
Ini adalah hari ke dua Amel ikut David ke kantor. Jika kemarin ia masih bisa duduk diam, menunggu David bekerja, sekarang ia tampak mulai bosan memainkan ponselnya. Ia melirik ke arah David yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Karena bosan, Amel mondar-mandir tidak jelas. David yang melihatnya merasa terganggu.
"Ck, dasar! apa nggak bisa duduk dengan tenang?" gumam David sambil melirik Amel yang dari tadi ada aja tingkahnya.
David merapikan meja kerjanya dan meraih kunci mobilnya.
"Ayo ikut aku!" ajak David.
"Ah? mau kemana pak?" tanya Amel.
"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja," sahut David.
"Tapi pekerjaan Bapak?" Amel menyusul langkah panjang David.
"Apa kamu mau membantu mengerjakannya? Kalau tidak, jangan banyak tanya,"
"Pak, pelan-pelan sedikit jalannya. Saya tidak bisa menyamai langkah pak David nih," susah payah mensejajarkan langkah.
Tak lama kemudian, mereka sampai di State Theatre atau yang sering di juluki sebagai Palace of Dreams.
"Waaah ini yang di sebut orang-orang palace of dreams itu ya?" Amel tak percaya, kini ia bisa menginjakkan kakinya secara langsung di tempat tersebut.
"Ayo pak masuk!" ajak Amel yang sudah tidak sabar ingin melihat teater secara langsung di gedung teater kelas atas dan mewah tersebut. Menonton adalah merupakan salah satu hobinya selain menulis sebuah novel online. Apalagi menonton drama, bisa bergadang sampai pagi untuk menonton sebuah drama sampai tamat.
Amel semakin takjub ketika sampai ke dalam ruang teater yang bernuansa Gothic dengan paduan Art deco dan kursi beludru merah tersebut. Kapan lagi ia bisa ke sana, gratis lagi tanpa memikirkan pekerjaan dan tetap di gaji. Pasti teman-teman kantornya yang lain akan iri dengannya, pikir Amel.
David mengajak Amel duduk dan teater dengan judul Sing The Truth akan segera di mulai. Amel sangat antusias sekali.
"Padahal pekerjaannya masih banyak, tapi sempat-sempatnya mengajakku ke sini, terima kasih pak David," batin Amel sambil mellihat ke arah David yang menatap ke depan, menyaksikan teater yang sedang di mainkan dengan ekspresi yang susah di tebak. Hati Amel mulai tersentuh. Mungkin dia akan secepat kilat move on dari Dimas.
"Lihat ke depan, teaternya di depan, bukan di sini," ucap David datar.
"Si siapa yang lihatin pak David?" Amel salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangannya ke depan. David hanya tersenyum dalam hati.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
"Mas, ini aku bawakan kamu baju ganti dan juga makanan. Mas mandi dulu dan ganti baju, habis itu mas makan," ucap Anes yang baru saja tiba di rumah sakit.
Anes pulang subuh-subuh untuk membuatkan makanan dan mengambilkan baju ganti buat Alex.
Alex menerima baju gantinya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ini adalah hari kedua pak Arya koma, dan belum ada tanda-tanda beliau akan sadar. Beliau di pindahkan ke ruangan khusus sesuai permintaan Alex. Ruangan yang cukup mewah dengan fasilitas yang lengkap untuk ukuran sebuah rumah sakit.
Alex dengan setia menungguinya ayahnya tersebut. Ia enggan beranjak dari sisi ayahnya walaupun sebentar. Jadi, Anes yang harus bolak-balik ke rumah untuk membuatkan makanan sekaligus mengambilkan baju ganti buat Alex.
Sebenarnya bisa saja Anes menyuruh pembantunya, tapi ia tahu betul suaminya itu hanya tertarik untuk makan masakannya. Apalagi dengan keadaan seperti ini, makanan yang ia masak saja mungkin hanya di sentuhnya sedikit, apalagi masakan orang lain.
"Ayo, sekarang mas makan dulu," ucap Anes ketika Alex sudah selesai mandi.
