
Dua bulan kemudian....
"Mas ayo bangun, ini udah jam berapa kenapa belum bangun sih? nanti telat ngantornya," Anes menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya dan menggoyang-goyangkan tubuh Alex supaya bangun.
"Aaaahh masih ngantuk sayang, 10 menit lagi," ucap Alex masih dengan mata terpejam.
"Huh, ini aku udah bangunin mas yang ke 4 kali loh, 10 menit lagi beneran bangun, oke?"
Sudah tidak ada sahutan dari Alex.
"Heran deh, kenapa akhir-akhir ini kamu jadi pemalas begini sih, nggak biasanya kamu seperti ini," gumam Anes.
Anes meninggalkan Alex di alam mimpinya dan turun ke lantai bawah untuk melanjutkan kegiatan masaknya yang tadi ia tunda untuk membangunkan sang suami.
"Ini cumi-cuminya sudah saya bersihkan nyonya muda," ucap salah satu asisten rumah tangganya.
"Makasih ya Bi, bibi bisa mengerjakan yang lain, bar saya sendiri yang menyelesaikannya," ucap Anes.
"Baik nyonya, saya permisi," pamit ARTnya.
Selesai masak, Anes kembali lagi ke kamarnya untuk mengecek apakah Alex sudah bangun dan mandi atau belum.
"Belum bangun juga? mas ayo bangun ini udah telat ke kantor," Anes memencet hidung Alex hingga Alex gelagapan susah bernapas. Alex bangun dan langsung memeluk Anes. Tapi, Alex merasa mual ketika mencium bau parfum Anes. Ia segera melepas pelukannya.
"Aneh, kenapa aku mau muntah mencium aroma parfum Anes," batin Alex. Namun, ia tidak mengatakannya kepada Anes, takutnya istrinya tersebut akan tersinggung.
"Sayang, hari ini mas kan libur, jadi biarkan mas tidur 10 menit lagi oke?" ucap Alex.
"Libur? Kenapa? mas sakit?" Anes mengecek leher dan kening Alex, apakah demam atau tidak.
"Mas nggak sakit, tapi hari ini kan hari libur," sahut Alex dengan malas.
"Masa sih? ya udah kalau begitu mas tidur lagi aja nggak apa-apa, aku mau menyirami tanaman dulu di taman belakang," ucap Anes lalu kembali meninggalkan sang suami yang masih enggan beranjak dari dunia mimpinya. Entah memimpikan apa, sampai Alex malas untuk bangun dan menghadapi dunia nyata.
"Nyonya, sarapannya sudah bibi siapkan di meja, apakah nyonya mau sarapan sekarang?" tanya bi Ina.
"Tidak bi, nanti saja. Menunggu mas Alex bangun," sahut Anes sambil menuruni anak tangga.
"Tuan muda belum bangun? tumben nyonya, biasanya beliau paling tidak suka telat bangun," balas Bu Ina.
"Iya bi, mungkin kecapean, biarin ajalah Bi. Lagian ini kan hari libur," kata Anes.
__ADS_1
"Hari libur? Bukannya ini hari Rabu nyonya?" tanya bi Ina bingung. Memastikan kembali ingatannya, siapa tahu ia salah karena faktor usia.
"Yang benar bi?" Anes memastikan.
"Seingat bibi sih iya nyonya muda, coba di cek saja, siapa tahu bibi yang keliru," sahut Bi Ina.
Anes segera melihat ponselnya dan ternyata benar itu hari Rabu.
"Bibi benar, sekarang hari Rabu. Pantas tadi saya merasa aneh, atau mungkin ini tanggal merah ya Bi?"
"Biar saya lihat kalender di kamar saya nyonya buat memastikan," Bi Ina langsung berlari kecil menuju ke kamarnya.
"Kalender bibi tanggalnya hitam nyonya, tidak merah," Bi Ina kembali membawa kalender dari kamarnya.
"Hem, mas Alex ngerjain saya sepertinya bi. Kenapa saya bisa lupa sih, kan baru dua hari yang lalu mas Alex libur Sabtu Minggu,"
Anes mengurungkan niatnya ke taman belakang, ia kembali lagi ke kamarnya, karena kalau hari ini hari Rabu, berati suaminya tersebut ada meeting penting dengan kliennya.
