
Sambil terus bersenandung, Amel menuruni anak tangga, ia melihat bu Mira yang baru saja menutup pintu setelah kepergian David.
"Nggak usah di tutup ma, nanti David akan kesini, dia mau ngomong sesuatu yang penting sama mama, karena kebetulan mama sedang di rumah," ucap Amel. Hatinya masih di selimuti bunga-bunga dan juga emoticon hati.
"Dia udah ke sini, tuh barusan aja pamit," sahut bu Mira.
"Beneran ma? Kok langsung pulang sih, nggak nungguin aku dulu. O ya ma, apa ko yang dia bicarakan?" puta-pura tidak tahu.
"Emang dia nggak bilang sama kamu dulu, kalau dia ke sini buat melamar kamu ke mama?" tanya bu Mira.
"Bilang sih ma, tapi kenapa buru-buru banget pulangnya. Eh, terus gimana jawaban mama? Mama setuju kan? Mama merestui kami kan?" tanya Amel antusias.
"Mama menolaknya," sahut bu Mira santai.
"Maksud mama?"
"Iya, mama menolaknya. Dia kurang cocok sama kamu, sepertinya dia tidak terlalu mencintai kamu. Mama sudah punya calon yang tepat buat kamu. Itu, si Evan, anak teman mama, dia kan cinta sama kamu udah lama, kamunya aja yang nggak pernah mau. Kurang apa coba si Evan, ganteng, mapan, baik dan yang paling penting dia cinta sama kamu.
Bunga-bunga yang bertebaran di hati Amel seketika menghilang. Berubah menjadi rasa sakit dan kecewa akan sikap mamanya.
"Mama mau tahu si Evan itu kurang apa? Kurang ajar! Kenapa mama tega sama Amel? Amel sangat mencintai David ma, kenapa mama tega hiki hiks hiks," Amel duduk di sofa sambil terisak. Bu mira yang tadinya mau istirahat di kamarnya, mengurungkan niatnya. Ia duduk di sebelah Amel.
" Mama lakuin ini demi kebaikan kamu sayang, mama hanya ingin yang terbaik buat kamu, mama ingin kamu bahagia bersama orang yang mencintai kamu, tidak seperti mama," ucap bu Mira, ia memegang bahu Amel.
"Demi kebahagiaan aku mama bilang? tahu apa mama tentang kebahagiaan Amel? Hanya David yang Amel cintai, hanya dia kebahagiaan Amel ma, kami saling mencintai ma, apa itu tidak cukup?" Amel terus saja terisak. Ia tak tahu bagaimana keadaan David saat ini, yang baru saja ditolak oleh ibunya.
" Mama belum yakin kalau dia benar-benar mencintai kamu sayang, dia belum bisa meyakinkan mama kalau dia bisa menjamin kebahgiaan kamu nantinya. Jadi mama putuskan yang terbaik buat kamu,"
__ADS_1
"Cukup ma!" Amel menepis tangan Bu Mira, ia bangkit dari duduknya.
"Dengarkan mama dulu,,,"
"Selama ini mama tidak peduli dengan Amel, tidak peduli dengn keadaan Amel seperti apa, apa Amel bahagia atau tidak, mama tidak peduli. Mama terlalu sibuk sendiri, bahkan mama tidak pernah tahu apa yang terjadi sama Aku. Di saat-saat sulit, di saat aku butuh mama, mama di mana? David lah yang selalu ada buat Amel ma, dia yang selalu mengerti Amel. Mama tidak pernah peduli sama Amel, dan sekarang tiba-tiba mama memutuskan masa depan Amel secara sepihak? Kenapa mama setega itu? Dan apa ini? Di jodohkan? Omong kosong! Kenapa mama tidak belajar dari pengalaman sendiri? Apa Aku harus bermain drama seperti mama sama papa dulu? Bahagia tapi cuma pura-pura. Munafik!"
" Amel! Jaga ucapanmu!" teriak bu Mira.
" Mama seharusnya berkaca pada diri mama sendiri! Mama jahat!" teriak Amel. Ia berlari menuju kamarnya kembali, samai di kamar, ia langsung menjatuhnkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Maafin mama mel, nanti kamu akan mengert," gumam bu mira lirih.
Amel tidak habis pikir, kenapa ibunya bisa setega itu kepadanya.
" Mama nggak mengenal siapa David, kenapa mama bisa semudah itu menyimpulkan kalau David yang tidak mencintaiku. Jangan samakan semua laki-laki seperti papa. Arrrghh! aku benci benci benci! Kenapa sih, kisah cintaku nggak pernah semulus Anes dan Pak Alex, kenapa selalu ada aja masalah dengan hubungan asmaraku hiks hiks hiks, kalau nggak sama David, aku nggak mau nikah, titik!"
