
Di sisi lain, David tampak sedang berada di apartemennya, apartemen yang sengaja Alex berikan untuknya. Ia memainkana ponsel pintarnya sembari rebahan di tempat tidur. Biasanya ia dan Alex menghabiskan waktu bersama kalau weekend, karena mereka sama-sama jomblo. Tapi sejak bosnya itu menikah, ia lebih sering memberi waktu untuk Alex dan Anes bersama, agar mereka mengenal lebih dekat karakter masing-masing dan semakin yakin akan perasaan masing-masing. Ia gemas dengan pasangan tersebut, jelas-jelas terlihat mereka saling mencintai tapi masih saja belum saling mengutarakan perasaan mereka satu sama. lain. Nunggu apa?, nunggu pohon pisang berbuah nangka? pikirnya.
Karena merasa bosan di apartemennya, ia memutuskan untuk keluar sekedar menghirup udara luar.
Saat mobilnya melewati sebuah Cafe, dia melihat Amel tengah duduk di dalam cafe sambil berselfie ria.
"Ngapain dia disana sendiri? Apa dia jomblo seperti aku," gumamnya lirih.
David bergegas membuka ponselnya dan membuka akun media sosial milik Amel. Benar saja dugaannya, Amel mengupload photo yang ia ambil barusan.
"Ck, dasar narsis," gumam David.
Awalnya ia ingin melajukan mobilnya kembali, namun entah mendapat dorongan dari mana ia malah mematikan mesin mobil dan turun dari mobilnya. Ia berjalan menuju ke arah Amel duduk, namun sialnya, sebelum ia melangkah lebih jauh dari mobilnya, ada seorang laki-laki yang sudah duluan menyapa Amel.
David langsung menghentikan langkahnya, dilihatnya, Amel berdiri menyambut laki-laki tersebut dan mereka berpelukan. Amel kelihatan senang dengan menyunggingkan senyumnya yang manis kepada laki-laki tersebut.
"Siapa laki-laki itu, kenapa Gadis Ember itu sangat senang, apa dia pacarnya? ah apa peduliku, dia bukan siapa-siapa," batin David. Dia kembali kedalam mobilnya dengan mendesah kecewa. Entah kenapa, dia merasa kecewa saat gagal menghampiri Amel dan dadanya terasa agak sesak, melihatnya bersama laki-laki lain, padahal menurutnya Amel bukan tipenya, karena Amel terlalu cerewet dan berisik.
Sebenarnya, dulu waktu di Australia, David pernah dekat dengan seorang perempuan, anak dari seorang Pengusaha. Namun, lambat laun ia tahu gadis itu mendekatinya hanya untuk menjatuhkan Alex, karena dia adalah anak dari saingan bisnis Alex. David hanya dijadikan sebagai alat untuk menghancurkan Perusahaan Alex di Australia. Beruntung, rencana jahat perempuan itu diketahui oleh David sebelum hubungan mereka terlalu jauh.
David merasa sangat kecewa, marah dan tak menyangka, perempuan yang begitu baik padanya dan telah meluluhkan hatinya, ternyata hanya berpura-pura. Ia merasa bersalah dan malu terhadap Alex, namun Alex tidak pernah menyalahkannya sama sekali. Karena Alex tahu, David tidak bersalah, bahkan Alex sempat berpikir kalau perempuan itu cocok untuk menjadi pendamping hidup David kelak.
Hal tersebut membuat David trauma dengan yang namanya pacaran.
Di dalam mobil, David kembali membuka akun media sosial milik Amel, diam-diam dia sering stalking media sosial Amel.
"Jadi, laki-laki itu pacar barunya," gumam David, ketika melihat post terbaru Amel beberapa detik yang lalu.
"Saturday with my new lovely boyfriend ๐๐" begitulah kira-kira isi dari setatus yang baru saja Amel buat.
David melempar ponselnya ke kursi samping kemudi dan melajukan mobilnya.
"Ah sial!, kenapa aku merasa tidak senang melihat mereka tadi. Nona Amel, Gadis Cerewet itu, beraninya mengusik pikiranku. Ada apa denganku, hah tidak mungkinkan aku menyukainya?" batin David kesal. Tanpa ia sadari, ia melajukan mobilnya menuju ke arah apartemen Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes sedang memasukkan barang belanjaannya ke dalam kulkas ketika bel berbunyi. Ia segera menuju ke arah pintu untuk membukanya.
"Pak David!" sapa Anes.
"gapain dia kesini?" batin Anes.
"Nona, apa saya mengganggu, apakah Bos ada?" tanya David.
"Sebenarnya, aku ingin bilang mas Alex nggak ada, tapi tunggu, dia pasti kesepian sendiri di apartemennya, aku jadi nggak tega".