"Mas, bangun! ini hari Rabu, bukan hari libur, Cepat bangun bukannya hari ini mas ada meeting penting. Kenapa malah bilang libur. Mau membodohi aku hem?" teriak Anes sambil menarik Alex supaya bangun.
"Sayang, mas kan yang punya perusahaan, jadi bebas mau libur kapanpun, kamu jangan protes. Lima menit lagi oke?"
"Bangun, ngaret terus dari tadi, tuh ponsel mas bunyi," ucap Anes sambil menunjuk ponsel Alex di atas nakas.
"Bos, saya cuma mau mengingatkan, kalau hari ini ada meeting penting, dan klien kita kali ini paling tidak bisa menunggu, jadi kita harus tepat waktu," ucap David di seberang telepon.
"Berisik! meetingnya jam 10 kan? aku akan datang jam 11," sahut Alex langsung mematikan ponselnya.
"Kerasukan jin mana sih mas Alex? kenapa jadi keluar jalur begini? benar-benar tidak seperti biasanya," Anes menatap aneh kepada suaminya tersebut.
"Mas Alex kenapa sih? mas sakit? atau ada masalah? atau kita ketemu ustadz aja yuk?"
"Ustadz?" Alex menaikkan kedua alisnya.
"Iya, biar mas di rukyah. Takutnya ada yang menempel," sahut Anes cuek tanpa dosa.
"Iya, ada yang menempel, istri mas ini yang suka menempel," Alex menarik Anes ke dalam pelukannya.
Tiba-tiba, Alex merasa mual lagi. Ia langsung melepaskan pelukannya dan menuju ke kamar mandi. Anes merasa khawatir langsung menyusulnya.
__ADS_1
"Mas kenapa? sakit? aku panggil dokter ya?"cemas Anes.
"Enggak, mas nggak sakit. Cuma merasa sedikit aneh aja," sahut Alex.
"Mas kan emang aneh," celetuk Anes.
"Sayang," panggil Alex serius.
"Maaf, aku cuma bercanda mas,"
"Enggak bukan itu, mas mau bilang sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan tersinggung ya?" ucap Alex memegang kedua bahu Anes dan menatapnya.
"Apa sih mas, jadi merinding,"
"Kamu pakai minyak wangi apa? kenapa baunya seperti ini, nggak enak banget. Mas rasanya mau muntah mencium baunya," ucap Alex dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Anes.
"Aku pakai parfum biasanya kok, parfum yang mas belikan itu. Bukannya mas sangat menyukai baunya?" jawab Anes.
"Berati ini keringat kamu yang bau ya? mungkin karena bercampur dengan parfum jadi merusak indera penciuman mas. Bisa tolong mandi lagi dan ganti baju?"
"Maksud mas aku bau begitu? aku baru saja mandi mas, masa iya harus mandi lagi. Dan ini cium nih masih wangi," Anes menyodorkan badannya mendekati Alex.
"Hoek, Hoek!" Alex kembali merasa mual.
"Maaf sayang, bukan maksud mas menyinggung tapi.."
"Oke-oke aku mandi lagi dan ganti baju. Puas!" kesal Anes, ia langsung menuju ke kamar mandi dan menutup pintuny dengan kasar.
"Kenapa sih tuh orang, pagi-pagi udah ngajak ribut. Biasanya juga dia yang nempel, bahkan mengendus-endus ketiakku, walaupun berkeringat. Sekarang wangi begini malah di bilang bau," gerutu Anes sambil menceburkan diri ke bath up.
Beberapa saat kemudian, Anes keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimononya.
"Sayang,"
"Apalagi mas? aku udah mandi lagi ini, sekarang sana mas gantian mandi, aku tunggu di bawah buat sarapan," ucap Anes.
"Maaf," Alex langsung memeluk Anes. Dalam pelukannya, Anes menyadari ada yang beraksi di bawah sana. Ia cepat-cepat melepaskan pelukan Alex.
"Cepetan mas mandi, kalau meluk aku terus takutnya nanti aku harus mandi lagi," ucap Anes sambil melihat ke arah celana Alex.
Alex tersenyum menyeringai dan langsung menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
🌼🌼🌼