MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 194


__ADS_3

Sebagai pembuka acara, Aldo yang baru saja hadir langsung menyanyikan sebuah lagu untuk menyambut para tamu di acara reuni tersebut.


"Wih, niat banget yah ni acara, reuni Akbar kayaknya sampai mengundang aktor papan atas seperti Aldo Pratama," ucap salah seorang tamu.


"Iya bener banget, masih muda, ganteng berbakat lagi. Kehidupan pribadi seorang Aldo tidak pernah terendus media. Dia benar-benar mengandalkan bakatnya untuk sampai ke posisi ini, bukan di bumbui dengan skandal biar bisa naik pamor. Benar-benar aktor top. Makin ngefans deh sama doi," sahut yang lain.


Mendengar pujian-pujian yang di lontarkan kepada Aldo, Anes dan Amel hanya saling melirik dan tersenyum. Ya, mereka akui memang Aldo sangat baik dan tidak sombong, buktinya Aldo mau membantu mereka waktu itu yang notabennya saat itu mereka baru saja bertemu. Bahkan dengan ramah Aldo mengajak keduanya untuk berteman.


Menurut Aldo Anes dan Amel sangat cocok dan enak di jadikan teman, karena mereka berdua tidak ribet, bisa santai menghadapi Aldo layaknya manusia biasa.


Selesai membawakan sebuah lagu, Aldo turun dari panggung. Namun, ia tidak kembali ke tempat yang di sediakan khusus untuknya, melainkan ia lebih memilih berbaur dengan Anes dan Amel. Tentu saja hal itu membuat yang lainnya iri. Bagaimana bisa Anes dan Amel bisa kenal dekat dengan aktor tampan itu?


Tak berselang lama, di luar gedung tampak riuh ramai. Para tamu, terutama tamu wanita yang ada di dalam gedung pun, berhamburan keluar ikut heboh di luar sana.


"Ada apa sih? Heboh banget!" celetuk Amel penasaran.


"Enggak tahu tuh, apa ada artis lagi ya yang datang, tapi ini lebih heboh loh dari kedatangan kamu tadi Do," balas Anes melihat ke arah luar dan beralih ke Aldo yang sedang melihat ke arah luar karena penasaran juga.


"Iya ya, emang siapa sih yang datang. Emang ada artis yang lebih ganteng dan lebih terkenal dari aku?" sahut Aldo tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.


"Ah udahlah, kita nggak usah pedulikan yang baru datang, lanjut menikmati hidangan yang ada aja," ujar Anes. Amel dan Aldo pun mengiyakan, mereka kembali menikmati hidangan yang ada di depan mereka tanpa merasa terusik dengan keriuhan yang ada.


Aldo menatap heran ke arah Anes yang makan dengan lahapnya.


"Pelan-pelan Nes, itu di sana masih banyak makanan, jangan buru-buru," ucap Aldo.


"Maklum do lagi hamil ya begitu nafsu makannya meningkat,"


"Tapi tetap cantik dan seksi sih meskipun banyak makan, cuma perut aja yang tambah buncit," puji Aldo.


Tanpa mereka sadari Alex dan David sudah berdiri di belakang mereka. Alex mengernyitkan dahinya mendengar Aldo memuji istrinya. Meskipin ia bangga karena pujian Aldo itu memang benar, tapi Alex tidak suka laki-laki lain memuji Anes dengan terang-terangan seperti itu.


"Maaf kami terlambat," ucap Alex kemudian membungkuk dan mencium pipi Anes dari samping.

__ADS_1


Sontak Anes langsung menoleh, manik mata indah itu langsung menangkap wajah tampan sang suami yang sedang tersenyum kepadanya.


"Mas Alex?" gumam Anes. Ia Berdiri, membalik badan dan membalas senyum sang suami.


Amel pun ikut berdiri melihat siapa yang datang dengan Alex. Siapa lagi kalau bukan David.


"David," lirih Amel. David tersenyum ke arah Amel dan mendekatinya. Ia juga melakukan hal yang sama kepada Amel, mencium pipinya.


"Maaf beb, aku telat," ucap David sambil mengulas senyum manisnya, lesung pipinya menambah ketampanannya.


Amel memegangi pipinya yang mendadak menjadi merah karena perlakuan David.


"Kenapa dia bisa datang ke sini? Padahal aku tidak memberitahu dia acara ini," batin Amel.


Mereka yang melihat adegan yang di lakukan oleh dua orang laki-laki tampan tersebut membuat para wanita yang hadir histeris, meleleh. Ada juga yang merutuki pasangan mereka kenapa tidak bisa seromantis mereka berdua.


"Oh my my, mereka siapanya Anes dan Amel?" tanya seorang perempuan yang matanya masih membulat karena syok.


"Mohon semuanya duduk kembali ke tempat masing-masing," ucap pembawa acara dari atas panggung.


Dan mereka pun duduk kembali ke tempat semula, David dan Alex duduk satu meja dengan Anes dan Amel.


🌼🌼🌼


"Mereka siapa sih? Anes dan Amel kenal orang-orang keren-keren kayak gitu dari mana, mereka suami Anes dan pacar Amel?" Sandra menutup mulutnya sendiri tak percaya. Dalam pikirannya, karyawan biasa ada yang seganteng dan sekeren itu? mustahil! Masih belum bisa di terima oleh akal sehat Sandra.


