
Amel sudah tidak sabar untuk bertemu sahabatnya itu. Ia keluar dari mobil dan langsung ambil lengkap cepat.
"Bruk! aw!" tiba-tiba dia menabrak seseorang hingga terjatuh.
"Kalau jalan lihat-lihat dong!"
"Maaf," ucap Amel masih terduduk di lantai.
"Maaf-maaf, nggak lihat apa orang Segede ini di tabrak. Nggak punya mata ya? situ buta atau bagaimana ha?" maki seorang ibu-ibu berbadan bongsor yang tidak sengaja di tabrak oleh Amel.
"Maaf nyonya dia memang salah karena jalan buru-buru. Tapi, tidak pantas juga Anda mengatainya seperti itu," David mengulurkan satu tangannya untuk membantu Amel bangun.
"Minggir!" ibu-ibu itu tidak menyahut ucapan David, ia berjalan dan menyenggol lengan Amel dengan kasar hingga Amel hampir jatuh lagi namun di tahan oleh David.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya David dan di sahut gelengan kepala oleh Amel.
Sampai di depan apartemen mewah milik Alex. David langsung memencet bel. Sekali dua kali memencet bel belum juga ada yang membukakan pintu. David mengulanginya sampai beberapa kali sampai akhirnya Alex membukakan pintu.
"Berisik banget sih. Nggak tahu apa orang lagi sibuk!" gerutu Alex ketika melihat David dan Amel di depan pintu.
David dan Amel saling menatap lalu terkekeh karena melihat penampilan Alex kini berbeda dengan biasanya. Alex yang ada di depan mereka kini sedang memakai celemek dan juga membawa spatula di tangannya. Benar-benar, citranya sebagai Presdir dingin dan berwibawa hancur sudah.
"Kenapa kalian tertawa? ada yang lucu?" Alex memutar bola matanya kesal karena di tertawakan.
"Ah nggak bos, Anda kelihatan sangat cocok memakai celemek itu," ledek David.
"Sialan kamu!" Alex melepas celemek yang ia pakai dan melemparnya ke David.
Amel cekikikan melihat adegan tersebut. Kapan lagi melihat pak Alex memakai celemek dan juga melihat pak David di lempar celemek yang bisa di bilang kotor karena sudah di pakai, tepat di wajahnya. Momen yang sangat jarang. Bahkan, kalau dia punya nyali ingin sekali mengabadikan momen tersebut.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya David sambil memegang celemek yang di lempar oleh Alex.
"Ah nggak papa kok pak, lucu aja lihatnya," jawab Amel jujur. David diam tak menanggapi. Baginya itu tidak lucu sama sekali.
"Apa tadi David bilang? kamu? apa mereka sedekat itu sekarang? bahkan aku aja yang sudah lama kenal tidak pernah di ajak bicara sedikit santai begitu. Selalu formal dan formal, dasar David pilih kasih!" batin Alex protes.
Alex masuk ke dalam dan diikuti oleh David dan Amel.
"Anesnya mana pak?" Amel clingak-clinguk mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Dia ada di kamar, kamu langsung saja naik. Tadi saya sudah bilang kalau kamu akan datang,"
"Baik pak, kalau begitu saya naik dulu. Permisi!" Amel langsung melangkahkan kakinya.
"Pak David terima kasih tumpangannya dan juga rotinya," Amel berhenti di bawah tangga dan menoleh ke arah David.
"Hem," jawab David singkat.
Amel berjalan menaiki anak tangga. Mata David terus melihat ke arah gadis tersebut.
"Woi sadar pacar orang tu!" Alex melambaikan tangannya di depan wajah David.
"Iya bos, saya juga tahu itu," sahut David.
"Tapi kalau kamu suka, kejarlah, tidak ada yang tidak mungkin. Toh jodoh tidak ada yang tahu. Manusia hanya bisa berusaha," Alex sok bijak.
__ADS_1
"Si siapa yang menyukainya, Anda bercanda bos?" David mengelak.
"Hah tadi sama Amel kamu kamu, giliran sama aku Anda Anda. Berapa kali harus ku bilang jangan terlalu formal kepadaku. Tidak enak di dengar tahu nggak," protes Alex.
"Bagaimanapun juga Anda adalah atasan saya bos, dan saya lebih nyaman begitu,"
"Ah terserahlah! Aku mau bawain bubur ke atas dulu dan bersiap-siap. Tadi aku kesiangan bangun, kasihan Anes belum sarapan."
"Baik bos saya akan menunggu Anda, ini celemek Anda bos," David menyodorkan celemek yang sejak tadi ia pegang.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Tok tok tok! Nes aku masuk ya?" Amel mengetuk pintu dan langsung membukanya.
"Iya masuk aja Mel nggak papa," sahut Anes dari dalam.
"Aneeees!" Amel langsung menghambur mendekati Anes yang sedang bersandar di tempat tidur.
"Bagaimana keadaan kamu? apa masih sakit Hem?" Amel menempelkan tangannya di kening Anes.
"Nggak Mel, aku udah baikan. Cuma masih sedikit lemas aja. Mas Alex aja tuh yang berlebihan, maaf ya jadi ngerepotin kamu,"
"Ih apaan sih kamu Nes, siapa juga yang repot? aku malah senang tahu, bisa bolos kerja tanpa di potong gaji," Amel memperlihatkan betapa senangnya dia saat ini. Terbebas dari setumpuk pekerjaan dan hanya perlu bersantai menemani istri bosnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Ceklek!" Alex membuka pintu dan masuk dengan membawa nampan berisi bubur dan air putih.