"Nanti saja, mas belum lapar," Alex menolak untuk makan.
"Mas harus makan walaupun cuma sedikit. Dari kemarin mas belum makan. Nanti mas malah ikutan sakit kalau nggak makan. Aku suapi ya? Ini aku buat dengan susah payah loh. Masa mas nggak mau makan. Nggak menghargai usahaku dong kalau begitu?" Anes pura-pura bersedih supaya Alex mau makan.
"Baiklah, baiklah, mas akan makan. Jangan sedih lagi ok?" Alex mengusap kepala Anes.
"Yes berhasil!" sorak Anes dalam hati.
"Ya udah, aku suapi ya? Aaaaaaa!" Anes tersenyum lalu menyuruh Alex membuka mulutnya
"Apa mas sudah memberi tahubpak David, kalau papa di rumah sakit?" tanya Anes.
"Belum, biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya dulu. Kalau dia di kasih tahu sekarang, pasti dia akan mengkhawatirkan aku, itu malah akan mengganggu pekerjaannya," jawab Alex.
Anes hanya mengangguk. Ya, dia sudah menduganya, kalau David sudah tahu, pasti laki-laki itu sekarang sudah berada di rumah sakit. Karena selain Anes, Davidlah yang paling mengerti Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
Selesai menonton teater, David mengajak Amel ke Haymarket untuk makan siang.
"Setelah ini kita kembali ke kantor saja ya pak?" ucap Amel di sela-sela makan siangnya.
"Kenapa? apa kamu tidak suka berkencan denganku?" tanya David yang langsung kaget dengan ucapannya sendiri. Bagaimana bisa di bilang berkencan?
"Dia bilang apa barusan? berkencan dengannya? Apa ini sebuah kencan?" batin Amel. hatinya tiba-tiba jedag-jedug seperti sedang berdisko.
__ADS_1
"Em maksud ku, pekerjaan hari ini sudah selesai, jadi tidak masalah kalau tidak kembali lagi ke kantor,"
"Oh begitu. Kalau begitu baiklah! mari kita berkencan hari ini!" sahut Amel dengan ceria.
"Dia bilang apa? berkencan? Apa dia juga menganggap ini sebagai kencan?" David tertawa senang dalam hatinya.
"Ya udah, selesaikan makannya, habis ini aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ucap David berlagak seperti biasa saja, padahal senang bukan main karena sepertinya gadis di depannya ini sudah mulai membuka diri untuknya.
"Pak David makan kayak anak kecil," ucap Amel, berdiri dan membungkuk, mengusap sudut bibir David yang ada sedikit sisa makanan di sana.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya David gugup. Ia melihat belahan dada Amel yang kini sedang membungkuk dari seberang duduknya.
"Glek!" David menelan salivanya, mukanya menjadi merah seperti udang rebus.
"Kuatkan imanku, kuatkan imanku," batin David.
Amel duduk kembali setelah mengusap sudut bibir David dengan tangannya.
"Ada sedikit sisa makanan di bibir Bapak, jadi saya bantu membersihkannya. Kenapa muka bapak merah begitu? pak David kepanasan? ini minum punya saya, ini lumayan dingin loh," Amel kembali berdiri dan membungkuk menyodorkan minumannya ke arah mulut David.
Muka David semakin merah karena pemandangan itu kembali terpampang jelas di matanya.
"Khilaf mata, khilaf mata," batin David.
"Amel cukup! duduk di tempatmu lagi!" pinta David.
Amel mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk.
"Saya punya minuman sendiri, ok?" David mengambil minumnya dan menenggaknya sekaligus tanpa memakai sedotan.
"Oh ok, tapi kelihatannya bapak sangat haus, ini punya saya masih banyak," Amel hendak berdiri lagi.
"Duduk!" perintah David sedikit meninggikan suaranya.
"Kenapa sih dia? aku kan cuma nawarin minum,"
"Udah selesai kan makannya? Ayo," ajak David langsung berdiri dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Sebentar!" Amel menyedot minumannya sekali lagi sebelum beranjak dari duduknya.
๐ผ๐ผ๐ผ