MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 66


__ADS_3

Saat seseorang jatuh cinta, sifatnya bisa berubah menjadi sangat posesif. Tak terkecuali dengan Alex, dia begitu posesif terhadap Anes. Anes tak keberatan dengan sikap posesif suaminya itu selama masih dalam batas wajar. Walaupun, kadang-kadang juga di luar batas wajar. Tapi, Anes masih bisa menerimanya. Alasannya adalah karena cinta. Alex posesif terhadap Anes karena cintanya yang begitu besar buat sang istri. Begitu juga Anes, dia menerima ke-posesifan sang suami semata-mata karena ia juga sangat mencintai suaminya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alex masih sibuk dengan pekerjaannya yang hampir selesai. Ia menoleh ke arah sofa yang ada di ruangannya tersebut. Dilihatnya, Anes sudah tertidur pulas karena menunggunya sejak tadi.


Alex segera menyelesaikan pekerjaannya lalu menghampiri istrinya. Ia jongkok tepat di depan wajah Anes lalu memandang lekat wajah istrinya tersebut.


"Kamu pasti terlalu capek karena bekerja dan masih harus mengurusku di rumah. Seharusnya sebagai istri tuan muda Parvis, kamu tidak perlu susah payah untuk bekerja. Tapi, jika aku memintamu untuk berhenti bekerja, pasti kamu akan marah," ucap Alex dalam hati sambil membelai pipi Anes dengan lembut. Kemudian, ibu jarinya mengusap bibir tipis Anes lalu tersenyum getir.


"Wanita itu pasti terlalu keras menamparmu sampai terluka seperti ini, dan kenapa kamu masih membelanya sayang? Bahkan, kamu mengkhawatirkan nasib mereka selanjutnya,"


"Bos, apakah Anda akan pulang sekarang? ini sudah larut malam," tanya David tiba-tiba mengejutkan Alex yang sedang fokus memandangi wajah sang istri.


"Kamu Dave, mengagetkan saja. Kamu pulanglah duluan. Aku akan menunggu Anes bangun. Kasihan kalau di bangunkan sekarang. Mungkin sebentar lagi dia akan segera bangun. Lihatlah! bukankah dia sangat manis sekali kalau sedang tidur begini?"


"Iya bos, sangat manis dan cantik," sahut David.


"Hei, apa kamu diam-diam melihatnya dan mengagumiannya saat tidur. Jangan melihatnya saat tidur begini. Tidak ada yang boleh menikmati kecantikannya apalagi kalau sedang tidur kecuali aku, suaminya!"


"Hah, tadi katanya suruh lihat, lagian juga aku tidak berniat melihatnya apalagi memperhatikan nona Anes saat tidur. Tidak hanya bucin, tapi bos juga mulai posesif. Hah, cinta memang bikin geleng-geleng kepala," batin David.


"Tidak bos, saya tidak melihat karena terhalang kepala Anda," jawab David jujur.


"Jadi kamu menyalahkan kepala ku, Hem?" Alex mengernyitkan dahinya tanpa menoleh ke arah David. Ia tetap fokus dengan wajah ayu istrinya.


"Tidak bos bukan begitu," David merasa serba salah.


"Sudah sana pulang duluan," perintah Alex.


Karena tidak ingin membuat bosnya yang sedang di mabuk cinta itu semakin ngawur menyimpulkan segala sesuatu menyangkut sang istri, dan membuat David menjadi serba salah, akhirnya David memutuskan untuk pulang duluan.


"Baiklah bos, kalau begitu saya akan pulang duluan, selamat malam," pamit David.


"Hem," jawab Alex singkat.


"Eh tunggu!"


"Ya bos, ada lagi?"


"Hati-hati di jalan,"

__ADS_1


"Aku kira setelah jadi bucin, bos tidak akan peduli padaku, ternyata masih perhatian juga," batinnya senang.


"Bos," panggil David.


"Apa?" Alex menoleh ke arahnya.


"Bos menyayangi dan peduli sama saya kan?" David memastikan.


"Tidak, udah sana pergi!" sahut Alex bohong.


"Baik bos," Sahut David dan langsung melenggang pergi.


"Tentu saja aku menyayangi dan peduli Dave, kamu itu sahabatku, saudaraku!, kenapa harus mempertanyakan hal itu?" ucap Alex kemudian tidak terlalu keras. Namun, sangat jelas terdengar di telinga David.


