
Dua hari kemudian...
Drama cendol dawet yang sempat bikin Anes geleng-geleng kepala karena kelakuan sablengnya si David yang tak kalah sablengnya dengan suaminya, belum berakhir.
Pagi ini, rumah Alex tampak lebih ramai dari biasanya. Ada beberapa makhluk Tuhan yang tak begitu penting karena tak di kenal oleh Anes, sedang berlalu lalang menyiapkan panggung kecil dan juga dekorasi di halaman rumah Alex yang luas itu.
Berkali-kali Anes mendengus, antara takjub dan juga kesal. Bagaimana tidak, saat dia tanya kepada David akan ada acara apa di rumahnya sampai heboh begitu, David menjawab mewujudkan ngidam sang bos terlovenya, yaitu mengadakan konser kecil dengan bintang tamu Nella khar*ma.
"Gubrak!" Anes serasa kejengkang mendengar ucapan David. Ingin rasanya Anes berkata kasar, namun ia tahan karena mengingat ada malaikat kecil di dalam perutnya, sehingga ia harus menjaga sikap dan perkataannya.
"Hehehe benar-benar. Saya kasih 4 jempol buat Anda pak David," ucap Anes dengan senyum kecutnya.
"Saya hanya tidak ingin ponakan saya ngiler nantinya nona," alasan David seketika membungkam mulut Anes yang ingin merutukinya.
"Emang mas Alex ngidamnya mengundang artis itu?," tanya Anes.
"Saya juga kurang paham nona, yang mana keinginan bos yang ngidam dan bukan, yang jelas apapun yang keluar dari mulut bos, sebisa mungkin saya akan mewujudkannya, dari pada tuan muda kecil nantinya ileran kan nona?"
"Itu lagi alasannya, terus kalau suami saya minta situ buat terjun bebas ke dasar jurang yang sangat curam, bakal di wujudkan? gila!" umpat Anes dalam hati. Segera ia mengelus dadanya sendiri dan menarik nafas dalam.
"Ya ya ya, lanjutkan!" seru Anes lalu pergi ke dalam rumah kembali.
"Ada apa Dav?" tanya Amel menghampiri David.
"Sepertinya nyonya rumah sedang dalam mood kurang baik," sahut David.
"Maklum ibu hamil, biar aku yang menghiburnya," ucap Amel.
"Eh, Dav itu sepertinya huruf K-nya miring deh, jadi kurang enak di lihat," lanjut Amel sambil menunjuk yang di maksud.
David yang melihatnya celingak-celinguk mencari orang untuk membenarkan, tapi sepertinya semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tangga yang senggang juga tuga ada dalam jangkauan matanya, semua sudah kepakai.
Kemudian, David menarik tangan Amel ke atas panggung yang baru setengah jadi itu dan langsung berjongkok di depan gadis tersebut.
"Cepat naik dan benarkan!" ucap David.
__ADS_1
Amel mengerti maksud David, ia segera naik ke pundak David, dengan cepat David berdiri sambil memegangi kaki Amel.
"Untuk pakai celana panjang, kalau pakai rok kan gaswat," batin Amel.
"Belum nyampe Dav, sedikit lagi," ucap Amel.
"Kenapa sih ini di pasangnya tinggi amat, amat aja nggak tinggi-tinggi amat," gerutu Amel yang kesusahan menjangkau.
David berjinjit, membuat keseimbangannya tidak stabil, sehingga tubuhnya oleng sana sini.
"Eh eh eh Dav, yang bener dong, nanti bisa Jat.."
"Gubrak!" belum juga mulut Amel selesai mangap, udah jatuh aja mereka berdua.
"Aw!" pekik Amel.
"Mel kamu nggak papa? mana yang sakit? ada yang luka nggak?" tanya David khawatir.
"Sakit tahu!" ucap Amel kesal sambil memegangi sikunya yang lecet.
Para pekerja yang melihat adegan jatuhnya David dan Amel pun tertawa.
David mengisyaratkan kepada yang berteriak tersebut untuk mendekat. Setelah mendekat dan tahu yang di teriaknya adalah David, nyalinya tiba-tiba menciut.
