepat lahir," Alex mencium perut Anes penuh cinta.


"Terima kasih sayang, kamu udah memberikan mas calon penerus keluarga Parvis," Alex memeluk Anes dan mencium puncak kepalanya bertubi tubi. Ia sangat terharu, hingga matanya berkaca-kaca.



Anes sangat senang melihat ekspresi sang suami yang tak kalah bahagia dengannya. Hingga Anes pun ikut terharu.


Alex mengajak Anes duduk kembali.


"Sejak kapan kamu tahu hal ini?" tanya Alex penasaran.


"Waktu aku datang ke kantor mas, waktu itu aku mau kasih kejutan buat mas, tapi..."


Alex langsung memeluk Anes.


"Maafin mas sayang, mas benar-benar minta maaf, mas yang salah," Alex terus minta maaf.


"Udah mas, semua sudah berlalu. Kita hanya perlu mengambil hikmah dari kejadian kemarin," ucap Anes lembut.


"Tapi, aku belum yakin kalau belum periksa ke dokter mas," lanjut Anes.


"Oke, kita ke dokter," Alex langsung berdiri, ia sungguh tidak sabar.


Anes menarik tangan Alex, "Besok aja ya mas, hari ini aku pengen di rumah aja, menghabiskan waktu bersama mas," ucap Anes.


"Apapun buat kamu sayang," Alex membungkuk dan mencium kening Anes.


Tiba-tiba..


"Hoek..Hoek.." Alex kembali merasa mual.


"Mas mau mandi sayang, badan mas bau sekali, mas nggak tahan sama bau mas sendiri," Alex langsung berlari menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"Mulai lahi deh dramanya. Siap-siap ngurusin rengekan bayi gede sebelum mengurus kamu sayang, tapi mommy akan menikmati prosesnya," batin Anes tersenyum sambil memegang perutnya.


🌼🌼🌼


__ADS_2