
"Dave, apa kamu yakin akan langsung kembali ke Jakarta sekarang?" Tanya Amel.
"Hem, aku ingin cepat-cepat mengirim Dila ke luar negeri, dan segera menyelesaikan masalah ini," sahut David.
"Apa tidak sebaiknya besok pagi-pagi saja kita kembali? Kamu belum istirahat sama sekali," saran Amel, karena ia melihat ada guratan kelelahan di wajah David, mengingat mereka baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh.
"Apa kamu lelah?" David menoleh, menatap lekat wajah Amel.
"Sedikit," sahut Amel berbohong, yang sebenarnya ia hanya ingin David beristirahat terlebih dahulu.
"Baiklah, biar aku suruh bibi menyiapkan kamar, kita akan menginap di sini malam ini," ucap David kemudian.
Beberapa saat kemudian, Dila sudah membawa sebuah koper dari kamarnya, Namun, Amel memintanya untuk memasukkan kembali ke dalam kamar, karena mereka akan ke Jakarta esok subuh.
Ya, Dila akan di bawa ke hadapan Alex dan Anes terlebih dahulu sebelum ia dikirim ke luar negeri, untuk meminta maaf secara langsung kepada Alex dan Anes.
Malam pun tiba, Amel berkeliling mencari keberadaan David, ternyata laki-laki tersebut sedang duduk di gazebo sambil menatap langit yang penuh bintang, membuat hawa dingin semakin terasa.
Amel mendekati David pelan tanpa bermaksud mengusik lamunan David. Ia duduk di samping kekasihnya tersebut dan langsung menyenderkan kepalanya di pundak David. Hal itu membuat David langsung menoleh karena kaget.
"Belum tidur?" tanya David pelan, tak lupa seutas senyum ia sunggingan dari bibirnya. Meskipun dalam keadaan seperti saat ini, ia tetap selalu tersenyum kepada wanita pujaannya tersebut.
"Aku tidak bisa tidur, makanya aku mencari kamu," jawab Amel sambil ikut menatap langit. Tangannya memeluk erat lengan David.
"Suasana malam di sini sangat tenang dan damai ya Dave,"
" Apa kamu suka tinggal di daerah seperti ini?" tanya David serius.
Amel mengangguk.
"Apa kamu mau tinggal di sini setelah kita menikah nanti?" tanya David lagi.
"Dan kamu meninggalkan aku di sini sendiri begitu? Sementara kamu bekerja di Jakarta? Tidak mau!" seru Amel, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
David tersenyum, ia paham maksud Amel yang tidak ingin berjauhan darinya, begitupun dirinya yang tak ingin tinggal berjauhan nantinya dengan Amel jika mereka sudah menikah.
"Maafkan aku Mel, yang masih belum bisa memberi kamu status sebagai nyonya August, tapi aku janji setelah semua ini selesai aku akan segera memberimu status yang lebih pantas dari sekedar seorang kekasih," batin David.
🌼🌼🌼
Sementara itu di Jakarta, Alex dan Anes sedang berdebat kecil namun manis di atas tempat tidur.
"Sayang pelan-pelan dong! Sakit tahu!" ucap Alex meringis kesakitan.
"Iya, ini juga pelan mas. Udah deh! mas diam aja, jangan gerak-gerak terus. Biar aku yang bergerak tangan aku mas, biar cepat selesai, kalau mas gerak terus nanti jadi lama selesainya. Ini seperti biasa kok, biasanya malah mas sampai ketiduran," sahut Anes yang terus menggerakkan tangannya beraturan.
"Iya, tapi kali ini rasanya lebih sakit sayang," rengek Anes.
"Masa sih?" Anes mengamati koin yang ia gunakan untuk mengetik tubuh Alex dan ternyata memang koinnya tidak rata.
"Pantas sakit," gumam Anes, kemudian ia memutar koinnya dan kembali menggerakkan di punggung Alex.
__ADS_1
"Nggak sakit kan?" tanya Anes.
"Hem," jawab Alex.
"Lagian, masuk angin mau di panggilin dokter nggak mau, apa gunanya punya dokter keluarga, enak benar tuh dokter Andre makan gaji buta," protes Anes.
"Biarin ajalah sayang, lagian mas punya istri yang serba bisa ini, apa gunanya punya istri yang pintar mikir dan juga ngerok kalau nggak di manfaatin," balas Alex.
"Aneh aja gitu, seorang tuan muda Parvis kerokan, bahkan ini bukan yang pertama lho. Udah sering. Apa kata dunia jika mereka tahu,"
"Sssst! mereka nggak akan tahu kalau kamu nggak buka suara sayang, yang tahu hanya kita. Lagian mas yakin istri mas nggak ember, bisa jaga nama baik suami. Siapa dulu kamu menawari mas buat di kerok, jadi ketagihan kan. Kerokan kamu lebih mujarab buat mas, karena penuh cinta," gombal Alex.
Mendengar suaminya mulai menggombalinya, Anes mengencangkan kerokannya sehingga membuat Alex menjerit.
"Hust, jangan teriak-teriak! gitu aja kesakitan, bayangin kan betapa sakitnya waktu malam pertama kita?"
"Kamu masih mengingatnya sayang?" tanya Alex, ia menoleh melihat ekspresi sang istri yang mengingat jebolnya gawangnya waktu di Maldives.
"Ingatlah, sakit tahu!" Anes menutup mulutnya, kok obrolannya malah merembet ke arah sana sih?
