
Alex dan Anes sudah berada dalam mobil, suasana hening tak ada yang bicara.
"Mas, aku bisa menjelaskannya," Anes memberanikan diri untuk membuka suara.
"Katakan!" ucap Alex datar tetap fokus menyetir.
"Aku ketemu kak Rangga karena..." belum Anes selesai bicara, Alex menoleh kamu darahnya dengan tatapan tak suka.
"Maksudku Rangga," Anes meralat ucapannya.
"Ya, aku ketemu Rangga hanya untuk mengucapkan selamat tinggal, dia akan pergi ke luar negeri dan mungkin tidak akan kembali, sungguh aku tidak ada maksud yang lain. Bukannya menjalin silaturahmi itu baik. Biar bagaimanapun dia adalah temanku," lanjut Anes. Alex masih diam.
"Pasti marah deh," batin Anes.
"Maaf mas, lain kali nggak kuulangi lagi. Tapi tadi aku udah mencoba menghubungi mas Alex, tapi nggak diangkat, pesan juga nggak di balas, jadi aku pergi saja, toh aku nggak mau macam-macam,"
"Wajar mas Alex marah, biar bagaimanapun nggak baik aku ketemu laki-laki lain sendirian, bahkan tadi aku menyuruh pak Anton pulang. Pasti mencurigakan sekali," batin Anes.
Akhirnya Alex tidak tahan mendiamkan Anes,
"Hahaha jangan cemas begitu, mas nggak marah sayang, mas percaya kok sama kamu. Tadi mas nggak angkat telepon kamu karena mas lagi di toilet, kalau pesan kamu mas belum baca, jadi nggak balas," Alex mengusap rambut Anes dengan satu tangganya, sedangkan tangan yang satunya tetap memegang kemudi mobil.
Anes mendesah lega.
"Aku kira mas marah, wajar sih kalau misalnya mas marah," ucap Anes.
"Mas tahu, kamu nggak akan macam-macam di belakang mas, kamu kan cinta mati sama mas," sahut Alex percaya diri.
"Ck, Anda terlalu percaya diri tuan,"
"Emang benarkan? O ya, lain kali jangan suruh pak Anton pulang, mas kan udah bilang jangan pergi sendirian, kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Iya, aku salah, maaf. Eh tapi kenapa mas tahu aku ada di cafe tadi? perasaan aku cuma bilang mau ketemu sama kak, eh Rangga maksudnya, tapi nggak nyebutin tempat," tanya Anes penasaran
Alex menceritakan bagaimana sampai dia bisa tahu kalau Anes bertemu Rangga di cafe
flashback on
Saat Alex dan David sedang asyik bercerita ria, sambil browsing-browsing di internet, ponsel Alex bergetar, ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Alex membukanya dan ternyata ada sebuah photo yang di kirim ke ponselnya. Ia tampak mengernyitkan dahinya melihat gambar tersebut.
"Ada apa bos?" tanya David.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sedang mencoba memprovokasi aku Dav, lihatlah," Alex menyodorkan ponselnya untuk di lihat oleh David. David melihat Rangga sedang mengulurkan tangannya yang hendak membersihkan makanan yang menempel di sudut bibir Anes.
"Itu kan, laki-laki yang bicara sama nona Anes di acara amal waktu itu, sepertinya ada yang sengaja membuat anda salah paham bos dengan mengirim photo tersebut, nona tidak mungkin berbuat macam-macam," ucap David.
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi siapa yang mencoba menghasutku?" Alex mencoba berpikir.
"Apa mungkin laki-laki itu sengaja melakukannya," David menduga-duga.
"Cuma ada dua kemungkinan, kalau tidak laki-laki itu, aku yakin pasti Rania yang melakukannya, mungkinkah dia menyuruh seseorang untuk mengikuti Anes?" Alex tiba-tiba menjadi khawatir. Ia segera menyambar kunci mobilnya berjalan ke arah pintu.
Ia berhenti sebentar dan menoleh ke arah David.
"Carikan cendol dawet untukku, dan antar kerumah sore ini," ucap Alex dan langsung melenggang pergi.
"Cendol dawet?" batin David mengernyitkan dahinya.
flashback off
"Itu tidak seperti yang di photo mas kenyataannya, tadi memang Rangga berniat membersihkan makanan yang menempel di sudut bibir aku, tapi sumpah aku langsung menghindar," Anes mencoba menjelaskan supaya Alex tidak salah paham.
"Mas tahu, orang itu pasti sengaja mengambil gambar tepat saat sebelum kamu menghindar. Sehingga kelihatan seperti kamu tidak menolaknya," Alex mencoba berpikir menurut sudut pandangnya.
"Tapi siapa yang mengirimkan photo itu? aku jadi takut mas," Anes mendadak merinding, takut kalau ada orang yang berniat jahat kepada rumah tangganya.