David yang mendengarnya pun tersenyum bahagia.


Alex benar-benar menunggu sampai Anes terbangun sendiri. Kemudian, mereka pulang karena hari sudah sangat larut.


Sampai di apartemen mewahnya, mereka langsung istirahat. Sebenarnya, Alex ingin sekali menagih imbalan yang ia katakan tadi siang. Tapi, melihat Anes yang tampak kelelahan membuatnya tak tega dan mengurungkan niatnya. Padahal, adik kecilnya di bawah sana sudah meronta-ronta meminta jatahnya.


🌼🌼🌼


"Mas Alex kemana sih? nggak kelihatan batang hidungnya. Pasti di ruang kerja, sibuk dengan pekerjaan. Huh, hari Sabtu waktunya libur, waktunya untuk bersantai, masih juga di sibukkan dengan pekerjaan. Kapan menikmati hidupnya?Percuma cari uang terus kalau jarang sekali bisa menikmati hidup yang hanya singkat ini, huh." Gerutu Anes.


"Siapa yang tidak menikmati hidup?" suara Alex mengejutkan Anes. Sontak, Anes menoleh ke arah suaminya.


"Mas sangat menikmati hidup ini sayang, lebih-lebih semenjak kehadiran kamu dalam hidup mas, kamu yang membuat hidup mas sangat nikmat," lanjutnya.


Anes tersipu mendengar gombalan receh suaminya.


"Ish gombal!" Anes melempar bantal sofa kepada Alex.


"Serius! Udah sana ganti baju!" perintah Alex.


"Nggak ah, ngapain cuma santai di rumah doang pakai ganti baju,"


"Cepat ganti! nggak usah bawel!" Anes memencet hidung Anes gemas.


Anes tak bergeming, ia masih setia duduk di sofa bed dan enggan meninggalkannya.

__ADS_1


"Sayang,"


"Memangnya mau kemana sih, kenapa nyuruh ganti baju segala, hem?"


"Pokoknya ganti dulu, nanti juga kamu akan tahu."


"Iya iya aku ganti. Tapi aku mau pakai baju apa kalau nggak tahu mau kemana. Nanti salah kostum bagaimana?" tanya Anes.


"Pakai saja pakaian yang sedikit santai seperti mas. Tapi jangan yang terlalu terbuka. Mas nggak suka kalau nanti ada laki-laki lain yang melirik dan memperhatikan kamu, apalagi dengan pakaian yang kurang bahan. Hanya mas yang boleh melihatnya." ucap Alex posesif


"Mulai deh posesifnya! Kalau nggak mau ada yang melihat ya nggak usah pergi. Repot amat. Amat aja nggak repot!"


"Iya iya!" Sahut Anes sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Setelah memilah dan memilih baju dan memakainya, Anes memoles tipis wajahnya. Kemudian, ia meraih tasnya dan meninggalkan kamarnya.


"Ayo mas, aku udah siap!" ajak Anes.


Alex bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil di atas meja.


"Sebenarnya kita mau kemana sih mas? aku jadi penasaran," tanya Anes.


"Kencan," jawab Alex singkat.


"Hah? kencan?" Anes memastikan lagi jawaban Alex. Kali aja dia salah dengar.


"Iya kencan, kita kan belum pernah berkencan dan langsung menikah. Bukannya kamu belum pernah berkencan sebelumnya? Makanya aku mau ngajak kamu kencan sekarang." Sahut Alex berusaha menyenangkan Anes.


"Niatnya sih ngajakin kencan biar aku senang. Tapi kok kata-katanya lebih terdengar seperti sedang mengejekku ya? mengejek karena aku belum pernah berkencan dengan siapapun sebelumnya, atau karena kasihan sama aku karena selama ini aku jomblo?"


Anes terus berjalan sejajar dengan Alex menuju ke parkiran mobil dengan diam. Namun, dalam kepalanya, ia berdialog sendiri dengan hatinya. Akan tetapi, tidak di pungkiri juga bahwa dia bahagia.


"Sayang ayo masuk! malah bengong."


"Ah iya," sahut Anes lalu ia masuk ke dalam mobil.


🌼🌼🌼


💠Jangan lupa like komen n votenya, serta pencet ❤️ nya ya🙏🙏 salam hangat author ❤️💠

__ADS_1


__ADS_2