"Tapi bikin ketagihan kan rudal milik mas?" Alex tersenyum menggoda.
"Rudal? alex junior? anaconda? burung? namanya ganti terus?"
"Sesuai kebutuhan dong sayang, namanya,"
Anes hanya mengernyitkan dahinya, malas untuk menanggapi kekonyolan sang suami.
"Tuh kan, dari tadi bersendawa terus. Udah di bilangin mau di panggilkan dokter nggak mau, lagian ada-ada aja deh, pakai masuk angin segala. Biasa tuh orang kaya penyakitnya jantung atau apa gitu?"
"Astaga sayang, kamu mau mas jantungan dan cepat death begitu?" Alex terbelalak. Sedikit mengajaknya badannya, membuat kegiatan Anes mengerikannya terhenti sejenak.
"Amit-amit mas, kan cuma bilang. Aku maunya mas sehat teruslah, itu yang selalu menyertai doa-doaku mas,"
"Hati-hati sama ucapan sayang," Alex mengingatkan.
"Iya mas, maaf," Anes segera beristighfar, niatnya bercanda tapi benar kata Alex, bercanda pun harus hati-hati tidak boleh kelewatan.
Alex kembali memposisikan tubuhnya tengkurap dan Anes kembali mengeroknya.
"O ya, gimana Abang sama Amel mas?" tanya Anes. Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia siapkan sejak. tadi malah keselingan obrolan receh di antara keduanya.
"Barusan tadi dia telepon, katanya mereka sudah bertemu wanita itu, dia kembali ke rumah singgah, dan malam ini David dan Amel menginap di sana, besok pagi baru kembali ke Jakarta," jawab Alex.
"Abang sama Amel menginap di sana?"
"Hem, nggak usah piktor! David bisa jaga diri supaya tidak kebablasan, mas yakin," ucap Alex seolah tahu apa yang ada dalam otak polos Anes.
"Tetap saja khawatir mas, nikahin mereka aja huh secepatnya," saran Anes.
"Besok mas bicarakan sama David, kita pengennya mereka segera menikah tapi kalau mereka belum mau bagaimana?"
__ADS_1
"Ya harus mau, aku nggak mau Abang menggantung Amel lama-lama,"
"Mati dong di gantung," canda Alex. Alex kembali mengeraskan kerokannya membuat Alex mengaduh.
"Terus apa yang akan di lakukan terhadap Dila selanjutnya?"
"Dia akan di kirim ke tempat asing sayang, sepeti kataku tadi siang, jika tidak di penjara itu pilihannya, biar dia belajar di sana, tidak ada yang bisa di dapat secara instan, apalagi dengan cara jerat menjerat, mumpung dia masih muda, masa depannya masih panjang, masih ada waktu buat memperbaiki diri," jelas Alex.
"Mas sudah memaafkan Dila?"
"Tentu saja tidak semudah itu sayang, tapi mas juga bukan orang yang suka main kotor dengan membunuh misalnya, memberi pelajaran berharga lebih mas sukai dari pada hal kejam seperti itu,"
"Bukankah sama saja mas? Dengan membuat hidupnya susah dan tertekan, itu malah lebih menyiksa?" tanya Anes.
"Memang," sahut Alex tersenyum.
"Untung saja burung mas nggak main masuk ke sembarang sarang, nggak tahu deh kalau sampai asal bersarang, pasti sekarang ada yang sedang mewek galau, meratapi nasib dan bahkan mungkin akan kabur dari mas," Alex melirik Anes untuk melihat ekspresinya lagi.
"Maaf," ucap Anes menunduk. Namun, tangannya masih terus bergerak membuat garis-garis merah yang berjajar rapi di tubuh Alex.
"Mas maafkan," sahut Alex tersenyum.
"Udah mas, mau di urut nggak?" tanya Anes.
"Seperti biasa," balas Alex.
Anes meletakkan koinnya dan mulai mengurut tubuh Alex sebagai penutup kerokannya. Ya, hal yang bisa saja membuat orang menertawakannya itu menjadi rahasia mereka berdua, bukankah tugas suami istri adalah saling menutupi dan bukan untuk saling mengumbar?
"Sepertinya mas masuk angin karena semalam deh," ucap Alex sambil menikmati sentuhan tangan Anes yang menurut dan memijatnya.
"Sepertinya memang begitu, semalam mas benar-benar lepas kontrol,"
"Maafin mas ya," Alex bangkit dan duduk di hadapan Anes. dan langsung memeluk istrinya tersebut.
"Makasih sudah menjadi suami terbaik mas, selalu ingat aku dalam keadaan apapun," ucap Anes.
"Sama-sama sayang, kamu juga istri terbaik," balas Alex. Ia masih bertelanjang dada dan memakai celana santai.
"Mas buatin susu ya, sebentar,"
"Nggak usah, biar aku buat sendiri, mas kan lagi nggak enak badan," cegah Anes.
"Mas masih kuat kalau cuma buat susu buat kamu sayang," Alex mengusap kepala Anes lalu turun dari tempat tidur tanpa memakai bajunya terlebih dahulu.
Anes hanya menatap punggung sang suami yang penuh dengan garis merah hasil karya tangannya tersebut.
"Lagi masuk angin malah nggak pakai baju dulu," gumam Anes.
🌼🌼🌼
💠 Jangan lupa like, komen n votenya, terima kasih🙏 salam hangat author ❤️❤️❤️💠
__ADS_1