"Kamu jangan khawatir, ada mas yang akan selalu menjagamu, mas akan segera menyelidikinya, mas nggak akan membiarkan orang mengganggu kamu dan anak kita," sahut Alex.
"Sudah tugasku sayang," balas Alex dengan senyuman.
"Mas lebih mengerti aku, mau mendengarkan penjelasan ku, tidak seperti aku waktu itu yang langsung pergi, maafkan aku mas," Anes mengingat sikapnya yang menurutnya kurang dewasa saat itu.
Ya, begitulah Alex selalu bisa menempatkan diri. Saat serius, dia bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan di andalkan oleh Anes. Tapi ada kalanya ia sengaja bermanja-manja dengan istrinya tersebut, seperti seorang anak kecil. Cinta memang aneh, bisa membuat Alex menjadi pribadi yang lebih dewasa tapi juga kekanak-kanakan.
🌼🌼🌼
Malam harinya..Alex dan Anes tampak sedang bersantai di ruang televisi sambil menonton drama kesuakaan Anes.
David datang dengan membawa sejumlah paper bag di tangannya.
"Bos, saya membawakan pesanan Anda tadi siang," ucap David.
"Kau sudah mendapatkannya?" tanya Alex senang.
"Emang mas Alex pesan apa pak David?" tanya Anes penasaran.
__ADS_1
"Ini nona, tadi bos meminta saya mencari cendol dawet. Karena saya bingung, makanya saya membawa semua yang berhubungan dengan cendol dawet. Ada kaset lagu cendol dawet. Ada poster penyanyi cendol dawet version, Nella kharisma. Ada kaos bertuliskan cendol dawet beserta tanda tangan Nella kharisma. Dan ini juga ada cendol dawet beneran. Saya tidak tahu yang mana yang di maksud bos," David menunjukkan semua yang dia katakan.
"Kenapa nggak sekalian Nella kharismanya di bawa kesini, biar gelar konser di rumah ini!" sungut Anes.
"Ide bagus tuh sayang, David, segera atur supaya Nella kharisma bisa manggung di rumah ini," sahut Alex.
"Serah dah, serah!" Anes mengangkat tangannya lalu pergi meninggalkan dua laki-laki dewasa, namun terkadang kekanakan tersebut bila berhadapan dengan yang namanya cinta.
Alex dan David saling memandang dan mengangkat kedua bahu mereka masing-masing.
"Dav, ikut ke ruang belajar," ajak Alex.
David mengikuti instruksi Alex.
"Sepertinya memang ada yang sengaja mengikuti Anes kemarin, segera selidiki dan temukan orang yang kemarin mengambil photo Anes di cafe!" ucap Alex.
"Baik bos, kalau tidak ada lagi, saya permisi," pamit David
"Hem, hati-hati!" sahut Alex.
Alex segera menyusul Anes ke kamarnya. Anes tampak sedang memainkan ponselnya dengan kaki selonjor.
Alex langsung naik ke tempat tidur dan tidur di kaki Anes.
"Sayang,"
"Hem," sahut Anes.
"Bagaimana kalau kita buat teman untuk debay, biar dia nggak kesepian?"
"Maksud mas?"
"Ya kita buat lagi debaynya supaya menyusul yang sudah ada, biar ada temannya gitu, mungkin dengan teknik yang berbeda akan berhasil," ucap Alex. Walaupun sebenarnya ia sendiri berpikir untuk puasa, tapi di sisi lain ia juga pengen.
"Ya nggak gitu juga kali mas teknikanya. Yang ini jebrolin dulu, keluarin dulu, baru buat lagi. Mana bisa menyusul," jelas Anes.
"Kalau begitu kita pupuk aja biar dia cepat gede dan segera keluar, terus kita kasih adik kembar, cerdaskan?
"Iya, sangat cerdas sampai tidak bisa di terima oleh akal sehatku! di pupuk, tanaman kali di pupuk,"
"Hehehe bercanda sayang, gitu aja manyun, senyum dong," goda Alex.
Mereka pun asyik bercanda sampai akhirnya Anes mengantuk dan memutuskan untuk tidur duluan. Sedangkan Alex membuka laptopnya, memastikan apakah David sudah mengirim sesuatu yang sudah ia janjikan tadi siang di kantor. Kemudian, ia menutup laptopnya dan berjalan menuju ke balkon.
__ADS_1
"Ma, pa, kalian lihat kan dari sana kebahagian Alex? sebentar lagi Alex jadi daddy, dan kalian jadi kakek nenek, akan ada tangis seorang bayi di rumah ini, bayi penerus keluarga Parvis," batin Alex sambil melihat ke langit dari balkon kamarnya.
🌼🌼🌼