
Amel dan Anes terus menangis histeris sambil terus memanggil nama David. Anes yang sangat shock mendadak lemas dan hampir pingsan.
"Sayang, kamu baik-baik saja, cepat tolong istri saya!" teriak Alex. Dan beberapa orang memapah Anes untuk duduk di kursi.
Kini posisi Amel menggantikan Anes menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala David.
"Dav, aku mohon bertahanlah," ucap Amel dengan terus menangis, sambil memegangi tangan David yang sudah berlumuran darah. Ia melihat benda tajam tersebut masih di perut David, dan berniat mengambilnya.
"Jangan di cabut Mel, itu bisa menambah parah pendarahannya," cegah Alex. Ia segera meraih syal panjang dan lumayan tebal yang di kenakan oleh Amel untuk menekan titik pendarahan di perut David untuk meminimalkan volume darah yang terbuang, sembari menunggu ambulan datang. Namun, tetap saja darah terus mengalir keluar.
Alex juga mengkhawatirkan kondisi istrinya yang terlihat sangat shock tersebut, seluruh badannya menggigil mengingat apa yang baru saja terjadi.
Alex mencoba terus memanggil David dan mengecek seluruh alat vitalnya untuk memastikan kesadaran David.
"Kamu harus bertahan Dav, aku mohon!" Alex seperti putus asa setelah mengecek kondisi David melalui mata dan juga respon terhadap sentuhan bahkan sebuah cubitan keras pada tubuhnya. Alex tahu kini David kehilangan kesadarannya, denyut nadinya melemah.
Tubuh Alex terasa lemas, ia ingin sekali menangis, tapi bagaimanapun juga, Alex harus tetap tegar dan kuat, karena hanya dia yang bisa di andalkan saat ini.
"Cepat ambilkan kain atau apapun yang bisa untuk menyelimutinya!" teriak Alex, mencegah terjadinya hipotermia pada David. Ia melepas jasnya untuk menutupi tubuh sahabatnya yang sudah terkapar di lantai tersebut di tambah dengan kain yang di berikan oleh pihak restoran untuk menyelimuti tubuh David supaya kehangatannya tetap terjaga.
"Kenapa ambulannya belum datang!" teriak Alex frustasi.
"Itu pak, ambulannya baru saja tiba," sahut manajer restoran yang dari tadi mondar-mandir karena khawatir dan juga panik ada kejadian tidak terduga dan menggemparkan di restorannya.
Petugas kesehatan yang baru saja tiba langsung mengeluarkan brankar dorong atau istilah medisnya strecher dari ambulan dan mendorongnya masuk ke restoran.
Para petugas memberikan pertolongan pertama pada David yang sudah tak sadarkan diri dengan memasang alat bantu pernapasan pada hidungnya.
Setelah memindahkan tubuh David ke tandu, mereka membawanya ke dalam ambulan dan memasang alat-alat medis untuk memantau kondisi David.
Alex menunggu di luar ambulan sambil memapah tubuh lemas Anes.
"Tuan, sebaiknya Anda ikut dengan kami, karena pasien kehilangan banyak sekali darah kondisi pasien sangat kritis, kami takut hal yang buruk akan terjadi pada pasien," ucap salah satu petugas.
__ADS_1
"Selamatkan David, apapun caranya!" ucap Alex dengan intonasi tinggi.
"Sebaiknya Anda ikut saja dulu dengan kami tuan, jangan buang-buang waktu lagi," pinta petugas.
"Mel, kamu bawa mobilku dan aku titip Anes. Ingat Mel, kamu harus kuat demi David, mengemudilah dengan hati-hati. Tidak usah panik, percayalah David akan selamat, aku akan mengupayakan apapun untuk keselamatannya," Alex mencoba meyakinkan Amel.
"Baik pak, saya akan mengikuti ambulan dari belakang," sahut Amel yang mengambil alih memapah Anes. Sekuat tenaga Amel mencoba untuk kuat, walaupun tidak di pungkiri dalam hatinya menangis meraung-raung melihat orang yang ia cintai sedang dalam keadaan berjuang antara hidup dan mati.
