
Anes menyiapkan air untuk Alex mandi. Ia juga menyiapkan pakaian untuk Alex. Selesai dengan ritual pembersihan dirinya, Alex mengajak Anes untuk turun, karena sebelumnya Anes sudah memberi tahu Alex kalau David ada di rumah tersebut dan sekarang sedang membuatkan mereka sarapan. Mereka berdua akan membicarakan perihal kelakuan buruk Dila kepada David setelah ini.
Alex dan Anes langsung menuju ke ruang makan di mana sudah ada beberapa menu masakan yang di buat oleh David yang sedang di tata oleh bibi.
"Di mana Abang bi?" tanya Anes.
"Itu nyonya muda,Bryan David sedang membersihkan diri di kamarnya setelah memasak tadi," jawab bibi.
"Oh," sahut Anes singkat. Setelah menata semuanya, bibi pun pergi entah kemana, yang jelas ia sudah paham apa yang harus di lakukan jika majikannya ada di rumah semuanya. Tidak mengganggu privasi mereka.
Sambil menunggu David, Alex dan Anes kembali mengobrol. Anes berkali-kali merenggangkan otot-ototnya karena masih merasa kelelahan.
Alex yang melihatnya langsung tanggap.
"Sayang, semalam mas mainnya kasar ya?" tanya, ia merasa kasihan dengan Anes.
"Iya mas, kasar banget. Nggak seperti biasanya. Aku sampai kewalahan banget mas," jawab Anes.
"Maafin mas ya? Mas nggak sadar, mas sudah di kuasai nafsu jadi nggak bisa berpikir jernih. Anak Daddy baik-baik saja kan tapi?" Alex menjangkau perut Anes dan mengelusnya dengan lembut. Alex merasa bersalah kepada anaknya juga yang berada dalam perut sang istri.
"Iya mas, dia baik-baik saja. Anak kita kan pintar, iya kan dek?" Anes menyentuh tangan Alex, kepalanya menunduk ke arah perutnya.
David mengulas senyum di bibirnya, lesung pipinya menambah kadar ketampanan asisten kesayangan tersebut. Ia merasa sedikit lega melihat kemesraan di antara kedua bosnya tersebut, setidaknya semua masih baik-baik saja.
David menyenderkan satu bahunya ke tembok dengan tangan bersedekap dengan satu kakinya ia tekuk ke depan kaki yang satunya lagi. Ia membayangkan seandainya mereka berdua adalah dirinya dan Amel, betapa manisnya. Tidak ada yang mampu menggoyahkan cinta mereka berdua, kesetiaan dan kekuatan cinta mereka berdua patut dijadikan David dan Amel Sebagi contoh nyata.
"Abang! pagi-pagi udah melamun! Melamun jorok ya pasti, pakai senyum senyum sendiri begitu," seru Anes ketika melihat David.
David segera tersadar, ada hal yang lebih penting dari khayalannya saat ini, yaitu urusan adik angkatnya yang tidak ada akhlak tersebut, pikiran David seketika berubah menjadi tidak enak.
"Sini, ayo kita sarapan bareng!" Anes melambai-lambaikan tangannya.
David mendekatinya dan duduk, ikut bergabung dengan Alex dan Anes untuk menikmati sarapan mereka. Ya, mereka bertiga sama-sama merasa lapar, karena semalam mereka tidak makan malam.
Saat sarapan, mereka tidak membicarakan perihal Dila, karena tidak ingin merusak mood mereka saat menikmati sarapan tersebut. Jadi mereka bertiga lebih memilih topik lain untuk obrolan. Meskipun dalam hati mereka masing-masing sudah sangat tidak sabar untuk bercerita, terutama David yang sudah tidak sabar ingin tahu secara detailnya.
Selesai sarapan Alex mengajak David dan Anes ke ruang kerjanya. Ia akan memberi tahu David di sana.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu pasti sudah sedikit banyak tahu tentang apa yang terjadi di rumah ini kemarin bukan?" Alex memulai obrolan serius mereka.
"Iya bos, saya sudah mendengar dari Bi Ina, tapi bibi setengah-setengah menceritakannya, membuat kemarahan saya juga setengah-setengah," jawab David.
Kemudian Alex menceritakan semuanya secara detail, tentang kelakuan Dila selama ini, dan puncaknya adalah kemarin. Wanita muda tersebut sampai nekat berbuat hal sekotor itu.
Anes hanya diam sambil mendengarkan Alex menceritakan kepada David. Sementara David berkali-kali mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya seketika berubah penuh amarah dan juga perasaan tidak enak dan merasa bersalah kepada bosnya tersebut.
"Ini semua salah saya bos, tidak seharusnya saya membiarkan Dila datang ke Jakarta, apalagi tinggal di sini," David benar-benar merasa bersalah. Harga dirinya di coreng tanpa ampun oleh adik angkatnya tersebut.
"Walaupun dia adik angkat kamu Dave, aku tidak bisa memaafkan perbuatannya, apalagi ini menyangkut rumah tanggaku. Kamu tahu itu kan?" ucap Alex serius dan juga guratan kemarahan nampak jelas dari wajahnya.
