
Selesai meeting, Alex tak langsung pulang, ia kembali ke ruangannya untuk kemudian berpikir sejenak. Ia membuka ponselnya yang di silent mode selama meeting tadi. Dan ternyata ada banyak pesan dari Anes yang isinya sama semua.
"Kalau pulang, bawa para tersangka, atau nggak usah pulang!" Anes mengirim pesan seperti itu sebanyak dua puluh kali, membuat Alex geleng-geleng kepala.
"Benar-benar kapok dah, nggak lagi-lagi, nggak kuat menerima terornya," batin Alex. Ia segera menghubungi Juna da juga Bryan.
"Kerumah sekarang juga!" titah Alex ketika berhasil memanggil kedua sahabatnya tersebut melalui video call.
"Perasaanku nggak enak nih," sahut Bryan.
"Sama bray, emm sorry bro, aku lagi di pingit," sambung Juna beralasan.
"Ck, dasar! Kemarin aja ada waktu bikin masalah buatku, sekarang bilangnya di pingit! Gara-gara kalian Anes marah. Cepat ke rumah, istriku mau kasih tau wejangan buat kalian. Nggak datang tanggung akibatnya," ucap Alex serius ia langsung mematikan panggilannya.
Kemudian, ia memanggil David untuk di ajak ke rumah, menghadapi amukan macan bersama, lebih tepatnya untuk berjaga-jaga, mungkin David bisa meluluhkan hati adik angkatnya tersebut kalau Alex tidak bisa.
Mereka berempat tiba di kediaman Parvis secara bersamaan.
"Kok horor ya, merinding nih," ucap Brian mengusap tengkuknya.
"Lex, lusa aku kawin Lex. Takutnya setelah masuk kandang macan, aku nggak bisa keluar dengan tetap ganteng, parah-parah kalau tinggal nama bagaimana, nggak jadi kawin dong. Pulang aja ya lex?" Juna membaik langkahnya hendak kabur.
"Arjuna!" seru Alex penuh ketegasan. Membuat Juna mematung di tempatnya.
"Suami istri sama aja!" gumam Juna.
Tangan David dengan cepat menarik kerah baju Juna.
"Jadilah gentle tuan Juna, hadapi apa yang ada di depan mata," ucap David.
🌼 🌼 🌼
Kini, keempat lelaki tersebut sedang berdiri berjajar di depan Anes dengan kaki di tekuk satu. Keempatnya tidak ada yang berani bersuara, hanya mampu menundukkan kepala. Semua itu mereka lakukan, bukan karena takut atau lemah, tapi karena mereka respect terhadap Anes, karena mereka menghargai nyonya muda Parvis tersebut.
"Di mana Baim?" tanya Anes dengan judesnya.
"Dia sedang ada urusan di luar kota nes, jadi semalam dia nggak ikut," jawab Juna.
"Kalian tahu kalau kalian salah?" Anes memulai untuk menceramahai mereka.
"Sory nes, kita nggak ada niat buat ngejerumusin Alex, swear! Kita hanya asyik-asyikan main game saja," sahut Bryan.
"Kalian ini sudah dewasa, bahkan bisa di katakan tua, tapi kelakuan masih kekanakan. Nggak mikir dulu sebelum bertindak. Kamu Bray, istri lagi hamil bukannya di tungguin main tinggal-tinggal aja, harusnya kamu jaga dan rawat istrimu baik-baik-baik, jangan sampai kamu menyesal nanti,"
Bryan hanya diam, ucapan Anes ada benarnya, selama ini ia selalu asyik kesana kemari, sering meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Ya, walaupun istrinya selalu bilang tidak apa-apa, tetapi dalam hatinya pasti ia ingin sekali selalu ditunggu oleh suaminya, apalagi saat-saat sulit selama kehamilan. Dan baru kali ini Bryan ke Indonesia mengajak sang istri iut, karena untuk menghadiri pernikahan Juna.
"Kamu Juna, lusa kamu nikah. Kenapa mabuknya nggak sampai over dosis, biar batal nikah sekalian!"
"Astaga nes, jangan itu dong," Juna menggidik ngeri dengan ucapan pedas Anes.
"Heran deh, hal begituan kok kalian tularin ke suami orang. Ngajak tuh yang baik-baik. Lihat nih, istrinya lagi bunting! Malah diajak maksiat,"
"Dengar tuh Jun, bray petuah ibu presdir!" celetuk Alex melirik ke arah dua sahabatnya.