Amel meraih ponselnya di atas nakas, ia mencoba menghubungi David, namun nomor laki-laki tersebut tidak aktif. Amel pikir, pasti David marah, kecewa dan sakit hati. Ya, tentu saja, bukan hanya sakit dan kecewa, malu pasti David rasakan saat ini. Amel melempar ponselnya ke atas tempat tidur, ia benar-benar sedih dan terus menangis.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
"Ayolah Dave, kamu nggak semiskin itu hingga harus di pertanyakn apa yang kamu miliki untuk membahagiakan Amel, materi dan cinta, kamu memiliki keduanya untuk Amel. Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan? Menyerah?" tanya Alex. Sebenarnya dalam hati Alex, ia sangat marah, berani sekali lamaran sahabatnya tersebut di tolak.
"Tidak bos, saya tidak akan menyerah, saya tidak akan membiarkan Amel menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, hanya saya yang akan menikahinya,"balas david.
" Bagus, itu baru namanya laki-laki, tidak mudah menyerah,"
" Bos sendiri sepertinya sedang ada yang di pikirkan? Apa ada yang mengganggu pikiran bos?" David mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
" Aku sedikit kepikiran tentang proses persalinan Dave, tadi sempat baca artikel bagaimana sakitnya seorang wanita saat melahirkan, itu perjuangan antara hidup dan mati Dave, seandainya nanti aku bisa menggantikan Anes,"
" Menggantikan nona melahirkan begitu maksud bos?"
Alex diam, yang itu artinya mengiyakan pertanyaan David, dan sungguh David ingin sekali tertawa, namun juga kasihan jika melihat kegelisahan dan kekhawatiran di wajah Alex.
" Banyakin berdoa saja bos, semoga semuanya lancar sampai nona melahirkan bos kecil," ucap David.
Kedua laki-laki tersebut kembali asyik dengan pikirannya masing-masing dengan kegundahan sendiri-sendiri.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
Sudah satu minggu berlalu semenjak lamaran David di tolak. Dan satu minggu ini, Amel sangat sulit sekali menghubungi David. Jangankan untuk bertatap muka secara langsung dan mengobrol, sekedar say hai melalui ponsel juga jarang. Amel merasa David menghindarinya, mungkinkah David marah dengnnya karena sikap bu Mira? Apakah David benar-benar tidak begitu mencintainya? Kalau memang David sangat mencintai Amel seperti yang selalu ia katakan, kenapa akhir-akhir ini David seperti menghindarinya. Bahkan di kantor David juga seperti acuh dan tidak pernah mengunjungi Amel ke kubikelnya seperti biasanya, yang tanpa di suruh pun David akan menyempatkan menyambangi Amel, bahkan kadang sehari sampai tiga kali, seperti minum obat saja.
Dan sudah tiga hari ini, Amel mendengar jka David sedang berada di luar kota.
Amel mulai frustasi dengan keadaan ini, setiap kali ia curhat kepada Anes, sahabatnya tersebut hanya bisa menghiburnya dengan mengatakan David benar-benar sedanh sibuk, dan Amel di minta untuk bersabar, ini semua demi dia.
Amel hanya nggak habis pikir, sesibuk apa sih kekasihnya tersebut, hingga mengesampingkan masalah yang sedang mereka alami, memangnya hubungannya dengan Amel tidak penting? Hingga tidak ada kelanjutan pembicaraan soal rencana masa depan mereka.
Ingin sekali Amel menemui David dan meneriakinya, memaki bahkan memukulnya. Yang paling utama, ia ingin sekali memeluk laki-lakinya tersebut. Tapi apalah daya, semua ini di sebabkan oleh ibunya, bagaimana bisa Amel memaki dan marah. Akan tetapi, tidak seharusnya David menjadi menghilang dari peredarannya mengelilingi Amel begitu saja, setidaknya beri sedikit kelegaan di hati Amel.
Di rumah, Amel masih marah kepada bu Mira. Yang membuatnya heran, tumben sudah satu minggu sejak menolak David, bu Mira selalu berada di rumah, seperti ada yang sedang ia tunggu, namun tak kunjung datang. Ah, tapi Amel tak peduli , mungkin yang ditunggu Adalah laki-laki yang akan di jodohkan denganya, membuat Amel semakin meradang keada sang ibu.
"Jarang pulang, jarang ada waktu buatku, sekalinya pulang, bikin sakit hati," cibir Amel ketika bu Mira mengajaknya bicara.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
__ADS_1
๐ Jangan lupa like, komen dan votenya..
Jangan lupa baca juga novel terbaru author "Ibu untuk anak-anakku" terima kasih, ๐๐๐๐