"Tuan, sebaiknya biar saya saja yang mengantar nona-nona ini ke rumah sakit, takutnya terjadi hal yang tidak di inginkan jika mereka mengemudi mobil dalam keadaan panik seperti ini," ucap seorang laki-laki tampan yang berbaik hati menawarkan pertolongan kepada mereka.
"Baiklah, terima kasih tuan," ucap Alex.
"Sayang, kamu harus kuat," Alex mengecup kening Anes dan masuk ke dalam mobil ambulan.
"Mari nona, kita masuk ke mobil saya," ucap laki-laki tersebut.
Dan mobil mereka pun berjalan beriringan depan belakang menuju ke rumah sakit terdekat.
"kondisi pasien semakin kritis, jantungnya bekerja dengan cepat untuk menarik darah dan juga oksigen. Pasien sudah terlalu banyak kehilangan darah, ini sangat kecil peluang untuk selamat," ucap petugas.
"Selamatkan dia, bagaimanapun caranya, atau kalian akan tahu akibatnya, dia David Sebastian August," ucap Alex frustasi namun penuh penekanan.
Nama David sudah tidak asing lagi bagi para petugas tersebut. Sepak terjangnya sudah di akui di mana-mana.
"Berati Anda tuan muda Parvis? Pemilik Parvis group?" tanyanya gugup.
"Apakah penting membahas perusahaannku sekarang? Yang harus kalian lakukan sekarang menyelamatkannya, paham!" Hardik Alex.
"Dav, bertahanlah!" batin Alex lebih putus asa lagi dari sebelumnya.
🌼🌼🌼
Mobil ambulan yang membawa David telah sampai di rumah sakit, Ia langsung di bawa masuk ke UGD. Anes dan Amel tampak saling merangkul sembari duduk di kursi yang ada di luar UGD, sedangkan Alex mondar-mandir di depan pintu UGD, sesekali ia menghantamkan tangannya ke dinding.
__ADS_1
"Kalian harus percaya, kalau teman kalian pasti akan selamat," ucap laki-laki yang mengantar ane dan Amel ke rumah sakit.
"Terima kasih tuan..." Anes menggantungkan kalimatnya.
"Kalian tidak mengenalku?" sahut laki-laki tersebut sambil menunjuk mukanya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya tuan? Atau mungkin kita teman sekolah?" Tanya Anes polos, dan masih dalam keadaan lemah.
"Apa kalian tidak punya televisi di rumah? Oh God! Kalian lahir di jaman apa, sampai wajahku yang sering wara-wiri di televisi saja kalian tidak tahu, kalian pasti tidak punya televisi di rumah kan?"
"Maaf tuan, intinya saja nama tuan siapa?" sahut Amel tidak ingin basa-basi dalam kondisi seperti ini.
"Aldo Pratama, aktor paling terkenal abad ini, kalian benar-benar tidak mengenalku?" tanya Aldo tak percaya, ada dua perempuan yang tidak menggilainya seperti kebanyakan perempuan, bahkan mereka tidak tahu siapa dia.
"Tidak tuan, maaf. Kalau nama tuan Lee min ho, jika Chang Wook, Cha Eun wo, Deng lun atau Mark prince mungkin saya kenal," sahut Amel.
Aldo mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Amel.
"Hem ya udahlah, berhubung kalian sudah sampai di rumah sakit, aku pamit, ada syuting yang tidak bisa di tinggalkan," ucap Aldo.
"Ya tuan, silahkan. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas bantuan tuan," ucap Anes.
"Baiklah, aku permisi. Ingat namaku Aldo Pratama, oke," ucap Aldo lali melenggang pergi.
Anes dan Amel diam tak menanggapi, sebenarnya mereka tidak punya mood untuk bicara kepada laki-laki yang katanya aktor papan atas tersebut, karena mereka masih sangat mengkhawatirkan kondisi David. Namun, karena laki-laki tersebut telah dengan ikhlas membantu mereka, mau tidak mau mereka harus menanggapi ucapannya tadi.
Tak berselang lama, dokter yang menangani David di UGD keluar.
"Siapa yang bertanggung jawab atas pasien bernama David Sebastian August?" tanya dokter yang baru saja keluar tersebut.
🌼🌼🌼
💠jangan lupa like n votenya, yang komen up jangan lupa vote juga ya,, salam hangat author ❤️❤️
__ADS_1