MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 182


__ADS_3

"Bagaimana adikmu Dave? Jadi mulai magang hari ini?" tanya Alex.


"Iya bos, semalam dia tiba, dan pagi ini dia sudah mulia magang," jawab David.


Alex hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nanti pulangnya antar dia kerumah, Anes sudah menyiapkan kamar untuknya,"


"Baik bos, tapi apa tidak apa-apa jika Dila tinggal di sana bos?" David merasa tidak enak hati.


"Terus mau tinggal berduaan sama kamu di apartemen begitu?" Alex mencebikkan bibirnya.


"Bukan begitu bos, takutnya dia akan mengganggu privasi Anda dan nona, apa sebaiknya saya carikan tempat kos atau hotel saja untuk dia, Sialang apartemen saya yang lain juga sudah full semua oleh penyewa.


"Apartemenku juga, udahlah nggak papa Dave, lagian kelihatannya Anes senang sekali karena dia akan ada teman di rumah selain aku. Tidak usah terlalu di pikirkan," sahut Alex.


"Baiklah bos kalau begitu, Ini berkas tentang lanjutan kerja sama dengan perusahaan tuan Yokohama kemarin lusa, saya sudah mempelajarinya, sepertinya tidak ada masalah, masalahnya hanya masalah skandalnya dengan sekertaris pribadinya itu,"


"Sejak kapan kamu suka bergosip Dave? biarkan saja dia mau jungkir balik dengan sekretarisnya, itu tidak penting. Kecuali sudah mengancam perusahaan baru di urusin,"


"Baik bos,"


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Amel sedang melamun di kubikelnya, dia memikirkan omongan teman kantornya di loby tadi pagi, apakah benar ada sesuatu antara David dan Dila?


"Ah bikin pusing kepala saja, ingatan David belum pulih, eh udah datang lagi yang buat pikiran runyam, fokus melihat fokus! Positif thinking aja," gumam Amel dalam hati sambil memainkan bolpoin di tangannya.


"Mel, Mel?" teman Amel melambai-lambaikan tangannya di depan Amel yang sedang melamun.


"Mel!" teriak temannya.


"Eh iya, kenapa?" Amel gelagapan.


"Ada gempa!"


"Serius? Ayo berlindung!" Amel kebingungan.


"Haddeh, kamu tuh Mel, dari tadi melamun terus, udah jam makan siang nih, mau ke kantin bareng nggak? Atau mau makan siang barengan pak David?" tanya temannya.


"Eh aku ikut ke kantin aja, yuk!" sahut Amel.


"Ya udah yuk!" ajak teman-temannya sambil berjalan.


Amel mengambil tasnya lalu menyusul mereka.


Amel melihat Dila yang juga akan ke kantin, dia menghampiri Dila dan mengajaknya ke kantin bareng.


"Eh Dila, kamu ada hubungan apa sama pak David? Tadi aku lihat kalian berangkat bareng," tanya teman Amel.


"Aku adiknya kak," jawab Dila.


"Owh, kirain yang kedua," celetuknya.


"Maksud kakak? Dia beneran Abang aku kak, aku tidak ada hubungan apa-apa sama dia," jawab Dila jujur, karena emang dia tidak ada perasaan lebih kecuali sebagai seorang adik terhadap David. Walaupun Dila akui, pesona David memang bisa bikin siapa saja jatuh cinta terhadapnya. Tapi bagi Dila, David tetaplah hanya sebagai seorang pelindung untuknya dan anak-anak rumah singgah.


"Udah, udah ayo cepat pesan makan, nanti keburu jam makan siang habis lagi," ucap Amel. Ia sedikit lega mendengar ucapan Dila, walaupun belum seratus persen yakin. Mungkin sikapnya waktu di rumah singgah dulu karena emang mereka belum kenal.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Waktu pulang kerja, Amel hendak meminta David untuk mengantarnya pulang, karena kepalanya terasa pusing. Tapi Amel melihat David sudah masuk ke dalam mobilnya bersama Dila.


Dengan membuang nafas kecewa, Amel membuka aplikasi di ponselnya lalu memesan taksi online.


Kepala Amel benar-benar terasa sangat pusing, sampai di rumah ia langsung menuju kamarnya untuk istirahat.


Sebenarnya David mengajak Dila pulang bareng untuk mengambil koper Dila yang masih ada di apartemen David.


Setelah membersihkan diri masing-masing, David mengantar Dila ke rumah Alex.


"Ingat Dil, kamu jangan macam-macam selama tinggal di sini" David menasehati Dila sebelum ia dan Dila turun dari mobil setelah sampai di rumah Alex.


"Iya bang," sahut Dila.


Anes menyambut kedatangan David dan Dila di depan pintu.


"Nona, ini Dila," David memperkenalkan Dila kepada Anes.


"Halo kak, aku Dila," ucap Dila dengan sopan.


"Oh, ini yang namanya Dila ya? Salam kenal ya, aku Anes. Ayo bang ajak masuk Dilanya,"


"Ayo masuk," ajak David.


"Kamu jangan sungkan ya Dil, anggap saja seperti rumah sendiri," ucap Anes.