"Oh mas Alex ada, masuklah Pak David, saya akan panggilkan, Mas Alex sedang di kamar" ucap Anes
"Terima kasih Nona, saya akan menunggu Bos diruang kerjanya".
"Baiklah kalau begitu, saya akan menyuruh mas Alex ke sana" sahut Anes.
David pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Alex, sementara Anes menuju kamarnya.
"Mas, ada Pak David tu, dia nunggu di ruang kerja Mas Alex," ucap Anes, ketika sampai didalam kamarnya dan Alex sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya.
Alex menutup laptopnya dan turun dari tempat tidur.
"Ngapain dia kesini?" tanyanya sambil ngeloyor keluar.
"Entahlah, kangen kali sama kamu," sahut Anes yang ikutan keluar.
"Aku mau masak, nanti sekalian ajak Pak David makan malam disini," ucap Anes sebelum mereka berpisah untuk urusan masing-masing.
"Hem," jawab Alex singkat, sambil tetap berjalan menuju ruang kerjanya.
"Ngapain kesini, ini kan malam Minggu, ah aku lupa kalau kamu jomblo, " ucap Alex tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Nggak usah diingetin kali bos kalau saya jomblo," sahut David.
"Hahaha, makanya cepetan cari cewek, biar nggak dikira nggak doyan perempuan," celetuk Alex.
"Sayangnya, belum ada yang cocok bos," balas David dan entah kenapa tiba-tiba bayangan Amel lewat sekilas di pikirannya. Ia segera mengusir jauh-jauh bayangan Amel dari otaknya.
"Sudah saatnya kamu menata hidup kamu David, carilah pasangan yang akan menemani dan mengurusmu nanti, apa kamu nggak ingin berumah tangga?" ucapan Alex berubah serius.
"Entahlah bos, saya belum kepikiran sejauh itu, mungkin masih nyaman dengan kesendirian ini," sahut David tanpa ekspresi.
"Yang penting, Kamu tidak trauma dengan masa lalumu kan, ayolah Dav, tidak semua wanita seperti dia".
"Iya bos saya tahu".
Mereka pun asyik mengobrol hingga lupa waktu.
Anes yang sudah selesai masak, bahkan sudah membersihkan diri lalu memanggil Alex dan David untuk makan malam.
"Mas, ayo makan malam, ajak Pak David sekalian," ucapnya ketika mendapati suaminya dan David sedang bercengkerama.
"Ayo Bos, saya sudah tidak sabar mencicipi masakan Nona Anes," ucap David. Suasana hatinya kini sudah lebih baik daripada tadi saat datang.
"Ck, dasar! tentu saja enak, siapa dulu yang masak, istri Alex Abraham Parvis, Kamu pasti ketagihan dengan masakannya," bisik Alex sambil berjalan sejajar dengan David dan melewati Anes begitu saja.
"B**eda sekali raut mukanya sama tadi waktu datang, tadi kusut kayak pakaian belum diseterika. Di kasih mantra apa sama Mas Alex hingga jadi sumringah lagi begini?" batin Anes
"kenapa aku malah dicuekin sih, istrinya aku atau Pak David? benar-benar harus segera punya pasangan nih Pak David, biar nggak saingan sama aku!" gumam Anes kesal.
๐ผ๐ผ๐ผ
Melihat di meja makan sudah ada makan malam lengkap dan Anes melayani Alex di meja makan dengan tulus,mengambilkan nasi, sayur dan lauk membuat David sedikit iri. Sekilas terlintas dalam benaknya ingin memiliki sebuah keluarga juga.
Saat Anes hendak mengambilkannya nasi, David mencegahnya.
"Tidak usah Nona, biar saya mengambil sendiri nasinya".
"Lah, Kamu aja bukan bocah aku ambilin".
"Baiklah kalau begitu pak David" sahut Anes.
Mereka pun mulai makan malam dengan hening tanpa suara, hanya suara sendok dan garpu yang saling bersautan yang terdengar.
"Gimana Pak David, enak nggak masakan saya?" Anes membuka suara untuk memecah keheningan.
"Enak sekali Nona, saya jadi pengen nikah," ucap David tanpa sadar.
"Ck.dasar!, jangan bilang kamu jadi mau nikah sama istriku!" ucap Alex dengan nada tak suka.
"Bukan begitu maksudnya Bos, maksudnya, saya jadi pengen ada yang masakin sama istri begitu," sahut David. Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati, karena telah mengucapkan kata pengen nikah tanpa sadar, yang bisa saja mengundang kesalahan pahaman bosnya.
"Dasar ni mulut asal bicara aja, tu kan bos jadi salah paham, secara dia kan lagi bucin sama Nona Anes, jadi apa-apa selalu dicemburui. Hadeh harus gitu amat ya bos jatuh cinta"
"Mas Alex apaan sih," Anes ikut menyahut.
"Ya kali aja kan, karena masakan Kamu, dia jadi bucin sama Kamu," jawab Alex datar dengan percaya diri.
