
Dila cepat-cepat menuju ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya. Tidak menunggu di usir oleh tuan rumah, Dila langsung berinisiatif pergi sendiri, karena ia tahu setelah ini pasti Alex tidak akan tinggal diam dan membiarkannya begitu saja.
Dila keluar dengan membawa kopernya. Bi Ina yang melihatnya langsung berusaha mencegah supaya Dila tidak pergi. Ia ingin Dila di kasih pelajaran oleh majikannya.
"Nona mau kemana?" tanya bidan Ina, ia menghadang Dila dan menahan koper yang di bawa oleh Dila.
"Minggir!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Dila.
"Tidak nona, kembalilah ke kamar dan tunggu keputusan tuan muda besok nona, apa yang akan beliau lakukan terhadap Anda," ucap bibi tanpa takut.
"Kamu siapa? Beraninya mengaturku. Cepat minggir!"
"Tidak nona, saya tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi saya yakin Anda melakukan sesuatu terhadap tuan muda. Untuk itu saya harus menahan Anda supaya anda bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya Anda," bibi tetap pada pendiriannya.
"Minggir! atau aku akan berteriak biar seisi rumah ini tahu aib tuan muda mereka? Bagaimana kalau mereka tahu tuan muda mereka mau melecehkan seorang wanita di rumahnya sendiri?" ucap Dila berbohong.
"Dasar wanita ular! bisa-bisanya dia mengancam seperti itu?"
"Kalau begitu, silahkan nona tunggu Tuan David datang, dan Anda jelaskan sendiri kepada tuan David kalau memang tuan muda berusaha melecehkan Anda. Baru Anda bisa pergi," ucap bibi.
"Apa? Abang mau ke sini?"
"Iya nona, jadi tunggulah, sampai beliau datang,"
"Gawat! kalau Abang tahu yang sebenarnya, aku bohong pun dia nggak akan percaya," batin Dila.
Dengan kekuatan penuh Dila mendorong tubuh Bu Ina hingga jatuh tersungkur dan dia langsung membawa kopernya pergi buru-buru.
Beberapa saat setelah Dila meninggalkan rumah Alex, David datang karena tadi dia berusaha menghubungi Alex dan Anes tapi tidak ada respon, dan justru malah bisa Ina yang meneleponnya. Meminta David untuk ke rumah karena terjadi sesuatu yang bibi sendiri tidak tahu apa itu, tapi dia tahu ada yang tidak beres di rumah.
__ADS_1
"Tuan David," sapa Bi Ina.
"Apa yang terjadi? Kenapa bibi tadi memintaku ke sini dengan buru-buru? Di mana bos?"
"Anu tuan, bibi bingung mau menjelaskannya bagaimana, tapi sepertinya nona Dila sudah melakukan suatu terhadap tuan muda. Bibi tidak tahu pastinya, tapi tadi bibi lihat nona Dila masuk menyusul tuan muda ke kamarnya dan pintunya di kunci tuan. Hanya itu yang bibi tahu. Tadi bibi panik mencoba menelpon nona Anes tapi tidak di angkat, jadi bibi menelepon tuan David," ucap bibi.
"Anak itu! Apa yang dia lakukan?" David mengepalkan kedua tangannya. Sudah di pastikan pasti ada yang tidak beres disini.
David langsung melangkahkan kakinya menuju ke tangga, ia pikir Dila dan Alex masih di kamar Alex, namun di cegah oleh bibi.
"Jangan tuan!" cegah bibi.
David menatap tajam bi Ina.
"Sekarang tuan muda dan nyonya muda sedang di kamar tuan. Sebaiknya besok pagi saja tuan bertanya kepada tuan muda,"
"Anu tuan, tadi setelah saya menelepon tuan, saya berusaha menelepon nyonya muda lagi dan tetap tidak diangkat, tapi ternyata nyonya muda sudah kembali dan langsung menuju ke kamar dan nona Dila sudah keluar dari sana,"
"Kenapa tadi tidak meminta bantuan untuk membuka pintunya ketika pintu kamar bos di kunci? kunci cadangan juga ada kan?"