"Sayang, apa kamu kenal dua laki-laki Itu? dari mereka datang kamu hanya bengong," tanya Sandra kepada suaminya.


"Kalau yang duduk dekat teman kamu yang namanya Amel itu, aku tahu, dia tuan David, orang terpenting nomor dua di Parvis Group. Beliau sering meninjau bank tempat aku bekerja. Kalau yang satunya...kemungkinan adalah tuan muda Parvis! Iya sayang, beliau pasti orang nomor satu di Parvis Group, Tuan muda Parvis. Meskipun aku belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi aku yakin beliau adalah tuan Alex Abraham Parvis, pewaris tunggal Parvis Group," jelas Rian, ia merasa tak percaya juga dengan apa yang di lihatnya, dua pimpinan penting dari Parvis Group ada di depan matanya. Ingin sekali ia menyapa mereka.


"Kamu jangan ngaco deh yang, beneran mereka asisten David dan tuan muda Parvis?" Sandra syok.


"Iya aku yakin, kalau tuan David kan aku udah sering bertemu. Dia itu bukan cuma asisten, tapi juga sahabat dan orang penting di Parvis, beliau juga memiliki saham di Parvis Group. Ah pokoknya mereka berdua itu orang-orang terdepan. Sayang, kamu tadi bicara seperti itu di depan Anes, bagiamana kalau dia tersinggung? Karir aku jadi taruhannya," Rian mendadak pucat mengingat mulut lemes sang istri tadi.

__ADS_1


"Aduh iya nih San, tadi kita kayak ngerendahin mereka gitu nggak sih, pakai ngomongin barang mereka barang KW segala, kesannya kita menghina gitu," sambung Niken yang duduk satu meja dengan Sandra.


"Aduh gimana dong, menurut yang aku dengar, tuan muda Parvis dan tuan August itu dua orang yang berkuasa dalam dunia bisnis. Perusaahan suami kita tidak ada apa-apanya. Hanya Menjentikkan jarinya, perusahaan kita bisa hancur," lanjut suami Niken was-was.


"Astaga! Aku nggak percaya, Anes teman kita yang dulu sekolah karena beasiswa bisa seberuntung ini? Aduh nih badan mendadak lemas begini, sayang pegangin aku, rasanya mau pingsan," ujar Sandra, ia berpegangan kepada suaminya.


"Lagian kamu sih yang, punya mulut tuh jangan lemes-lemes amat, segala barang orang lain di komentarin,"


"Ya mana aku tahu, aku nggak ada niat buat menghina, cuma mau bilang realitanya aja, tapi ternyata realitanya seperti ini, kamu sih Ken! Kamu kan orang kaya, barang-barang kamu katanya branded semua, tapi tidak bisa membedakan yang asli sama KW, kalau orang kaya beneran tuh ya, hanya melirik saja tahu itu barang berkelas tinggi dan asli," Sandra melempar kesalahan kepada Niken.


"Kok aku sih San? kamu kan yang tadi bilang buat jangan terkecoh dengan penampilan mereka yang wow! lagian barang-barang Junian yang beliin suami aku, bukan aku sendiri," Niken tidak mau di salahkan.


"Itu yang, sebenarnya barang-barang kamu itu bukan asli, tapi KW," ucap suami Niken jujur sambil garuk-garuk kepala.


"Sayang! berani ya kamu bohongin aku selama ini? Pantes aja nggak pernah di kasih kalau aku minta bill pembayaran dan juga surat-suratnya," geram Niken.


Sandra dan suaminya menahan tawa mendengar kenyataan tersebut. Namun, mereka kembali menciut nyalinya, memikirkan nasib karir mereka masing masing.


"Meskipun KW tapi yang paling bagus kok sayang," suami Niken masih berusaha.


"Awas ya kamu! urusan kita belum selesai, kita selesaikan nanti di rumah. Di sini malu banyak orang!" Niken menatap tajam ke arah suaminya.


"Udah-udah nggak usah ribut, malu di lihat yang lain. Yang paling penting sekarang bagaiman kita menyelamatkan dapur kita biar bisa tetap ngebul kedepannya, kalau Anes ngadu sama suaminya habislah kita. Kita harus meminta maaf dan membujuk Anes supaya tidak buka mulut kepada suaminya," Sandra mencoba berpikir. Ia memijit-mijit pelipisnya karena pusing dan syok.


Sandra dan Niken menoleh ke arah meja Anes dan Amel. Anes menyadari mereka melihat ke arahnya, ia melempar senyum ke arah Sandra dan Niken, dan di balas senyum sungkan oleh mereka.


"Aku kok jadi ngeri ya, itu senyum tulus atau senyum mengancam," ucap Niken, menggedikkan kedua bahunya.


"Iya ya, aku jadi merinding disko begini, lemas banget nih badan jadinya, harusnya reuni ini kan kita buat happy, malah apes begini," ucap Sandra lesu. Setiap dia melihat ke arah Anes maupun Amel, mereka berdua selalu melempar senyum. Padahal mereka tersenyum tulus, tapi Sandra mengartikannya lain.


"Tuh kan, bulu kudukku berdiri semua," gumam Sandra.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2