"Sayang, kamu makan dulu ya? mas udah buatin bubur buat kamu," Alex meletakkan nampan di atas nakas dan mengambil buburnya.
"Nggak papa sayang, mas suapi kamu dulu baru berangkat,"
"Mas..." Anes menatap protes kepada Alex.
"Ok ok! mas akan siap-siap dan berangkat kerja," Alex menyerahkan buburnya kepada Anes dan berjalan menuju walk in closet. Tak butuh waktu lama Alex sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Sayang mas berangkat dulu ya, habisin buburnya biar cepat sehat dan jangan lupa minum obatnya," pamit Alex sambil mencium kening Anes.
"Siap bos!" seru Anes sambil mengangguk dan tersenyum.
"Mel, saya titip Anes. Kalau ada apa-apa hubungi saya," ucap Alex kepada Amel.
"Siap 86 pak! saya akan menjaga dan merawat istri Anda dengan seluruh jiwa dan raga saya,"
Alex hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan yang di lontarkan Amel.
"Hu dasar! Lebay kamu Mel!" Anes melempar bantal ke arah Amel.
Alex yang sudah keluar kembali masuk ke dalam kamar.
"Kenapa balik lagi?" tanya Anes.
"Ponsel mas ketinggalan!" Alex mengambil ponselnya dan kembali mencium kening Anes
"Selesai meeting mas akan langsung pulang!" ucap Alex lalu pergi.
__ADS_1
"Ih kalian so sweet amat sih, bikin iri aja. Semoga nanti aku dapat suami persis seperti pak Alex. Ganteng, kaya, perhatian dan tulus, komplit dah pokoknya,"
"Aamiin!" Anes mengamini ucapan Amel.
"Eh tapi, mana ada orang sama persis Mel? nggak mungkin ada 2 mas Alex di dunia ini,"
"Kalau begitu pak Alex aja. Aku mau jadi yang kedua. Keren nggak tuh seorang pengusaha ternama memiliki dua istri dan istrinya itu bersahabat sejak SMA," Amel senyum-senyum sendiri membayangkan.
"Otak kamu konslet ya Mel? Nggak Audi lah ya berbagi suami meskipun sama sahabat sendiri. Gila apa, ngebayangin bagaimana rasanya di duakan sama sahabat lagi," Anes melotot tajam kepada Amel.
"Hahaha bercanda kali Nes. Ampun suhu!" Amel menelangkupkan kedua tangannya.
"Makanya buruan nikah, biar bisa sedikit waras tuh isi kepala,"
"Yaelah, buru-buru amat Nes. Amat aja nggak buru-buru. Biar semua mengalir sesuai skenario yang di buat oleh Tuhan,"
"Nungguin apa sih? nunggu rambut kamu ubanan baru mau nikah? cepetan minta Dimas buat melamar kamu, kan enak tuh nanti anak kita kalau bisa sepantaran,"
"Ah Dimas mah lelet. Belum ada tanda-tanda ke arah yang serius. Nggak yakin juga kita bakal ada jodohnya." ucap Amel psimis.
"Wah benar-benar ni anak. Kalau nggak yakin kenapa di pacarin Paijem?"
"Ya karena aku cinta sama dia," sahut Amel percaya diri.
"Yakin itu cinta? kalau cinta kenapa nggak yakin?"
"Ah Anes, jangan buat aku bingung dong. Tadi aja aku hampir lupa kalau punya pacar dimas gara-gara pak David."
"Pak David? emang apa yang di lakukan?"
"Ada deh, susah ngomongnya," Amel mengingat kejadian tadi.
"Hati-hati Mel jangan main api. Jangan rakus semuanya di embat." Anes memperingatkan Amel.
"Iya iya aku tahu. Tadi cuma baper sebentar kok. Gini-gini aku orangnya setia kok,"
๐ผ๐ผ๐ผ
"Apa Anda sudah gila bos? kenapa mengajak nona Anes menginap di rumah tuan besar? Jangan main api bos, nanti bisa terbakar," David menanggapi curhatan Alex ketika ia dan Anes menginap di rumah pak Arya waktu itu. Ya, Alex baru sempat bercerita kepada David.
"Beraninya kamu mengatai aku gila?" Alex mengerutkan dahinya.
"Sorry sorry bos keceplosan," ucap David santai.
" Ck. Dasar! bukan aku yang mengajak tapi Anes yang merengek buat menginap di sana. Aku tidak punya alasan untuk menolak. Lagian itu kan rumah orang tuaku, apa masalahnya kalau menginap di sana?"
"Tentu saja masalah bos, bagaimana kalau nona Anes dan tuan besar tahu masa lalu kalian? bisa berabe urusan,"
"Itu dia masalahnya Dav, aku belum bilang sama Anes. Tidak tahu bagaimana mulai untuk bcara sama dia. Takutnya dia salah paham dan tidak bisa terima. Dan yang lebih menakutkan lagi kalau sampai papa tahu, aku nggak bisa bayangin bagaimana reaksinya dan kesehatannya juga bakal terancam. Tahu sendiri papa memiliki sakit jantung. Hah rahasia yang selama ini terpendam seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja," Alex menghela nafasnya panjang.
"Hah bener-bener rumit, terus apa yang akan Anda lakukan?" tanya David.
"Entahlah, yang jelas sekarang yang akan aku lakukan adalah tidur. Aku capek. Nanti kalau sudah sampai kantor, bangunkan aku," Alex mulai memejamkan matanya.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1