"Saya tidak ingin mempertaruhkan nama baik tuan muda tuan, karena saya tidak tahu yang mengunci tuan muda sendiri atau nona Dila," ucap bibi sambil terus menunduk, takut salah bicara.
"Apa bibi tidak mengenal bos? Sampai bisa berpikir bos yang dengan sengaja mengunci pintunya dan berduaan dengan wanita lain di kamar?" tanya David geram.
"Iya tuan, maafkan bibi. Bibi bingung dan panik. Bibi tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya tuan bertanya sendiri kepada tuan muda," ucap bibi takut-takut.
David kesal, kenapa wanita paruh baya itu hilang kepintaran dan akal sehatnya ketika sedang panik.
"Sekarang di mana Dila? anak itu minta di kasih pelajaran!" David mengedarkan pandangannya ke arah kamar Dila.
__ADS_1
"Nona Dila sudah pergi tuan. Tadi dia langsung mengemasi barang-barangnya dan pergi, bibi sudah berusaha menahan tapi tidak bisa," jawab bibi.
David menjatuhkan pantatnya di sofa, memijat kedua pelipisnya. Sudah ia pastikan sesuatu yang buruk terjadi tadi, membuat kepalanya serasa ingin meledak memikirkannya.
"Baiklah, tolong siapkan kamar untuk saya, malam ini saya akan menginap di sini!" perintah David kemudian.
"Baik tuan," bi Ina langsung pergi dan mencari anak bahunya untuk menyiapkan kamar khusus David. Ya, para pelayan rumah tersebut hanya akan kelihatan di rumah utama saat sedang melakukan tugasnya saja, jika tidak mereka tidak akan menginjakkan kaki di sana, sesuai perintah Alex. Karena Alex tidak ingin privasinya terlalu di ganggu. Hanya bi Ina sebagai orang kepercayaan Alex saja yang lebih sering mondar mandir di rumah tersebut.
David berjalan menuju ke kamar yang tadinya di tempati oleh Dila.
Di lihatnya kamar tersebut sudah kosong, barang-barang Dila sudah tidak ada di sana. Lalu, Manik matanya tertuju kepada sebuah botol kecil yang terletak di atas nakas.
David mendekatinya dan mengambil botol kecil tersebut.
Melihat apa yang ia pegang, David memejamkan matanya dan menghela nafasnya kasar. Guratan kemarahan langsung menguasai wajahnya.
"Anak itu cari mati! Apa sebenarnya yang ada dalam otaknya?" gumam David, tangannya menggenggam kuat botol kecil tersebut.
Pikiran David terus berkelana, ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Sudah sejauh mana adik angkatnya itu bertindak. Apakah dia dan Alex sudah melakukan hal yang tidak seharusnya. Lalu bagaimana sekarang keadaan bos dan nonanya di dalam kamar sana.
Di sisi lain pikirannya juga terus merutuki Dila. Kenapa dial bisa berbuat sejauh itu. Berkali-kali David memijit pelipisnya, benar-benar takut dan merasa bersalah jika sesuatu sudah terjadi di antara dial dan Alex. Bagaimana ia akan menghadapi bosnya itu, terutama Anes. Bagaiman perasaan Anes, bagaimana hancurnya hatinya.
Sungguh David tidak bisa tidur malam itu, bahkan ia menolak untuk makan malam ketika bibi menyuruhnya makan. Bagaimana bisa dia makan dan tidur dengan tenang, sementara di lantai atas, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara Alex dan Anes.
David hanya bisa berharap, semoga semuanya belum terlambat saat tadi Anes datang.
"Jika benar kamu melakukan sesuatu yang memalukan terhadap bos, tak peduli sedekat apa kita, aku sendiri yang akan memberimu pelajaran Dila," gumam David, ia mencoba memejamkan kedua matanya sambil tiduran di tempat tidur.
🌼🌼🌼
__ADS_1