Sial tak menyahut, dia melongo melihat betapa besar dan mewahnya rumah yang di tinggali oleh Alex dan Anes tersebut.


"Oh iya kak, rumah kakak besar dan mewah banget, rumah singgah aja tidak ada apa-apanya sama ruang tamu ini," sahut Dila.


"Ah kamu bisa saja Dila, ini rumah suamiku Dil," ucap Anes tanpa bermaksud sombong.


"Ngomong-ngomong bos dimana nona?" tanya David.


"Dia sedang mandi bang, sebentar lagi juga turun, kalian duduk aja dulu, biar bibi buatkan minum," ucap Anes.


"Tidak usah nona, saya ke sini hanya untuk mengantarkan Dila, dan akan langsung pulang,"


"Tidak nunggu mas Alex dulu bang?" tanya Anes.


"Tidak nona, saya masih ada urusan, saya pamit dulu,"


"Hati-hati bang," ucap Dila.


"Hem, kamu jaga nama baikku Dil, jangan macam-macam, ingat pesanku,"


"Iya bang," sahut Dila.


Anes dan mengantar David Samapi depan pintu, kemudian mereka masuk ke dalam. Anes akan menunjukkan dimana letak kamar Dila.


"Bu, tolong bawa koper Dila ya?"


"Tidak usah kak, biar aku bawa sendiri," ucap Dila yang tidak ingin merepotkan.


Dila menghentikan langkahnya ketika melihat Alex turun menapaki anak tangga.

__ADS_1


"Mas, ini Dila, dia baru saja datang," ucap Anes yang juga melihat suaminya.


"Davidnya mana?" Alex malah mencari David, bukannya menyambut Dila.


"Abang langsung pulang mas, katanya ada urusan.


"Owh," sahut Alex singkat.


"Aku antar Dila ke kamarnya dulu ya mas," pamit Anes.


"Hem," sahut Alex diiringi senyum manisnya.


"Ayo Dil, aku antar ke kamar kamu," ajak Anes.


Dila masih bengong mengagumi sosok laki-laki yang ada di depannya ini. Di kantor tadi mereka belum bertemu.


"Dil, ayo!" ajak Anes lagi.


"Eh iya kak, saya permisi Pak," pamit Dila.


"Hem," jawab Alex singkat dan cuek, tanpa senyum dari bibirnya.


"Kamu jangan ambil hati sikap mas Alex ya? Dia emang begitu orangnya, tapi sebenarnya dia baik kok," ucap Anes lalu membuka pintu kamar yang akan di tempati Dila.


"Iya kak, nggak papa kok," sahut Dila.


"Ya udah, kamu istirahat dulu ya, nanti makan malam bareng, aku mau ke atas dulu," pamit Anes.


"Terima kasih kak," ucap Dila tersenyum.


"Jangan sungkan," balas Anes juga tersenyum .


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Beberapa hari kemudian...


Sejak kedatangan Dila, lebih-lebih sejak Amel merasa sakit kepala dan malah melihat David pulang bersama Dila, Amel mulai menghindari David. Gadis itu hanya sering melihat dan memantau David dari jauh. Dia semakin cemburu dengan Dila, yang terlihat dekat dengan David. Walaupun. kedekatan mereka masih wajar sebagai kakak adik, tapi Amel tetap saja cemburu.


Dia mengambil kartu nama Aldo yang ada di dalam tasnya, lalu menghubungi laki-laki yang katanya aktor terkenal tersebut.


"Halo, ini aku Amel, masih ingat?"


"Haha mbak, tentu saja aku masih ingat, kita kan udah jadi teman, mana mungkin aku lupa, ada apa? Kirain nggak mau temenan sama aku, tapi akhirnya nyari aku juga," ucap Aldo bangga.


"JIh dasar, sok merasa.di butuhkan bangt jadinorang. Jangan panggil aku mbak, atau aku akan tutup teleponnya," ujar Amel kesal.


"Iya, iya. Ada apa Mel?" tanya Aldo.


"Aku terima tawaran kamu waktu itu, tapi kita jalan cuma sebagai teman,"


"Haha, oke-oke. Tenang aja Mel, kita kan emang teman, jadi wajar dong kalau kadang jalan bareng, lusa aku jemput kamu saat jam makan siang di kantor, bye!" Aldo langsung mematikan ponselnya karena Fani pacarnya memanggil. Dia menceritakan apa uang terjadi sama Amel yang sudah ia anggap sebagai teman tersebut. Fani pun mengijinkan Aldo untuk membantunya.


"Nggak sopan, main matiin aja," Gerutu Amel.


"Aku hanya ingin lihat, apa kamu masih peduli sama aku atau tidak Dave, masih adakah perasaan itu untukku meski dalam kondisi kamu yang lupa ingatan. Kalau setelah ini kamu masih sama, aku akan mundur, aku akan melepasmu. Kamu sendiri yang bilang, kalau aku boleh pergi kalau kamu tak kunjung mengingatku, seperti yang kamu bilang, mungkin kita tidak berjodoh," batin Amel yang sudah merasakan panas di kedua matanya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


__ADS_2