"Aku akan memberi dia pelajaran, karena telah berani mencoba menjebakku, kalau Anes tidak datang tepat waktu, rumah tanggaku taruhannya Dave!" lanjut Alex. David hanya mampu diam dan menahan rasa malu dan rasa bersalahnya.
David menoleh ke arah Anes, ia juga merasa sangat tidak enak dengannya. Perempuan yang sekarang memanggilnya Abang tersebut, yang sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri, namun karena ulah Dila, ia hampir saja tidak bisa melihat senyum manis dari bibir Anes tersebut.
"Iya bang, aku juga nggak terima. Kali ini Dila benar-benar keterlaluan, aku ingin dia di kasih pelajaran, ingin rasanya aku memukul dan menguliti dia," ucap Anes juga marah.
David mengerti, bahkan Anes yang biasanya punya hati yang begitu lembut dan tidak tega terhadap orang lain, bisa semarah itu. Pasti kekecewaannya sudah memuncak. Pasalnya Aneslah yang dari awal kekeh untuk meminta Dila tinggal di sana. Niatnya yang baik dan tulus harus di balas sekejam itu oleh Dila.
David sangat mengerti, wanita mana yang rela rumah tangganya hancur karena kelakuan licik seseorang yang hanya sekedar lewat dalam hidupnya.
"Baiklah kalau itu maumu Dave. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kepada anak itu. Kalau saja Anes sedang tidak hamil, aku sendiri yang akan memberi dia pelajaran. Tapi, aku juga tidak ingin kamu mengotori tanganmu itu dengan membunuh orang. Aku paling tidak suka cara seperti itu, kamu tahu kan Dave?"
"Iya bos, saya mengerti," jawab David.
"Penjarakan dia, atau kirim ke tempat dimana dia tidak bisa berkeliaran dengan bebas sama seperti di penjara, biarkan dia merenungi sikapnya di sana!" perintah Alex.
"Baik bos saya mengerti, Saya permisi bos, saya akan mencarinya sekarang juga," David menunduk berpamitan kepada Alex dan Anes.
"Apa tidak sebaiknya agak siangan saja bang? biar mas Alex menemani Abang," ucap Anes.
"Tidak nona, saya sudah tidak bisa menunggu lagi untuk memberi gadis itu pelajaran, dan juga saya akan mencarinya sendiri, biarkan bos menemani nona di sini,"
"Kau yakin Dave?" tanya Alex. David mengangguk mantab.
"Hati-hati," pesan Alex.
__ADS_1
Alex dan Anes mengantar David keluar, di ruang tamu, mereka berpapasan dengan Amel yang baru saja datang, karena hari sebelumnya ia dan Anes ada janji untuk pergi bersama.
"Mel," sapa David yang menghentikan langkahnya karena melihat Amel di depannya.
"David, kamu juga di sini yank? Semalaman aku hubungi kamu, nggak di balas," ucap Amel.
"Maaf, ponselku aku silent jadi tidak tahu," jawab David.
"Tunggu, kenapa muka kalian bertiga tegang begitu sih? Kenapa? Apa yang terjadi? Nes? Jadi pergi kan?" tanya Amel, bingung dengan mimik muka ketiga orang di depannya tersebut.
"Maaf Mel, aku harus pergi sekarang, nanti aku hubungi kamu," David mencium kening Amel dan melanjutkan langkahnya.
"Dave!" panggil Alex.
David berhenti dan menoleh.
"Hati-hati,"
David mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.
Amel melihat ke arah Anes meminta penjelasan, apa yang terjadi, kenapa David buru-buru sekali?
"Temani Abang Mel, ikut dengannya mencari Dila," pinta Anes.
"Memangnya apa yang terjadi sih Nes? Jangan buat aku bingung deh?"
"Jangan banyak tanya, cepat susul David!" giliran Alex yang memintanya.
"Kita nggak jadi pergi Nes?"
"Lain kali, sekarang temani Abang, dia marah karena Dila mencoba merayu mas Alex," jelas Anes. Tanpa menunggu penjelasan yang lebih panjang lagi Amel langsung membalik badannya dan berlari menyusul David ke mobilnya. Ia tahu David tidak akan segan untuk membunuh orang sekalipun jika itu menyangkut bosnya, dan kali ini menyangkut harga dirinya juga.
Amel berhasil mengejar langkah David dan ikut masuk ke dalam mobilnya. David hanya diam heran melihat kenapa Amel tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
"Aku ikut!" ucap Amel tersenyum.
David memasangkan seat belt kepada Amel dan melajukan mobilnya tanpa keberatan dengan keberadaan Amel yang ingin ikut dengannya. Setidaknya dengan adanya Amel di sampingnya bisa sedikit membuat hatinya tenang.
__ADS_1
🌼🌼🌼
💠Apakah David akan menemukan Dila? Kira-kira Dila pergi kemana?Apa yang akan David lakukan jika menemukan Dila? dan apakah David akan benar-benar mengundurkan diri setelah ini?...Jangan lupa like, komen dan votenya 🙏🙏🙏 salam hangat author❤️❤️❤️💠