__ADS_1
Juna dan Bryan hanya mencebikkan bibir mereka menanggapi celetuakan Alex.
"Diam kamu mas, kamu juga sama aja, kalau kamu nolak juga nggak akan begini kan kejadiannya," seketika Alex diam karena merasa kesekak.
" Abang juga, jangan senyum-senyum nggak jelas begitu," pandangan Anes beralih ke arah David.
" Giliranku sekarang, mereka bertiga yang bikin masalah, akupun kena imbasnya," batin David. Ia tak ingin melawan ataupun protes, biarkan saja adik kesayangan ya itu meluapkan amarahnya dari pada ia pendam, tidak baik buat kehamilannya. Pasalnya ia tahu, orang hamil lebih sensitif terhadap suatu hal, yang mungkin orang lain anggap sepele, tapi serius bagi dia yang sedang hamil.
"Abang kenapa tidak melarang mereka sih, abang kan ada di sana. Aku udah sering bilang, jangan terlalu memanjakan mas Alex! Jangan asal iyain aja apa yang mas Alex mau dan lakukan,"
"Saya sudah mencegahnya nona, bahkan saya rela menggantikannya buat minum, tapi bosnya aja yang keras kepala, tidak bisa di ganggu gugat, karena cintanya untuk melakukan nona begitu besar," batin David.
"Maafkan saya nona," hanya kata maaf yang keluar dari mulut David. Membuat Anes berdecak, nggak ada pembelaan kah? Abang angkatnya itu memang selalu begitu, selalu memilih untuk mengalah.
Anes terus menceramahi dan memberikan nasihat kepada mereka,
"Kapan nih masalah kelar, macan ngamuknya lama, pegal kakiku," Juna mengirim pesan ke grup whats*p mereka.
"Iya, serem. Tapi aku jadi pengen cepat-pulang, pengen ketemu sheila, aku jadi sadar, selama ini aku terlalu cuek sama dia, untung dia sabar ngadepin aku, kalu nggak mungkin udah kabur dah sama cowok lain," balas Bryan,
"Malah curhat!" balas Juna.
"Sorry bro, maklumin aja ya, istriku sedang hamil jadi bawaannya sensi terus, Bryan pasti tahulah, istrinya kan juga sedang hamil, pasti banyak mau dan dramanya. Pengen lebih di perhatiin gitu, dimanja,"
Seketika Bryan tercengang, dia tidak tahu akan hal itu, yang ia tau istrinya sedang hamil, dia mencintai istrinya dan istrinya juga mencintainya, udah begitu saja, ia pikir istrinya selalu baik-baik saja karena tidak pernah protes dengan tingkah polah bryan. Tapi, justru bryan menjadi kepikiran, bagaimana kalau selama ini istrinya memendam dendam terhadapnya, dan suatu saat bisa saja dia tidak tahan dan pergi, bulu kuduk bryan berdiri, tidak bisa membayangkan kehilangan istri yang ia cintai itu.
"Its okay! Lagian ini juga salah kita," balas Juna.
"Macan di lawan!" David ikut memberi suara dalam grub.
"Eh apa maksudnya nih? Macan siapa yang di lawan dan ngamuk? siapa yang pelihara macan?" tanya Baim.
"Alex yang pelihara macan," balas Juna, membuat bryan terkekeh, sedangkan Alex mendesis.
"Wah gila kmau lex, istri lagi hamil malah pelihara macan, nanti kalau anak kamu lahir bisa bahaya, pelihara tu kucing, kelinci, marmut yang unyu-unyu," balas
Baim. Membuat Juna David dan Bryan menahan tawanya.
"Aku sukanya macan, sekalian nanti kalau anakku lahir, biar macanku yang mengurus, mengasuh dan menyusui," balas Alex.
"Wah gila kamu lex, anak sendiri mau di kasih ke macan," Baim belum juga paham.
"Kamu yang gila!" balsa Alex gemas, menghadapi temannya yang lola tersebut.
Ketiga sahabatnya hanya mampu saling menahan tawa, tahu betapa dongkolnya hati Alex saat ini.
Anes tampak kesal, dia sibuk ngoceh malah para laii-laki di depannya pada sibuk chat.
"Taruh ponsel kalian!" pinta Anes. Mereka hanya menurut. Anes kembali melanjutkan ultimatumnya, ia terus saja menasehati Keempatnya, seperti seorang ibu yang sedang menceramahi anaknya yang ketahuan makan cokelat dan permen padahal giginya sudah geriwing atau rusak.
