MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 126


__ADS_3

Alex langsung masuk ke dalam mobilnya, ia berusaha mengejar taksi yang ditumpangi oleh Anes. Namun tidak terkejar.


Anes meminta sopir taksi berhenti di sebuah taman. Kemudian, ia menuju ke sebuah kursi yang ada di taman tersebut.


Anes terus mengingat kata-kata yang di ucapkan Rania kepada Alex di kantor tadi. Kecewa, dan sedih, itulah yang saat ini ia rasakan. Lagi-lagi Alex menyembunyikan hal penting darinya. Sebenarnya, ia menolak percaya dengan apa yang ia lihat, namun tidak dengan apa yang ia dengar. Dan entahlah untuk saat ini ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Anes memegangi perutnya yang masih rata sambil terus menangis. Kenapa dia harus mendengar hal itu di saat ia hamil.


"Di mana kamu sayang? kenapa kamu pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari mas?" gumam Alex sambil terus mencari keberadaan sang istri.


"Ah sial! kenapa aku bodoh sekali. Kalau saja aku mengatakannya lebih awal, mungkin tidak akan seperti ini," Alex terus merutuki dirinya sendiri sambil terus mencari keberadaan Anes. Ia terus membunyikan klakson mobilnya supaya pengendara di depannya menepi.


Alex terus mencoba menghubungi Anes namun sia-sia. akhirnya ia menelepon ke rumah, berharap Anes pulang ke rumahnya



"Halo Bi, apa nyonya muda sudah pulang ke rumah?" tanya Alex.


"Belum tuan muda," sahut Bi Ina.


"Kalau nyonya muda pulang, cepat hubungi saya!"


Tut...tut...Alex langsung memutus panggilannya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


David dan juga Amel ikut mencari Anes. mereka mencari di tempat-tempat yang biasa di kunjungi Anes. Namun hasilnya nihil.


"Bagaimana?" tanya David.


"Ponselnya tidak aktif," sahut Amel yang baru saja menghubungi Anes, namun ternyata Anes mematikan ponselnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sih? Kenapa Anes bisa marah sampai begini?" selidik Amel.


"Nanti akan aku jelaskan, sekarang kita fokus mencari nona Anes dulu," jawab David.


"Hah terserahlah, tapi awas aja kalau sampai pak Alex menyakitknya. Akan aku buat perhitungan dengannya," Amel mengepalkan tangannya kesal.


"Kamu bisa apa?" tanya David.


"Aku, aku ya pokoknya akan buat perhitungan, dan awas kalau kamu terlibat," ancam Amel.


"Berhenti di sini Dav," Amel meminta David menghentikan mobilnya di taman yang Anes kunjungi tadi.


Mereka turun dan mencari keberadaan Anes di sana, namun sepertinya Anes sudah tidak di sana lagi.


Ya Anes baru beberapa menit yang lalu, berjalan meninggalkan taman tersebut. Kini ia sedang duduk di anak tangga yang ia lewati.

__ADS_1



Tak berselang lama, ia melanjutkan langkahnya dan kembali menghentikan taksi yang lewat.


"Antar saya ke xxx pak," ucap Anes kepada sopir taksi.


"Baik nona," sahut sopir taksi. Taksi pun melaju menuju tujuan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Nyonya, nyonya muda sudah pulang?" sapa Bi Ina, namun Anes terus berjalan menuju ke kamarnya tanpa sepatah katapun. Terlihat jelas oleh BI Ina, jika nyonya mudanya tersebut habis menangis.


"Tadi nyonya muda berangkat dengan perasaan gembira, kenapa sekarang pulang dalam keadaan sedih begitu, apa yang terjadi?" gumam bi Ina.


"Tadi tuan muda bilang, aku harus segera menghubunginya jika nyonya muda pulang," bi Ina langsung menghubungi Alex.


"Halo tuan muda, nyonya muda baru saja pulang tuan," ucap bi Ina.


"Oke, kalau misalnya dia ingin pergi lagi, tolong cegah dia sampai saya sampai rumah," pesan Alex.


"Baik tuan muda," sahut bi Ina.


"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa perasaanku tidak enak begini," batin bi Ina.