"Berani meneriaki saya? mau apa kamu kalau saya mau merobohkan panggung ini?" ucap David kasar hanya untuk menutupi rasa malunya karena jatuh di depan umum.
"Ti tidak tuan! kalau roboh juga tidak masalah tuan, nanti bisa kami bangun lagi, silahkan jika mau di robohkan," sahut pekerja itu dengan bergetar.
"Ck, dasar! lagian kenapa masang tulisannya tinggi amat, yang melihat bisa encok lehernya kalau ketinggian! Sedikit turunkan!" David menarik pergelangan tangan Amel menuju ke dalam rumah untuk mengobati sikunya yang lecet.
Alex dan Anes yang menyaksikan adegan gratis tersebut dari balkon pun terkekeh.
"Pasti malu banget tuh pak David," ucap Anes.
"Pastinya dong sayang. Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya itu yang luar biasa," sahut Alex yang kini sudah memeluk Anes dari belakang sambil menyaksikan persiapan mini konser malam nanti.
__ADS_1
Alex membenamkan wajahnya di leher sang istri.
"Mas ah, malu kalau ada yang lihat," ucap Anes yang merasa tidak nyaman dengan kelakuan manja sang suami.
"Mas nggak peduli," sahut Alex.
"Gimana sayang? apa kamu merasa terharu karena mas berhasil membuat David mengundang Nella khar*sma?"
"Hei, yang ingin mengundangnya siapa? Anda kan tuan muda Parvis yang terhormat? Dan kenapa juga aku harus terharu padamu? hellooow! yang berhasil mengundang itu pak David, bukan kamu suamiku sayang, jangan terlalu sombong," batin Anes.
"Kok diam? beneran terharu ya?"
"Iyakan aja deh, biar senang,"
"Iya mas, aku terharu, makasih ya?" ucap Anes kemudian. Anes sebetulnya heran, tidak biasanya suaminya itu menyukai dangdut. Bahkan tidak pernah mendengarkan. Tapi hanya karena sebuah kebetulan, tidak sengaja telinganya yang tajam itu mendengar, langsung deh jadi drama yang panjang.
Alex langsung menunjuk pipi nya sendiri sebagai isyarat agar anda menciumnya sebagai tanda terima kasih.
Anes pun menciumnya dan terus Beralih ke pipi yang satunya, kening dan berakhir di bibir. Niatnya hanya sebuah kecupan singkat di bibir, tapi namanya juga Alex, mana bisa dia tidak memanfaatkan momen yang ada, di sasap habis deh tuh bibir Anes. Namun, tak berlanjut ke ranjang, karena Alex masih takut dan memilih berpuasa.
Di sudut lain, David tampak sedang mengobati luka Amel.
"Kamu sih, nggak bisa jaga keseimbangan, jadi jatuh kan?"
"Ya maaf, habisnya kamu bilang kurang tinggi, jadinya aku jinjit, dan karena kamu berat makanya aku kehilangan keseimbangan," sahut David sambil menempelkan plester di luka Amel.
"Berat kamu bilang?Ck. menyebalkan!" Amel berdecak kesal, karena secara tidak langsung David mengatainya gendut. Hal yang paling tidak mau Amel dengar.
"Hahaha kapokmu kapan Dav? malu kan tadi jatuh di depan umum kayak gitu? seorang David jatuh dan jadi bahan tertawaan," ledek Amel.
"Berisik!" David menekan luka Amel.
"Aw! sakit tahu!" Amel menabok lengan David.
"Makanya jangan bawel, udah aku mau lanjutin kerja. Kamu istirahat saja dulu disini," David mengemas kotak p3k dan membawanya pergi meninggalkan Amel.
__ADS_1
Amel tersenyum sendiri mengingat kedekatannya dengan David saat ini. Ia tak pernah berpikir akan bisa sedekat ini dengan David. Bahkan ia sangat nyaman berada di dekat laki-laki yang dulu hanya mampu ia kagumi secara diam-diam tersebut.
🌼🌼🌼