"Y**ang bucin tu Anda bos, nggak sadar apa" batin David.
"Tidak Bos, saya tahu batasan saya, tidak mungkin saya menyukai apa yang Anda miliki".
"Jadi menurutmu apa yang aku suka itu jelek, jadi kamu tidak menyukainya? hah dasar".
"S**alah lagi".
"Bukan bos, maksud saya, saya tidak akan berani bermimpi untuk memiliki apa yang Bos miliki".
"Kalau begitu Kamu tidak memiliki motivasi hidup dong, kalau nggak punya impian menjadi seperti orang lain yang lebih dari kamu".
__ADS_1
"Bukan begitu maksudnya Bos".
"Terus apa maksudnya?".
"Tu kan, cuma gara-gara asal ngomong pengen nikah jadi gini" desah David.
"Maksudnya, saya tidak berniat untuk menikah dengan Nona Anes, karena dia sudah menjadi istri Anda, bahkan bermimpi saja tidak berani".
"Oh jadi kalau Anes belum menjadi istri saya, Kamu mau jadiin dia istri kamu?".
"Ah suka suka Anda lah bos, pusing saya jelasinnya, mbok ya cemburunya itu yang sedang-sedang saja, jangan melebihi batas normal kewajaran," batin David sangat menyesali ucapannya tadi yang berbuntut panjang.
"Udah, udah! lanjutin makan!" ucap Anes sedikit berteriak karena lelah melihat dua laki-laki itu berargumen.
"Apa kamu nggak lihat bagaimana dia menikmati makananmu? seperti sedang menikmati masakan istrinya saja" batin Alex cemburu.
"Pak David makanya cepat cari calon istri, biar ada yang urus " ucap Anes melihat David.
"Eh itu saya belum kepikiran Non," jawab David.
"Nunggu apa emang, umur juga udah cukup matang buat memiliki keluarga".
"Nunggu jodohnya datang Non".
"Ya sambil usaha nyari dong, emang Pak David belum pernah punya pacar?" Anes penasaran. Ingin memastikan kalau pikirannya tentang David yang nggak menyukai wanita itu salah.
"Hampir, dulu dia hampir punya pacar, tapi nggak jadi," bukannya David yang menjawab, malah Alex.
"O ya? kenapa nggak diterusin, apa perempuan itu punya pacar, atau suami?".
"Karena wanita itu punya niat jahat mendekati David hanya untuk menghancurkan usahaku dia Australia," jelas Alex.
"Semua salah saya, saya tidak menyelidiki dulu latar belakang wanita itu, yang ternyata adalah anak dari saingan bisnis Bos Alex, saya benar benar menyesal karena ceroboh," David nampak lesu ketika berbicara.
"Udahlah Dav, sudah berkali kali aku bilang itu bukan salah Kamu, wanita itu yang terlalu licik".
"Ternyata Pak David pernah memiliki kisah cinta yang rumit ya, jadi kasihan," batin Anes.
" Hem itu kan sudah masa lalu pak David, tidak semua perempuan seperti itu, masih banyak perempuan yang baik dan tulus" bibir Anes.
"Saya tahu Nona, tapi saya belum bisa".
"Sedalam itu ya perasaan Pak David pada wanita itu hingga meninggalkan trauma, atau karena merasa bersalah sama mas Alex? entahlah," gumam Anes dalam hati.
"Wah tahu nggak, tadinya saya mau jodohkan Pak David sama Amel, sahabat saya".
"Uhuk-uhuk!" David tersedak mendengar ucapan Anes.
Alex segera menyodorkan minum kepada David.
"Terima kasih bos," ucap David.
"Maaf Pak David, kalau ucapan saya mengejutkan Pak David," Anes minta maaf.
"Lagian Kamu Nes ada-ada aja, Amel bukan tipenya David" sahut Alex.
"O ya? terus seperti apa tipenya?".
"Yang jelas, tidak berisik seperti sahabat Kamu yang Ember itu," jawab Alex.
"Huh untunglah, karena Amel ternyata juga sudah punya pacar sekarang".
Mendengar ucapan Anes yang mengatakan Amel sudah memiliki pacar, membuat David merubah ekspresi wajahnya. Ada guratan kecawa di wajahnya, yang ia sendiri tak mengerti. Namun, segera ia kondisikan menjadi wajah datar tanpa ekspresinya sebelum disadari oleh kedua orang di depannya.
"Saya sudah tahu Nona, bahkan tadi saya baru melihatnya, pacar Nona Amel " gumam David dalam hati.
Mereka melanjutkan makan malam tanpa suara lagi.
__ADS_1
๐ jangan lupa like komen n tipnya ya, karena tip dari kalian sangat membantu author supaya lebih semangat lagi dalam berkarya..terima kasih,๐๐๐