MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 84


__ADS_3

Awalnya, Anes mengambil langkah seribu untuk menaiki tangga untuk sampai di depan pintu kamarnya. Namun, setelah sampai di depan pintu kamar, Anes menghentikan langkahnya sejenak. Rasa bersalahnya pada Alex mengalahkan rasa kecewanya sekarang. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau ibu mertuanya meninggal di hari ulang tahun sang suami. Padahal ia sudah pernah ke makam ibu mertuanya, seharusnya di nisannya ada tulisan kapan beliau lahir dan juga kapan beliau meninggal. Tapi, Anes sama sekali tidak memperhatikan hal itu. Anes merutuki dirinya sendiri akan kebodohannya tersebut yang menurutnya wajar jika Alex marah.


Anes hanya berharap Alex tidak mengunci pintu kamarnya dari dalam. Setelah menata perasaannya, Anes menghela nafas panjang. Kemudian, ia membuka pintu yang untungnya tidak di kunci dari dalam. Dengan pelan tapi pasti Anes mendekati sang suami yang duduk di tempat tidur, menunduk dan kedua tangannya ia gunakan untuk menyibakkan rambutnya ke belakang.


Anes bisa melihat dengan jelas kesedihan Alex saat ini. Trauma masa kecilnya masih membekas hingga usianya 29 tahun.


Anes duduk di samping Alex, Alex diam tak bergeming dengan kedatangan Anes di sampingnya.


"Mas," Anes mulai membuka suaranya pelan. Alex diam tak menyahut.


"Mas, maafkan aku, tidak seharusnya aku..." Anes meremas ponsel yang ia pegang, ponsel yang tadinya ingin ia gunakan untuk mengabadikan momen di mana Alex tiup lilin dan memotong kue serta menyuapkan kue tersebut ke mulut Anes.


"Bukan salah kamu, mas hanya perlu waktu. Sayang tolong tinggalin mas sendiri," Alex memotong kalimat Anes.


"Tidak mas, aku mau tetap di sini," Anes menolak untuk pergi.


"Sayang," Alex menatap Anes memohon. Namun, Anes tetap tak bergerak sedikitpun.


"Maaf karena kebodohanku yang sama sekali tidak mengetahui kalau hari ini adalah hari di mana mama Widya meninggal. Pak David sudah melarangku tapi aku keras kepala," Anes melukai terisak.


"Sayang, mas mohon, mas lagi pengen sendiri,"


"Tidak! aku mau tetap di sini sampai mas nggak marah lagi dan maafin aku!" kekeh Anes.


"Mas nggak marah jadi tolong kamu keluar!" Alex sedikit meninggikan suaranya.


"Sampai kapan mas akan menyalahkan diri mas sendiri seperti ini? kematian mama mama Widya bukan salah mas Alex, itu adalah takdir yang sudah di haruskan oleh Tuhan. Walaupun waktu itu mas tidak memaksa mama Widya pergi, mama Widya tetap akan meninggal karena jalan hidupnya memang sudah tercatat hanya sampai hari itu," Alex hanya diam mendengar Anes bicara. Ia tak bereaksi sedikitpun.


" Mas pikir mama Widya akan senang melihat mas selalu seperti ini di hari ulang tahun mas? mas pikir mama Widya akan menyalahkan mas atas kematiannya? Mas pikir mama Widya akan tetap hidup kalau mas tidak merengek meminta untuk pergi ke taman hiburan? Tidak! Widya pasti akan sedih melihat anak laki-laki satunya membenci hari ulang tahunnya sendiri. Mas tahu walaupun aku belum menjadi seorang ibu, tapi aku tahu, hari dimana seorang anak di lahirkan adalah hari paling membahagiakan bagi seorang ibu. Hari yang akan selalu di ingat oleh ibu. Bagaimana bisa mas membenci hari itu?" Anes mencoba mengubah pemikiran Alex.


"Apa yang harus aku senangi dari hari itu? kalau di hari itu juga Tuhan mengambil mama dariku?" ucap Alex lirih.

__ADS_1


"Tapi mas,,,"


"Sudahlah, mas sedang tidak ingin berdebat dengan kamu. Kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan , kamu bisa keluar, mas pengen sendiri dulu."


"Mas jangan seperti ini terus," Anes menyentuh tangan Alex.


"Anes! apa kamu tidak dengar?" bentak Alex sambil berdiri dari duduknya.


"Maaf mas, tapi aku tetap ingin di sini menemani mas Alex," Anes memeluk Alex dari belakang.


"Jangan kekanak-kanakan!"