Alex langsung memutar balik arah laju mobil menuju ke rumahnya.


"Saya mau pergi sebentar bi," jawab Anes.


"Kalau sebentar, kenapa bawa koper? tolong jangan pergi nyonya muda. Tuan muda berpesan untuk tidak membiarkan nyonya muda pergi lagi," cegah bi Ina.


"Tolong jangan halangi saya bi," ucap Anes datar, sebisa mungkin ia menyembunyikan air matanya.


"Tidak nyonya, kalau nyonya tetap pergi, nanti tuan muda bisa murka nyonya," bi Ina terus mencegah Anes, berharap tuan mudanya segera tiba di rumah.


Bi Ina terus memegangi koper yang akan di bawa Anes.


"Bi, tolong lepaskan, saya harus pergi. Saya cuma butuh waktu untuk sendiri," ucap Anes lagi.


"Tidak nyonya, bibi mohon," sahut bi Ina sambil terisak.


"Baiklah, kalau bibi bersikeras menghalangi saya, silahkan bawa masuk kembali kopernya, saya tidak akan membawa apa-apa," Anes melepaskan pegangannya pada koper yang juga di pegang oleh BI Ina. Ia keluar dan masuk ke dalam taksi yang dari tadi menunggunya.


Tak lama kemudian, Alex sampai di rumah.


"Tu tuan muda," sapa Bi Ina.


"Di mana istri saya bi?" tanya Alex tak sabar.

__ADS_1


"Itu tuan, anu. Nyonya muda baru saja pergi lagi tuan," Sahut bi Ina dengan gemetar.


"Bukannya saya sudah bilang, jangan biarkan dia pergi lagi!" hardik Alex.


"Maafkan bibi tuan muda, bibi sudah berusaha mencegahnya, tapi bibi hanya berhasil menahan kopernya, bukan nyonya mudanya," sahut bi Ina.


"Ah, dasar tidak berguna!" Alex kembali keluar dan masuk ke dalam mobilnya.


"Halo Dav, bagaiman? apa kamu sudah menemukan istriku?" tanya Alex.


"Belum bos, saya dan Amel masih terus mencari," jawab David di seberang telepon.


"Kalau ketemu, langsung hubungi aku," pinta Alex.


"Baik bos,"


Tut ..Tut .


Alex terus memutar otaknya, kira-kira dalam keadaan begini, kemana istrinya akan pergi. Ke rumah orang tuanya rasanya tidak.munhkin, Anes pasti tidak ingin kedua orang tuanya khawatir.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Hari sudah mulai gelap. David mengantar Amel pulang ke rumahnya.


"Sekarang kamu istirahat, biar aku yang meneruskan mencari nona Anes," ucap David ketika sudah sampai di depan rumah Amel.


"Kenapa kamu mengantar aku pulang sih, aku masih aku mencari Anes. Aku tidak tenang kalau belum ketemu dia," sungut Amel.


"Kita sudah mencarinya seharian, kamu pasti capek, sekarang masuklah, jangan membantah!" kata David dengan sedikit penekanan.


"Ok baiklah, tapi kamu masih hutang penjelasan sama aku tentang masalah Anes hari ini," Amel langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah David.


"Nanti akan aku jelaskan Mel, tapi sekarang aku harus memastikan bos Alex baik-baik saja," batin David sembari melihat Amel masuk dan menutup pintu rumahnya.


David yang baru saja melajukan mobilnya beberapa meter, melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah Amel dari kaca spionnya. Ia langsung menghentikan mobilnya dan mengamati siapa yang turun dari taksi.


David tersenyum lalu melajukan kembali mobilnya untuk menemui Alex.


Amel yang baru saja sampai di kamarnya langsung keluar karena mendengar suara bel berbunyi.


"Anes?" Amel langsung memeluk sahabatnya itu.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, aku khawatir sekali, seharian ini kami semua mencari kamu," ucap Amel.


"Maaf, aku sudah merepotkan kalian, boleh nggak malam ini aku menginap di sini?" tanya Anes.


"Tentu saja boleh Anes, ayo masuk dulu," Amel mengajak Anes masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2