" Para tuan muda yang berkuasa dan arogan itu keok ya bi di hadapan nyonya muda, terutama tuan muda Parvis, bertekuk lutut sama nyonya. Ternyata ada juga yang berani sama mereka, dan sepertinya nyonya muda satu-satunya yang berani," celetuk salah satu asisten rumah tangga di belakang bi Ina yang berdiri di salah satu sudut rumah Alex.
" Namanya juga cinta, dan mereka seperti itu karena segan dan menghargai nyonya muda," sahut bi Ina. Ya, tentu saja kalau mereka niat pakai otot tentu saja Anes kalah tenaga.
__ADS_1
" Eh, kenapa kamu bisa di sini, mending cepat sana ke rumah belakang, jangan ada yang berani ke sini, atau kalian akan dipecat jika tuan muda tahu, dan jangan kasih tahu sama yang lain apa yang barusan kamu lihat dan dengar," lanjut bi Ina, ia tak ingin para karyawan menggosipkan tuannya, takutnya mereka akan menambah atau mengurangi gosipnya.
" Baik bi, " Jawabnya lalu pergi.
Kembali ke Anes,,,,ia merasa sudah kehabisan kata-kata dan kehausan, ia mengakhiri ceramahnya, menyuruh mereka bubar dan pulang. Namun, sebelum mereka pulang, Anes menyuruh bibi mengambilkan detergen untuk di berikan kepada mereka satu-satu.
David, Juna dan bryan saling menatap bingung dengan maksud Anes memberi mereka detergen tersebut. Mereka kompak menatap ke arah Alex.
"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alex sarkastik.
"Buat mencuci otak kalian supaya bersih," ucap Anes kemudian, yang mana membuat ketiganya melongo dan menatap Alex lebih tajam.
"Jangan melihatku seperti itu dasar! Cepat sana pergi!" usir Alex.
"Ck, aku aja di suruh ngemil detergen tau nggak," batin Alex.
Juna tidak pergi, ia malah mendekati Alex dan berbisik, " jadi kan ceknya?"
"Tidak ada cek-cekan, cepat pulang atau mau mencuci otak kalian di sini?" tegas Anes.
Juna langsung cengo dan melongo mendengar Anes bicara seperti itu, dia melangkahkan kakinya dengan malas meninggalkan Alex dan Anes.
Namun, bukan Juna namanya kalau menyerah begitu saja, ia kembali berlari mendekati Anes dan Alex.
" Ingat, janji adalah hutang, ya ya ya, jangan batalin ceknya,"
"Arjuna, apa kamu semiskn itu, hingga memalak suamiku?" dan Juna pun diam, ia berbalik badan dan benar-benar pergi.
🌼 🌼 🌼
Setelah ketiga laki-aki itu pergi, Alex beringsut ingin memeluk Anes,
"Berhenti! Jaga jarak aman!" seru Anes.
"Sayang, ayolah, mas udah nggak bau. Bahkan tadi di kantor mas udah ngemil permen dengan berbagi rasa, biar menimbun bau alkoholnya," rengek Alex.
"Tuh kan, memang mau aku jadi janda muda kayaknya, ngemil permen, kalau diabetes bagaimana? Sama aja kan?"
"Salah lagi," batin Alex.
"Ayolah sayang, jangan jaga jarak sama mas,"
"Tetap jaga jarak, mas itu kayak virus, bahaya kalau dekat-dekat," Anes berjalan menuju ke kamarnya, di ikuti oleh Alex dengan tetap berjarak. Bahaya yang di maksud Anes adalah sebenarnya tingkat kemesuman sang suami, kalau dia boleh peluk dan di maafin, pasti deh langsung nyosor tuh suami.
"Serius kamu batalin cek Juna?" tanya Alex.
"Menurut mas?" Anes balik bertanya. Ia menghentikan langkahnya, Alex secara otomatis juga menghentikan langkahnya dengan tetap jaga jarak, daripada menerobos, nanti malah makin lama Anes ngambeknya, pikir Alex. Ia lebih memilih mengalah dan bersabar.
"Kalau mas sih, terserah kamu saja, kamu kan selain ibu negara juga menteri keuangan," sahut Alex tersenyum.
"Kalau mas benar-benar mengenalku, pasti mas tahu jawabannya," ucap Anes dan langsung melanjutkan langkahnya.
Alex mengekorinya sambil tersenyum. Ya, dia paham betul seperti apa istrinya tersebut.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼
💠JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA DONG SAYANG, TERIMA KASIH🙏🙏 SALAM HANGAT AUTHOR❤️❤️💠