Alex melepaskan pelukan Anes dengan sedikit kasar, hingga ponsel yang di pegang oleh Anes jatuh terpental ke lantai.


Mungkin karena rasa lelah karena setumpuk pekerjaan di kantor, di tambah dengan suasana hatinya yang sedang buruk, Alex yang biasanya tidak pernah berkata maupun bertindak kasar, tiba-tiba tidak bisa menahannya.


"Kenapa mas berlebihan seperti ini? Ya memang aku akui, aku salah karena tidak berguna menjadi seorang istri. Aku yang terlalu keras kepala. Kalau saja waktu itu aku mendengar penjelasan pak David, mungkin sekarang aku tidak memberikan kejutan buat mas, tapi aku menemani mas merutuki diri mas sendiri. Terlepas dari semua itu, aku hanya seorang istri yang berusaha membuat suaminya bahagia di hari lahirnya, sebagai rasa syukurku karena telah memiliki suami seperti mas Alex. Aku hanya ingin memberi kejutan kecil dengan mengumpulkan teman-teman mas Alex. Berharap mas Alex akan senang, tapi nyatanya aku salah. Salah besar! Mungkin aku memang kekanak-kanakan tapi mas jauh lebih kekanak-kanakan. Mama Widya pasti sedih melihat mas Alex seperti ini. Baik aku akan keluar, silahkan mas nikmati dan ratapi kesedihan mas sendiri mas di sini!" air mata Anes sudah membanjiri wajah ayunya.


Anes merasa sesak di dalam dadanya, bukan karena Alex tidak menghargai apa yang sudah ia siapkan. Untuk hal itu, ia bisa sedikit memakluminya. Tapi rasa sakitnya karena untuk pertama kalinya Alex membentak dan bersikap kasar kepadanya.


Anes mengusap air matanya kasar dan membawa kakinya melangkah mendekati pintu untuk keluar.


Ketiak Anes memegang gagang pintu untuk membukanya, Alex memegang pergelangan tangan Anes dan menariknya kedalam pelukannya.


"Maafkan mas, tidak seharusnya mas bersikap egois. Maafkan mas karena tidak menghargai usaha kamu. Maafkan mas yang sudah kasar sama kamu, maafkan mas sayang. Kamu benar, tidak seharusnya mas bersikap kekanak-kanakan seperti itu, jujur mas tidak marah sama kamu, Mas hanya tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Maafkan mas sayang," Alex memeluk Anes dengan erat, seolah tak ingin melepas sang istri dari pelukannya.


"Aku hanya ingin membuat mas senang, itu saja tujuanku hari ini tidak ada yang lain. Aku juga ingin mas berbagi kesedihan sama aku. Aku nggak mau membiarkan mas sendiri di saat mas sedih. Maafin aku yang masih belum bisa memahami mas Alex. Tapi sungguh aku mencintai dan ingin melakukan yang terbaik," air mata kembali membanjiri wajah Anes.


"Mas tahu sayang, maafin mas. Mas yang salah," Alex semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas lepasin aku!" Anes mencoba melepas pelukan Alex.

__ADS_1


"Nggak mau! mas beneran menyesal sayang,"


"Peluk ya peluk tapi aku nggak bisa napas nih!


"Maaf sayang," Alex melepaskan pelukannya.


"Sengaja ya meluknya kayak gitu. Biar aku mati karena kehabisan napas, biar mas jadi duda muda, tampan dan kaya iya?"


"Sstt jangan ngomong begitu sayang, udah jangan menangis lagi ya?" Alex kembali memeluk Anes.


"Mas juga jangan kayak gitu lagi, sedih tahu!" memukul-mukul dada Alex.


"Iya iya mas janji, sekarang senyum dong," ucap Alex sambil mengusap air air mata Anes kemudian mencium keningnya.


"Nah gitu dong, nangis aja cantik apalagi kalau senyum begini makin cantik."


"Gombal!" mencubit pinggang Alex.


"Beneran! Ya udah ayo turun!" Alex memegang pergelangan tangan Anes.


"Mas yakin mau turun ke bawah?"


"Hem, pasti mereka sudah menunggu. Mas nggak sabar pengen makan kue yang dibuat istri mas tercinta ini," Alex memencet hidung Anes.


"Dari mana mas tahu aku sendiri yang buat kuenya?" tanya Anes. Karena ia tidak memberi tahu Alex sebelumnya kalau dia yang membuatnya.


"Insting!" Alex mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk sambil tersenyum.


Anes menggandeng lengan Alex dan mereka berjalan menuju ke lantai bawah.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2